03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Chapter 01 - Arc 02
—
Pada kelas outdoor pagi hari itu, para murid dibuat terkejut ketika Mentor
Naren melompat begitu saja dari ketinggian sepuluh kaki, diikuti oleh Mentor
Bastian yang juga dengan santainya melompat. Mereka berlari ke tepi untuk
mengintip dan melihat kedua mentor itu ditangkap oleh tentakel yang tampak
familiar.
Berbalik,
dibuat terkejut sekali lagi. Hologram raksasa setinggi empat meter menyambut
para murid. Arste dibuat tercengang dengan kemunculan hologram-hologram itu,
jadi dia harus bertahan dari serangan di arena berangin kencang ini, ya. Bukan
masalah yang begitu besar, saat ini pun dia bisa berdiri dengan stabil tanpa
terganggu hembusan angin kencang yang membuat rambutnya berantakan karena
kakinya ditahan oleh kristal. Hanya saja ini sudah lama sekali sejak terakhir
kali dia harus bertarung dengan kesadaran penuh.
Pertempuran
melawan Dirottatore yang terjadi baru-baru ini tidak terhitung, Arste
mengeluarkan energinya tanpa dikontrol dengan baik, sebab dia tahu kalau Reki
ada bersamanya. Kemampuan bertarung Arste memang tidak tumpul, tapi tingkat
akurasi dalam penciptaan replika bisa dibilang perlu diasah kembali. Tidak ada
waktu untuk memaksimalkan kekuatannya sekarang, lebih baik dia menggunakan
waktunya untuk mengamati pola serangan hologram raksasa itu.
Arste menciptakan tameng transparan
berbentuk telur yang mengelilingi tubuhnya, dia menghindari serangan sebisa
mungkin sambil memperhatikan murid-murid lain yang mulai membalaskan serangan.
Dia sudah memperhatikan tanda hati hologram itu sejak tadi, dan melihat
persentase HP yang menurun ketika menerima serangan. Ada satu titik yang
menyebabkan HP mereka turun lebih cepat, yakni pada bagian dimana jantung
seharusnya berada.
Mengetahui
itu, Arste mengangguk kecil dan mulai memikirkan cara untuk menyerang. Untuk
serangan pertama, dia bergerak ke belakang salah satu hologram dan menusuknya
dengan bongkahan kristal berujung runcing, membuatnya tumbang seketika. Arste
membelalak, dia tidak bermaksud untuk mengeluarkan bongkahan sebesar itu.
Hologram
lain datang dari belakang dan mengayunkan pedangnya, beruntung reflek Arste
masih berfungsi dengan baik, dia bisa menghindar dengan cepat. Hanya saja
pendaratannya sedikit kasar, dia hampir saja terjerembab dan terkena serangan
yang dilancarkan oleh hologram lain.
“Aduh, jangan main keroyokan dong…”
gerutunya pelan sambil berlari menjauh.
Dia
menuju ke titik buta hologram dan memikirkan sebuah senjata yang simpel; busur
silang tiba-tiba muncul di pikirannya. Benda itu mungkin bisa digunakan sebagai
pelatih dalam pengontrolan energinya di pembelajaran singkat ini.
Arste
mulai menggambarkan struktur busur silang dalam imajinasinya, bersamaan dengan
itu tangannya memunculkan serbuk kristal yang digabungkan oleh energinya,
lama-lama merangkai sebuah bentuk. Senjata yang ada di tangannya terbentuk
dengan sempurna, Arste segera menandai targetnya dan menuju ke tempat yang pas
untuk meluncurkan anak panah.
Hologram
yang Arste incar berjarak kurang lebih lima meter darinya, dengan sigap dia
mengincar titik lemahnya, menghitung momentum, sebelum menarik pelatuk. Anak
panah itu melesat dengan cepat dan mengenai weak
point hologram tersebut, namun sayang tidak seakurat bayangannya.
“Setidaknya dia tewas.” gumamnya
sambil mempersiapkan anak panah lain, kemudian membidiknya ke hologram
selanjutnya.
Tidak
semua anak panah tepat mengenai sasaran akibat diganggu oleh angin, dan itu
cukup membuat Arste kesal. Dia adalah tipe yang ingin segala sesuatu dilakukan
dengan sempurna jika memiliki kemampuan untuk melakukannya. Dia kembali memutar
otak, lalu memutuskan untuk mengganti senjata. Busur silang itu dia hancurkan,
dan kepingan-kepingan kristalnya didaur ulang menjadi senjata tongkat.
Menggunakan
senjata kedua, Arste kembali menyerang dari jarak dekat. Namun baru saja dia
mulai bersenang-senang, pembelajaran diakhiri oleh sang mentor. Kurang lebih
kelas kedua berlangsung selama 30 menit, dan beruntung sekali dia berhasil
bertahan. Diam-diam Arste menantikan pembelajaran bertarung selanjutnya dengan
antusias.
End.