03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
--| 🪶
Setelah kelas yang sebelumnya selesai-bertahan di atas langit dan melawan manusia hologram yang setinggi 4 meter atau terjatuh-itu, dia juga teman-teman yang lain berhasil bertahan hingga waktu kelas berakhir.
Keringat yang bercucuran dan peluh lelah yang menyerang, membuat tubuhnya ingin segera ambruk ke tempat tidur. Namun, ia urungkan karena tidak mungkin dirinya yang penuh peluh dan keringat itu langsung tertidur. Maka, langkah pertama yang dilakukannya adalah membersihkan dan menyegarkan diri.
Selesai membersihkan diri, dia segera berkumpul menuju ke ruang kumpul yang ada di asrama. Setibanya di ruang kumpul, dia melihat sudah ada yang lain berkumpul, diantara mereka ada yang sedang menyembuhkan dirinya masing-masing, ada yang sedang meratapi nasib, bahkan ada yang mengajukan pertolongan untuk membantu yang lainnya.
Sang gadis memasuki ruangan kumpul dan berjalan mendekati tembok lalu bersandar dan terduduk di lantai.
"Hahhh, lelahnya", keluh nya.
Tak selang beberapa lama sejak dirinya tiba di ruang kumpul asrama, terdengar suara dari speaker yang memberikan sebuah pengumuman. Dimana isi dari pengumuman tersebut adalah menyuruh untuk segera berkumpul di aula utama dan mengenakan seragam latihan. Informasi tambahan, dalam waktu 15 menit para murid harus tiba segera di aula utama.
"Loh? Ada apa lagi ini?" Gumam sang gadis kebingungan. Walau begitu ia tetap mengikuti arahan dari pengumuman tersebut dan berganti pakaian mengenakan seragam latihan kemudian segera pergi menuju aula utama.
Dari arah gedung utama. Sudah ada seorang mentor yang melambai ke arah para murid. Berisyarat menyuruh untuk segera memasuki aula utama.
Saat sedang melihat-lihat sekitar mencari keberadaan para mentor yang menyuruh untuk datang ke aula, tiba-tiba dia dan yang lainnya dikagetkan dengan banyak tentakel yang muncul di sekeliling, yang kemudian membentuk lingkaran di antara nya dan juga yang lain.
Sang gadis terkejut, kemudian melihat ke arah lantai 2 tempat para mentor berkumpul. Namun, para mentor hanya berdiri melihat dan melambaikan tangan saja. Dan dalam sekejap, cahaya mulai mengambil alih dan dirinya juga yang lain lenyap dari aula utama.
Tidak disangka-sangka, ternyata dirinya terjatuh ke tanah dan mendapati sedang berada dalam sebuah goa gelap dengan memiliki hawa yang mengatakan jika tempat ini bukanlah tempat yang aman.
Sang gadis terjatuh dan sedikit meringis kemudian berdiri, mencoba memahami situasi yang sedang menimpanya saat ini.
"Wah ini sakit, lalu tempat ini... Err-hahaha"
Dirinya tersenyum pasrah. Kemudian ada seseorang yang melihat ke arahnya dan berkata,
"Kamu baik saja?"
"Err, hahaha tidak sepertinya? Bagaimana dengan mu?" Dirinya hanya tertawa canggung sambil menggaruk pipinya.
"Yah, cukup baik sepertinya" Seseorang yang sebelumnya ditanya oleh sang gadis hanya terkekeh. Seseorang ini bernama Damiel.
Sang gadis menghela napas mendengar jawaban Damiel, "Syukurlah, tapi sepertinya sekarang bukan kondisi yang menguntungkan kita.. Ya?", tepat setelah dia mendengar jawaban Damiel, tanah yang menjadi pijakan semuanya berguncang hebat, diiringi dengan bunyi gemericik rantai yang begitu keras. Dengan hawa yang mulai menjadi lebih panas, Cerberus muncul siap untuk melawan semuanya.
Dengan keringat yang berucuran sang gadis hanya menatap ke arah Cerberus itu dan bergumam pelan, "Err-- hahaha, apa lagi ini"
Mata besar yang melotot tajam menyiratkan kemarahan yang luar biasa. Air liurnya menetes dari mulutnya yang menggeram seakan sengaja menahan amarah. Cerberus, yang terkenal dengan kekuatannya yang menyemburkan api dan lava. Sang Anjing Penjaga Neraka yang sudah siap menyambut kedatangan para tamu yang tak diundang di dalam dungeon ini.
"Ahaha, benar.. sepertinya kita harus kabur" Jawaban Damiel atas pertanyaan gadis itu sebelumnya. Sekarang Damiel melihat Cerberus, ah tidak kini Cerberus muncul di hadapan semuanya termasuk sang gadis.
Mendengar perkataan dari Damiel, sontak sang gadis pun menoleh, "Itu ide bagus, tapi bagaimana?"
Cerberus itu mulai menyerang dengan cakarnya yang terangkat ke udara. Cerberus mengaum keras hingga menggetarkan dinding-dinding goa. Sebelum akhirnya mulai menyemburkan lavanya.
"Sepertinya kita lari saja dulu" Dengan ide yang diusulkan Damiel, Damiel menarik sang gadis dan salah satu siswa lainnya yaitu Aoi untuk berlari menghindari semburan lava.
Melihat Cerberus yang menyemburkan lava, sang gadis kelabakan, "Uaaahhh!! Apa-apaan ini! Benar ide bagus ayo menghindar!" Dirinya ditarik oleh Damiel untuk menghindar.
"Sepertinya kita benar benar dijadikan hidangan untuk makhluk ini"
"Haha benar. Sepertinya.. Aaaa aku ingin kembali ke tempat tidur"
Mereka bertiga masih menghindari serangan dari Cerberus yang terus melayangkan lebih banyak serangan dengan brutal dan menyemburkan lava api hingga hampir membuat seluruh goa dipenuhi dengan lava.
"Kita tidak bisa terus menghindar, kita harus melawan" Setelah berkata demikian Damiel mulai mengeluarkan benang dari jari jari tangannya.
"Err, benar sih. Tapi ya.. Aduh, yang ada katana ku meleleh nanti, kekuatan ku tidak cocok untuk pertarungan ini" Walau berkata demikian sang gadis tetap mengeluarkan sebilah katana nya dan bersiap untuk menyerang Cerberus itu.
"Kita harus memikirkan cara untuk menyerangnya... Setidaknya"
"Benar, ada ide? Oh Aoi apa kamu memiliki ide?"
Sang gadis pun melirik ke arah Aoi untuk menanyakan sebuah ide. Namun, Aoi menggelengkan kepalanya, tanda dirinya tidak memiliki sebuah ide, dan malah bertanya balik, "Tidak ada, kakak punya gak?"Sang gadis pun hanya menimpalinya dengan tawaan yang canggung. 'Habislah' begitu pikirnya.
Tidak terduga, ternyata Cerberus itu kini mulai terjatuh tidak berdaya akibat serangan yang diberikan sang gadis—walau sedikit, dan juga serangan yang banyak dikeluarkan oleh teman-teman yang lain. Cerberus itu kini perlahan mulai terbakar karena darahnya yang sepanas lava menyelimuti tubuhnya sendiri dan kemudian tumbang.
'Loh udah tumbang aja?'
Pikir sang gadis, melihat Cerberus yang ternyata sudah tumbang.
Sang gadis menghela napas dan tanpa berpikir panjang, mulai berjalan masuk lebih dalam dengan hati hati.
Tiba-tiba, dirinya dikejutkan oleh satu monster lainnya yang muncul menggantikan Cerberus. Semburan api tiba-tiba menerjang kembali, dan seekor naga berukuran besar mulai terlihat. Mulutnya kembali terbuka, siap menyemburkan api kembali.
"Api? Lagi!?" Dengan perasaan terkejut, sang gadis menghindari serangan dari naga itu.
Di tengah-tengah semburan api dari naga, sang gadis melihat seseorang sedang... Err, berusaha menyiram api yang naga itu keluarkan?
"Api lagi. Ada berapa banyak sih"
Seseorang itu mulai mengeluarkan selang air dari topi dan menyirami sekelilingnya.
"Biar yang lain saja bertarung, aku akan bantu mengurangi apinya" Katanya.
"Err, maaf. Apa tidak masalah berusaha seperti itu? Apinya cukup banyak disini" Sang gadis menatap empu yang sedang menyiram dengan tatapan bingung karena kelakuannya.
"Eh? Mengapa, airnya cukup besar kok, bisa membuat hujan juga" Seseorang itu adalah Fadeyka. Dia berbicara dengan datar sambil menyipratkan air dari selang seperti hujan.
"Uh oh? Ah ide bagus, silahkan dilanjutkan" Dengan tampang polosnya, sang gadis terlihat menyetujui apa yang dilakukan oleh Fadeyka.
"Tentu. Semangat lawannya ya, aku jadi support saja" Ucapnya. Fadeyka kemudian lanjut menyemburkan air.
"... Sepertinya anda salah memberi semangat, saya ragu bisa menjadi garis depan."
Fadeyka menggaruk lehernya. "Ehh... Ya.. semangat bertahan hidup?"
"Ide bagus, semangat juga"
Setelah berkata demikian sang gadis melihat naga yang perlahan kewalahan menghadapi serangan dari teman-temannya yang lain. Ia mulai kehabisan napas, lantas meluncur ke bawah dan menyerang yang lain secara acak.
Sontak sang gadis yang sedari tadi masih menggenggam katana, mulai mengeratkan genggaman nya, dan melompat lalu menyerang naga itu dari jarak yang jauh dengan menyelimuti katanya menggunakan kekuatan aura.
Melihat serangan yang dia keluarkan tidak berefek apapun. Sang gadis menghela napas gusar. Tiba-tiba Fadeyka yang tidak jauh dari tempatnya kembali bicara.
"Tentu, orang seperti kita lebih baik menjadi pemandu sorak saja"
"Benar, fyuh, lompat melompat seperti ini bukan hobi saya" Ucap sang gadis menghela napas lagi dan menatap ke arah Fadeyka.
"Benar, makanya kita melihat saja" Setelah berucap demikian Fadeyka tersenyum polos.
Akhirnya naga api berhasil ditumbangkan oleh para siswa. Yang kini sudah tak berdaya di hamparan tanah gersang yang panas.
Sang gadis bernapas lega, melihat naga itu akhirnya tumbang dan merasa bangga karena teman-temannya yang lain sangat berbakat.
"Oh, anda tidak terluka kan?" Sang gadis menyimpan kembali katana nya dan mulai menyelimuti diri dengan kekuatan aura untuk penyembuhan.
"Tenang saja, kemampuanku berteleportasi. Jadi aku baik baik saja" Fadeyka berkata dengan datar padahal bajunya terbakar karna tidak memakai jubah sulapnya.
"Oh syukurlah, jika butuh penyembuhan bisa menghubungi ku juga? Kebetulan saya ahlinya"
Setelah berucap demikian, bagaikan jatuh tertimpa tangga, belum sempat semua luka dan energi sembuh secara keseluruhan, kini sang gadis dan yang lain disambut oleh seekor Manticore yang di kenal sebagai pemangsa makhluk hidup.
Manticore yang memiliki badan yang seukuran singa mengeluarkan suara yang nyaring memekakkan gendang telinga, dengan ekor kalajengkingnya yang terkenal dapat membunuh monster setara lainnya dengan racun, ia mulai bergerak bersiap untuk melayangkan serangan nya.
"Wah wah, apa lagi ini" Gumam sang gadis sangat pelan dan tertegun melihat Manticore yang muncul.
"Wah.. beruntungnya, nah.. mungkin akan banyak yang terluka, monster baru muncul lagi tuh" Tanggap Fadeyka tentang kemampuan sang gadis kemudian menunjuk Manticore yang muncul.
"Benar, dan ini melelahkan" Sang gadis menghela napas sambil berkacak pinggang melihat ke arah Manticore dengan tatapan sedikit pasrah.
Namun Manticore tampaknya tidak peduli dengan reaksi sang gadis dan siswa lainnya yang tercengang. Dia dengan cepat berlari menerjang ke kerumunan yang sudah tampak seperti tak bernyawa lantas menyerang membabi buta dengan racunnya.
Sang gadis melindungi diri dan Fadeyka dari semburan racun yang dikeluarkan Manticore, dan mengeluarkan kembali katana hendak menyerang sebelum Fadeyka kembali berucap menanggapi perkataan sang gadis sebelumnya.
"Lihat dan tunggu saja, murid lain hebat hebat semua, aku bingung mereka berlatih dimana" Dirinya berucap sambil memperhatikan yang lain berjuang.
"Mau ikutan?"
Sang gadis memiringkan kepalanya "Ikut melihat atau ikut bertarung?"
"Dua duanya" Fadeyka lalu mengeluarkan pedang sepanjang tubuhnya dari dalam topi.
"Ah.. aku lupa tidak bisa memakai pedang" Dia kemudian menukarkannya dengan shotgun.
Dan sang gadis hanya menatapnya datar dan keheranan.
"Lalu untuk apa mengeluarkan pedang??"
"Aku lupa merapihkan dimensiku, jadi ya..." Fadeyka menggaruk kepalanya.
Sang gadis terkejut karena Manticore berteriak kencang tatkala ekornya berhasil ditebas oleh salah satu dari mereka, stalaktit yang ada di atas goa berjatuhan akibatnya. Manticore itu mencoba melepaskan diri dari kakinya yang dibekukan dan kembali mulai menyerang.
"Hei santai dong!" Gumam sang gadis yang geram dan mulai melesat maju, menebas kaki Manticore lainnya walau hanya berefek sedikit, tapi setidaknya sang gadis berharap itu sedikit membantu teman-temannya yang lain.
Setelah adegan usaha penyerangan Manticore yang dilakukan sang gadis. Dirinya menoleh dan menjawab perkataan Fadeyka yang sempat tertunda.
"Ada ada saja, kalau begitu ayo maju! Aku mendukung mu" Sang gadis tersenyum, sambil istirahat sebentar setelah pergerakan sebelumnya.
"Eh tidak. Aku saja yang mendukungmu"
"Tidak tidak, saya sudah menyerang tadi, jadi saya yang mendukung" Sang gadis menggeleng.
Di sela-sela perdebatan sang gadis dan Fadeyka. Fadeyka berucap setelah sebelumnya mengobrol dengan seseorang lainnya, "Naretta bisa menyembuhkan racun kan???" Fadeyka lantas menoleh lagi ke arah sang gadis.
"Oh! Benar. Artha apa anda tahu siapa yang terkena racun?" Seseorang yang tadi diajak bicara oleh Fadeyka bernama Artha.
"Dia menyerang secara acak, aku kurang tahu... Aku terlalu panik.."
"Ah, akan sulit jika seperti itu. Aduh" Berusaha memikirkan cara untuk menolong yang lain.
Tiba-tiba Manticore itu berteriak dengan keras membuat sang gadis tersentak dan menoleh ke arah Manticore. Tubuhnya yang sudah mengalami luka parah, dengan perlahan Manticore pun tumbang.
Sang gadis dikagetkan lagi karena monster itu berhasil tumbang berkat kerja sama teman-temannya, dan sedikit merutuki dirinya yang tidak terlalu banyak berkontribusi. Walau demikian dirinya bertekad untuk berusaha lebih keras mengerahkan apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Semuanya terlihat bernapas dengan berat, ada yang sudah tumbang tak berenergi, dan ada yang menatap nanar pada Manticore yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Dengan luka-luka yang ada di sekujur tubuh dan rasa lelah yang menghinggap, semuanya berusaha saling menguatkan dan membantu. Sebab, untuk bisa keluar dari dungeon ini, sang gadis dan para murid lainnya harus tetap berjalan menyusuri dungeon.
Entah apa yang siap menyambut di depan sana, entah ada berapa banyak monster yang menunggu di dalam sana. Tidak ada yang tau, banyak kemungkinan bisa terjadi. Bahkan, bisa saja ada monster-monster yang lebih ganas sedang menanti di depan sana, dibanding monster yang sudah dihadapi sebelumnya.
--| TBC (?)