03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Setelah pelajaran yang membuatnya
kewalahan, akhirnya Sienna dapat beristirahat dengan tenang di kamarnya.
Pintu kamar asramanya terbuka dan
membuat kaki panjangnya yang melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu,
sesekali dirinya meregangkan otot-ototnya ataupun menguap karena merasa lelah,
di bahunya terlihat Nyx dalam wujud burung normal sedang bertengger dengan
nyaman.
“Kali ini saya sangat ingin
istirahat dalam jangka waktu yang lama.”
Walaupun bernolog, Sienna tau jika
Nyx akan menyetujui ucapannya, apalagi dirinya seringkali tidak fokus karena
kurang tidur sehingga terkena serangan tidak terduga saat mengendalikan
pergerakan Nyx.
Tetapi Sienna harus mengurungkan
niatnya yang jarang muncul itu saat indra pendengarannya mendeng pengumuman
untuk segera berkumpul di aula utama dengan seragam latihan, dirinya hanya
memiliki waktu 15 menit untuk bersiap-siap.
Helaan nafas sontak keluar dari
bibir pemilik marga Kyrane itu. “Often I
have bad feeling when dealing with mentor.”
Walaupun sempat mengeluh, Sienna
tetap melaksanakan perintah yang diberikan dan pergi ke aula setelah mengganti
seragamnya. Tetapi disaat kakinya melangkahkan kakinya keluar kamar, perasaan
buruk itu semakin mengganggunya.
__________________________________
Saat di luar
aula, Sienna ikut bergabung dengan murid lainnya, walaupun masih tidak nyaman
namun dirinya masih berusaha agar terbiasa.
Bersama yang
lain, kakinya melangkah masuk ke dalam aula dan entah kenapa firasat nya
semakin buruk saat tidak menemukan adanya mentor di panggung yang biasanya
digunakan.
Tetapi
semuanya seolah terjawab hanya dengan penampakan tentakel yang mengelilingi
mereka.
Sienna tidak
memberikan respon apapun dan memilih mengalihkan perhatiannya pada lantai 2
karena sejak tadi dirinya merasakan seseorang memerhatikan mereka dari arah
sana.
Dirinya
tidak bisa lagi berfikir positif disaat
netranya menangkap perilaku para mentornya yang terlihat mencurigakan, mereka
hanya melambaikan tangannya dari lantai 2.
“Yo! Jangan
sampai mati ya!”
Belum saja
Sienna protes namun sebuah cahaya tiba-tiba saja muncul hingga membuat dirinya
dan murid lainnya lenyap dari aula utama.
__________________________________
Sienna
sedikit meringis namun tidak lama dirinya berdiri untuk melihat sekeliling,
hanya ada dua kata yang muncul di benaknya saat melihat goa itu, gelap dan
berbahaya.
Hawa yang
dirinya rasakan membuat kewaspadaannya meningkat karena dari hawanya pun goa
ini sudah dapat dipastikan kalau goa itu sama sekali tidak akan.
“Nyx.”
Hanya dengan
menyebut namanya Nyx sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh tuannya itu,
dengan cepat Nyx terbang dan mulai melihat sekeliling untuk mencari jalan
keluar lainnya.
Belum sampai
Nyx terbang, burung itu kembali bertengger di bahu Sienna.
“Hoo-hoo,”
Nyx menggelengkan kepalanya dan membuat Sienna menyadari kalau jalan keluar
dari goa ini hanya satu, namun dirinya ragu karena firasat nya semakin buruk.
“Saya tidak
memiliki pilihan lain selain mengikuti yang lainnya, untung saja visor ini
dapat membantu saya melihat dalam gelap.”
Pada
akhirnya Sienna hanya mengikuti yang lainnya, dilihatnya sekeliling untuk
mencari kejanggalan dan dia mengetahui satu fakta, tempat ini pun adalah
dungeon yang berarti bisa saja ada hal-hal aneh yang terjadi.
Semakin jauh
dirinya melangkah semakin aneh juga hawa yang dia rasakan.
Tiba-tiba
saja tanah yang dipijak bergetar, membuat nya kaget dan secara refleks mamasang
kuda-kuda.
Dari arah
depan terlihat seekor Cerberus, monster anjing berkepala tiga yang menatap
Sienna dan lainnya dengan tatapan penuh amarah.
Cerberus itu
berusaha menahan amarahnya dengan menatap para murid seolah mengancam mereka,
namun karena tidak digubris berakhir lah Cerberus murka dan menyerang para
siswa siswa dengan cakarnya.
Raumannya
yang keras berhasil mengguncangkan goa dan tepat disaat itu pula monster itu
menyembur lavanya.
Sienna yang
berada di posisi aman merasa lega, namun netranya menangkap sosok Arumi yang
berada tidak jauh dari Cerberus. Dengan cekatan, Sienna menarik Arumi sebelum
terkena lava.
“Anda
baik-baik saja, nona?”
Arumi tidak
nampak shock hanya menganggukkan kepalanya.
“Berhati-hatilah
nona, fokus.”
Sienna
sedikit menepuk kepala Arumi sebelum akhirnya melompat menjauhi pertempuran
karena dalam hal ini lava ataupun api adalah kelemahannya.
Sienn
semakin merasa tidak berguna tepat disaat Cerberus menembakkan lava lebih
banyak hingga goa tersebut terasa panas, tubuhnya yang sejak awal selalu tidak
bisa bersahabat dengan elemen satu ini.
Nyx pun
sampai melindungi Sienna di dalam sayapnya agar tidak terkena lava sedikitpun.
Tidak banyak
yang bisa dilakukan, Nyx yang ingin menyerang harus mengurungkan niatnya karena
takut Sienna akan kenapa-kenapa dan juga dia pun tidak bisa banyak bergerak
karena lava ada dimana-mana.l
Hingga pada
akhirnya Cerberus tumbang dan terbakar dalam lava yang dia buat sendiri.
Sienna
terpaksa menunggangi Nyx karena tidak ingin terlalu berdekatan dengan lava
ataupun karena dirinya yang merasa sedikit lemas karena suhu panas.
Belum lama
mereka terbang, lagi-lagi hawa panas menyerang kulit Sienna hingga membuatnya
memegang erat tubuh Nyx.
Tepat disaat
itu juga api menyembur secara mendadak hingga membuat Nyx hampir saja tidak
dapat menghindari semburan api tersebut, Sienna yang berada di atas Nyx kaget
saat melihat ujung sayap kanan Nyx sedikit menghitam.
“Nyx, are you okay?!”
Melihat Nyx
menganggukkan kepalanya membuatn Sienna hanya bisa menghela nafas pelan,
netranya beralih pada naga api yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang mereka
semua.
Netranya
lalu beralih lagi ke arah teman-temannya yang di daratan dan menyerang naga
tersebut dengan kesusahan.
Sontak saja
Sienna mendapatkan ide. “Nyx, alihkan sedikit perhatian naga tersebut agar yang
lainnya dapat menyerangnya dengan mudah.”
Tanpa protes
Nyx mulai menyerang naga itu pada bagian sayap naga itu.
Naga mulai
diserang secara bertubi-tubi oleh para murid dari berbagai arah hingga akhirnya
tumbang.
Sienna
menghela nafas lega karena akhirnya bisa membantu yang lainnya dan tidak
menjadi beban, perasaan senang mulai menyelimuti nya karena berfikir kalau naga
adalah lawan terakhir mereka agar bisa keluar.
Namun, bagai
jatuh tertimpa tangga pula, tiba-tiba saja monster lainnya kembali muncul
menghampiri mereka dengan sendirinya, sedangkan mereka belum beristirahat
sedikitpun.
Hewan itu
adalah manticore, monster bertubuh singa yang memiliki sayap dan juga ekor
beracun seperti halnya ekor kalajengking.
Lagi dan
lagi semuanya harus melawan monster tersebut, walaupun diantaranya hanya bisa
berlindung ataupun menyembuhkan yang terluka.
Perasaan
kesal dan khawatir menjadi satu, sehingga Sienna memberikan sebuah perintah ke
Nyx.
“Anda lihat
monster itu? Bayangkan jika monster itu adalah mangsa yang lezat. Serang dia
kalau bisa cabik-cabik agar anda bisa memakannya dengan baik, jangan biarkan
dia hidup!”
Bagaikan
tersengat listrik, tatapan Nyx menjadi tajam saat menatap manticore itu, dengan
cepat dan Nyx terbang ke arah manticore dan menyerangnya bertubi-tubi bersama
dengan yang lainnya.
Sesekali
kaki Nyx menyerang sayap hingga ekor monster tersebut, namun Nyx tidak
menyadari jika serangannya akan dibalas hingga mengenai lengan kiri Sienna.
“?!” Mata
Sienna membulat saat merasakan perih dari racun yang mengenai lukanya.
“Sudah Nyx,
mari kita bantu yang lain.”
Nyx yang
awalnya khawatir saat baru menyadari luka tersebut hanya bisa patuh, dia
terbang menjauh agar gadis yang berada di punggungnya itu dapat melihat
sekitar.
“Itu.”
Tatapan Nyx
sontak beralih ke Damiel yang berusaha melukai manticore dengan seutas benang,
tanpa lama-lama Nyx terbang ke arah Damiel dan mencengkram bahu pemuda itu
hingga membawanya terbang tinggi.
“Tarik
benang itu dengan kuat, Nyx akan membantu anda!”
Terlihat
Damiel lantas menganggukkan kepalanya dan mulai menarik benangnya, Nyx pun
semakin terbang menjauh dari manticore.
Karena kali
ini Sienna tidak ingin diam saja, dengan nekat dirinya turun dan memijakkan
kakinya pada kaki Nyx dengan tangan kanannya yang memegang erat kaki besar itu.
Sienna ikut
menarik benang itu hingga akhirnya kaki manticore mulai berdarah.
Dengan
membabi-buta para murid menyerang manticore hingga akhirnya salah satu dari
mereka memotong ekor beracun monster tersebut, manticore pun tumbang dengan
keadaan tidak bernyawa lagi.
Walaupun
tidak tau apakah mereka harus melawan lagi, tapi perasaan lega lagi-lagi Sienna
rasakan.
Nyx terbang
turun ke daratan dan menurunkan Sienna serta Damiel yang berada di kakinya
hingga selamat, setelah itu tanpa rasa takut burung itu menghampiri mayat
manticore dan berencana untuk memakannya.
Sienna hanya
membiarkan karena dia pun tau kalau Nyx belum makan setelah kelas sebelumnya,
netranya beralih dan melihat teman-temannya mulai kehabisan tenaga para
monster.
“Entah
kenapa saya merasakan hal familiar dari insiden kali ini,” ditatapnya
langit-ugoa dengan tatapan kosong.
‘Kali ini, mereka tidak akan mati seperti nasib kalian. Saya
jamin.’
To Be
Continued