Isi Cerita
Saaochi

Tatkala tubuh mereka berpindah pada gua, Saaochi bisa menyadarinya dengan jelas, bahwa hawa yang dipenuhi nafsu membunuh ini benar-benar mengerikan. Lututnya bahkan sempat gemetar karena hal itu.

“Aura monster yang amat kuat,” gumamnya. Tangannya menyentuh dinding gua. Saaochi menoleh pada empat temannya yang lain, sibuk mencari senter. “Cepat oy! Keburu is ded mereka!”

“Iya, Kak. Galak bener,” sahut Saaochi.

Saaochi tidak membalasnya, sekedar merotasikan bola mata. Lantas berjalan lebih dulu tanpa menoleh ke belakang lagi. Aroma bunga mawar menguar, saat Saaochi menoleh Bastian sudah menghilang.

“Ah, iya juga harus nyari jalan dulu,” celutuknya, tatkala yang lain menyusul ke dekatnya.

Tak selang lama kemudian, Bastian kembali. Ia segera saja memberitahukan jalan untuk menuju di mana para murid berada. Ketika mereka sampai, segera saja Naren membuka jalan dengan memukul kuat dinding gua hingga bergetar dan hancur berkeping-keping.

Tanpa menyadari, bahwa di bawahnya ada sang monster yang tengah bertarung dengan para murid yang hampir kehabisan energi. Semuanya berteriak, merutuki Bastian yang menyelamatkan dirinya sendiri dengan menjadi kabut.

Saaochi segera mungkin membuat ancang-ancang untuk mendarat. Sembari melancarkan serangan, menyiapkan racunnya di pembuluh darah, bersiap menyentuh leher sang monster sebelum beranjak dari tubuh besar itu. Tatkala ia mendarat, di kepala monster tersebut, segera dicekik salah satu leher monster itu.

Saaochi tak jelas melihat yang mana yang ia cekik. Tapi, dia mengeratkan genggamannya hingga merasakan urat-uratnya hampir lepas.

“Lepaskan aku makhluk sialan!” Suara monster itu bergema, sebelah tangannya berusaha mencapai Saaochi.

Saaochi sigap, tubuhnya dia bawa menghindar. Dikeluarkannya sebelah pisau, lantas ditancapkannya pada punggung sang monster sembari membawanya turun. Monster itu berteriak marah, suaranya menggema, sayapnya tak terkendali, sampai hampir membuat Saaochi jatuh. Beruntung ia berhasil mendarat dengan baik.

Lingkaran sihir di bawah terbentuk, bebatuan runcing terangkat. Saaochi membelalak, ia memacu kedua tungkainya untuk berlari cepat menghindari serangan tersebut.

“Kak Saaochi!” Terdengar Naren berteriak. Ia berlari mendekat yang reflek disuguhi gelengan ribut oleh Saaochi.

“Jangan ke sini ...!” teriaknya.

Terlambat, Naren sudah maju duluan, mengambil batu besar dan melemparkannya ke arah si monster. Telak mengenai sebelah sayapnya, membuat terbangnya bagai linglung, seolah mabuk, lantas kedua kakinya menapak ke tanah dan membuat hembusan angin besar Berkat itu, Saaochi terhempas ke arah para murid.

“Kak Saaochi, gapapa?” tanya Naren. Raut wajahnya tampak khawatir.

Saaochi Mengangguk pelan. Dia menghela napas. Jantungnya seolah hampir copot dari tempatnya, mengingat ke jadian tadi. Meskipun itu berbahaya bagi Naren, setidaknya dia terselamatkan.

“Terima kasih, Naren.”

Naren mengangguk. Sang monster tampaknya Mengalami penurunan kondisi, Saaochi menduga akibat racun dari tubuhnya yang ia salurkan, terlihat dari munculnya bercak kebiruan di salah satu kepala itu. Juga, dari serangan Naren yang tampaknya cukup memberikan impak besar.

Saaochi melirik Luisa yang fokus membidik sang monster. Ditepuknya bahu tersebut. “Tetap fokus menembakinya. Kau punya banyak amunisi, ‘kan?”

Luisa tidak menoleh. Raut wajahnya nampak serius. “Tidak terlalu banyak. Tapi kuharap cukup.”

“Hologram pelindung sudah aktif! Kita bisa menyerangnya sekarang!” ujar Kaynel, berlari mendekati kami.

Bastian menyusul, dia tampak melihat ke arah monster yang tampak kewalahan menangani kondisinya. “Ini situasi bagus. Kita harus menyerang sekarang.”

Saaochi mengangguk. “Tapi, tidak cukup hanya kita berlima. Kita butuh bantuan.”

“Tentu. Aku sudah memerintahkan yang masih bisa bergerak dan memiliki energi agar membantu menyerang,” ujar Bastian.

Luisa menghela napas pelan. Dia menoleh ke arah si monster, raut wajahnya kentara sedih. “Haruskah kita membunuhnya.”

Lantas saja mendapat geplakan dari Bastian. “Bodoh.”

“Aku punya rencana.” Saaochi menginterupsi, membuat beberapa pasang mata menatapnya. “Bastian buat aku ke atas monsternya lagi, aku akan memberikan beberapa racun lagi padanya. Luisa tetap tembakan amunisimu. Naren, alihkan perhatiannya dengan terus menyerangnya. Dan, Kaynel cobalah untuk lindungi Naren agar tidak terluka terlalu parah.”

“Bagaimana dengan yang lain?” tanya Bastian, mengerutkan dahinya.

“Mereka akan melindungi satu sama lain. Yang masih bisa bertarung, tunggu intruksi. Aku dan Bastian akan mencari kelemahannya.”

Segera saj amereka mengangguk, setuju dengan rancangan Saaochi Meskipun tentu saja bukan ide yang terbaik.

Bastian bersiap menteleportasikan Saaochi menuju sang monster. Mengubah mereka berdua menjadi kabut sebelum menghilang meninggalkan wangi mawar. Tepat di atas kepala sang monster, Bastian menjatuhkan Saaochi yang segera mendaratkan sembari menancapkan pisaunya.

Monster itu lagi-lagi berteriak marah. Tangannya berusaha menarik Saaochi dari tubuhnya, namun tiba-tiba saja lemparin batu mengenai kepalanya.

“DASAR MAKHLUK BIADAB!”

Salah satu monster yang memiliki tanduk berteriak ke arah pelaku, Naren. Yang dengan santai menjulurkan lidahnya. Saaochi tersenyum tipis melihat itu, sebelum dia mendongak, melihat Bastian ada di atas lubang tempat mereka jatuh.

Dengan segera ia kembali mencekik leher yang lainnya, kaliIni lebih kuat, lebih banyak racun yang dikeluarkan. Hingga tangannya mengucurkan darah. Naas, tangannya keburu ditarik oleh sang monster yang hendak melemparnya.

Namun, Saaochi lebih sigap, ditendangnya tangan tersebut, sebelum ia membungkukkan badannya dan menggenggam balik pergelangan tangan si monster. Monster itu berteriak, merasakan duri menusuk-nusuk pergelangan tangannya lebih kuat dari saat di lehernya tadi. Dalam waktu seperkian detik sebelum ia benar-benar jatuh ke bawah, Saaochi dapat melihat tiga jantung di antara armor yang rusak tersebut.  

Tubuh Saaochi terpelanting, cepat-cepat dia membuat ancang-ancang sebelum kepalanya menyentuh tanah. Tapi, Bastian lebih cepat dari yang disangka, berhasil menangkap tubuh Saaochi dan mengubahnya menjadi kabut. Napasnya menderu pelan.

“Kau mau diturunkan di mana?”

“Ke bawah! Aku sudah tahu kelemahannya!”

Bastian segera membawanya turun ke bawah, menghindari tempat monster itu mengamuk. Sementara Naren dan Kaynel berusaha mengatasi amukan sang monster.

“Bantulah Naren dan Kaynel. Beritahu mereka kalau kelemahannya ada di jantungnya. Armornya hampir rusak, kita bisa menargetkannya dengan mudah.”

Bastian mengangguk, mengikuti arahan, lantas ia kembali menjadi kabut. Menghilang.

Sedangkan, Saaochi, berlari ke tempat para pengungsi. Masih ada beberapa yang berdiri di garis depan, menghancurkan bebatuan yang tanpa sengaja mengarah ke arah mereka.

“Siapa yang masih bisa bertarung?” tanyanya.

Beberapa mengangkat tangan, ada yang berkata siap. Saaochi menghitung murid yang masih bisa bertarung itu, lantas mengangguk pelan.

“Kalian, dengarkan aku—“

“AOI!”
Semuanya dengan cepat menoleh ke sumber teriakan. Ada Aoi di sana yang tiba-tiba saja berada di atas tubuh sang monster. Sebelum tangan besar itu mengangkatnya dan melemparnya hingga mengenai dinding gua. Tampaknya, Bastian pun tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu.

“Astaga, apa yang dilakukannya?” gumam Saaochi

“Dia sepertinya mulai kerasukan.”

“Hah?” Saaochi memasang raut bingung, namun dengan cepat menggeleng. “Sudahlah. Dengar yang masih bisa bertarung, terutama yang menggunakan senjata, kita harus mengenai jantungnya, kurasa itu kelemahannya.”

“Tapi, bagaimana? Bukankah dia menggunakan armor?”

“Tenang saja, Naren berhasil mengahncurkannya.”

Semuanya mengangguk, lantas mengikuti arahan. Beberapa sudah siap, ada yang menghentikan pergerakan sedang yang lain bersiap untuk menyerang.

Begitu pula, Saaochi. Berbekalkan pisau yang tersimpan dalam kantongnya, dia segera berlari ke arah monster itu. Mencoba melindungi para murid yang menyerang monster itu sebisanya. Bagaimanapun juga yang menemukan monster ini adalah mereka, maka mereka pula yang harus menyelesaikannya.

Salah seorang dari murid melompat, berusaha memenggal kepala monster itu meskipun tampak sia-sia. Monster itu lagi-lagi membuat lingkaran sihir, kalinini tampak lebih besar. Terlihat seolah ingin mengakhirinya dengan segera.

Saaochi menoleh ke belakang, lingkaran sihir itu mengenai para murid yang terluka, maniknya mengecil, ia segera berteriak.

“HATI-HATI SEMUANYA!”

Beruntunglah, sebelum batu yang ada di sana runtuh, ada yang mengeluarkan hologram pelindung. Dan beberapa menghancurkan batu dengan tenaga tersisa.

Teriakan monster itu melengking nyaring, rupanya tanpa sadar salah satu pedang menancap di salah satu jantungnya. Murid yang menancapkan jantung tersebut hampir saja dilempar, jika saja tidak dibantu oleh Bastian.

Setelah itu, Bastian mengaburkan pandangan sang monster, membuat yang lain menjadi leluasa dalam bergerak. Saaochi memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat dan melukai kakinya. Dia juga sempat memberikan efek racun lainnya yang membuat sang monster seketika lumpuh.

Tatkala kesempatan itu berhasil digunakan dengan baik, lagi-lagi salah satu jantungnya tertusuk oleh pedang milik seorang murid yang baru saja dilempar oleh Naren. Tampaknya, itu ide mereka berdua.

Dalam keadaan lemah seperti itu, sang monster tampak tidak ingin mengalahkan. Dia membangkitkan mayat-mayat hidup, membuatnya menyerang para murid yang ada. Saaochi mendorong dan menghancurkan makhluk yang tak lebih dari tulang belulang hidup itu hingga hancur.

Dia bahkan tak perlu repot menggunakan racun dalam tubuhnya. Para murid juga bertarung habis-habisan meski dengan energi yang tersisa. Dalam kurun waktu beberapa menit itu, sang monster tak lagi menyerang.

Itu secepatnya menjadi kesempatan. Sebuah stalaktit es runcing muncul, menembusi jantung sang monster. Membuatnya berteriak nyaring hingga hampir meruntuhkan gua, lantas memuntahkan darah dari mulutnya Sebelum tubuh itu tumbang dan hempasan angin lagi-lagi membuat banyak orang terpental.

Namun, lebih dari pada itu, jantung yang berdebar kuat ketika melihat tumbangnya sang monster seolah tak percaya telah mengalahkannya. Bahkan, beberapa ada telah menangis dan yang menahan tangis.

“Kita berhasil. Kita berhasil!” ucap salah seorang murid, sebelum semuanya bersorak, saling berpelukan.

Banyak yang terluka parah, bahkan ada yang tak sadarkan diri. Selama perjalanan menyusuri dungeon yang mematikan, mungkin mereka semua makhluk pertama yang berhasil menyusuri tempat ini hidup-hidup.

“Kerja bagus kalian semua!” Saaochi mengacungkan jempol.

Tatkala momen mengharukan itu, sebuah portal berwarna biru tua muncul. Tandakan kemenangan ini nyata dan mereka diperbolehkan pulang.

“Ayo cepat, portal akan tertutup.”

Yang lain mengangguk, lantas semuanya sembari memapah mereka yang terluka dan pingsan, melangkah melewati portal itu. Untuk kembali pada markas DianXy.

=••=