Isi Cerita
Shou Masayoshi

Chapter 4

 

 Di kala langit memerah menandakan mulai sore. Cahaya yang menyinari planet Mursa mulai tergantikan seakan-akan hari akan menjelang malam. Gua yang gelap bagaikan sebuah ancaman bagi mereka yang berani masuk terdapat para murid yang ada di dalam sedang berjalan menyusuri gua gelap mengamati area sekitar bersiap untuk serangan selanjutnya. Sebelumnya, mereka mencoba mengakses jam tangan untuk menelepon mentor akan tetapi tidak ada yang menjawab. Perjalanan yang panjang membuat mereka mengobrol satu sama lain.

"Apakah kalian baik-baik saja sekarang?" Freya membuka suara menanyakan keadaan para murid yang ada disana. "Sepertinya begitu," Shou menjawabnya sembari meregangkan lengannya yang pegal yang telah dia perban dengan helai pakaiannya yang tidak sengaja robek akibat pertarungan dengan monster sebelumnya.

"Mana para mentor gak ngejawab panggilan lagi, dasar seleb" Amarine yang mencoba mengakses jam tangannya hanya berdengus kesal lantas Shou mencoba membela mungkin saja para mentor ingin mereka beradaptasi jika bertemu lawan yang kuat..?

Dibalik keluh-kesah para murid yang ada pandangannya teralihkan dengan seorang perempuan bermata heterochromia menanyakan keadaan pemuda itu yang segera disangkal untuk menolak istirahat. Sebelumnya, botol airnya yang dia simpan sebelum pergi tidak ada yang ternyata botol air itu telah terjatuh di atas ludah lava yang dikeluarkan oleh mulut naga. Niatnya ingin membersihkan luka bakar yang masih membekas di lengannya akan tetapi salah satu murid menawarkan botol air, segera ia teguk air itu tidak lupa membersihkan luka yang ada di lengannya secukupnya.

Obrolan berakhir di sana, bagaikan terompet malaikat maut yang datang menghampiri mereka membuat suasana mencekam mempersiapkan posisi berjaga, suara pintu yang terukir simbol-simbol kuno membuka perlahan sehingga seisi gua itu bergetar hebat hingga stalakitit berjatuhan. Penampakkan monster mengerikan dua kepala satu badan berukuran besar yang tampaknya telah menunggu kedatangan mangsanya. Para murid merasa diri mereka telah dicekik sesuatu hingga kesusahan untuk bernapas ataupun bergerak maju.

 

"Jangan menyerah, kita masih harus hidup!".

"Maksudku, bagaimana kita harus membunuhnya?".

 

Disaat keadaan makin memburuk, monster itu terkekeh sinis dengan atas kehadiran mereka.

"Spesial mutant kah? Lebih mengerikan dari kukira,"  batinnya menyuruh menghindar tanda-tanda sebuah bahaya akan datang menimpa dirinya. Ia menarik satu bulu sayapnya mengubah sebilah belati putih mengkilap yang tajam menggenggam erat-erat belatinya.

Seperti yang telah diperkirakan, salah satu kepala ular menatap ke mereka dengan pupilnya yang bisa mengubah orang menjadi batu. Shou yang tersadar segera memperingati murid untuk jangan melihat pupil mata ular itu sementara ia terbang menjauh membalikkan badan dan bersembunyi di balik dinding gua. Shou menghela nafas berat karena ia tidak bisa terbang leluasa ditempat yang sempit seperti saat ini. Ia berencana melemparkan belati sayapnya ke arah mata monster itu lantas ia keluar dari persembunyiannya tanpa memandang arah matanya.

Instingnya berkata sebuah batu besar dilemparkan ke arahnya tetapi semuanya terlambat. Batu besar telah terlemparkan ke arahnya dengan cepat dan kuat mengenai lengan kanannya seakan akan remuk seketika saat ia juga ikut terhempaskan ke dinding gua dengan kuat hingga stalakitit ikut berjatuhan. Shou mengernyit kan pandangan matanya yang buram saat lendir orange kekuningan menetes kebawah dari atas kepalanya, ia menoleh ke lengan kanannya yang terjepit bongkahan batu besar mencoba menarik lepas lengannya dari batu akan tetapi itu hanya menambah lukanya melebar saja.

Keadaan semakin mendesak dengan gempa yang didasari stalakitit yang berjatuhan dari atas gua membuat para murid yang terkena mengalami luka fatal. Pemuda itu masih keras mencoba melepaskan dirinya dari bongkahan batu besar dengan mendorongnya demi sedikit, ia tidak mau berdiam diri oleh bongkahan batu. Darahnya terus menetes ke bawah mengotori tanah gersang dengan darahnya. Di kala ia fokus untuk melepaskan diri, terkejut kehadiran burung hantu terbang mendarat mengangkat bongkahan batu itu menjauh dari lengannya dan menghempaskannya kuat ke arah monster itu. Ia berterima kasih kepada Nyx sang burung hantu dibalas anggukan.

Berusaha berdiri berposisi ingin melemparkan serpihan belatinya yang hancur menjadi partikel ke arah sang monster. Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit di kakinya yang mengalami cedera sebab monster yang memperluas domainnya. Keadaan semakin memanas akibat terlalu banyak murid berjatuhan dengan luka fatal di alaminya membuat murid-murid yang masih bertahan kesusahan membalas balik serangan monster besar. Tapi kesempatan telah mereka rebut dari monster itu mendapatkan celah untuk membalas balik monsternya kini cedera dengan serangan membabi-buta para murid.

Shou yang tersadar kembali menatap tajam leher monsternya mencoba mengangkat lengan kirinya gemetar mengatur arah bidikannya jarum putih dari gabungan bulu sayapnya yang rontok mengenai sasaran tepat di leher sang monster. Akibat dorongan angin yang terlalu kuat membuatnya terhempas ke belakang. Teriakan mengisi dungeon memekikkan telinga bagi mereka yang tidak sempat menutup rapat telinganya. Kemarahan sang monster telah mencapai pucuknya. Gravitasi di gua menarik mereka ke menetap di darat, rune sihir diaktifkan menjadikan medan darat hancur. Keadaan telah terbalik, para murid yang mendekat di hantam membabi-buta seakan belum selesai, serpihan-serpihan tajam batu terangkat ke atas dihempaskannya melesat ke arah mereka yang belum siap untuk menghindar.

Membelalakkan matanya menatap serpihan tajam yang akan segera menusuk ke matanya segera ditangkis kuat oleh Shou yang menggunakan sayap kirinya membalas balik serangan yang melesat cepat ke arah sang monster dengan kencang.

Shou mendengus kesal karena itu belum cukup baginya untuk melemahkan sang monster akan tetapi siapa sangka pahlawan kesiangan datang terjatuh di kepala monsternya hanya bisa memandang kebingungan dari segala hal kenapa harus mendarat di atas kepala...

Satu persatu tiga mentor jatuh kebawah dengan elit sebelum ditangkap oleh monster yang menggeram marah karena kedatangan tamu tak diundang. Para murid yang ada di sana menatap tak percaya kedatangan tiga mentor yang siap mengevakuasi semua murid yang ada di sana. Salah satu mentor berteriak untuk meminta para murid yang terluka untuk segera mundur secepatnya yang telah ia persiapkan sebuah shield hologram. Monster menghentakkan tangannya ke tanah menggeram marah melayangkan angin besar mereka semua terpental jatuh.

Shou membelalakkan matanya frustasi berharap semua orang yang ada di sana selamat tanpa ada yang tiada. Ia menggeram marah mengigit bibirnya "seandainya saya tidak terluka parah sudah kupastikan saya akan ikut menolong..," mengepalkan tangannya kuat-kuat tidak bisa berdiam diri hanya untuk menonton. "Jangan gegabah, nanti memperburuk keadaan, tetap disini, jangan keluar dari dinding hologram" perintahnya. "Baiklah," tetapi itu tidak membuatnya tenang memandang semua orang yang berjuang mati-matian mengalahkan sang monster.

 Monster tampak melemah seiring berjalannya racun yang telah memasuki aliran tubuhnya menjadi kebas membalas balik serangan semua orang yang ada di sana dengan cakarnya menggunakan satu tangannya yang masih bisa digerakkan. Geraman dan teriakan bagaikan ingin runtuh membuat atap gua hentak runtuh batu ikut berjatuhan dari atas sana. Ia memunculkan minionnya dari mayat-mayat yang sudah lama menjadi gumpalan tulang tak berharga hanya untuk memulihkan keadaannya.

Kemenangan telah diraih, monster telah binasa di tangan para mentor membuat semua murid bersyukur. Portal muncul di hadapan dan segera mengadakan evakuasi untuk semua yang ada disana. Sebelumnya, Shou di perban oleh Alice jadi itu bisa membuat sedikit lebih mendingan dari sebelumnya ia menghela nafas lega dengan kemenangan yang telah diraih, ia tersenyum lega memasuki portal di tengah jalan pemandangannya menjadi buram.