Isi Cerita
Lumiere ExTian Jou

~Chap-03 “DUNGEON”~

 


 

 

Sore hari itu, para murid sedang berkumpul di aula utama. Mereka sedang menyiapkan diri untuk misi baru yang akan mereka hadapi.

 

Ada yang baru keluar dari asrama, dan ada juga yang masih bersiap memakai baju latihan.

 

Dari arah gedung aula utama sudah ada mentor Naren yang melambai ke arah mereka. Dengan maksud menyuruh mereka untuk segera masuk ke aula utama.

 

Mereka semua telah berkumpul di aula utama. Namun tiba-tiba dikagetkan dengan banyak tentakel yang muncul di sekeliling mereka membentuk lingkaran di antara mereka semua.

 

Setengah panik, setengahnya lagi melihat ke arah lantai 2, yaitu tempat dimana para mentor berkumpul.

 

Para mentor hanya melihat ke arah mereka dan melambaikan tangan. Dalam sekejap, cahaya mengambil alih dan mereka semua lenyap dari aula itu.

 

Semua murid terjatuh ke tanah. Beberapa dari mereka terjatuh kesakitan. Tetapi ada juga yang langsung mengecek sekitar.

 

*BUGGG!!!

 

Lumiere: “Aduh!! Bokongku encok!”

 

Lumiere mengaduh kesakitan karena terjatuh keras. Ia pun mengusap-usap kepalanya dan berdiri lalu mengecek sekeliling.

 

Ia menyadari bahwa ia terjatuh dalam sebuah gua yang gelap. Dan mulai terasa hawa yang mengatakan jika tempat ini bukanlah tempat yang aman.

 

Lumiere tidak menemukan jalan keluar namun hanya mendapati tempat yang begitu gelap. Maka dari itu, ia harus menelusuri gua itu.

 

Lumiere: “Tempat macam apa ini? Gelap banget! Aku gak bisa melihat apa-apa.”

 

Ia pun meraba-raba dinding gua.

 

Lumiere: “Aduh…yang lain pada kemana?”

 

Lou yang baru bangkit dari jatuhnya dengan secepat kilat memeluk kaki Lumiere karena ketakutan.

 

Lou: “Lumiere! Huwee, aku takut!!” panik Lou.

 

Lumiere: “Heh? Siapa kamu?!”

 

Saking gelapnya, Lumiere tidak dapat melihat siapa yang telah memeluk kakinya itu.

 

Lou: “Ini aku, kakakmu yang paling wangi dan lucu!”

 

Lumiere terdiam dan sedikit merinding dengan kalimat yang dikatakan oleh Lou.

 

Dengan segera ia menggoyangkan kakinya sekuat tenaga. Dengan maksud ingin menyingkirkan Lou dari kaki suci nya itu.

 

 

Lumiere: “Lepaskan genggaman tanganmu itu dari kaki suci ku!”

 

Lou: “Huek! Udah kotor begini dibilang bersih! Cuih!!”

 

Lou pun melepaskan genggaman tangannya dari kaki Lumiere. Tak lama setelah itu, Qixuan datang menghampiri mereka berdua.

 

Qixuan: “Lou, Lumiere! Aku mencari-cari kalian, lho. Syukurlah kalian enggak kenapa-kenapa.” ucapnya lega.

 

Lou: “Kak Qixuan, Aku takut! Gua ini gelap dan menyeramkan!” ucap Lou ketakutan.

 

Qixuan: “Sudahlah, gak usah takut. Kakak ada di sini kok. Ayo kita menjelajahi gua ini. Siapa tahu ada jalan keluar!”

 

Lou dan Lumiere pun mengiyakan ajakan Qixuan. Mereka berjalan menelusuri gua dan akhirnya bertemu dengan rombongan lainnya.

 

Tak lama setelah itu, tanah di bawah mereka mulai berguncang hebat, bunyi gemericik rantai begitu keras. Hawa di sekitar gua menjadi lebih panas. Sebuah mata besar melotot tajam dengan penuh kemarahan yang luar biasa.

 

Mengetahui ada yang berani menerobos kawasannya. Air liurnya menetes dari mulutnya dan penuh dengusan kemarahan.

 

•••

•••

 

Itulah Cerberus, yang terkenal dengan kekuatannya yang menyemburkan api dan lava.

 

*HOARRRRG!!!

 

Lumiere: “UWAAA?! MAKHLUK APA ITU?!” ucap Lumiere panik.

 

Lou: “Baiklah…kali ini aku betulan mau pulang. MAMAA!!!”

 

Para siswa panik dan ketakutan melihatnya. Beberapa ada yang mulai menyiapkan diri untuk menyerang, beberapa juga ada yang berlari ketakutan.

 

Cerberus mulai menyerang para siswa. Cakarnya terangkat ke udara dan menyerang siswa yang berdekatan. Dia mengaum keras hingga menggetarkan dinding-dinding gua. Lalu akhirnya menyemburkan api dan lava ke arah para murid.

 

Qixuan: “Awas!! Berlindung!” ucapnya sambil berlari.

 

Lumiere: “Aku pergi duluan!”

 

Lou: “Lumiere! Jangan tinggalkan aku!!”

 

Lou dan Lumiere berlindung di balik batu yang besar. Mereka kebingungan mencari Qixuan yang pergi duluan entah kemana.

 

Sementara para siswa masih berperang melawan Cerberus, Lou dan Lumiere malah diam di balik batu.

 

Lumiere: “Kak Lou ngapain sih ikutan sembunyi segala?! Ikut bantu sana!!”

 

Lou: “Kamu juga ngapain diam aja. Kamu kan malaikat suci dari Surga. Rivalmu kan makhluk-makhluk neraka seperti mereka. Kenapa gak kamu lawan!?”

 

Lumiere: “Erk! I-itu…kan tubuhku kecil, mana bisa melawan mereka yang segede gaban gitu.” (Padahal takut)

 

Lou: “Hanya karena tubuhmu kecil bukan berarti kamu gak bisa ngelawan mereka. Lakukan saja seperti kamu membasmi para dosa! Aku akan membantumu dari belakang.”

 

Lumiere berpikir sejenak dan memikirkan omongan Lou. Ia mulai mengiyakan hal itu dan mengeluarkan panah Angelusnya.

 

Lumiere mengarahkan anak panahnya ke arah badan Cerberus. Ia menembakkan anak panahnya dan menancap di tubuh Cerberus.

 

Namun ternyata hasilnya nihil, Cerberus hanya merasa seperti digelitik dan tidak mendapat efek apa-apa dari panah itu.

 

“Errrkk…”

 

Lumiere yang melihat hal itu malah

membatu tidak percaya.

 

Lumiere: “Baiklah, aku mengurungkan niatku. Saatnya kabur!”

 

Lou: “Lho, kok-”

 

Qixuan: “Hey, kalian berdua. Sini!”

 

Ajak Qixuan dari kejauhan. Mereka berdua pun menghampiri Qixuan.

 

Lumiere: “Kakak dari mana aja?!”

 

Qixuan: “Hehe, maaf yah…aku baru aja bangun dari pingsan.”

 

Lumiere: “Kak Lou dari tadi lari-lari doang. Cepat bantu yang lain!”

 

Lou: “Aku gak berani!”

 

Lumiere dengan sigap mendorong Lou ke dekat Cerberus saking gregetnya.

 

Lou: “UWAAAH!!??”

 

Lumiere: “Semoga beruntung, kak! xixixi!

 

Lou tidak ada pilihan lain selain melawan Cerberus itu. Meski panik, ia mencoba mendekati Cerberus.

 

Dengan wajah ketar-ketir dan badan bergemetaran. Ia menatap mata Cerberus yang tajam.

 

Lou: “H-halo, aku Lou. Kita gak boleh-”

 

*SWUSHHHHH!!!

 

Tak disangka. Cerberus malah mengeluarkan hembusan api ke arah Lou hingga mengakibatkan muka Lou menjadi gosong.

 

Lou: “-berantem” lanjutnya setelah digosongin sama Cerberus.

 

“...”

 

Lou seketika terdiam dan melihat Cerberus yang mulai memberontak ke arahnya. Jiwa nya yang sudah gentar malah dibikin gentar lagi karena Cerberus semakin ganas. Ia memilih untuk kabur dan tidak jadi melawan.

 

Para siswa masih bersama-sama melawan Cerberus itu. Cerberus merintih kesakitan karena satu kakinya ditebas dengan kedua pedang oleh salah satu murid. Dia menyemburkan lebih banyak lava dari sebelumnya.

 

Salah satu dari kepala Cerberus itu bergerak mendekat, hendak memangsa satu dari mereka semua.

 

Para siswa tak mengenal lelah. Mereka masih mencoba menyerang Cerberus. Setelah menerima serangan bertubi-tubi dari siswa. Cerberus itu kini mulai tumbang dan terjatuh tak berdaya.

 

Para siswa kini mulai bernafas lega dan meninggalkan badan besar Cerberus dengan hati-hati.

 

Mereka melangkahkan kaki untuk memasuki Dungeon lebih dalam lagi.

 

Ternyata ini belum berakhir. Hawa panas kembali menggerayangi setiap inci tubuh mereka. Rasanya seperti dipanggang hidup-hidup di dalam oven.

 

Tanpa peringatan, semburan api tiba-tiba menerjang mereka semua. Beberapa ada yang terkena semburan api dan beberapa ada yang berhasil menghindar.

 

*SWUSHHHH!!!!

 

!!!

 

Seekor naga berukuran besar telah berada di hadapan mereka semua. Mulutnya kembali terbuka, bersiap untuk menghembuskan semburan api kembali.

 

Para siswa yang baru saja mengambil nafas malah dikejutkan kembali oleh naga sebesar itu.

 

Lou: “Kyaaa?!! Ini belum berakhir?!”

 

Lumiere: “Pakai nanya.” ujarnya dan langsung kabur.

 

Qixuan: “Lumiere! Jangan kabur melulu. Sini bantu kakak!!” ucap Qixuan sambil berlari mengejar Lumiere.

 

Lumiere: “Aku belum mau mati kak!!”

 

Qixuan: “Kamu gak bakal mati, idiot!”

 

Qixuan berhenti dan menarik kerah baju Lumiere dengan paksa.

 

Qixuan: “Kamu jangan gampang menyerah! Cepat serang naga besar itu dengan anak panahmu!!”

 

Lumiere: “T-tapi, kak!”

 

Qixuan: “Gak ada tapi-tapi. Kakak bakal bantu kamu dari belakang kok.”

 

Lumiere pun mengiyakan omongan Qixuan. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang di sekeliling naga itu.

 

Sementara ia berputar mengelilingi badan naga. Sekalian juga ia mengeluarkan anak panah Angelusnya.

 

“!!”

 

Lumiere menembakkan anak panahnya dan melandasinya ke badan naga tersebut.

 

Lumiere: “Just because my body is small, it doesn’t mean you can win over me!!”

 

*SWINGGG!!!

 

*DUUGG!!!

 

Panah Angelus menancap tepat di badan naga. Pergerakkan sang naga mulai melambat dikarenakan panah suci Angelus sangat bertolak belakang dengan dirinya yang disebut naga neraka.

 

Naga itu menyemburkan apinya ke arah Lumiere sebagai bentuk perlawanan. Dengan segera Lumiere menghindar dan menembakkan lebih banyak anak panah.

 

Lumiere: “Mencoba untuk melawan, kawan? Cuih! Tidak akan pernah! Aku gak bakal kabur lagi!! Rasakan kesaktian panah suci ku ini, dasar naga penuh dosa!!” tegasnya.

 

Berkali-kali ia mencoba

menembakkan anak panah ke arah naga. Karena kesal semburan api tidak mengenai sasaran. Naga itu mulai membalikkan badannya dan menghempaskan ekornya ke arah Lumiere.

 

Beruntung Lumiere dengan lincah langsung menggunakan anak panah teleportasi cahaya kilatnya. Ia terus bermain-main dengan naga itu. Sampai akhirnya naga tersebut benar-benar mulai kewalahan mengikuti pergerakan Lumiere.

 

Sementara siswa lain masih bersama-sama melawan naga itu dari bawah. Lou dan Qixuan menahan pergerakkan sang naga.

 

Naga api berhasil ditumbangkan oleh para siswa. Kini tak berdaya di hamparan tanah gersang yang panas.

 

Mereka semua bernapas lega, ketegangan dan kekurang keyakinan masih menyelimuti perasaan mereka. Namun, mereka tetap harus terus melanjutkan perjalanan.

 

Lumiere: “Huft! Akhirnya satu persatu monster bisa kita kalahkan. Meski aku gak terlalu banyak membantu sih.”

 

Qixuan: “Setidaknya kamu masih bisa membantu untuk memperlambat pergerakkan monster itu”

 

Lumiere: “Xixixi! Iya, dong! Kali ini aku gak kabur lho. Patut diapresiasi.” lagak sombong Lumiere.

 

Lou: “Jangan terlalu senang dulu, siapa tahu pas kita masuk lebih dalam malah ketemu monster yang lebih ganas lagi!”

 

Lumiere: “Ah, enggak mung-”

 

*ROOARGHHHR!!!!

 

Bagaikan jatuh tertimpa gajah sebanyak 2 kali lipat. Belum menghembuskan nafas lega, malah disambut oleh seekor Manticore yang dikenal sebagai pemangsa makhluk hidup.

 

“Lagi?!”

 

Manticore yang berbadan seukuran singa raksasa itu mengeluarkan suara auman yang sangat keras. Ekor kalajengkingnya yang terkenal dapat membunuh monster setara lainnya dengan racun. Mulai bersiap untuk menyerang mereka semua.

 

Lou: “Tuhkan! Sudah ku bilang!”

 

Lumiere: “UWAHHH! Badannya gede banget! Pasti workout tiap hari!!”

 

Lou: “Gak lucu! Kali ini gak ada main kabur-kabur lagi. Ayo serang!!”

 

Beberapa siswa yang masih memiliki energi masih berjuang untuk melawan monster itu. Sementara beberapa siswa yang sudah kehabisan energi, hanya bisa membantu sedikit saja.

 

Tubuh Lumiere yang sakit dari awal mulai kambuh lagi. Saat ia ingin berlari, tubuhnya malah encok dan membuatnya tersungkur ke tanah.

 

*KRUSHHK!

 

 

Lumiere: “Aduh! Tubuh tua ku yang malang.” ucapnya pasrah sembari mengelus pinggang.

 

Lou menembakkan isi dari pistolnya ke arah Manticore untuk menghentikan sedikit pergerakkan dari Manticore.

 

Lou: “Yang lain! Ayo cepat serang!! Ini gak bertahan lama!”

 

Para siswa bergegas menyerang Manticore dengan bertubi-tubi. Tanpa ampun. Mereka mengkolaborasikan kekuatan mereka dengan tujuan untuk mengalahkan Manticore itu.

 

Manticore mulai merasa lemah. Namun ia tetap ingin menyerang para siswa. Dia dengan cepat, berlari menerjang ke kerumunan yang  menyerangnya dan menyerang mereka membabi buta dengan racunnya.

 

Ia dengan brutal mengerahkan tenaganya untuk melawan mereka semua.

 

Qixuan: “Makhluk ini lebih ganas dari makhluk sebelumnya!!”

 

Di sisi lain, terdapat seorang siswa yang habis terpental keras oleh serangan Manticore. Siswa itu terjatuh dan memuntahkan darah.

 

Lumiere melirik ke arah siswa malang itu dan berlari ke arahnya.

 

Lumiere: “Kamu gak apa-apa?! Ayo ikut aku! Kamu seharusnya berlindung di balik batu besar itu!”

 

Aideen: “Aku baik-baik saja…” ucapnya lemas.

 

Lumiere: “Kamu kelihatan gak baik-baik saja. Izinkan aku untuk menggotong mu.”

 

Lumiere membawa Aideen ke arah balik batu yang aman.

 

Lumiere: “Kamu duduk di sini aja! Keadaanmu lagi gak bagus. Jangan ikut bertarung, yah.”

 

Lumiere pergi meninggalkan Aideen dan ikut menyerang Manticore.

 

Aideen: “Tapi aku masih ingin bertarung…”

 

Lumiere dan para siswa lainnya masih berjuang mengalahkan Manticore tersebut.

 

Manticore berteriak keras. Tubuhnya mengalami luka parah, perlahan, Manticore mulai tumbang.

 

Para siswa bernapas lega namun masih merasa tidak yakin. Dengan banyak luka di sekujur tubuh, mereka mulai bangkit berdiri. Mereka masih saling bahu membahu untuk berjalan menelusuri gua yang berbahaya itu.

 

Entah ada berapa banyak monster lagi yang harus mereka hadapi di dalam sana. Tapi yang paling terpenting, mereka semua masih selamat.

 

Untungnya tidak ada korban jiwa akibat pertarungan ini. Meski beberapa dari mereka banyak yang mengalami luka parah dan tak berenergi.

 

Akhirnya, mereka bersama-sama melangkah untuk memasuki Gua itu lebih dalam.

 

~To Be Continued~