03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Aku membuka mataku setelah 10 menit berlalu sejak Saaochi mendatangiku tadi. Aku menyandarkan badanku ke kursi yang ku duduki lalu mengucek pelan mataku, ya sepertinya aku tidak benar-benar tertidur setelah Saaochi meninggalkan kamar ini.
Setelah membereskan eksperimen yang ku lakukan di atas meja itu dan mengambil hasil eksperimennya yang berupa cairan racun dan amunisi dengan bahan yang baru, aku mengambil senjataku yang ku letakkan tepat di bawah meja lalu meletakkannya ke atas meja.
"Sepertinya aku harus memakai racun ini sedikit-sedikit saja," ucapku sambil mengambil botol kecil berbahan kaca dengan cairan berwarna hitam di dalamnya dan menggoyang-goyangkannya.
"Hitam? Ini jelas cukup berbahaya, apa aku masih mempunyai penawarnya ya? Untuk racun tipe ini... iya ada, masih banyak."
Aku mengambil salah satu amunisi dan mengisinya dengan racun itu, untuk sisa amunisi yang ada akan ku biarkan dengan racun biasa dan beberapa tidak di isi dengan racun. Aku mengambil senjataku lalu memasukkan amunisi yang tidak di isi racun lalu mengarahkannya ke bidikan di dekat pintu.
Shyut!
'Ternyata ini lebih berat dari yang ku perkirakan, sepertinya aku harus menipiskan amunisinya lagi...'
Menghela nafas lelah, aku menyibak poniku dan menatap malas papan bidikan itu.
"Sepertinya aku perlu hal-hal yang manis," ucapku lalu bangkit dari duduk dan berjalan keluar dari kamar asrama.
Suara langkah kakiku menggema di sepanjang lorong asrama, sepertinya para murid sedang beristirahat dengan tenang setelah kelas. 'Tunggu kelas?' Aku berhenti berjalan lalu memegang daguku, sepertinya aku harus menghadap Komandan Maula dan juga Ketua dulu sebelum ke Dapur.
Aku mengganti tujuanku dan mulai berjalan untuk menemui Komandan Maula dan Ketua, beruntung tidak jauh dari situ aku melihat Komandan Maula yang sedang berjalan entah kemana.
"Selamat sore Komandan." Ucapku saat berada di samping Komandan Maula dengan senyumku yang terlihat tegang.
"Selamat sore juga Luisa, ada apa?" Balas Komandan Maula sambil memberhentikan jalannya dan menatapku dengan senyumannya yang sepertinya tidak akan luntur.
"Sebenarnya tadi aku melewatkan jadwal pemberian materi..." ucapku dengan suara pelan serta menundukkan kepala, tidak berani menatap Komandan Maula.
Hening sesaat lalu Komandan Maula bicara lagi, "Untuk kali ini saya maafkan, lain kali tolong kabari lebih awal jika tidak bisa memberikan materi. Sudahlah, jangan menunduk begitu," ucap Komandan Maula dengan tenang sambil memegang bahuku.
Aku menganggukkan kepalaku lalu berterimakasih dan berpamitan dengan Komandan.
Suara kakiku kembali terdengar sepanjang lorong ke arah Dapur—
"Halo Ka Luisa~!" Aku berbalik dan melihat Naren sedang berlari ke arahku dengan senyumnya yang merekah dan melambai-lambaikan tangannya.
"Halo Naren, sudah selesai memberikan materi?" Aku menoleh ke arah Naren yang sudah berjalan di sampingku.
"Iya sudah hehe~ Kakak mau kemana?" Jawab Naren sambil menggandeng tanganku dan mengayun-ayunkannya.
"Aku mau ke Dapur lebih tepatnya mencari makanan atau minuman yang manis-manis." Sahutku sambil ikut mengayun-ayunkan tangan dan tersenyum.
"Waahh! Aku ikut! Aku ikut! Mau coklat hehe~"
Kami pun berjalan sambil mengayun-ayunkan tangan kami ke dapur dan memberi tahu Elliot dan Eddie untuk menyiapkan makanan manis dan di antar ke Ruang Istirahat Mentor. Setelah itu kami pergi berjalan ke Ruang Istirahat Mentor di sana sudah ada Saaochi yang sedang berleha-leha di atas sofa.
"Hai kalian berdua," ucap Saaochi sambil melambaikan tangannya ke arahku dan juga Naren.
"Halo Ka Saaochi!" Sahut Naren dengan bersemangat.
"Halo Saaochi." Sahutku juga dengan nada yang datar.
Lalu aku berjalan ke arah sofa yang lain dan duduk di sana sambil menyandarkan punggungku. Naren sudah duduk di samping Saaochi dan mulai berbicara, lebih tepatnya membicarakan tentang murid-murid di kelas tadi.
"Iya lucu banget, ngomong-ngomong bukankah ada rumor beredar tentang hubungan Bastian dan salah satu murid? Sepertinya mereka berpacaran." Celetuk Saaochi sambil mengarahkan tangannya seperti sedang membisiki rahasia negara.
"Sepertinya itu sudah menjadi rahasia umum." Ucap Naren sambil menuruti gaya Saaochi.
Aku menatap mereka berdua sambil mengunyah biskuit yang sudah di siapkan oleh orang-orang di Dapur, menelan habis lalu meminum es coklat dalam sekali teguk.
"Tidak baik membicarakan sepasang kekasih," ucapku lalu menyumpal mulut Saaochi dan Naren dengan biskuit yang ada sambil tersenyum.
Mereka akhirnya diam sambil mengunyah dengan tenang biskuit itu tidak lama kemudian aroma mawar yang khas tercium, Bastian muncul di dekat pintu dan menyapa kami.
"Kalian di sini." Ucapnya dengan datar.
"Habis darimana Om?" Jawab Naren sambil meminum es coklat miliknya dan menatap Bastian dengan menaik-turunkan alisnya.
"Berpatroli dengan Ketua, apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tanya Bastian sambil menatap Naren dengan tatapan kesal di balik wajah datarnya.
"Gibahin kamu." Sahut Saaochi sambil menatap Bastian dan juga meniru ekspresi Naren.
"Hah?" Cengo Bastian dengan alis yang mengerut.
Aku menatap Saaochi dan Naren sambil menggeleng-gelengkan kepala, menatap ke arah Bastian dan menunjuk ke atas meja yang tersaji makanan dan minuman.
"Ghibahin yang lain juga sih.. Bastian mau minum juga?" Tawarku sambil membenarkan perkataan Saaochi.
"Tidak, terimakasih atas tawarannya Luisa." Balasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar Bapak-Bapak formalitas~" celutuk Naren sambil meminum es coklatnya.
"..." Bastian terdiam lalu menerbangkan cangkir Naren ke langit-langit.
"Heh! Kekerasan terhadap anak kecil!" Sentak Saaochi ke Bastian yang mukanya terlihat kusut, "Kusam amat tu muka kaya baju belum di gosok, kenapa? Ada perintah baru lagi kah?"
"Belum cuci muka mungkin, makanya mukanya kusam, kusut, butek udah kaya kaca belum di lap." Ucapku sambil meminum es coklat milikku dua sekaligus menggunakan sedotan.
"Kita belum gajian juga. Aku mau beli ayunan listrik buat di kamar nanti." Lanjutku setelah meminum minumanku dengan berkesan.
"Benar, aku mau beli kandang Naga. Siapa tahu nanti kita tiba-tiba punya Naga." Balas Saaochi sambil menyeruput minumannya dengan normal.
"Kalau aku, aku mau beli coklat banyak-banyak!!" Sahut Naren dengan nada yang antusias.
"...Ketua meminta kita melemparkan para murid ke Dungeon." Celutuk Bastian sambil menghela nafas.
"Uhuk- uhuk- APA? MELEMPAR APA??" Kaget Naren.
"Tiba juga akhirnya masa mereka untuk bersenang-senang." Aku menyatukan kedua telapak tanganku sambil terkekeh pelan, "Turut berduka cita, semoga tidak mati nanti."
"Asik juga tuh!" Sahut Saaochi lalu meneguk minumannya sampai habis dan berdiri, "Kapan? Sekarang?"
Bastian menganggukkan kepalanya dan memberitahu kalau dia akan menyiapkan alat teleportasinya. Aku dan Saaochi pergi ke ruang penyiaran untuk mengumumkan agar seluruh murid berkumpul ke Aula Utama sedangkan Naren dia pergi ke Gedung Utama untuk menyambut para murid.
Setelah itu aku dan Saaochi pergi ke lantai dua di Gedung Utama, di sana sudah ada Mentor lain dan Ketua yang sedang memperhatikan murid. Tidak lama kemudian sebuah tentakel muncul mengelilingi para murid, para Mentor termasuk aku dan juga Ketua melambaikan tangan untuk mereka sambil tersenyum bisnis. Setelah Kaynel menyampaikan salam perpisahan untuk para murid, tentakel yang mengelilingi para murid mulai menyapu mereka bak pesulap seluruh murid terlempar ke Dungeon.
Setelah itu para mentor pergi ke ruang istirahat untuk memantau pergerakan para Murid di Dungeon secara bersama-sama.
Aku menoel tangan Naren dan berbisik padanya, "Aku mau ke Dapur, kamu mau ikut?"
"Ikut!" Jawab Naren secepat kilat, setelah itu aku izin pergi ke Dapur bersama Naren.
Kami duduk di sana sambil memantau hologram yang menampilkan para murid yang sedang kebingungan sambil meminum es coklat.
Tidak lama kemudian Saaochi datang dan ikut memantau bersamaku dan Naren, "Kalian berdua ini. Malah mendekam di sini." Ucapnya sambil menumpu tangannya di atas meja.
"Shuut! Udahlah Kakak juga ikut kok." Sahut Naren sambil menempelkan jari telunjuknya.
"Ada yang mati tidak ya?" Lanjutnya saat melihat para murid yang mulai melawan seekor Cerberus.
"Entahlah.." aku memegang kedua gelasku dan meminum keduanya menggunakan sedotan.
Setelah beberapa jam para murid akhirnya berhasil mengalahkan Cerberus itu dan melanjutkan perjalanan mereka lebih dalam di Dungeon, tapi sepertinya mereka sedang terkena sial karena di depan mereka ada seekor Naga Api yang menghadang dengan tatapan garang.
Saaochi tiba-tiba berteriak senang saat melihat Naga Api itu muncul, sepertinya dia kelepasan karena setelah itu tiba-tiba saja dia menjadi kalem. Dia juga berteriak histeris saat Naga Api itu terbunuh dengan brutal oleh salah satu murid, aku dan Naren menatap Saaochi dengan miris dan mulai menepuk-nepuk kepalanya.
Para murid itu terlihat berantakan tapi mereka harus keluar dari Dungeon bukan? Jadi mereka mau tidak mau harus berjalan terus. Setelah mengalahkan Cerberus dan Naga sepertinya beberapa dari mereka mulai menunjukkan potensi yang berkembang drastis.
"Eh? Itu Manticore?" Aku menatap berbinar hologram yang menampilkan seekor Manticore yang menghadang para murid itu.
Lalu setelah itu aku berteriak tertahan saat ekor Manticore itu di lahap oleh salah satu murid, sekarang gantian Saaochi dan Naren yang menepuk-nepuk kepalaku. Tapi ku rasa hanya Naren yang benar-benar menepuk kepalaku karena bisa bahaya kalau Saaochi yang menepuk kepalaku.
Setelah bersedih karena Manticore itu terbantai aku lalu memakan banyak makanan manis dengan muka yang merengut. Setelah melihat ketiga monster di dalam Dungeon itu terbantai kami memutuskan untuk pergi berkumpul kembali dengan Mentor yang lain.
Tamat.