03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Tatkala
tubuh mereka berpindah pada gua, Saaochi bisa menyadarinya dengan jelas, bahwa
hawa yang dipenuhi nafsu membunuh ini benar-benar mengerikan. Lututnya bahkan
sempat gemetar karena hal itu.
“Aura
monster yang amat kuat,” gumamnya. Tangannya menyentuh dinding gua. Saaochi
menoleh pada empat temannya yang lain, sibuk mencari senter. “Cepat oy! Keburu is
ded mereka!”
“Iya,
Kak. Galak bener,” sahut Saaochi.
Saaochi
tidak membalasnya, sekedar merotasikan bola mata. Lantas berjalan lebih dulu
tanpa menoleh ke belakang lagi. Aroma bunga mawar menguar, saat Saaochi menoleh
Bastian sudah menghilang.
“Ah,
iya juga harus nyari jalan dulu,” celutuknya, tatkala yang lain menyusul ke
dekatnya.
Tak
selang lama kemudian, Bastian kembali. Ia segera saja memberitahukan jalan
untuk menuju di mana para murid berada. Ketika mereka sampai, segera saja Naren
membuka jalan dengan memukul kuat dinding gua hingga bergetar dan hancur
berkeping-keping.
Tanpa
menyadari, bahwa di bawahnya ada sang monster yang tengah bertarung dengan para
murid yang hampir kehabisan energi. Semuanya berteriak, merutuki Bastian yang
menyelamatkan dirinya sendiri dengan menjadi kabut.
Saaochi
segera mungkin membuat ancang-ancang untuk mendarat. Sembari melancarkan
serangan, menyiapkan racunnya di pembuluh darah, bersiap menyentuh leher sang
monster sebelum beranjak dari tubuh besar itu. Tatkala ia mendarat, di kepala
monster tersebut, segera dicekik salah satu leher monster itu.
Saaochi
tak jelas melihat yang mana yang ia cekik. Tapi, dia mengeratkan genggamannya
hingga merasakan urat-uratnya hampir lepas.
“Lepaskan
aku makhluk sialan!” Suara monster itu bergema, sebelah tangannya berusaha
mencapai Saaochi.
Saaochi
sigap, tubuhnya dia bawa menghindar. Dikeluarkannya sebelah pisau, lantas
ditancapkannya pada punggung sang monster sembari membawanya turun. Monster itu
berteriak marah, suaranya menggema, sayapnya tak terkendali, sampai hampir
membuat Saaochi jatuh. Beruntung ia berhasil mendarat dengan baik.
Lingkaran
sihir di bawah terbentuk, bebatuan runcing terangkat. Saaochi membelalak, ia
memacu kedua tungkainya untuk berlari cepat menghindari serangan tersebut.
“Kak
Saaochi!” Terdengar Naren berteriak. Ia berlari mendekat yang reflek disuguhi
gelengan ribut oleh Saaochi.
“Jangan
ke sini ...!” teriaknya.
Terlambat,
Naren sudah maju duluan, mengambil batu besar dan melemparkannya ke arah si
monster. Telak mengenai sebelah sayapnya, membuat terbangnya bagai linglung,
seolah mabuk, lantas kedua kakinya menapak ke tanah dan membuat hembusan angin
besar Berkat itu, Saaochi terhempas ke arah para murid.
“Kak
Saaochi, gapapa?” tanya Naren. Raut wajahnya tampak khawatir.
Saaochi
Mengangguk pelan. Dia menghela napas. Jantungnya seolah hampir copot dari
tempatnya, mengingat ke jadian tadi. Meskipun itu berbahaya bagi Naren,
setidaknya dia terselamatkan.
“Terima
kasih, Naren.”
Naren
mengangguk. Sang monster tampaknya Mengalami penurunan kondisi, Saaochi menduga
akibat racun dari tubuhnya yang ia salurkan, terlihat dari munculnya bercak
kebiruan di salah satu kepala itu. Juga, dari serangan Naren yang tampaknya
cukup memberikan impak besar.
Saaochi
melirik Luisa yang fokus membidik sang monster. Ditepuknya bahu tersebut.
“Tetap fokus menembakinya. Kau punya banyak amunisi, ‘kan?”
Luisa
tidak menoleh. Raut wajahnya nampak serius. “Tidak terlalu banyak. Tapi kuharap
cukup.”
“Hologram
pelindung sudah aktif! Kita bisa menyerangnya sekarang!” ujar Kaynel, berlari
mendekati kami.
Bastian
menyusul, dia tampak melihat ke arah monster yang tampak kewalahan menangani
kondisinya. “Ini situasi bagus. Kita harus menyerang sekarang.”
Saaochi
mengangguk. “Tapi, tidak cukup hanya kita berlima. Kita butuh bantuan.”
“Tentu.
Aku sudah memerintahkan yang masih bisa bergerak dan memiliki energi agar
membantu menyerang,” ujar Bastian.
Luisa
menghela napas pelan. Dia menoleh ke arah si monster, raut wajahnya kentara
sedih. “Haruskah kita membunuhnya.”
Lantas
saja mendapat geplakan dari Bastian. “Bodoh.”
“Aku
punya rencana.” Saaochi menginterupsi, membuat beberapa pasang mata menatapnya.
“Bastian buat aku ke atas monsternya lagi, aku akan memberikan beberapa racun
lagi padanya. Luisa tetap tembakan amunisimu. Naren, alihkan perhatiannya
dengan terus menyerangnya. Dan, Kaynel cobalah untuk lindungi Naren agar tidak
terluka terlalu parah.”
“Bagaimana
dengan yang lain?” tanya Bastian, mengerutkan dahinya.
“Mereka
akan melindungi satu sama lain. Yang masih bisa bertarung, tunggu intruksi. Aku
dan Bastian akan mencari kelemahannya.”
Segera
saj amereka mengangguk, setuju dengan rancangan Saaochi Meskipun tentu saja
bukan ide yang terbaik.
Bastian
bersiap menteleportasikan Saaochi menuju sang monster. Mengubah mereka berdua
menjadi kabut sebelum menghilang meninggalkan wangi mawar. Tepat di atas kepala
sang monster, Bastian menjatuhkan Saaochi yang segera mendaratkan sembari
menancapkan pisaunya.
Monster
itu lagi-lagi berteriak marah. Tangannya berusaha menarik Saaochi dari
tubuhnya, namun tiba-tiba saja lemparin batu mengenai kepalanya.
“DASAR
MAKHLUK BIADAB!”
Salah
satu monster yang memiliki tanduk berteriak ke arah pelaku, Naren. Yang dengan
santai menjulurkan lidahnya. Saaochi tersenyum tipis melihat itu, sebelum dia
mendongak, melihat Bastian ada di atas lubang tempat mereka jatuh.
Dengan
segera ia kembali mencekik leher yang lainnya, kaliIni lebih kuat, lebih banyak
racun yang dikeluarkan. Hingga tangannya mengucurkan darah. Naas, tangannya
keburu ditarik oleh sang monster yang hendak melemparnya.
Namun,
Saaochi lebih sigap, ditendangnya tangan tersebut, sebelum ia membungkukkan
badannya dan menggenggam balik pergelangan tangan si monster. Monster itu
berteriak, merasakan duri menusuk-nusuk pergelangan tangannya lebih kuat dari saat
di lehernya tadi. Dalam waktu seperkian detik sebelum ia benar-benar jatuh ke
bawah, Saaochi dapat melihat tiga jantung di antara armor yang rusak tersebut.
Tubuh
Saaochi terpelanting, cepat-cepat dia membuat ancang-ancang sebelum kepalanya
menyentuh tanah. Tapi, Bastian lebih cepat dari yang disangka, berhasil
menangkap tubuh Saaochi dan mengubahnya menjadi kabut. Napasnya menderu pelan.
“Kau
mau diturunkan di mana?”
“Ke
bawah! Aku sudah tahu kelemahannya!”
Bastian
segera membawanya turun ke bawah, menghindari tempat monster itu mengamuk.
Sementara Naren dan Kaynel berusaha mengatasi amukan sang monster.
“Bantulah
Naren dan Kaynel. Beritahu mereka kalau kelemahannya ada di jantungnya.
Armornya hampir rusak, kita bisa menargetkannya dengan mudah.”
Bastian
mengangguk, mengikuti arahan, lantas ia kembali menjadi kabut. Menghilang.
Sedangkan,
Saaochi, berlari ke tempat para pengungsi. Masih ada beberapa yang berdiri di
garis depan, menghancurkan bebatuan yang tanpa sengaja mengarah ke arah mereka.
“Siapa
yang masih bisa bertarung?” tanyanya.
Beberapa
mengangkat tangan, ada yang berkata siap. Saaochi menghitung murid yang masih
bisa bertarung itu, lantas mengangguk pelan.
“Kalian,
dengarkan aku—“
“AOI!”
Semuanya dengan cepat menoleh ke sumber teriakan. Ada Aoi di sana yang
tiba-tiba saja berada di atas tubuh sang monster. Sebelum tangan besar itu
mengangkatnya dan melemparnya hingga mengenai dinding gua. Tampaknya, Bastian
pun tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu.
“Astaga,
apa yang dilakukannya?” gumam Saaochi
“Dia
sepertinya mulai kerasukan.”
“Hah?”
Saaochi memasang raut bingung, namun dengan cepat menggeleng. “Sudahlah. Dengar
yang masih bisa bertarung, terutama yang menggunakan senjata, kita harus
mengenai jantungnya, kurasa itu kelemahannya.”
“Tapi,
bagaimana? Bukankah dia menggunakan armor?”
“Tenang
saja, Naren berhasil mengahncurkannya.”
Semuanya
mengangguk, lantas mengikuti arahan. Beberapa sudah siap, ada yang menghentikan
pergerakan sedang yang lain bersiap untuk menyerang.
Begitu
pula, Saaochi. Berbekalkan pisau yang tersimpan dalam kantongnya, dia segera
berlari ke arah monster itu. Mencoba melindungi para murid yang menyerang
monster itu sebisanya. Bagaimanapun juga yang menemukan monster ini adalah
mereka, maka mereka pula yang harus menyelesaikannya.
Salah
seorang dari murid melompat, berusaha memenggal kepala monster itu meskipun
tampak sia-sia. Monster itu lagi-lagi membuat lingkaran sihir, kalinini tampak
lebih besar. Terlihat seolah ingin mengakhirinya dengan segera.
Saaochi
menoleh ke belakang, lingkaran sihir itu mengenai para murid yang terluka, maniknya
mengecil, ia segera berteriak.
“HATI-HATI
SEMUANYA!”
Beruntunglah,
sebelum batu yang ada di sana runtuh, ada yang mengeluarkan hologram pelindung.
Dan beberapa menghancurkan batu dengan tenaga tersisa.
Teriakan
monster itu melengking nyaring, rupanya tanpa sadar salah satu pedang menancap
di salah satu jantungnya. Murid yang menancapkan jantung tersebut hampir saja
dilempar, jika saja tidak dibantu oleh Bastian.
Setelah
itu, Bastian mengaburkan pandangan sang monster, membuat yang lain menjadi
leluasa dalam bergerak. Saaochi memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat dan
melukai kakinya. Dia juga sempat memberikan efek racun lainnya yang membuat
sang monster seketika lumpuh.
Tatkala
kesempatan itu berhasil digunakan dengan baik, lagi-lagi salah satu jantungnya
tertusuk oleh pedang milik seorang murid yang baru saja dilempar oleh Naren.
Tampaknya, itu ide mereka berdua.
Dalam
keadaan lemah seperti itu, sang monster tampak tidak ingin mengalahkan. Dia
membangkitkan mayat-mayat hidup, membuatnya menyerang para murid yang ada.
Saaochi mendorong dan menghancurkan makhluk yang tak lebih dari tulang belulang
hidup itu hingga hancur.
Dia
bahkan tak perlu repot menggunakan racun dalam tubuhnya. Para murid juga
bertarung habis-habisan meski dengan energi yang tersisa. Dalam kurun waktu
beberapa menit itu, sang monster tak lagi menyerang.
Itu
secepatnya menjadi kesempatan. Sebuah stalaktit es runcing muncul, menembusi
jantung sang monster. Membuatnya berteriak nyaring hingga hampir meruntuhkan
gua, lantas memuntahkan darah dari mulutnya Sebelum tubuh itu tumbang dan
hempasan angin lagi-lagi membuat banyak orang terpental.
Namun,
lebih dari pada itu, jantung yang berdebar kuat ketika melihat tumbangnya sang
monster seolah tak percaya telah mengalahkannya. Bahkan, beberapa ada telah
menangis dan yang menahan tangis.
“Kita
berhasil. Kita berhasil!” ucap salah seorang murid, sebelum semuanya bersorak,
saling berpelukan.
Banyak
yang terluka parah, bahkan ada yang tak sadarkan diri. Selama perjalanan
menyusuri dungeon yang mematikan, mungkin mereka semua makhluk pertama yang
berhasil menyusuri tempat ini hidup-hidup.
“Kerja
bagus kalian semua!” Saaochi mengacungkan jempol.
Tatkala
momen mengharukan itu, sebuah portal berwarna biru tua muncul. Tandakan
kemenangan ini nyata dan mereka diperbolehkan pulang.
“Ayo
cepat, portal akan tertutup.”
Yang
lain mengangguk, lantas semuanya sembari memapah mereka yang terluka dan
pingsan, melangkah melewati portal itu. Untuk kembali pada markas DianXy.
=••=