03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Hari berganti, sang fajar masih dengan gagah menyinari
Planet Mursa dengan cahayanya yang penuh kehangatan.
Pagi ini adalah kelas pertama, Arumi dengan cepat
berjalan menuju kelas sembari merapihkan rambutnya. Ia tidak ingin terlambat
Ketika sampai di kelas, ia baru melihat beberapa orang.
Arumi duduk di barisan ke dua dari belakang, di samping gadis kuning yang akrab
ia sapa Alice atau Liz.
Sapaan selamat pagi dilontarkan kepada Arumi, dan
dibalas dengan sebuah senyuman.
Satu per satu murid mulai memasuki kelas. Ramai.
Sebuah kabut tiba-tiba muncul bersamaan dengan bau
mawar yang menyengat. Perlahan kabut itu berkumpul dan membentuk sebuah
wujud... Itu mentor Bastian.
"Segera duduk dengan tenang, kelas akan segera
dimulai." Ucapnya
Ruang kelas seketika hening, murid tak ada yang
berbicara.
Mentor Bastian memakai kacamatanya kemudian beralih
kembali menatap para murid.
"Pada malam ini, kita akan terlebih dahulu
membahas tentang DianXy. Lebih tepatnya sejarah tentang DianXy.
Karena tentu saja itu adalah hal pertama yang harus
kalian ketahui saat masuk ke sini."
Jelasnya sembari menatap seisi kelas.
Mentor Bastian kemudian menunjukkan sebuah hologram di
hadapan para murid.
"Kalian semua pasti bertanya tanya asal usul dari
Dianxy itu sendiri,dan bisa kita lihat sekarang.
Begitu banyak artikel dan jurnal yang membahas soal
ini, dan tentu saja perpustakaan kita juga memiliki nya."
"Tpi..masih belum ada yang tahu tentang kebenaran
nya." Mentor Bastian berhenti sejenak sambil memandang para murid.
"Karena itu, saya akan bertanya kepada kalian. Apa
yang kalian dengar tentang Dianxy?"
Salah seorang murid mengangkat tangan, memberikan
jawaban atas pertanyaan dari mentor Bastian sesuai dengan informasi yang dia
tahu.
Arumi mengangkat tangannya lalu menjawab,
"Pahlawan galaxy. Rumornya pernah terjadi peperangan di planet ini, lalu
mereka menghilang."
Setidaknya, itu yang Arumi tahu. Pasalnya hanya sedikit
sekali informasi tentang organisasi ini.
Murid yang lain ikut menjawab. Dan ketika Mentor
Bastian merasa tak ada lagi yang ingin menjawab pertanyaan, ia melanjutkan
penjelasannya.
Sebuah senyum tipis terlukis di wajah sang mentor
sebelum akhirnya berucap, "Ya, ada banyak sekali variasi. Ada yang benar
dan juga salah tentang itu."
Mentor lalu menggeser hologram, menampilkan sebuah foto
seseorang.
"Sebenarnya dari kejadian besar itu, ada seseorang
yang masih hidup. Namun sayang sekali kita tidak menemukan keberadaannya sama
sekali sejak terakhir kali bertemu dengan Kapten kita." Lanjutnya.
"Koran dan majalah ini menunjukkan tentang adanya
komunitas rahasia. Dan lama-kelamaan terungkap ketika fenomena ‘Planet in Cage’
terjadi. Dan komunitas tersebut hilang, hingga seorang jurnalis tv galaksi tak
sengaja menemukan planet Mursa dan nama DianXy yang langsung merebak ke seluruh
galaksi."
Mentor kemudian beralih nunjukkan beberapa artikel.
"Dan tugas kalian adalah mencari tahu tentang fenomena ‘Planet in
Cage’."
Beliau melepaskan kacamata nya lalu berucap.
"Dan itu saja, sampai jumpa."
Setelah itu beliau menghilang, lebih tepatnya berubah
menjadi kabut dengan bau mawar yang khas itu.
Kelas hening selama beberapa saat, sebelum keheningan
itu dipecahkan oleh suara imut milik mentor dengan surai merah.
Mentor Naren.
Mentor Naren dengan semangat memasuki kelas. Senyum
lebar terlukis di wajah imutnya, lalu ia berujar, "Nah! Tunggu apa lagi,
ayo ke kelas selanjutnya!!"
Mentor Bastian kemudian menarik Tuas. Kelas tiba-tiba
menjadi ruang outdoor dan lantai naik ke atas hingga mereka berada 10 kaki dari
tanah.
Angin berhembus kencang, menerbangkan surai mereka..
atau bisa saja mereka yang terbang kalau tidak hisa menjaga keseimbangan.
"Pelajaran berikutnya adalah ‘bertahan’. Pastikan
tidak ada yang jatuh."
Ucapan dari mentor Bastian membuat sebagian besar murid
menengguk ludah kasar.
Mentor Naren kembali tersenyum, para murid bisa melihat
ke dua mentor berjalan mundur sampai ujung.
"Hehe, tenang saja. Jika kalian jatuh tidak akan
langsung mati. Nanti bakal ada yang menangkap kalian jika jatuhh, mwachh.
Semoga berhasil!!"
Lalu mereka melompat turun.
Para murid yang penasaran kemudian menatap dua mentor
yang terjun bebas dengan melongo, mereka tambah terkejut ketika sebuah tentakel
menangkap tubuh mentor Bastian dan mentor Naren.
Namun ketika para murid menoleh ke belakang, mereka
melihat hologram sejumlah para murid, berdiri tegak dan membawa senjata.
Hologram itu memiliki tinggi empat kali lipat dari
mereka... Sungguh.. baru hari pertama dan Arumi harus melawan titan ini?
Jika Arumi tidak hati-hati, bisa-bisa ia digeprek oleh
hologram ini, atau.. terjatuh dari ketinggian 10 kaki. Meskipun mentor Naren
bolang ia tidak akan mati, tapi tetap saja.
Arumi menyiapkan kuda-kuda, mencoba menendang hologram,
tendangannya cukup keras untuk membuat Hologram itu oleng.
Gawatnya, hologram itu berhasil memojokkan Arumi.
Sedikit lagi dan Arumi akan terjatuh.
Arumi sedikit tersentak ketika ia merasa bulu-bulu
putih membantunya menepi. Bulu yang cukup familiar, dan ia tahu seseorang yang
memiliki kekuatan ini.
Shou Masayoshi.
Arumi melihat ke atas, benar saja, Shou terbang di
atasnya sambil menyeringai jahil.
"Terima kasih. Sehabis ini saya belikan susu kotak
sebagai balasan, bagaimana?"
Arumi berucap, merasa tak enak hati.
"Ooh! Boleh!"
Shou mengangguk, sebelum kemudian terbang dan mengurus
hologramnya.
Arumi memincingkan mata, menatap hologram setinggi 4
meter di hadapannya. Oh.. sungguh tidak adil.
Namun Arumi akan melawannya, ia.. sudah berjanji akan
menjadi pahlawan agar tak ada lagi planet yang bernasib sama seperti Planet
tempat tinggalnya.