Isi Cerita
Alice

Semua anak-anak baru kembali ke asrama masing-masing setelah dari kelas yang menegangkan. Mereka sangat kelelahan setelah melawan hologram setinggi 4 Meter dan bertahan mati-matian di angin yang kencang. Semua anak berkeringat dan langsung memilih untuk segera mandi agar tenaga mereka kembali. Setelah mandi mereka berkumpul di ruang kumpul asrama, asrama laki-laki dan perempuan terpisah jadi mereka tidak berkumpul bersama.

Semua murid melakukan aktivitas masing-masing, mulai dari mengobati luka-luka, memijit anggota badan yang pegal atau sekedar berbaring.

"Obati lukamu, Lic," ucap sebuah powersphera yang terbang sambil membawa P3K.

Sang empun tidak memperdulikan partnernya itu, dia sedang menutup mata dengan posisi duduk.

"Alice!!" ucap Powersphera nya dengan sedikit kesal, "obati lukamu!!" ulangnya.

Alice membuka mata dan melihat Harumi yang berada didepannya, dengan segera Alice bangkit dan menghampiri.

"Kamu baik-baik saja, Haru?" tanya Alice penasaran dan khawatir dengan keadaan temannya.

Harumi menoleh lalu berkata, "Ah... tidak apa-apa, Alice, aku sempat dibantu yang lain... tadi."

Alice yang mendengar ucapan Harumi segera bernapas lega, "syukurlah."

"Kalau nggak dikasih shield dari Arstella dan dibantu Ardolf mungkin aku lebih parah dari ini...," cerita Harumi dengan singkat.

"Harumi mau minum? Alice ambilkan, ya," ucap Alice "Boleh," jawab Harumi tersenyum bahagia.

Alice segera bangkit dan pergi untuk mengambil 2 gelas air.

"Aku bisa menyembuhkan luka! Ada yang perlu bantuan?" tanya Artha sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Mungkin aku butuh, kak, tidak paham bagaimana membalut perban," ucap Alice mendekati Artha seniornya dari Gen 1 setelah mengambil 2 gelas air. Alice meletakkan 2 gelas air diatas meja lalu duduk di samping Artha.

"Lecet doang, ya?" tanya Artha dan Alice mengangguk sebagai jawaban. Artha menggunakan kekuatannya sehingga lukanya langsung tertutup.

"Terimakasih, Kak," ucap Alice tersenyum "Tidak apa-apa ini hal kecil bagiku," balas Artha sambil tersenyum.

"Kakak ingin minum?" tawar Alice sambil mengangkat segelas air.

"Eh? Terimakasih," balas Artha sambil tersenyum. "Terimakasih kembali, Kak karna sudah diobati." Alice membalas senyum Artha lalu duduk kembali di samping Harumi, "ini."

"Terimakasih Alice," ucap Harumi lalu minum dengan tergesa-gesa.

Tidak lama kemudian terdengar suara dari speaker dan membuat semua murid terkejut, suara tersebut menyampaikan sebuah pengumuman menyuruh para murid untuk berkumpul di Aula utama dengan seragam latihan. Mereka hanya diberi waktu 15 menit,  meski bingung semua nya mengikuti arahan tersebut.

Dari arah gedung utama berdiri Mentor Naren dan melambai kearah mereka untuk segera masuk ke dalam. Wajah bingung tercetak jelas diwajah semua murid pertanyaan demi pertanyaan terucap.

Alice sangat bingung sekarang, dan dia memperhatikan seluruh murid, memilih diam di belakang. Tanpa Alice sadari gadis itu malah melamun.

"Nona?" Sienna melambaikan tangan kearahnya namun Alice hanya diam tanpa berkedip.

"Yo Alice," sapa Shou dan muncul tiba-tiba dibelakang nya, Alice menoleh dan tersenyum.

Tidak lama kemudian sebuah tentakel muncul di sekeliling mereka dan berbentuk seperti lingkaran diantara mereka semua, beberapa murid panik dan melirik kearah para Mentor.

Dalam sekejap para murid berpindah lokasi dan terjatuh ke tanah, beberapa ada yang mengadu kesakitan termasuk Alice dan Bot dan beberapa yang lain mengecek situasi.

"Kita di goa?" tanya Bot melihat lokasi sekarang.

"Aduh," rintih Alice lalu melihat-lihat keadaan. Alice menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak terlalu terlihat karna posisinya yang ada di belakang.

Tak lama kemudian tanah berguncang dengan hebat, suara rantai yang keras ikut tertangkap dipendengaran para murid,  hawa yang awalnya normal mendadak menjadi panas dan sebuah mata melotot kearah para murid menyiratkan kemarahan.

Alice ketakutan kakinya mendadak gemetaran dan dia menoleh kearah bot sambil menujuk sang makhluk didepannya dengan gemetaran.

"It-itu... Apa B-bot?" tanya Alice terbata-bata. Bot segera menganalisa makhluk didepannya.

"Itu Ceberrus, Lic." "A-apa itu?" "Anjing neraka," jawab Bot dengan tenang.

"A-apa ka-kamu bis-sa menganalisa kekuatan nya?" tanya Alice masih sangat gemeteran.

"Sayangnya sedikit sulit, Lic... Mungkin Api?" tebak Bot dan menatap Alice.

Alice menatap murid lain, mereka terlihat takut namun bersiap untuk melawan.

Ceberrus menyerang para siswa dan menyeburkan lava panas, hawa di goa mendadak menjadi semakin panas dan batu-batu ikut berjatuhan. Alice mampu menghindari lava panas tapi dirinya masih gemetaran dan tidak melawan ceberrus.

"Lawan Lic jangan melamun," ucap Bot melempar 2 buah tombak kearahnya.

Alice menarik napas menenangkan diri dan berlari mencoba menyerang Ceberrus.

Alice dan beberapa murid lain menyerang Ceberrus, tak lama kemudian Ceberrus melengking kesakitan karna kaki nya ditebas oleh salah satu murid, Ceberrus menyeburkan lebih banyak lava dan ingin melahap seorang murid. Tidak butuh waktu lama Ceberrus itu jatuh dengan tidak berdaya, Ceberrus terbakar dengan darahnya sendiri yang seperti lava.

Para murid bernapas lega setelah berhasil mengalahkan Ceberrus. Alice kembali mengikuti para murid lainnya yang kini kembali menelusuri dungeon lebih dalam lagi.

Hawa panas kembali terasa, lebih panas dari sebelumnya dan rasa takut mulai menjalar. Tanpa aba-aba sebuah semburan api datang dari arah depan.

Bot melihat tuannya yang diam membatu segera menarik untuk menghindari semburan Api.

 

"Huh, hampir," ucap Bot lega.

"Ah, tidak," ucap Alice saat melihat seekor Monster lain yang ada didepannya.

"Naga Api," ucap Bot menjawab kebingungan Alice.

"Hati-hati. Berdiri di belakang saya," perintah Arumi menarik baju Alice.

Alice segera berlari kebelakang Arumi, "Tulung."

"Alice.. saya hanya punya dua kesempatan untuk menembakkan laser. Jadi, mohon bantuannya, ya? Saya butuh dua menit," ucap Arumi mengarahkan Elio kedepan.

"Ha? bagaimana?" tanya Alice bingung dengan arahan Arumi.

"Bantu mengalihkan perhatian naga itu sebentar. Sebentar, hanya dua menit, sisanya serahkan pada saya. Kalau menang kita tumpengan, kalau terpanggang, yasudah," jawab Arumi dan Alice hanya mengangguk sebagai jawaban.

Alice dan Arumi bekerjasama untuk menyerang monster Naga, Alice mencoba mengalihkan perhatian Naga dan setelah itu Arumi menembakkan laser dari Elio, tidak lupa murid lain juga ikut menyerang hingga Monster Naga tumbang di tanah yang gersang.

Para murid kembali melanjutkan perjalanan, namun seakan tidak diberi kesempatan untuk menyembuhkan luka, monster lain muncul didepan mereka. Manticore yang berbadan seukuran singa itu mengeluarkan suara bak terompet malaikat maut yang memekakkan gendang telinga mereka, ekor kalajengkingnya yang terkenal dapat membunuh monster setara lainnya dengan racun, mulai bergerak bersiap untuk melayangkan serangan kepada para siswa.

Alice terdiam menatap monster didepannya.

"Sebenarnya ada berapa makhluk disini?" tanya Alice mengenggam tombak kedua.

"Ah, apapun itu, serang!" ucap Alice berlari menyerang.

'Walau tidak yakin bisa,' batin Alice.

Manticore lari kearah para murid dan menyemburkan racun dengan membabi buta.

"Alice—"

Sebuah laser melesat  kearah Manticore, Alice hampir terkena racun dan laser secara bersamaan. Arumi menembak ekor Manticore untuk melindungi Alice.

"Hati-hati Rumi, lic hampir tertembak, Terimakasih Arumi!" ucap Alice menoleh kearah Arumi yang ada dibelakangnya.

"Kamu juga harus hati-hati," peringat Arumi dan kembali menembak ekor Manticore.

Manticore kembali menyemburkan racun dari ekor nya kearah Alice maupun para murid lainnya, murid termasuk Alice berhasil menghindar dari semburan racun, dan kembali menyerang.

"Apa racun ini mematikan?" "Iya," jawab bot yang berdiri dibelakang Alice bersiap menarik tuannya jika dalam keadaan berbahaya, Alice menusuk ekor Manticore dengan tombaknya.

Alice mundur beberapa langkah untuk bersiap-siap menusuk Manticore kembali.

"Alice.. apa menurutmu saya bisa mengambil sampel racunnya?" tanya Arumi sambil berpikir sejenak.

Alice menoleh kearah Arumi dan ikut berpikir, "Mungkin, ayo kita kumpulkan Rumi. Hati² racunnya berbahaya."

'Bagaimana cara mengumpulkan nya?'  batin Alice

Alice langsung berlari saat melihat Aideen yang terpental dan mengenai dinding goa.

"Kak Ai, kakak tidak apa-apa?" tanya Alice dengan wajah panik.

"A-alice? Ga... Ga apa-apa kok," jawab Aideen "Ah, syukurlah, kakak harus hati-hati, ya."

Aideen hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.

Alice menatap kearah Manticore yang berteriak kencang karna ekornya berhasil ditebas oleh Ardolf, Manticore berteriak keras. Tubuhnya mengalami luka parah, perlahan, Manticore tumbang.

Para murid bernapas berat karena telah berhasil mengalahkan Manticore dan mereka saling membantu satu sama lain untuk kembali melanjutkan perjalanan di dungeon ini. Mereka tidak tau apa ini pertempuran terakhir atau masih banyak monster yang menunggu didepan mereka.

'Apa ini sudah berakhir atau masih ada monster lain didepan sana?' batin Alice mengikuti para murid menelusuri dungeon ini.