Isi Cerita
Arstella De Lacaille

STUDY

Chapter 01 - Arc 02

 

 

            Pada kelas outdoor pagi hari itu, para murid dibuat terkejut ketika Mentor Naren melompat begitu saja dari ketinggian sepuluh kaki, diikuti oleh Mentor Bastian yang juga dengan santainya melompat. Mereka berlari ke tepi untuk mengintip dan melihat kedua mentor itu ditangkap oleh tentakel yang tampak familiar.

 

Berbalik, dibuat terkejut sekali lagi. Hologram raksasa setinggi empat meter menyambut para murid. Arste dibuat tercengang dengan kemunculan hologram-hologram itu, jadi dia harus bertahan dari serangan di arena berangin kencang ini, ya. Bukan masalah yang begitu besar, saat ini pun dia bisa berdiri dengan stabil tanpa terganggu hembusan angin kencang yang membuat rambutnya berantakan karena kakinya ditahan oleh kristal. Hanya saja ini sudah lama sekali sejak terakhir kali dia harus bertarung dengan kesadaran penuh.

 

Pertempuran melawan Dirottatore yang terjadi baru-baru ini tidak terhitung, Arste mengeluarkan energinya tanpa dikontrol dengan baik, sebab dia tahu kalau Reki ada bersamanya. Kemampuan bertarung Arste memang tidak tumpul, tapi tingkat akurasi dalam penciptaan replika bisa dibilang perlu diasah kembali. Tidak ada waktu untuk memaksimalkan kekuatannya sekarang, lebih baik dia menggunakan waktunya untuk mengamati pola serangan hologram raksasa itu.

 

            Arste menciptakan tameng transparan berbentuk telur yang mengelilingi tubuhnya, dia menghindari serangan sebisa mungkin sambil memperhatikan murid-murid lain yang mulai membalaskan serangan. Dia sudah memperhatikan tanda hati hologram itu sejak tadi, dan melihat persentase HP yang menurun ketika menerima serangan. Ada satu titik yang menyebabkan HP mereka turun lebih cepat, yakni pada bagian dimana jantung seharusnya berada.

 

Mengetahui itu, Arste mengangguk kecil dan mulai memikirkan cara untuk menyerang. Untuk serangan pertama, dia bergerak ke belakang salah satu hologram dan menusuknya dengan bongkahan kristal berujung runcing, membuatnya tumbang seketika. Arste membelalak, dia tidak bermaksud untuk mengeluarkan bongkahan sebesar itu.

 

Hologram lain datang dari belakang dan mengayunkan pedangnya, beruntung reflek Arste masih berfungsi dengan baik, dia bisa menghindar dengan cepat. Hanya saja pendaratannya sedikit kasar, dia hampir saja terjerembab dan terkena serangan yang dilancarkan oleh hologram lain.

 

            “Aduh, jangan main keroyokan dong…” gerutunya pelan sambil berlari menjauh.

 

Dia menuju ke titik buta hologram dan memikirkan sebuah senjata yang simpel; busur silang tiba-tiba muncul di pikirannya. Benda itu mungkin bisa digunakan sebagai pelatih dalam pengontrolan energinya di pembelajaran singkat ini.

 

Arste mulai menggambarkan struktur busur silang dalam imajinasinya, bersamaan dengan itu tangannya memunculkan serbuk kristal yang digabungkan oleh energinya, lama-lama merangkai sebuah bentuk. Senjata yang ada di tangannya terbentuk dengan sempurna, Arste segera menandai targetnya dan menuju ke tempat yang pas untuk meluncurkan anak panah.

 

Hologram yang Arste incar berjarak kurang lebih lima meter darinya, dengan sigap dia mengincar titik lemahnya, menghitung momentum, sebelum menarik pelatuk. Anak panah itu melesat dengan cepat dan mengenai weak point hologram tersebut, namun sayang tidak seakurat bayangannya.

 

            “Setidaknya dia tewas.” gumamnya sambil mempersiapkan anak panah lain, kemudian membidiknya ke hologram selanjutnya.

 

Tidak semua anak panah tepat mengenai sasaran akibat diganggu oleh angin, dan itu cukup membuat Arste kesal. Dia adalah tipe yang ingin segala sesuatu dilakukan dengan sempurna jika memiliki kemampuan untuk melakukannya. Dia kembali memutar otak, lalu memutuskan untuk mengganti senjata. Busur silang itu dia hancurkan, dan kepingan-kepingan kristalnya didaur ulang menjadi senjata tongkat.

 

Menggunakan senjata kedua, Arste kembali menyerang dari jarak dekat. Namun baru saja dia mulai bersenang-senang, pembelajaran diakhiri oleh sang mentor. Kurang lebih kelas kedua berlangsung selama 30 menit, dan beruntung sekali dia berhasil bertahan. Diam-diam Arste menantikan pembelajaran bertarung selanjutnya dengan antusias.

 

 

            End.