Isi Cerita
Saaochi

Saaochi meregangkan badannya. Suara tulang pinggangnya bagai terdengar patah di telinga Saaochi. Dia menoleh menatap Luisa yang menutup mulutnya. Tampaknya menguap.

Mereka baru saja memantau latihan murid-murid, sebagai pembelajaran pertama mereka. Melawan robot hologram setinggi empat meter. Ada berbagai macam kondisi, yang berani maju mengerahkan semua tenaga dan kemampuan. Saaochi suka, tapi tidak suka dengan caranya menyerahkan semuanya dalam sekali pertempuran. Tapi, Saaochi lebih tidak suka lagi dengan yang menjadi beban di pertempuran seperti itu. Yah, setidaknya, membuat kerja sama tim dadakan.

“Ke ruang istirahat, yuk. Ngopi dulu, sebelum lanjut,” ajak Saaochi. Dia sudah siap berdiri. Seakan ingin meninggalkan Luisa yang malah nemplok di meja.

“Oi!”

Helaan napas terdengar dari mulut Luisa. Dia akhirnya bangun, menatap Saaochi datar. “Iya, iya. Ayo.”

Luisa bangkit dari duduknya. Dengan segera, tangan Luisa diraih Saaochi, mengapitnya di antara lengan dan perutnya. Kantuknya barusan setelah melihat latihan para murid, tiba-tiba saja menghilang bak debu ditiup angin. Sepertinya memang efek Saaochi yang banyak komentar. Tapi, setidaknya itu berhasil membuat mata Saaochi melek, tidak seperti sebelumnya.

Diiringi ocehan Saaochi yang tampaknya jadi jauh lebih bersemangat seolah baru mengecap satu botol penuh kafein, dia menyeret Luisa ke ruang istirahat mentor.

=••=

Rupanya, Saaochi masih belum puas membahas tentang pelatihan tadi. Sampai-sampai, di ruang istirahat pun dia masih mengoceh tentang itu. Kali ini, Naren turut ada di sana. Ikutan mendengarkan sambil menyesap susu yang baru saja dibuat oleh chef DianXy. Naren sesekali menimpali, Luisa yang bertambah lelah memilih untuk diam saja sekalian.

Tiba-tiba saja Bastian muncul, lagaknya sudah mirip hantu benaran saja. Tapi, Saaochi yang masih sebal dengan kejadian beberapa jam lalu saat Bastian melempari Naren dengan baterai, membalasnya ketus. Rupanya, Bastian membawa berita, mengenai tugas baru. Yang tentu saja disambut senang dengan Saaochi. Bahkan Luisa pun sampai memanjatkan doa.

Tiba-tiba saja Saaochi berdiri dari kursinya. “Asik tuh,” ujarnya, diselingi tawa yang jika didengar, sudah mirip tawa penjahat saja. “Kapan? Sekarang?”

Bastian mengangguk saja, abaikan reaksi Saaochi. “Ya, kumpulkan mereka. Aku akan menyiapkan alat teleportasi.”

Setelahnya, Bastian menghilang lagi menjadi kabut. Luisa yang melihat itu malah nyeletuk, “enak ya, jadi Bastian.”

“Halah, kamu udah bilang itu beribu-ribu kali. Ayok cepat, kumpulkan murid!”

Naren menenggak habis susunya, lantas berlari kecil ke depan pintu sambil meloncat. “Ayok!”

=••=

Saaochi, Luisa, juga Naren masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya sudah ada Komandan Maula juga Ketua Rhino yang sudah duduk menghadap hologram di depan mereka.

“Selamat sore Komandan Maula, Ketua Rhino,” sapa mereka bertiga, secara bersamaan.

“Sore juga, Naren, Luisa, Saaochi.”

Lantas, setelah basa-basi kecil, ketiganya duduk di tempat masing-masing. Saaochi membuka tablet miliknya, mengetikkan sesuatu. Sampai tidak sadar jika Bastian juga Kaynel sudah melenggang masuk ke dalam. Hingga ketika hologram itu menyala, tampilkan keadaan dalam dungeon, ia meletakkan tablet miliknya. Dan mula fokus pada pekerjaan di depannya.

Di belakang mereka, terhampar sebuah informasi yang menunjukkan deskripsi para murid. Kekuatan mereka, kelemahan, dan lainnya. Semua itu terangkum sempurna.

Di dalam dungeon itu, para murid yang tampaknya tengah memproses segalanya, malah dikejutkan dengan kehadiran monster Ceberus, anjing raksasa yang konon katanya dikenal sebagai penjaga neraka. Kebanyakan dari mereka kabur dari si anjing, menghindarinya sebisa mungkin apalagi ketika dungeon itu perlahan berubah menjadi lautan lava. Ada beberapa yang maju, berusaha keras untuk menjadi garda terdepan bagi teman-temannya dan melumluhkan si Ceberus. Sedangkan, yang Saaochi lihat, ada seseorang yang berusaha menyembuhkan luka-luka temannya, melakukan perlindungan dari belakang. Wah, Saaochi sampai kaget, meskipun mereka tampak amburadul sekali.

Ketika ceberus berhasil dilumpuhkan akibat senjata makan tuan lebih tepatnya, Ceberus itu terlahap oleh lautan lavanya sendiri setelah mengalami beberapa serangan dari para murid.

Nampaknya, bernapas lega sudah tak ada gunanya sekarang. Baru berjalan sedikit, mereka sudah dihadang makhluk besar yang tengah terbang.

Tapi, Saaochi tidak meringis seperti tadi, dia malah tampak bersemangat setelah melihat naga yang warnanya merah pekat itu.

Saaochi beringsut dari kursi, sedikit mendekat pada Ketua Rhino yang kebetulan duduk bersebelahan.

“Ekhem, Pak Rhino. Naganya kalau nggak mati, boleh naganya dibawa ke markas tidak?”

Ketua Rhino menoleh, sempat tersenyum sampai matanya menyipit. “Tidak boleh, Saaochi. Nanti naganya mau diletakin di mana.”

Mendengar jawaban itu, Saaochi menghela napas pelan. Lalu mengangguk-angguk lesu. Kepalanya sampai tertunduk lemas. Luisa dan Naren tampaknya merasa kasihan padanya, mungkin sebab tahu kalau Saaochi cukup terobsesi dengan makhluk naga itu. Lantas keduanya menepuk-nepuk kepala Saaochi memberinya semangat.

Setelah beberapa saat, Saaochi malah kaget. Rupanya si naga sudah mati. Ada bagian tubuhnya yang tampak bolong dilihat bagaimana derasnya darah mengalir. Saaochi menduga itu jantung naga. Dia sampai speechless.

“Siapa yang ngambil jantung naganya? Tidak berperikenagaan,” gumam Saaochi Dia berasa ingin tantrum sekarang. Tapi, sadar diri, dirinya masih kerja.

Gambaran dari naga tidak terlalu banyak ditunjukkan, karena mengikuti para murid yang mulai berjalan lagi. Jalan mereka kali ini lebih pelan, karena banyaknya murid yang mengalami luka-luka. Tak lama setelah itu, malah muncul lagi makhluk lainnya. Luisa di tempat duduk tampak menjerit tertahan. Setelah Saaochi perhatikan, ternyata Manticore.

‘Pantas saja, tiba-tiba senang begitu,’ batin Saaochi. Mengingat bagaimana terobsesinya seorang Luisa terhadap racun. Dan Manticore adalah makhluk paling beracun yang Saaochi tahu.

Pertarungan terjadi dengan cepat. Tampaknya, faktor kelelahan dan mungkin diselingi rasa muak didatangi makhluk-makhluk kuat seperti ini terus-menerus membuat mereka jadi bertarung mati-matian. Pasukan garda terdepan menjadi bertambah banyak, meski beberapa masih ada yang takut-takut, tapi setidaknya mereka membantu di belakang. Bahkan sampai ada yang memotong ekor Manticore yang mana merupakan bagian dari racunnya. Luisa hampir saja berteriak. Untunglah, dia berhasil menahannya.

Saaochi mau saja menepuk-nepuk kepala Luisa seperti yang dilakukannya tadi. Tapi, mana bisa. Takut, teman baiknya keracunan.

Tahu-tahu pertarungan berakhir. Dengan mengorbankan beberapa orang yang mengalami luka berat bahkan ada yang sudah tak sadarkan diri. Saaochi jadi merasa kasihan. Gini-gini, Saaochi juga masih punya empati meski secuil.

“Wah, semoga mereka bisa bertahan. Masih ada yang lainnya, ‘kan?”

Luisa mengangguk, membalas ucapan Saaochi barusan. “Iya. Semoga saja.”

=••=