Isi Cerita
Atalanta Sienna Kyrane

Setelah pelajaran yang membuatnya kewalahan, akhirnya Sienna dapat beristirahat dengan tenang di kamarnya.

 

Pintu kamar asramanya terbuka dan membuat kaki panjangnya yang melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu, sesekali dirinya meregangkan otot-ototnya ataupun menguap karena merasa lelah, di bahunya terlihat Nyx dalam wujud burung normal sedang bertengger dengan nyaman.

 

“Kali ini saya sangat ingin istirahat dalam jangka waktu yang lama.”

 

Walaupun bernolog, Sienna tau jika Nyx akan menyetujui ucapannya, apalagi dirinya seringkali tidak fokus karena kurang tidur sehingga terkena serangan tidak terduga saat mengendalikan pergerakan Nyx.

 

Tetapi Sienna harus mengurungkan niatnya yang jarang muncul itu saat indra pendengarannya mendeng pengumuman untuk segera berkumpul di aula utama dengan seragam latihan, dirinya hanya memiliki waktu 15 menit untuk bersiap-siap.

 

Helaan nafas sontak keluar dari bibir pemilik marga Kyrane itu. “Often I have bad feeling when dealing with mentor.”

 

Walaupun sempat mengeluh, Sienna tetap melaksanakan perintah yang diberikan dan pergi ke aula setelah mengganti seragamnya. Tetapi disaat kakinya melangkahkan kakinya keluar kamar, perasaan buruk itu semakin mengganggunya.

 

__________________________________

 

Saat di luar aula, Sienna ikut bergabung dengan murid lainnya, walaupun masih tidak nyaman namun dirinya masih berusaha agar terbiasa.

 

Bersama yang lain, kakinya melangkah masuk ke dalam aula dan entah kenapa firasat nya semakin buruk saat tidak menemukan adanya mentor di panggung yang biasanya digunakan.

 

Tetapi semuanya seolah terjawab hanya dengan penampakan tentakel yang mengelilingi mereka.

 

Sienna tidak memberikan respon apapun dan memilih mengalihkan perhatiannya pada lantai 2 karena sejak tadi dirinya merasakan seseorang memerhatikan mereka dari arah sana.

 

Dirinya tidak bisa lagi berfikir positif disaat netranya menangkap perilaku para mentornya yang terlihat mencurigakan, mereka hanya melambaikan tangannya dari lantai 2.

 

“Yo! Jangan sampai mati ya!”

 

Belum saja Sienna protes namun sebuah cahaya tiba-tiba saja muncul hingga membuat dirinya dan murid lainnya lenyap dari aula utama.

 

__________________________________

 

Sienna sedikit meringis namun tidak lama dirinya berdiri untuk melihat sekeliling, hanya ada dua kata yang muncul di benaknya saat melihat goa itu, gelap dan berbahaya.

 

Hawa yang dirinya rasakan membuat kewaspadaannya meningkat karena dari hawanya pun goa ini sudah dapat dipastikan kalau goa itu sama sekali tidak akan.

 

“Nyx.”

 

Hanya dengan menyebut namanya Nyx sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh tuannya itu, dengan cepat Nyx terbang dan mulai melihat sekeliling untuk mencari jalan keluar lainnya.

 

Belum sampai Nyx terbang, burung itu kembali bertengger di bahu Sienna.

 

“Hoo-hoo,” Nyx menggelengkan kepalanya dan membuat Sienna menyadari kalau jalan keluar dari goa ini hanya satu, namun dirinya ragu karena firasat nya semakin buruk.

 

“Saya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti yang lainnya, untung saja visor ini dapat membantu saya melihat dalam gelap.”

 

Pada akhirnya Sienna hanya mengikuti yang lainnya, dilihatnya sekeliling untuk mencari kejanggalan dan dia mengetahui satu fakta, tempat ini pun adalah dungeon yang berarti bisa saja ada hal-hal aneh yang terjadi.

 

Semakin jauh dirinya melangkah semakin aneh juga hawa yang dia rasakan.

 

Tiba-tiba saja tanah yang dipijak bergetar, membuat nya kaget dan secara refleks mamasang kuda-kuda.

 

Dari arah depan terlihat seekor Cerberus, monster anjing berkepala tiga yang menatap Sienna dan lainnya dengan tatapan penuh amarah.

 

Cerberus itu berusaha menahan amarahnya dengan menatap para murid seolah mengancam mereka, namun karena tidak digubris berakhir lah Cerberus murka dan menyerang para siswa siswa dengan cakarnya.

 

Raumannya yang keras berhasil mengguncangkan goa dan tepat disaat itu pula monster itu menyembur lavanya.

 

Sienna yang berada di posisi aman merasa lega, namun netranya menangkap sosok Arumi yang berada tidak jauh dari Cerberus. Dengan cekatan, Sienna menarik Arumi sebelum terkena lava.

 

“Anda baik-baik saja, nona?”

 

Arumi tidak nampak shock hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Berhati-hatilah nona, fokus.”

 

Sienna sedikit menepuk kepala Arumi sebelum akhirnya melompat menjauhi pertempuran karena dalam hal ini lava ataupun api adalah kelemahannya.

 

Sienn semakin merasa tidak berguna tepat disaat Cerberus menembakkan lava lebih banyak hingga goa tersebut terasa panas, tubuhnya yang sejak awal selalu tidak bisa bersahabat dengan elemen satu ini.

 

Nyx pun sampai melindungi Sienna di dalam sayapnya agar tidak terkena lava sedikitpun.

 

Tidak banyak yang bisa dilakukan, Nyx yang ingin menyerang harus mengurungkan niatnya karena takut Sienna akan kenapa-kenapa dan juga dia pun tidak bisa banyak bergerak karena lava ada dimana-mana.l

 

Hingga pada akhirnya Cerberus tumbang dan terbakar dalam lava yang dia buat sendiri.

 

Sienna terpaksa menunggangi Nyx karena tidak ingin terlalu berdekatan dengan lava ataupun karena dirinya yang merasa sedikit lemas karena suhu panas.

 

Belum lama mereka terbang, lagi-lagi hawa panas menyerang kulit Sienna hingga membuatnya memegang erat tubuh Nyx.

 

Tepat disaat itu juga api menyembur secara mendadak hingga membuat Nyx hampir saja tidak dapat menghindari semburan api tersebut, Sienna yang berada di atas Nyx kaget saat melihat ujung sayap kanan Nyx sedikit menghitam.

 

“Nyx, are you okay?!

 

Melihat Nyx menganggukkan kepalanya membuatn Sienna hanya bisa menghela nafas pelan, netranya beralih pada naga api yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang mereka semua.

 

Netranya lalu beralih lagi ke arah teman-temannya yang di daratan dan menyerang naga tersebut dengan kesusahan.

 

Sontak saja Sienna mendapatkan ide. “Nyx, alihkan sedikit perhatian naga tersebut agar yang lainnya dapat menyerangnya dengan mudah.”

 

Tanpa protes Nyx mulai menyerang naga itu pada bagian sayap naga itu.

 

Naga mulai diserang secara bertubi-tubi oleh para murid dari berbagai arah hingga akhirnya tumbang.

 

Sienna menghela nafas lega karena akhirnya bisa membantu yang lainnya dan tidak menjadi beban, perasaan senang mulai menyelimuti nya karena berfikir kalau naga adalah lawan terakhir mereka agar bisa keluar.

 

Namun, bagai jatuh tertimpa tangga pula, tiba-tiba saja monster lainnya kembali muncul menghampiri mereka dengan sendirinya, sedangkan mereka belum beristirahat sedikitpun.

 

Hewan itu adalah manticore, monster bertubuh singa yang memiliki sayap dan juga ekor beracun seperti halnya ekor kalajengking.

 

Lagi dan lagi semuanya harus melawan monster tersebut, walaupun diantaranya hanya bisa berlindung ataupun menyembuhkan yang terluka.

 

Perasaan kesal dan khawatir menjadi satu, sehingga Sienna memberikan sebuah perintah ke Nyx.

 

“Anda lihat monster itu? Bayangkan jika monster itu adalah mangsa yang lezat. Serang dia kalau bisa cabik-cabik agar anda bisa memakannya dengan baik, jangan biarkan dia hidup!”

 

Bagaikan tersengat listrik, tatapan Nyx menjadi tajam saat menatap manticore itu, dengan cepat dan Nyx terbang ke arah manticore dan menyerangnya bertubi-tubi bersama dengan yang lainnya.

 

Sesekali kaki Nyx menyerang sayap hingga ekor monster tersebut, namun Nyx tidak menyadari jika serangannya akan dibalas hingga mengenai lengan kiri Sienna.

 

“?!” Mata Sienna membulat saat merasakan perih dari racun yang mengenai lukanya.

 

“Sudah Nyx, mari kita bantu yang lain.”

 

Nyx yang awalnya khawatir saat baru menyadari luka tersebut hanya bisa patuh, dia terbang menjauh agar gadis yang berada di punggungnya itu dapat melihat sekitar.

 

“Itu.”

 

Tatapan Nyx sontak beralih ke Damiel yang berusaha melukai manticore dengan seutas benang, tanpa lama-lama Nyx terbang ke arah Damiel dan mencengkram bahu pemuda itu hingga membawanya terbang tinggi.

 

“Tarik benang itu dengan kuat, Nyx akan membantu anda!”

 

Terlihat Damiel lantas menganggukkan kepalanya dan mulai menarik benangnya, Nyx pun semakin terbang menjauh dari manticore.

 

Karena kali ini Sienna tidak ingin diam saja, dengan nekat dirinya turun dan memijakkan kakinya pada kaki Nyx dengan tangan kanannya yang memegang erat kaki besar itu.

 

Sienna ikut menarik benang itu hingga akhirnya kaki manticore mulai berdarah.

 

Dengan membabi-buta para murid menyerang manticore hingga akhirnya salah satu dari mereka memotong ekor beracun monster tersebut, manticore pun tumbang dengan keadaan tidak bernyawa lagi.

 

Walaupun tidak tau apakah mereka harus melawan lagi, tapi perasaan lega lagi-lagi Sienna rasakan.

 

Nyx terbang turun ke daratan dan menurunkan Sienna serta Damiel yang berada di kakinya hingga selamat, setelah itu tanpa rasa takut burung itu menghampiri mayat manticore dan berencana untuk memakannya.

 

Sienna hanya membiarkan karena dia pun tau kalau Nyx belum makan setelah kelas sebelumnya, netranya beralih dan melihat teman-temannya mulai kehabisan tenaga para monster.

 

“Entah kenapa saya merasakan hal familiar dari insiden kali ini,” ditatapnya langit-ugoa dengan tatapan kosong.

 

‘Kali ini, mereka tidak akan mati seperti nasib kalian. Saya jamin.’

 

 

To Be Continued