03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Setelah mengalahkan Cerberus, Naga api dan Monticore. Para siswa melanjutkan perjalanan mereka menyusuri gua gelap itu sembari bersiap akan serangan selanjutnya.
Mereka paham bahwa hari akan berganti malam. Sebelumnya, mereka mencoba mengakses jam tangan untuk menelepon mentor. Akan tetapi, tidak ada satu pun panggilan mereka yang dijawab oleh sang mentor. Membuat mereka berpikir bahwa mereka akan segera dibunuh.
Perjalanan mereka yang agak panjang. Membuat mereka saling mengobrol untuk meredakan rasa sakit dan takut mereka.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Freya menoleh ke arah semua murid.
"Sedikit terluka, kak. Kakak sendiri bagaimana?" jawab dan tanya balik Alice.
"Yah... lumayan," jawab Freya.
"Sakit sekali ya ampun," ucap Shou sambil mengerakan lengannya. "Encok?" tanya Alice menoleh kearah Shou yang ada didepannya.
"Begitulah, sebelumya bulu sayapku yang terbakar mulai tumbuh walau hanya sedikit," jawab Shou dengan suara lemah.
"Ugh... rasanya tubuhku akan hancur," ucap Aideen sambil berjalan dengan linglung dan Faa yang berada diatas bahu Aideen. "Luka kakak sangat parah, tidak istirahat sejenak kak?" tanya Alice dengan suara kecil. Tapi seperti Aideen tidak mendengar ucapan Alice.
"Istirahat sejenak, rentangkan tubuh Shou, mungkin setelah itu tubuhmu akan membaik," ucap Alice menoleh ke arah Shou.
"Ada yang mau Air? Aku membawa 7 botol," ucap Amrine kepada semuanya, jujur Alice sudah dehidrasi dan membutuhkan sedikit cairan, Alice pun mendatangi Amarine dan meminta izin untuk sebotol air.
"Mau, jika diizinkan si Amrine," ucap Alice menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tentu saja, ini," ucap Amrine menyodorkan sebotol minum. Alice tersenyum sebagai ucapan terimakasih dan kembali melangkahkan kakinya menelusuri dugeon. Saat ditengah perjalanan Alice bertemu Artha,
Artha yang melihat Alice lalu berkata, "Alice terluka? sini coba ku obati."
Alice menoleh ke arah Artha, posisi mereka sedikit jauh, "iya kak, sedikit, okay," ucap Alice lalu mendatangi Artha.
Artha menggunakan kekuatan airnya sehingga luka pada permukaan tubuhnya langsung hilang semua seolah-olah tidak terjadi apa pun. Alice yang melihat itu terkagum-kagum luka sobek yang ada ditangannya seketika menghilang.
"Woah, luka nya tertutup. Ah, sebagai ucapan terimakasih, botol air ini untuk kakak saja," ucap Alice menyodorkan sebotol air untuk Artha.
Alice kembali berjalan dan kembali bertemu Shou, Alice menatap Shou yang sedikit lemas saat berjalan.
"Istirahat sejenak rentangkan tubumu, Shou," ucap Alice mengulang kalimatnya sekali lagi.
"Saya masih kuat kok Alice, tidak mau tepar duluan hanya karna luka yang ada di tubuhku," ucap Shou sambil tersenyum kecil.
"Ah, jika begitu, semangat Shou... Selain encok apakah Shou terluka? dan Perlu diobati?" tanya Alice beruntun sambil terus berjalan menyelusuri dugeon.
"Bisa dikatakan begitu, tidak apa saya bisa mengobati nya," jawab Shou lalu mengingat luka dilengannya dengan kain yang dari baju yang robek.
Alice yang melihat Shou merasa kasihan mengobati lengannya yang terluka dengan susah payah. "Kasihan bajunya," ucap Alice tanpa sadar dengan apa yang dikatakannya. Lalu Alice menyodorkan perban dan obat yang entah dari mana dia temukan.
"Baju ini aku pungut dari tanah karna ada bagian yang robek," jelas Shou lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. Alice mengangguk paham dengan penjelasan dari Shou, "sini Alice bantu perbankan tangan Shou yang terluka,."
Alice meminta kembali perban agar bisa membalut luka yang ada dilengannya Shou.
"Jika tidak keberatan Lic," kata Shou menunduk menyamakan tinggi badan dengan Alice.
"Tidak keberatan kok Shou, ini hanya hal kecil." Setelah mengucapkan hal itu Alice lalu kembalikan luka dibahu Shou dengan perban.
'Semoga benar cara membalut perban,' ucap Alice dalam hati sambil terus mengikat perban.
Setelah membalut perban, Alice dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan hingga terdengar suara yang begitu kuat dari balik pintu-pintu kuno. Rasa takut kian memuncak disertai pintu yang kian terbuka, aura membunuh yang sangat besar menunggu para siswa membuat mental mereka seketika runtuh.
Tanah bergetar ketika pintu mulai terbuka, batu-batu ikut berjatuhan bersaman munculnya makhluk berkepala 2 satu badan dengan pemikiran yang berbeda, satu berkepala naga dan satu berkepala ular.
Semua siswa terkejut dan tidak menyangka dengan kemunculan makhluk itu.
"A-apa itu?"
Salah satu dari sang monster yang tidak senang dengan keberadaan para murid mengubah beberapa murid menjadi baru dan mengendalikan mereka untuk menyerang murid lainnya.
"Monster yang mengerikan, bagaimana menyerang tanpa melihat?" tanya Alice dengan mata yang ditutup oleh bot.
Unknown 1 mengamuk dan melemparkan baru yang ada di dugeon yang sudah dibuat runcing, kearah para murid sambil berteriak kencang, "MELEBURLAH DENGAN BUMI KALIAN SEMUA YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI SINI!!!"
Alice hampir terkena lemparan batu jika bot tidak menariknya. Alice bekerja sama dengan bot untuk menyerang unknown, alice hanya menyerang saat monster lengah terkena serangan dari murid-murid yang lain.
"Guild Techno! Apakah ada diantara kalian bisa membuat senjata yang dapat menangkis mata medusa nya?!"
"Senjata? Sepertinya membuat cermin dr es bisa," setelah mengatakan itu Alice segera mengumpulkan bahan, Ryu ikut menolong dan dengan sisa tenaga Ryu meminum darah Alice.
Alice membuat hologram dari kuasa bot untuk ikut menyerang, walau hologramnya lemah dan tidak bisa membunuh monster hanya melukai saja.
Monster kembali mengamuk dan melepaskan diri, monster itu mengangkat bebatuan tajam yang sudah dihancurkan menjadi partikel dan menarik gravitasi sehingga para murid tidak bisa bergerak.
Hologram alice hancur terkena serangan monster dan alice yang tidak mampu bergerak ikut terkena baru di kakinya membuat kakinya terluka parah. Ryu yang berada tidak jauh dari alice juga terkena batu hingga cedera dan berdarah.
"Obati Ryu, bot," ucap Alice menoleh ke arah bot, namun bola robotnya sudah kehabisan daya dan tergeletak di tanah tertimbun batu-batu dari lemparan monster.
Alice langsung mengobati Ryu dan segera menyelesaikan cermin.
Tidak berselang lama para mentor datang untuk menolong murid
"Itu mentor?" ucap Alice menatap kearah para mentor yang berada dekat dengan para monster.
"Ini artinya bentar lagi aku ketemu kasur?! Alhamdulillah."
"Semangat Rine!!"
"Baik, lempar cermin itu."
Alice mengikuti arahan Amarine dan melemparkan cermin ke arahnya. Alice ingin menyerang monster namun dirinya tidak mempunyai tenaga yang cukup dan memilih untuk menolong para murid, memindahkan para murid yang terluka ketempat aman.
Pandangan Alice teralihkan saat mendengar teriakan dari Aideen yang memanggil Faa.
Alice segera berlari mendekati Aideen,