Isi Cerita
Atalanta Sienna Kyrane

Kaki terus melangkah tanpa henti di gua gelap yang telah menjadi saksi bisu kematian Cerberus, Naga api, dan Manticore karena ulah murid-murid DianXy. Sienna hanya bisa harap harap cemas jika dirinya dan yang lain tidak akan mati di gua ini, mengingat para mentor tidak menerima panggilan yang dikirimkan melalui jam tangannya.

 

Difikirannya hanya satu, ‘Kami semua pasti selamat, tidak mungkin tuan Cheiros menempatkan kami di posisi berada pada ambang kematian.’

 

“Lagipula jika ingin memberikan kami misi, mereka akan memerintahkan kami untuk memakai seragam misi dan bukan seragam latihan.”

 

Sebisa mungkin Sienna tidak menurunkan rasa percayanya pada orang-orang yang berada di DianXy.

 

‘Rasanya saya ingin pingsan jika sekali lagi melihat darah ataupun bangkai.’

 

Tangannya yang sejak tadi diam karena gemetar kini dengan susah payah dia gunakan untuk mengelus Nyx yang sedang dalam ukuran kecil dan dengan tenang bertengger di bahu kirinya.

 

Walaupun rasa nyeri dia rasakan karena sempat terkena racun, Sienna tidak mempermasalahkannya hewan-hewan lucu yang berada di sana.

 

“Nyx, apa anda sudah  kenyang?” tanyanya dengan nada yang sedikit melembut dari biasanya. Walaupun tidak di respon, Sienna sudah bisa menebak jika Nyx merasa kenyang setelah menyantap daging Manticore yang berukuran besar itu.

 

Pandangannya yang sejak tadi terfokus pada Nyx kini teralihkan saat menyadari jika Aideen terlihat linglung saat berjalan, Nyx yang menyadari apa yang akan tuannya lakukan lebih memilih pergi untuk menghibur murid yang lain.

 

Dengan gesit Sienna menahan tubuh yang sedikit lebih besar darinya itu. “Anda terluka cukup parah, tuan.”

 

Nada bicara Sienna kini kembali menjadi datar seperti setelan pabrik sebelumnya saat mengajak Aideen berbincang. Dilihatnya Aideen melirik ke arah dirinya.

 

“Sienna? Tidak, luka ini tidak seberapa. Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka atau lecet?”

 

Sienna menghela nafas pendek, lagi-lagi pemuda di hadapannya itu lebih mengkhawatirkan dirinya.

 

“Saya hanya sedikit terluka.”

 

Sesuai dugaannya, Aideen langsung tersenyum lega saat mendengar jawabannya dan itu berarti pertanda jika dirinya tidak perlu menjelaskan lebih jauh.

 

“Tapi Sienna, apa kau benar tidak apa-apa?”

 

Namun tidak sesuai dengan ekspektasi nya, Aideen lagi-lagi bertanya dengan tatapan yang lebih serius seolah meminta penjelasan.

 

Ah, sepertinya itu karena dirinya yang terus memegang lengannya. Netra nya pun menyadari jika Aideen menatap lengannya sejak tadi.

 

“Sudah saya katakan tuan, saya baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, bukankah wajar jika seseorang mengalami luka di kondisi seperti ini?” jawabnya dengan nada yang meyakinkan, namun nyatanya Aideen masih tidak mempercayainya.

 

“Kau.. tidak berbohong, kan?”

 

Sienna yang tidak ingin lagi diberikan pertanyaan pada akhirnya memilih untuk jujur. “Saya hanya terkena sedikit racun.”

 

‘Dengan begini tuan Elio tidak akan bertanya lebih jauh, bukan?’ Begitulah pikirnya. Namun lagi-lagi dirinya dikejutkan dengan ekspresi Aideen yang berubah dan pertanyaan yang lagi-lagi muncul.

 

“Racun?! Bagaimana bisa?!”

 

Sienna terdiam sejenak, difikirannya kenapa pemuda itu sangat mengkhawatirkan dirinya dan mengabaikan luka-luka yang ada di tubuhnya?

 

“Saya tidak sempat menghindari ekor manticore.”

 

Netranya menyadari jika Aideen menggigit bibirnya sendiri, entah kenapa hal itu membuatnya sedikit khawatir. “Kemari, perlihatkan padaku lukamu itu..”

 

Sekali lagi, karena tidak ingin memperpanjang masalah dia lantas memperlihatkan lengannya yang dimana racun dan darah yang telah bercampur mengalir keluar di kulitnya.

 

Belum sempat Aideen protes, perbincangan mereka terhenti saat mendengar suara yang cukup kuat dari dalam pintu raksasa yang masih tertutup.

 

Sienna sontak saja mengalihkan pandangannya dan menatap pintu itu dengan tatapan kosong namun waspada.

 

‘Kali ini apalagi?’

 

Tanpa orang-orang disekitarnya sadari, dirinya mengalami serangan panik pertama karena kembali mengingat darah dan mayat sebelumnya.

 

Apakah kali ini dirinya sanggup menahan rasa takut berlebihan itu?

 

Pintu besar itu mulai terbuka dan tepat saat itu juga aura membunuh yang cukup kuat menguar keluar hingga Sienna akan menyetujui jika kali ini dirinya akan pingsan dan kembali menjadi tidak berguna.

 

Dirinya mendengar ucapan Freya yang mengatakan jika mereka harus bekerjasama.

 

“Bekerjasama.. apa saya bisa berguna?” gumamnya dengan gemetar yang semakin bertambah parah, entah kenapa firasatnya mengatakan jika dirinya benar-benar akan tidak berdaya setelah bertemu monster tersebut.

 

Sesuai dugaannya, dikala monster itu muncul dirinya benar-benar tidak berdaya.

 

Tubuhnya semakin gemetar, pupil mata yang biasanya terlihat kosong dan tidak mengenal rasa takut kini ikut bergetar, bahkan wajahnya pucat di waktu bersamaan.

 

Monster berkepala dua itu benar-benar mimpi buruk baginya karena salah satu kepala monster tersebut merupakan ular, apalagi ukurannya yang sangat besar sehingga dirinya terlihat bagaikan serangga bagi monster tersebut.

 

“Ular..”

 

Dikala yang lainnya mulai menyerang monster tersebut, Sienna masih terdiam kaku dengan perasaan takut dan panik yang menyerang dirinya.

 

Dirinya benar-benar tidak berdaya saat ini. Apalagi saat dirinya tidak sengaja melihat mayat yang jumlahnya cukup banyak, kakinya menjadi sangat lemas.

 

Sienna bahkan tidak menyadari serangan yang hampir membuatnya menjadi batu karena terlalu lama menatap monster ular itu jika saja Nyx tidak langsung menangkap dan membawanya menjauh agar tidak melihat mata yang untuknya sangat menakutkan itu.

 

Nafasnya tidak beraturan dan keringat bercucuran cukup banyak membasahi wajahnya.

 

Walaupun ketakutan, Sienna tetap berinisiatif untuk melihat ke belakang. Matanya terbelalak kaget saat melihat sebuah batu melayang ke arah Nyx.

 

“Nyx! Menghindar!”

 

Sesuai arahan yang diberikan Sienna, burung besar itu menghindar hingga mereka berhasil selamat dari batu yang melayang.

 

Setelah kesadarannya mulai terkumpul kembali, Sienna dilempar naik ke atas tubuh besar Nyx.

 

“Sadarlah, jangan menjadi pecundang karena rasa takut.”

 

Sienna menepuk pipinya berkali-kali agar membuat rasa takutnya berkurang, Nyx yang melihatnya lantas khawatir karena sudah mengetahui semua ketakutan yang dialami tuannya.

 

“Dengarkan saya Nyx, tutup mata mu dan dengarkan baik-baik arahan saya.” walaupun suaranya terdengar bergetar, Sienna tetap mengarahkan Nyx agar burung kesayangannya itu tidak terluka.

 

Nyx hanya menuruti Sienna dan mulai menutup matanya menghindari kontak mata dengan monster ular dan naga tersebut.

 

Burung besar itu mulai terbang kembali sesuai arahan Sienna agar menghindari batu-batuan yang dilemparkan.

 

“Setidaknya jika tidak ikut menyerang, kita bisa menyelamatkan yang lainnya.”

 

Sienna melihat sekeliling hingga netranya melihat Shou yang tertimpa batu yang dilempar oleh monster tersebut sontak saja memerintahkan Nyx untuk terbang ke arah pemuda burung tersebut.

 

Dengan sekuat tenaga Nyx mengangkat batu yang menimpa Shou.

 

“Eh? Terimakasih..”

 

“Berhati-hatilah. Nyx, lempar ke monster itu.”

 

Nyx mengangguk lalu terbang ke arah monster tersebut, dengan sekuat tenaga Nyx melempar batu itu hingga mengenai monster.

 

Sienna benar-benar hanya bisa menolong yang terluka ditambah lagi ukuran Nyx pun masih terhitung kecil bagi monster tersebut.

 

Hingga sebuah kejadian diluar ekspektasi terjadi.

 

Para mentor muncul bagaikan pahlawan kesiangan dan lebih lucunya mereka mendarat tepat di atas kepala monster itu.

 

‘Apa yang baru saja terjadi?’

 

Sienna yang sadar jika dirinya hampir saja melamun lantas menggelengkan kepalanya pelan.

 

“Nyx mendarat, saya akan menolong yang lainnya secara langsung.”

 

Nyx mendarat ke daerah yang cukup jauh karena sulit mendarat di beberapa tempat setelah monster itu memperluas domainnya, dia tidak tau apa domainnya kembali mengecil atau tidak.

 

Sienna turun dari Nyx dan mulai membagi tugas dengan Nyx, Nyx akan menolong murid yang sekarat sedangkan Sienna akan menolong yang masih sanggup untuk berdiri.

 

Namun baru beberapa saat dirinya turun dari Nyx, tiba-tiba monster itu menimbulkan angin kencang.

 

Sienna yang tidak siap tiba-tiba terpental ke belakang, untung saja sebelum terkena bebatuan Amarine berhasil menangkap tubuhnya.

 

“Kamu ngga papa?”

 

Sienna hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Saya hanya tidak siap.”

 

“Berhati-hatilah. Bolehkah Nyx membantu ku untuk menyerang monster tersebut?”

 

Tanpa ragu Sienna menganggukkan kepalanya lalu memanggil Nyx. Amarine pun menunggangi Nyx ke arah monster dan meninggalkan Sienna sendirian di bawah.

 

Dari bawah Sienna dapat melihat dengan jelas bagaimana monster itu diserang dari berbagai arah, bahkan banyak yang mengincar matanya dan beberapa mentor mulai menembakkan racun tubuh monster hingga monsternya merasakan kebas bagaikan lumpuh.

 

Monster yang semakin marah semakin marah, geramannya sontak saja membuat langit-langit goa hampir rubuh dan bebatuan berjatuhan.

 

Sienna lagi-lagi hanya bisa menghindari bebatuan yang berjatuhan dengan tubuh yang terasa berat. Tubuhnya lagi-lagi terjatuh dengan rasa sakit yang mulai menyerang akibat racun yang didapatkannya dari Manticore.

 

“SEMUA! TUSUK JANTUNG NYA DAN SEMUANYA AKAN BERAKHIR!”

 

Terimakasih Saaochi membuat Sienna kembali menoleh ke atas untuk sejenak lalu memilih menunduk karena tidak ingin melihat serangan yang semakin membabi buta.

 

Diamnya tidak berlangsung lama saat menyadari satu makhluk aneh yang membuatnya kaget.

 

Kumpulan mayat yang kini hanya tulang belulang di hidupkan oleh monster tersebut. Mayat-mayat itu mulai berlari dan melindungi monster itu agar tetap mempertahankan dirinya.

 

Dengan susah payah Sienna kembali bangkit, dengan tubuh yang mulai terasa lumpuh dan gemetar dirinya memasang kuda-kuda untuk menyerang para mayat dengan tangan kosong.

 

“Ini belum berakhir.”

 

Sienna mulai menyerang para mayat itu dengan teknik bela diri dasar yang dia pelajari.

 

Serangan demi serangan terus terlemparkan, baik untuk bos monster ataupun para mayat hidup itu. Hingga para akhirnya bos terakhir kalah di tangan para monster, para mayat pun kembali menjadi tulang yang tidak bernyawa.

 

Nafas Sienna mulai tidak beraturan, dirinya merasa lega karena mereka berhasil menang dengan bantuan para mentor yang datang bagaikan pahlawan kesiangan.

 

Pandangan Sienna mulai menghitam, dirinya sudah tidak sanggup bertahan untuk tetap sadar dengan keadaan tubuhnya yang terkena racun ataupun karena phobia dan traumanya yang muncul secara bertubi-tubi di hadapannya.

 

“Akhirnya..”

 

“HOOT!”

 

“Sienna!”

 

Bruk

 

Sienna tidak sadarkan diri sebelum Nyx sampai ke hadapannya. Entah apa yang terjadi setelah itu, dirinya hanya mendengar samar-samar suara yang tidak dirinya ketahui itu milik siapa.

 

The Monster’s Boss in Dungeon

—The End—