03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Di kala langit memerah menandakan mulai sore.
Cahaya yang menyinari planet Mursa mulai tergantikan seakan-akan hari akan
menjelang malam. Gua yang gelap bagaikan sebuah ancaman bagi mereka yang berani
masuk terdapat para murid yang ada di dalam sedang berjalan menyusuri gua gelap
mengamati area sekitar bersiap untuk serangan selanjutnya. Sebelumnya, mereka
mencoba mengakses jam tangan untuk menelepon mentor akan tetapi tidak ada yang
menjawab. Perjalanan yang panjang membuat mereka mengobrol satu sama lain.
"Apakah
kalian baik-baik saja sekarang?" Freya membuka suara menanyakan keadaan
para murid yang ada disana. "Sepertinya begitu," Shou menjawabnya
sembari meregangkan lengannya yang pegal yang telah dia perban dengan helai
pakaiannya yang tidak sengaja robek akibat pertarungan dengan monster
sebelumnya.
"Mana
para mentor gak ngejawab panggilan lagi, dasar seleb" Amarine yang mencoba
mengakses jam tangannya hanya berdengus kesal lantas Shou mencoba membela
mungkin saja para mentor ingin mereka beradaptasi jika bertemu lawan yang
kuat..?
Dibalik
keluh-kesah para murid yang ada pandangannya teralihkan dengan seorang
perempuan bermata heterochromia menanyakan keadaan pemuda itu yang segera
disangkal untuk menolak istirahat. Sebelumnya, botol airnya yang dia simpan
sebelum pergi tidak ada yang ternyata botol air itu telah terjatuh di atas
ludah lava yang dikeluarkan oleh mulut naga. Niatnya ingin membersihkan luka
bakar yang masih membekas di lengannya akan tetapi salah satu murid menawarkan
botol air, segera ia teguk air itu tidak lupa membersihkan luka yang ada di
lengannya secukupnya.
Obrolan
berakhir di sana, bagaikan terompet malaikat maut yang datang menghampiri
mereka membuat suasana mencekam mempersiapkan posisi berjaga, suara pintu yang
terukir simbol-simbol kuno membuka perlahan sehingga seisi gua itu bergetar
hebat hingga stalakitit berjatuhan. Penampakkan monster mengerikan dua kepala
satu badan berukuran besar yang tampaknya telah menunggu kedatangan mangsanya.
Para murid merasa diri mereka telah dicekik sesuatu hingga kesusahan untuk
bernapas ataupun bergerak maju.
"Jangan
menyerah, kita masih harus hidup!".
"Maksudku,
bagaimana kita harus membunuhnya?".
Disaat
keadaan makin memburuk, monster itu terkekeh sinis dengan atas kehadiran mereka.
"Spesial
mutant kah? Lebih mengerikan dari kukira,"
batinnya
menyuruh menghindar tanda-tanda sebuah bahaya akan datang menimpa dirinya. Ia
menarik satu bulu sayapnya mengubah sebilah belati putih mengkilap yang tajam
menggenggam erat-erat belatinya.
Seperti
yang telah diperkirakan, salah satu kepala ular menatap ke mereka dengan
pupilnya yang bisa mengubah orang menjadi batu. Shou yang tersadar segera
memperingati murid untuk jangan melihat pupil mata ular itu sementara ia
terbang menjauh membalikkan badan dan bersembunyi di balik dinding gua. Shou
menghela nafas berat karena ia tidak bisa terbang leluasa ditempat yang sempit
seperti saat ini. Ia berencana melemparkan belati sayapnya ke arah mata monster
itu lantas ia keluar dari persembunyiannya tanpa memandang arah matanya.
Instingnya
berkata sebuah batu besar dilemparkan ke arahnya tetapi semuanya terlambat.
Batu besar telah terlemparkan ke arahnya dengan cepat dan kuat mengenai lengan
kanannya seakan akan remuk seketika saat ia juga ikut terhempaskan ke dinding
gua dengan kuat hingga stalakitit ikut berjatuhan. Shou mengernyit kan
pandangan matanya yang buram saat lendir orange kekuningan menetes kebawah dari
atas kepalanya, ia menoleh ke lengan kanannya yang terjepit bongkahan batu
besar mencoba menarik lepas lengannya dari batu akan tetapi itu hanya menambah
lukanya melebar saja.
Keadaan
semakin mendesak dengan gempa yang didasari stalakitit yang berjatuhan dari
atas gua membuat para murid yang terkena mengalami luka fatal. Pemuda itu masih
keras mencoba melepaskan dirinya dari bongkahan batu besar dengan mendorongnya
demi sedikit, ia tidak mau berdiam diri oleh bongkahan batu. Darahnya terus
menetes ke bawah mengotori tanah gersang dengan darahnya. Di kala ia fokus
untuk melepaskan diri, terkejut kehadiran burung hantu terbang mendarat
mengangkat bongkahan batu itu menjauh dari lengannya dan menghempaskannya kuat
ke arah monster itu. Ia berterima kasih kepada Nyx sang burung hantu dibalas
anggukan.
Berusaha
berdiri berposisi ingin melemparkan serpihan belatinya yang hancur menjadi
partikel ke arah sang monster. Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit di
kakinya yang mengalami cedera sebab monster yang memperluas domainnya. Keadaan
semakin memanas akibat terlalu banyak murid berjatuhan dengan luka fatal di
alaminya membuat murid-murid yang masih bertahan kesusahan membalas balik
serangan monster besar. Tapi kesempatan telah mereka rebut dari monster itu
mendapatkan celah untuk membalas balik monsternya kini cedera dengan serangan
membabi-buta para murid.
Shou
yang tersadar kembali menatap tajam leher monsternya mencoba mengangkat lengan
kirinya gemetar mengatur arah bidikannya jarum putih dari gabungan bulu
sayapnya yang rontok mengenai sasaran tepat di leher sang monster. Akibat
dorongan angin yang terlalu kuat membuatnya terhempas ke belakang. Teriakan
mengisi dungeon memekikkan telinga bagi mereka yang tidak sempat menutup rapat
telinganya. Kemarahan sang monster telah mencapai pucuknya. Gravitasi di gua
menarik mereka ke menetap di darat, rune sihir diaktifkan menjadikan medan
darat hancur. Keadaan telah terbalik, para murid yang mendekat di hantam
membabi-buta seakan belum selesai, serpihan-serpihan tajam batu terangkat ke
atas dihempaskannya melesat ke arah mereka yang belum siap untuk menghindar.
Membelalakkan
matanya menatap serpihan tajam yang akan segera menusuk ke matanya segera
ditangkis kuat oleh Shou yang menggunakan sayap kirinya membalas balik serangan
yang melesat cepat ke arah sang monster dengan kencang.
Shou
mendengus kesal karena itu belum cukup baginya untuk melemahkan sang monster
akan tetapi siapa sangka pahlawan kesiangan datang terjatuh di kepala
monsternya hanya bisa memandang kebingungan dari segala hal kenapa harus
mendarat di atas kepala...
Satu
persatu tiga mentor jatuh kebawah dengan elit sebelum ditangkap oleh monster
yang menggeram marah karena kedatangan tamu tak diundang. Para murid yang ada
di sana menatap tak percaya kedatangan tiga mentor yang siap mengevakuasi semua
murid yang ada di sana. Salah satu mentor berteriak untuk meminta para murid
yang terluka untuk segera mundur secepatnya yang telah ia persiapkan sebuah
shield hologram. Monster menghentakkan tangannya ke tanah menggeram marah
melayangkan angin besar mereka semua terpental jatuh.
Shou
membelalakkan matanya frustasi berharap semua orang yang ada di sana selamat
tanpa ada yang tiada. Ia menggeram marah mengigit bibirnya "seandainya
saya tidak terluka parah sudah kupastikan saya akan ikut menolong..,"
mengepalkan tangannya kuat-kuat tidak bisa berdiam diri hanya untuk menonton.
"Jangan gegabah, nanti memperburuk keadaan, tetap disini, jangan keluar
dari dinding hologram" perintahnya. "Baiklah," tetapi itu tidak
membuatnya tenang memandang semua orang yang berjuang mati-matian mengalahkan
sang monster.
Monster tampak melemah seiring berjalannya
racun yang telah memasuki aliran tubuhnya menjadi kebas membalas balik serangan
semua orang yang ada di sana dengan cakarnya menggunakan satu tangannya yang
masih bisa digerakkan. Geraman dan teriakan bagaikan ingin runtuh membuat atap
gua hentak runtuh batu ikut berjatuhan dari atas sana. Ia memunculkan minionnya
dari mayat-mayat yang sudah lama menjadi gumpalan tulang tak berharga hanya
untuk memulihkan keadaannya.
Kemenangan
telah diraih, monster telah binasa di tangan para mentor membuat semua murid
bersyukur. Portal muncul di hadapan dan segera mengadakan evakuasi untuk semua
yang ada disana. Sebelumnya, Shou di perban oleh Alice jadi itu bisa membuat
sedikit lebih mendingan dari sebelumnya ia menghela nafas lega dengan
kemenangan yang telah diraih, ia tersenyum lega memasuki portal di tengah jalan
pemandangannya menjadi buram.