Isi Cerita
Luisa Arcadia

Aku menatap kosong makanan yang ada di atas meja, hampir setengah makanan itu secara tidak sadar aku sendiri yang memakannya. Aku beralih menatap Mentor yang lain yang sedang menatap para Murid yang sekarang sedang membantu sama lain setelah melawan tiga monster secara berturut-turut.

 

"Aku mau mencuci tangan," celetuk ku sambil berdiri dari kursi milikku. Sepertinya yang lain sangat fokus menganalisa para murid, '...aku akan segera kembali.' Lanjutku dalam batin lalu pergi dari ruang istirahat.

 

Suara langkah kakiku menggema di sepanjang lorong markas, sesekali mengedipkan mata dan menatap ke arah jendela yang menampilkan semburat oren dari balik awan.

 

"Kenapa aku... tunggu- rasanya seperti ada yang ku lupakan..." gumamku sambil mencuci tangan di dalam kamar mandi, 'hah? Kenapa aku mencuci tangan di sini? Bukannya di ruang istirahat ada washtafel? Ah lupakan saja.'

 

Aku dengan santai pergi keluar kamar mandi, berjalan kembali di lorong sepi yang selalu membawakan irama gema setiap kali aku melangkah. '...firasat ku tidak nyaman...' batinku saat sampai di depan pintu ruang istirahat.

 

Dengan menghela nafas pelan aku membuka pintu itu dengan pelan, masuk ke dalam dengan sesunyi mungkin. Mengerutkan alisku dan menatap wajah mentor lain yang tidak terlihat baik.

 

"Bagaimana ini? Kita harus melaporkan ini kepada Ketua!" Resah Saaochi sambil menatap layar hologram yang menampilkan para murid.

 

Aku menarik kursiku kembali dan duduk di sana, "...memangnya kenapa?" Tanyaku sambil menatap layar hologram yang menampilkan para murid yang terlihat tidak beraturan lagi.

 

"Jangan bilang ada yang mati?!" Panikku sambil menutup mulutku dengan tanganku setelah itu dengan cepat aku membuka tablet milikku dan menganalisa monster yang mereka lawan selama aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan tadi.

 

"Heh! Tidak boleh begitu Kak." Sahut Naren lalu ikut melihat ke layar hologram, "sepertinya mereka tidak mampu mengatasinya, yah..." lanjutnya sambil mengunyah coklat.

 

Naren memegang dagunya seperti sedang berfikir keras, "aku tahu!" Serunya sambil menggebrak meja dengan wajah yang tersenyum cerah seperti baru saja mendapatkan coklat satu ton.

 

"Tahu apa?" Tanya Kaynel sambil memangku dagunya dan menatap Naren dengan pandangan lesu.

 

'Tahu tempe,' batinku menyahuti, tidak mungkin aku mengatakan hal itu di saat seperti ini kan?

 

"Ayo kita bantu mereka!" Ajak Naren dengan raut wajah yang berbinar-binar.

 

'Membantu...?' Batinku sambil terus menganalisa situasi di dalam Dungeon dan memeriksa informasi tentang Bos Dungeon itu dari tablet milikku, 'Tidak buruk...' lanjutku dalam batin saat melihat visual dari Bos  Dungeon itu.

 

Jariku mengetuk-ngetuk meja yang terasa hampir hancur akibat gebrakan dari Naren tadi, menatap kosong ruang istirahat dan wajah mentor yang lain. Menghela nafas lagi lalu mengambil minuman yang ada di atas meja itu dan meneguknya dengan sekali teguk.

 

"Apa sekarang waktunya jadi pahlawan kesiangan?" Celutuk Bastian yang menatap miris secangkir kopi miliknya yang tumpah karena ulah Naren yang menggebrak meja, "biarkan saja, itu juga untuk membuat mereka menjadi lebih kuat." Lanjutnya lalu kembali membuat secangkir kopi dan meminumnya.

 

"Astaga Om Bastian! Dulu para murid juga diselamatkan bukan?" Gerutu Naren dengan raut wajah cemberut dan pipi yang menggembung, "meski mereka datang ke sini untuk menjadi kuat, kita harus tetap membantu mereka ketika mereka dalam bahaya!" Jelasnya sambil tersenyum lebar.

 

'Benar... tidak ada salahnya membantu ketika mereka sedang kesulitan seperti sekarang,' sahutku dalam batin sambil menatap layar hologram.

 

"Benar. Lagipula keadaannya cukup darurat, sudah banyak murid yang terluka parah bahkan pingsan. Mereka juga pasti kelelahan setelah mengalahkan tiga monster secara berturut-turut sebelumnya, kita tidak bisa mengabaikan hal ini." Ungkap Saaochi sambil menatap Bastian dengan serius lalu kembali menatap ke arah layar hologram.

 

Aku mengangguk pelan, mengiyakan ungkapan Saaochi. Mereka terlalu banyak di dorong, walaupun ini demi perkembangan mereka tapi tetap saja terlihat berlebihan. Aku melebarkan kelopak mataku melotot menatap layar hologram, apa yang sedang ku pikirkan! Ini bukan berarti aku mengkhawatirkan mereka!

 

"Kalau begitu ayo kita bantu mereka!" Ucap Kaynel dengan semangat sambil berdiri dari duduknya.

 

Aku meletakkan tablet milikku dan ikut berdiri, "aku mengikuti keputusan kalian saja." Ucapku sambil mengacak pinggang. "Jangan lupa kalau kita juga harus meminta izin ke Ketua," lanjutku sambil menatap Naren.

 

"Benar juga! Ayo ke ruangan Pak Rhino!" Ucap Naren dengan semangat lalu bangkit dari duduknya.

 

Tanpa basa-basi kami pun berjalan ke kantor tempat Rhino berada. Dengan niat dan kebaikan kami sebagai mentor yang menggebu-gebu, pintu ruangan itu di ketuk pelan.

 

Pintu itu terbuka menampilkan sosok dari Ketua kami, Rhino. Yang sedang duduk di kursi meja kerja miliknya menatap kami yang baru saja menginjakkan kaki ke dalam ruangan miliknya.

 

"Ada apa?" Sambut Ketua dengan senyum khasnya.

 

Sepertinya sambutan dari Ketua cukup berdampak bagi kami. Naren yang berdiri dekat meja milik Rhino mulai berbisik dengan Kaynel yang di dekatnya.

 

"Siapa yang mau memberi tahu Pak Rhino?" Bisik Naren.

 

"Kau saja, sana cepat." Balas Kaynel dengan bisikan juga.

 

"Kenapa, aku terus sih. Kau saja sana, kau kan dekat dengan Pak Rhino!" Sungut Naren dengan berbisik-bisik.

 

'Kenapa kedua anak ini bisik-bisik di depan Ketua...' batinku sambil menatap datar serta kosong Naren dan Kaynel.

 

"Sudah-sudah, aku saja yang menjelaskannya." Celetuk Saaochi yang berdiri di sampingku, aku beralih menatapnya dari samping.

 

Naren dengan semangat langsung mengiyakan Saaochi untuk menjelaskan keadaan. Aku menghela nafas lagi tapi kali ini lebih pelan, sudah berapa kali aku menghela nafas hari ini? Entahlah.

 

Saaochi melirikku sebentar lalu maju ke depan sampai melewati Naren, "mohon maaf atas kelancangan kami, Ketua. Tapi saya rasa para murid sudah mencapai batasnya. Jadi kami sebagai mentor mereka memohon izin kepada Ketua untuk membiarkan kami turut serta membantu mereka keluar dari Dungeon." Jelas Saaochi dengan tegas di depan Rhino.

 

"Hm, kenapa?" Tanya Rhino dengan senyumnya yang tidak luntur sejak tadi.

 

"Takutnya mereka semua menjadi mayat, Pak." Bisik Kaynel dengan pelan.

 

'Yang benar saja? Tapi ada benarnya juga...' batinku menatap Kaynel dengn tatapan kosong sambil mengangguk mengiyakan Kaynel.

 

"Heh! Lagi serius juga." Geram Saaochi sambil memukul pelan Kaynel, sedangkan Naren sekarang tiba-tiba menjadi diam dan berkeringat dingin sambil memperhatikan keadaan.

 

"Mereka sudah mencapai batas mereka sendiri, jika dilanjutkan akan ada lebih banyak korban jadi saya mohon untuk mengizinkan kami untuk membantu mereka." Jawab Bastian dengan tenang dan tegas.

 

Ketua terlihat diam sejenak lalu tiba-tiba tekanan di ruang ini menjadi berat, "kalian tahu kan maksud dari perkataan itu?" Tanyanya.

 

Kami semua mengangguk mengiyakan, dengan sekali jentikkan dari tangan Ketua sebuah tentakel menjerat masing-masing dari kaki kami—

 

"Silahkan."

 

—Dalam sekejap kami pun pindah ke dalam Goa Dungeon itu, tentakel yang membawa kami sudah menghilang entah kemana. Seragam kami pun juga sudah berganti menjadi seragam latihan.

 

"Err... kita spawn dimana ini? Mana gelap banget lagi..." celetuk Kaynel.

 

Aku berdiri sambil memegangi lututku sesekali mengerjapkan mata berusaha untuk memaksimalkan penglihatanku di dalam Dungeon itu, tanganku meraba-raba kantung untuk mencari apakah ada senter di dalam situ.

 

"Aduh gelap, senter dimana senter?" Gumamku sampai tidak sadar kalau aku berjalan ke arah dinding Dungeon.

 

Aku mengaduh pelan saat merasakan tabrakan di dinding Dungeon, baiklah akan ku lupakan sebentar senter itu seperti dinding Dungeon ini menyimpan hal yang lebih menakjubkan jadi akan ku raba-raba sedikit saja.

 

"Aku merasakan akan adanya kehadiran monster yang sangat kuat di balik dinding ini, hahaha..." ucapku dengan seringai yang muncul di wajahku sambil terus meraba-raba dinding Dungeon itu.

 

"Manusia gila," celetuk Bastian sambil menatapku dengan pandangan kasihan.

 

'Kenapa memangnya? Kan monster itu keren,' balasku dalam batin dengan perasaan jengkel.

 

"Nah senter!" Ucap Kaynel sambil melempar senter itu ke arah Bastian dan Naren dengan asal-asalan.

 

'Hey yang butuh senter tadi aku...' batinku menatap senter yang sudah mendarat di tangan Bastian dan Naren.

 

Aku menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya, lupakan saja sepertinya aku harus menemukan Saaochi karena sedari tadi aku tidak melihat tanda-tanda kehidupannya di dalam Dungeon ini.

 

Ctak!

 

"Woah, terang banget senter ini! Seterang jiwa ku, menyala jiwa ku!!" Girang Naren saat menyalakan senter itu untuk menerangi Dungeon tempat kami mendarat.

 

Sekarang penglihatan kami tidak terbatas lagi di dalam kegelapan, semuanya berkat senter dari Kaynel. Entah darimana dia mendapatkan senter itu, sepertinya dia membuat itu dari kekuatan miliknya.

 

"Ayo cepat! Takutnya para murid sudah rata dengan tanah!" Seru Saaochi dari depan, sejak kapan dia berjalan lebih dulu?

 

"Iya Kak, garang banget..." sahut Naren sambil mengekori Saaochi dari belakang seperti anak ayam.

 

Aku juga mengikuti Saaochi dan Naren lebih tepatnya di belakang mereka berdua dengan tenang sambil menyeringai. Adrenalinku rasanya di pacu oleh tekanan-tekanan dari Dungeon ini.

 

"Biar aku yang mencari jalannya," usul Bastian di tengah-tengah jalan lalu dia berubah menjadi kabut asap dan pergi.

 

"Cepatnya, tandingan Rossi pasti," celutuk Naren saat melihat Bastian yang pergi dengan cepat.

 

'Siapa Rossi?' Batinku bertanya-tanya sambil melihat sekeliling Dungeon.

 

"Serius sedikit, Nana..." sahut Kaynel sambil mengarahkan lampu senter itu ke dinding-dinding Dungeon.

 

Kami terus berjalan dalam kesunyian sampai kami menemukan Bastian yang berdiri menghadap salah satu dinding Dungeon dan menatap dinding itu dengan seksama.

 

"Di sini," ucap Bastian sambil menunjuk ke arah dinding Dungeon yang berdiri di depannya.

 

"Hah? Dinding? Baba pikir kita ini hantu yang bisa menembus dinding?" Tanya Kaynel dengan bingung sambil maju ke depan dan mengetuk-ngetuk dinding seperti sedang mengecek ketebalan dinding itu.

 

"Awas! Awas! Ayo cepat menghindar! Kini giliran Naren beraksi, HAHAHA!" Ucap Naren sambil mengambil ancang-ancang untuk memukul dinding Dungeon itu.

 

Kaynel dan Bastian bergeser memberikan Naren ruang untuk memukul dinding itu. Naren langsung melancarkan Pukulan Super miliknya ke arah dinding Dungeon itu sampai-sampai terasa seperti gempa bumi, secara perlahan dinding Dungeon itu mulai hancur dikarenakan kekuatan Naren.

 

'Retaknya menyebar ke lantai... hebat sekali pukulan Naren,' batinku sambil melihat dinding yang perlahan hancur itu, retaknya benar-benar berjalan ke arah lantai. Aku menatap datar kaki Bastian yang berubah menjadi kabut.

 

"Awas sebentar lagi kita akan terjatuh ke bawah, tenang saja monsternya ada di bawah kita," ucap Bastian dengan wajah tanpa dosa miliknya.

 

"Kau! Kenapa baru saja mengatakannya!! Dasar setan!!!" Teriak Saaochi dengan raut wajah murka miliknya.

 

"Baba parah!!!" Teriak Kaynel juga.

 

"Yang benar saja!!!" Teriakku juga sambil melotot ke arah Bastian dengan tajam.

 

Naren berteriak kencang sambil menutup matanya, kami berlima kecuali Bastian pun terjatuh tepat di atas monster yang kebetulan sedang terbang itu.

 

Aku mendarat di atas bahu monster itu dan segera melompat turun dan mendarat dengan aman menggunakan salto depan, aku menatap sekeliling sebentar untuk melihat apakah mentor yang lain mendarat dengan aman.

 

"Halo~ anak-anak!!" Sapaku dengan ramah sambil melambaikan tangan ke arah para murid yang terlihat sudah tidak berbentuk lagi tentu saja aku juga meringis kecil melihat luka-luka yang mereka dapatkan.

 

Adegan yang cukup mengharukan jika dilihat dari sudut pandang beberapa murid, tidak ini tidak semengharukan itu kami datang ke sini untuk membantu saja agar mereka bisa beristirahat lebih cepat.

 

Aku mengambil Blastech dari alat yang melekat di pahaku serta mengambil satu amunisi dan memasukkannya ke dalam senjata itu.

 

"Kalian baik-baik saja kan? Yang terluka tolong menepi, cari kubah hologram milik Kaynel dan masuklah ke dalam situ! Healer tolong obati dulu yang terkena luka fatal," ucapku sambil memberikan mereka arahan agar luka yang mereka dapatkan tidak akan menghalangi pergerakan mereka kedepannya.

 

Mentor yang lain juga melakukan hal yang sama, prioritas utama kami sekarang adalah meminimalisir banyaknya korban akibat monster itu.

 

"Apalagi yang kalian lakukan?! Yang masih bertahan cepat serang monster itu!" Teriak Saaochi.

 

Aku mengangguk mengiyakan, segera setelah itu aku mengambil posisi dan naik untuk mencari posisi yang tepat untuk menembakkan amunisi.

 

Tanganku mengarahkan senjata milikku ke arah mulut, menarik udara diantara lubang senjata dan melepaskannya dengan kencang ke arah kaki monster itu. Menyeringai dengan lebar dan menatap monster itu dengan ganas.

 

Dengan cepat aku memasukkan amunisi yang lain dan mengarahkannya ke arah monster itu lagi, menjilat bibirku yang terasa kering. Inilah kenapa senjata Blastech ini jarang ku gunakan, rasa racun yang melekat di jalur pernafasan adalah salah satu alasannya.

 

"Dan aku menyukai rasa itu~" gumamku dengan muka yang memerah seperti orang yang kecanduan obat terlarang.

 

Aku terus-terusan menembakkan amunisi sampai-sampai sekarang amunisi milikku cuma tersisa satu. Aku menatap kosong amunisi yang tersisa di dalam kantung tempat senjataku ku bawa tadi.

 

Sepertinya serangan bertubi-tubi dari kami tidak terlalu berdampak bagi monster itu, sekarang monster itu bahkan terlihat lebih murka dan seperti biasa aku menghela nafas lagi dan memilih turun ke bawah untuk membantu mengevakuasi murid-murid.

 

"Yang benar saja..." gumamku saat melihat bebatuan yang dikumpulkan oleh monster itu yang sekarang menuju masing-masing kepala orang-orang yang ada di sini.

 

"SEMUANYA CEPAT BERLINDUNG!!!" Teriakku dengan kencang saat melihat hujan batu yang diberikan oleh monster itu.

 

'Ini tidak ada apa-apanya,' batinku sambil menatap monster itu dengan datar, dengan cepat aku menundukkan kepalaku untuk menghindari batu-batuan yang di lemparkan oleh monster itu.

 

"LUISA SIAPKAN AMUNISIMU!" Teriak Saaochi dari kejauhan, dia terlihat di dekat Bastian.

 

"Roger~!" Sahutku juga dengan berteriak, tidak sekencang tadi karena tenggorokanku sudah terasa terbakar.

 

Aku memasukkan amunisi terakhir milikku dan kembali mengambil posisi menembak, keringat dingin mulai bercucuran di dahiku. Sebentar lagi, ini akan berakhir sebentar lagi.

 

Semua orang yang sedang bertahan berusaha untuk memberikan goresan pada monster itu, mereka semua berusaha melampaui batas mereka agar semua ini cepat berakhir.

 

Aku menembakkan amunisi terakhirku setelah melihat Saaochi dan berteleportasi di atas monster itu. Menjauhkan senjataku dari mulut dan menarik nafas panjang.

 

"CEPAT SERANG DIA SAAOCHI!" Teriakku setelah menembakkan amunisi terakhir itu.

 

"Kak Luisa, dia ada kelemahan tidak?" Tanya Naren yang entah darimana datangnya dari belakang tubuhku.

 

"Kemungkinan terbesarnya ada di armor yang di pakainya, lihat saja tubuh lainnya di biarkan terbuka sedangkan yang dipakaikan armor cuma dada. Kamu paham kan?" Jelasku sambil mengusap keringat dan menyisir poniku ke arah belakang.

 

"Paham Kak!" Balas Naren lalu dia kembali bergabung dengan yang lain.

 

Aku hanya melihat mereka bertarung dari kejauhan, memilih untuk turun dan membawa beberapa murid untuk pergi ke dalam hologram milik Kaynel. Secara kebetulan aku melihat Kirei yang terlihat kesusahan karena bahu kirinya yang berlubang dan menatap murung orang-orang yang sedang bertarung. Aku menghampirinya dan membantunya agar menepi.

 

Setelah itu tidak lama kemudian aku melihat Aoi yang terlempar karena menempel di tubuh monster itu jadi aku bersiap untuk menangkapnya. Sekarang aku mulai bertanya-tanya apakah kelakuan mereka ini termasuk dalam serangan monster itu atau bukan.

 

Tidak terasa kini waktu telah berlalu cukup lama monster itu telah dikalahkan dengan kekuatan orang-orang yang bertahan. Entah perasaan apa yang harus kami rasakan, semuanya kini telah berakhir.

 

Portal berwarna biru tua muncul tidak lama setelah itu, saling merangkul bahu dan membawa kebanggaan akan kemenangan yang didapatkan.

 

Sebelum memasuki portal itu aku menoleh sebentar ke arah belakang, siluet aneh seseorang terlihat di sana namun kemudian menghilang. Aku hanya menatap itu dengan pandangan kosong, rasanya benar-benar ada sesuatu yang ku lupakan.

 

Aku memilih mengabaikan perasaan ganjil yang muncul dan masuk ke dalam portal, sinar jingga muncul dengan cerah. Mengangkat tangan untuk melindungi penglihatanku dari cahaya itu.

 

'Aku ingin secangkir es coklat...' batinku sambil menatap wajah yang lain, wajah mereka kini hanya terlihat kelegaan yang lapang. Harus ku akui kalau di Dungeon itu cukup menyenangkan.

 

Tanganku mengambil sebuah botol kecil di dalam tempat amunisi milikku berada dan meminum isinya, untung aku membawa penawar kalau tidak aku harus berbaring di ranjang UKS.

 

Tamat.