03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Saaochi meregangkan badannya. Suara tulang pinggangnya
bagai terdengar patah di telinga Saaochi. Dia menoleh menatap Luisa yang menutup
mulutnya. Tampaknya menguap.
Mereka baru saja memantau latihan murid-murid, sebagai
pembelajaran pertama mereka. Melawan robot hologram setinggi empat meter. Ada
berbagai macam kondisi, yang berani maju mengerahkan semua tenaga dan
kemampuan. Saaochi suka, tapi tidak suka dengan caranya menyerahkan semuanya
dalam sekali pertempuran. Tapi, Saaochi lebih tidak suka lagi dengan yang
menjadi beban di pertempuran seperti itu. Yah, setidaknya, membuat kerja sama
tim dadakan.
“Ke ruang istirahat, yuk. Ngopi dulu, sebelum lanjut,”
ajak Saaochi. Dia sudah siap berdiri. Seakan ingin meninggalkan Luisa yang
malah nemplok di meja.
“Oi!”
Helaan napas terdengar dari mulut Luisa. Dia akhirnya
bangun, menatap Saaochi datar. “Iya, iya. Ayo.”
Luisa bangkit dari duduknya. Dengan segera, tangan
Luisa diraih Saaochi, mengapitnya di antara lengan dan perutnya. Kantuknya
barusan setelah melihat latihan para murid, tiba-tiba saja menghilang bak debu
ditiup angin. Sepertinya memang efek Saaochi yang banyak komentar. Tapi,
setidaknya itu berhasil membuat mata Saaochi melek, tidak seperti sebelumnya.
Diiringi ocehan Saaochi yang tampaknya jadi jauh lebih
bersemangat seolah baru mengecap satu botol penuh kafein, dia menyeret Luisa ke
ruang istirahat mentor.
=••=
Rupanya, Saaochi masih belum puas membahas tentang
pelatihan tadi. Sampai-sampai, di ruang istirahat pun dia masih mengoceh
tentang itu. Kali ini, Naren turut ada di sana. Ikutan mendengarkan sambil
menyesap susu yang baru saja dibuat oleh chef DianXy. Naren sesekali
menimpali, Luisa yang bertambah lelah memilih untuk diam saja sekalian.
Tiba-tiba saja Bastian muncul, lagaknya sudah mirip
hantu benaran saja. Tapi, Saaochi yang masih sebal dengan kejadian beberapa jam
lalu saat Bastian melempari Naren dengan baterai, membalasnya ketus. Rupanya,
Bastian membawa berita, mengenai tugas baru. Yang tentu saja disambut senang
dengan Saaochi. Bahkan Luisa pun sampai memanjatkan doa.
Tiba-tiba saja Saaochi berdiri dari kursinya. “Asik
tuh,” ujarnya, diselingi tawa yang jika didengar, sudah mirip tawa penjahat
saja. “Kapan? Sekarang?”
Bastian mengangguk saja, abaikan reaksi Saaochi. “Ya,
kumpulkan mereka. Aku akan menyiapkan alat teleportasi.”
Setelahnya, Bastian menghilang lagi menjadi kabut.
Luisa yang melihat itu malah nyeletuk, “enak ya, jadi Bastian.”
“Halah, kamu udah bilang itu beribu-ribu kali. Ayok
cepat, kumpulkan murid!”
Naren menenggak habis susunya, lantas berlari kecil ke
depan pintu sambil meloncat. “Ayok!”
=••=
Saaochi, Luisa, juga Naren masuk ke dalam ruangan yang
di dalamnya sudah ada Komandan Maula juga Ketua Rhino yang sudah duduk
menghadap hologram di depan mereka.
“Selamat sore Komandan Maula, Ketua Rhino,” sapa
mereka bertiga, secara bersamaan.
“Sore juga, Naren, Luisa, Saaochi.”
Lantas, setelah basa-basi kecil, ketiganya duduk di tempat
masing-masing. Saaochi membuka tablet miliknya, mengetikkan sesuatu. Sampai
tidak sadar jika Bastian juga Kaynel sudah melenggang masuk ke dalam. Hingga
ketika hologram itu menyala, tampilkan keadaan dalam dungeon, ia
meletakkan tablet miliknya. Dan mula fokus pada pekerjaan di depannya.
Di belakang mereka, terhampar sebuah informasi yang
menunjukkan deskripsi para murid. Kekuatan mereka, kelemahan, dan lainnya.
Semua itu terangkum sempurna.
Di dalam dungeon itu, para murid yang tampaknya tengah
memproses segalanya, malah dikejutkan dengan kehadiran monster Ceberus, anjing
raksasa yang konon katanya dikenal sebagai penjaga neraka. Kebanyakan dari
mereka kabur dari si anjing, menghindarinya sebisa mungkin apalagi ketika
dungeon itu perlahan berubah menjadi lautan lava. Ada beberapa yang maju,
berusaha keras untuk menjadi garda terdepan bagi teman-temannya dan melumluhkan
si Ceberus. Sedangkan, yang Saaochi lihat, ada seseorang yang berusaha
menyembuhkan luka-luka temannya, melakukan perlindungan dari belakang. Wah,
Saaochi sampai kaget, meskipun mereka tampak amburadul sekali.
Ketika ceberus berhasil dilumpuhkan akibat senjata
makan tuan lebih tepatnya, Ceberus itu terlahap oleh lautan lavanya sendiri
setelah mengalami beberapa serangan dari para murid.
Nampaknya, bernapas lega sudah tak ada gunanya
sekarang. Baru berjalan sedikit, mereka sudah dihadang makhluk besar yang
tengah terbang.
Tapi, Saaochi tidak meringis seperti tadi, dia malah
tampak bersemangat setelah melihat naga yang warnanya merah pekat itu.
Saaochi beringsut dari kursi, sedikit mendekat pada
Ketua Rhino yang kebetulan duduk bersebelahan.
“Ekhem, Pak Rhino. Naganya kalau nggak mati, boleh naganya
dibawa ke markas tidak?”
Ketua Rhino menoleh, sempat tersenyum sampai matanya
menyipit. “Tidak boleh, Saaochi. Nanti naganya mau diletakin di mana.”
Mendengar jawaban itu, Saaochi menghela napas pelan.
Lalu mengangguk-angguk lesu. Kepalanya sampai tertunduk lemas. Luisa dan Naren
tampaknya merasa kasihan padanya, mungkin sebab tahu kalau Saaochi cukup
terobsesi dengan makhluk naga itu. Lantas keduanya menepuk-nepuk kepala Saaochi
memberinya semangat.
Setelah beberapa saat, Saaochi malah kaget. Rupanya si
naga sudah mati. Ada bagian tubuhnya yang tampak bolong dilihat bagaimana
derasnya darah mengalir. Saaochi menduga itu jantung naga. Dia sampai speechless.
“Siapa yang ngambil jantung naganya? Tidak berperikenagaan,”
gumam Saaochi Dia berasa ingin tantrum sekarang. Tapi, sadar diri, dirinya
masih kerja.
Gambaran dari naga tidak terlalu banyak ditunjukkan,
karena mengikuti para murid yang mulai berjalan lagi. Jalan mereka kali ini
lebih pelan, karena banyaknya murid yang mengalami luka-luka. Tak lama setelah
itu, malah muncul lagi makhluk lainnya. Luisa di tempat duduk tampak menjerit
tertahan. Setelah Saaochi perhatikan, ternyata Manticore.
‘Pantas saja, tiba-tiba senang begitu,’ batin Saaochi. Mengingat
bagaimana terobsesinya seorang Luisa terhadap racun. Dan Manticore adalah
makhluk paling beracun yang Saaochi tahu.
Pertarungan terjadi dengan cepat. Tampaknya, faktor
kelelahan dan mungkin diselingi rasa muak didatangi makhluk-makhluk kuat
seperti ini terus-menerus membuat mereka jadi bertarung mati-matian. Pasukan
garda terdepan menjadi bertambah banyak, meski beberapa masih ada yang
takut-takut, tapi setidaknya mereka membantu di belakang. Bahkan sampai ada
yang memotong ekor Manticore yang mana merupakan bagian dari racunnya. Luisa
hampir saja berteriak. Untunglah, dia berhasil menahannya.
Saaochi mau saja menepuk-nepuk kepala Luisa seperti
yang dilakukannya tadi. Tapi, mana bisa. Takut, teman baiknya keracunan.
Tahu-tahu pertarungan berakhir. Dengan mengorbankan
beberapa orang yang mengalami luka berat bahkan ada yang sudah tak sadarkan
diri. Saaochi jadi merasa kasihan. Gini-gini, Saaochi juga masih punya empati
meski secuil.
“Wah, semoga mereka bisa bertahan. Masih ada yang
lainnya, ‘kan?”
Luisa mengangguk, membalas ucapan Saaochi barusan.
“Iya. Semoga saja.”
=••=