Isi Cerita
Qixuan Lin

'CHAP - 03 Dungeon'

 

    Matahari mulai terbenam, terlihat beberapa siswa berjalan ke arah aula utama. Keluar dari asrama mereka dengan seragam latihan lengkap setelah mendengar pengumuman untuk berkumpul di aula utama dalam 15 menit. Mereka sebenarnya masih ingin istirahat tapi apalah daya.

 

“Ughh… Mata ku berat.”

  Ucap gadis dengan gaya rambut cepol dua yang bersandar di pintu masuk aula utama, ya itu hanya Qixuan yang sedang mengeluh. Anting Qixuan pun tiba-tiba memancar cahaya biru yang tidak terlalu terang.

 

 “Nona, cukup lah mengeluh dan berkumpul dengan yang lain atau anda obati sendiri lukamu itu.” ucap Yin (Ai) sedikit ketus.

 

“Kenapa kau jadi makin cerewet.”

 

“Itu karena ulah anda sendiri yang tidak patuh dengan saya.”

 

  Qixuan sedikit cemberut mendengar itu dan berjalan kearah yang lain. Sesaat setelah ia menginjakkan kaki di aula, secara tiba-tiba tentakel mengelilingi mereka dan diikuti  matanya yang tiba-tiba silau, terdengar samar-samar suara beberapa mentor.

 

“Huh?... ”

 

  Qixuan merasa seperti tubuhnya melayang. Badannya menyentuh tanah dengan empuk karena bantuan Yin. Matanya yang lelah mulai terpejam. Terdengar suara samar teriakan ketakutan dan juga suara Yin yang berkata 'Nona! Nona bangun!'. Tetapi Qixuan yang lelah nampaknya sudah tertidur lelap sambil bersandar di dinding goa.

 

"Zzzzzz"

 

 

“Eh! Siapa yang pegang kakiku!!”

 

“Gelap banget.”

 

“Aku mau pulang…”

 

“Aduh badanku.”

 

  Para siswa tampaknya sedang menganalisis dimana mereka sekarang. Ada yang mengeluh, ada juga yang ketakutan.

  

Dreeegggg!!!

 

  Kerikil-kerikil mulai bergetar. Semakin lama semakin kuat.

 

BRUAKK!

 

  Tiba-tiba tanah mulai berguncang hebat membuat mereka hampir kehilangan keseimbangan. Diikuti dengan udara di sekitar menjadi lebih panas. Di Kegelapan muncullah sesosok makhluk. Cerberus, yang merupakan Sang Anjing Penjaga Neraka.

 

 

RHOAARRRR!!!

 

 

  Cerberus yang mulai mengaum membuat mereka semakin panik.

 

“Aduh, panasnya.. aku tidak kuat… aku benar-benar mau pulang hiks…”

 

“Apa lagi sekarang–”

 

  Para siswa sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri dan beberapa dari mereka berusaha menghabisi Cerberus dengan kekuatan mereka. Namun, lihat lah betapa hebatnya Qixuan sebagai seorang anggota Vanguard masih bisa tidur dengan nyenyaknya.

 

 "Aduh Nona, kau tidur di waktu yang tidak tepat…"  gumam Yin frustasi.

 

  Beberapa dari mereka mulai berlarian saat Cerberus menyemburkan lava panas ke arah mereka.

 

“Pergi duluuu!” ucap Lumiere sambil berlari menjauh secepatnya.

 

“Tunggu lah!” teriak Lou kearah Lumiere

 

BRUK!

 

  Lou tersandung dan Lumiere tersungkur.

 

“Ha! Kena karma kau.” ucap Lou dengan sedikit kesal kepada Lumiere.

 

 “Hih, kamu juga!”

 

 

-//-//-

 

 

 Beberapa siswa mulai menyerang Cerberus yang membuat beberapa puing-puing berterbangan dan salah satunya mengenai kepala Qixuan.

 

“Aduh! Ha? Dimana ini?”

 

“Akhirnya-”

 

  Karena Qixuan sudah sadar dan jntuk menghemat energi, Yin pun mengaktifkan mode hemat daya yang membuatnya hanya akan melihat dan tidak berbicara.

 

“Yin? Yin?! Hadeh, Yin masuk mode hemat lagi, mana aku tidak bawa kacamata. Aduhhhh”

 

  Qixuan menggaruk kepalanya. Lumiere yang mendengar suara Qixuan berlari dan berlindung di belakangnya.

 

“Kakak, hehe lawan itu kak”

 

“Lawan apa?” ucap Qixuan sambil mengeluarkan toyanya.

 

 Lumiere menunjuk ke arah Cerberus yang nampaknya sudah cukup terluka parah.

 

“...Aku sepertinya tadi hanya tidur sebentar, ini kenapa bisa ada anjing kepala tiga!?”

 

 

-//-//-

 

  Qixuan menggunakan skill Tiger run nya, dengan cepat berlari ke arah Cerberus. Sebelum Qixuan menyerang, Cerberus itu sudah tumbang dan tidak berdaya. Lava yang berasal dari dirinya secara perlahan malah melahap dirinya sendiri yang tumbang.

 

  Para siswa nampaknya mulai bisa bernafas lega. Mereka berjalan melewati badan besar Cerberus dengan hati-hati, mencoba masuk lebih dalam untuk mencari jalan keluar.

 

“Baru saja mau ku pukul, udah tumbang duluan” desusnya sedikit kesal

 

 

Tap.. tap.. tap…tap

 

 Suara langkah kaki mereka memenuhi goa yang sunyi. Qixuan dengan santai berjalan di belakang rombongan. Belum sejam mereka berjalan, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang besar nampaknya bergerak mendekat dengan cepat. Seketika Qixuan tersenyum tak percaya.

 

“Kau pasti bercanda…”

 ucap Qixuan sambil tetap tersenyum. Senyum Qixuan pun menjadi pulsa, sedihnya.

 

  Udara mulai menjadi panas kembali, bahkan lebih panas dari sebelumnya. 

 

FUHHH!!

 

  Secara tiba-tiba muncul semburan api yang menerjang mereka semua. Beruntung bagi mereka yang berhasil menghindar dari semburan api tersebut.

 

 

 

 Naga berukuran besar menampakkan wujudnya di hadapan mereka. Mulutnya terbuka, siap menyemburkan api kembali ke arah mereka.

 

“Ini mah cuman cicak, sudah biasa ku pukulin. Pakai tongkat Sun Go Kong enak nih buat mukulnya.” ucap Qixuan dengan sombongnya.

 

 

 

  Qixuan berlari ke arah depan rombongan dan berhenti tepat di depan semua orang. Ia melihat ke atas ke arah naga yang sedang terbang.

 

“Eh, tolong mundur sedikit ya” ucapnya kepada para senior dan rekan yang berada di belakangnya.

 

  Qixuan mengambil ancang-ancang, seketika toyanya membesar. Dengan cepat ia mengangkat toyanya dan memukul kepala naga tersebut yang membuat naga tersebut terjatuh ke tanah.

 

“Serang!!!”

 

  Lumiere melihat cara bertarung Qixuan dari jauh.

 

“Woah keren! Kakak aku itu!,”

 

 Ia pun bertekad untuk menyerang dengan panah Angelus kearah Cerberus.

 

“Sekali-kali aku juga mau ikutan bantu, deh!

Rasakan! Panah kesucian yang tiada tanding!!”

 

Mata Qixuan melihat panah yang mengarah ke arah Ryu yang sedang menyamar menjadi Cerberus.

 

“Eh! Itu bukan Cerberus, itu Ryu lah!"

teriak Qixuan kepada Lumiere.

 

"Eh?!"

 

"Siapa yang tembak Ryu ngan panah tadi?!"

ucap Ryu kembali ke wujud semulanya.

 

“Huwaa maaf Ryu, tidak sengaja”

ucap Lumiere, lalu bersembunyi di belakang Qixuan.

 

Naga itu tampak mulai kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari mereka. Naga api tersebut pun berhasil dikalahkan oleh mereka. Sebagian dari mereka ada yang terluka berat. Anggota guild Experience membantu menyembuhkan para korban.

 

“Yah baru mau keren, sudah tumbang.”

Ucap Lou.

 

“Tadi aku maju kau tidak mau maju tuh.”

Balas Qixuan.

 

“Hehe…”

  

 Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.

 

 

 -//-//-

 

 

  Qixuan terdiam saat kupingnya mendengar suara jejak kaki ke arah mereka.

 

“Yang bener aja.”

 

   Qixuan dengan cepat kembali ke garda terdepan untuk menghadang apapun itu. Matanya pun melihat sesuatu dari kejauhan. Itu adalah Manticore!!

 

  Manticore dikenal sebagai pemangsa makhluk hidup yang sadis. Dia sepertinya marah kepada mereka semua karena berani masuk ke dalam wilayahnya.

 

HOARRRRGGGG!!!!

 

 Manticore tersebut mengeluarkan suara auman yang sangat memekakkan gendang telinga, ekor kalajengkingnya dengan cepat mulai bergerak bersiap untuk menyerang mereka yang ada di depannya.

 

“Oh tidak, cepat menjauh!”

 

 Mereka berlari ke segala arah saat Manticore berlari ke arah mereka dengan cepat.

 

“Mama…”

 

  Qixuan sekuat tenaga menahan Manticore dengan menekan toyanya kedalam mulut Manticore. Qixuan melihat ke arah Lou yang sedang mengganti isian pistol cat nya

 

“C-cepat!”

 

“Bersiaplah untuk menerima serangan super keren ku!!”

 

  Lou menembak kaki Manticore itu. Cat itu meledak dan berubah menjadi gas padat dan perlahan membekukan kakinya.

 

“Yang lain cepat serang!! Itu gak tahan lama!!”

teriak Lou kepada yang lain

 

  Qixuan menggunakan skill Fire Breathe nya ke arah Manticore yang membuatnya mengaum, lalu melompat mundur dari monster itu.

 

“Ha… ha- terima kasih Lou.”

 

  Qixuan mengelus kepala Lou.

 

“Keren kan aku.”

 

  Lou tersenyum sombong, lalu kembali menembaki Manticore dari jarak aman. Qixuan berlari ke arah Lumiere yang juga sedang menembaki Manticore dengan busurnya.

 

“Ha…Lumiere! Bantu kakak.”

 

“Eee…aku bantu liat aja kak hehe-”

 

“Pinjam busurmu”

 

“Busur ku? Oh okey, tangkap kak.”

 

  Lumiere melemparkan busur dan panahnya ke arah Qixuan. Qixuan menangkapnya lalu mulai menarik anak panah.

 

“Huh… selagi yang lain mengalihkan Manticore aku akan membutakannya dari jauh.”

 

 

SREKKK—

 

 

  Dengan tenang Qixuan menarik anak panah dan mengarahkannya ke arah mata Manticore.

 

 

 

WHUSSHHH—

 

JLEP!

 

 

HOARHHGGGGG!!!

 

  Anak panah tersebut tepat menancap di mata Manticore menyebabkannya semakin menyerang secara membabi buta.

 

“Cih, ini sulit untuk memanah saat ia terus bergerak seperti itu… Lumiere tangkap!”

 

“Eh iya!”

 

  Qixuan melemparkan kembali busurnya tapi tetap memegang satu anak panah Angelus.

 

“Kau bantu yang lain.”

 

“Siap!”

 

  Saat melihat Lumiere sudah pergi ke arah mereka yang terluka, Qixuan berlari memutari Manticore supaya ia tidak menyerang yang lain.

 

“Sini kau!”

 

  Saat Manticore itu lengah Qixuan melompat ke kepala nya.

 

“Hiyaaaa!”

 

 Dengan cepat ia menancapkan panah di mata kedua Manticore menyebabkannya buta total sekarang. Manticore pun mulai bergerak secara brutal. Qixuan yang berada di atasnya terpelanting lumayan jauh.

 

“Akh-!”

 

“Kak Qixuan!! Hih! Berani kau!!”

 

 Lou yang melihat itu menembaki Manticore dengan agresif. Akhirnya setelah beberapa saat Manticore pun terkalahkan. Mereka semua bernapas secara terengah-engah, sebagian bahkan sudah terbaring lemah.

 

 “Nona!”

 

“Kau telat Yin…ha…aku lelah…biarkan aku tidur sebentar…”

ujar Qixuan sambil merangkak ke dinding goa.

 

 “Bateraimu tinggal berapa?”

 

“58%, sayangnya saya belum bisa memperkirakan seberapa panjang goa ini.”

 

“Seharusnya aku pasang baterai yang bisa di isi dengan tenaga apapun… aku lupa. Ha..”

 

  Qixuan menghela napas, lalu merogoh kantongnya.

 

“Baterai cadangan mu aku bawa ternyata, syukurlah.”

 

  Qixuan mulai tertidur kembali, tubuhnya yang terluka perlahan sembuh dengan sendirinya.

 

-//-//-

 

  Perjalanan mereka tampaknya masih panjang, entah masih berapa banyak lagi monster yang harus mereka kalahkan untuk keluar dari sini.

 

“Aduh, kak Qixuan ternyata berat juga.”

keluh Lumiere.

 

“Kakinya panjang lagi.”

keluh Lou.

 

“Ayo! Ayo kalian pasti bisa!”

 

“Haduh Tante Yin bantu juga dong.”

 

Aduh Lumiere. Tapi tubuh robot portable saya ada di asrama Dianxy, tidak dibawa oleh Nona Qixuan. Jadi, semangat anak-anak muda!!”

 

 Lou dan Lumiere pun mau tidak mau harus berjalan mengikuti yang lain sambil menyeret Qixuan yang tertidur pulas.

 

-//-//-//-//-//-//-//-//-//-