Isi Cerita
Arumi Sinclair

Hari berganti, sang fajar masih dengan gagah menyinari Planet Mursa dengan cahayanya yang penuh kehangatan.

 

Pagi ini adalah kelas pertama, Arumi dengan cepat berjalan menuju kelas sembari merapihkan rambutnya. Ia tidak ingin terlambat

 

Ketika sampai di kelas, ia baru melihat beberapa orang. Arumi duduk di barisan ke dua dari belakang, di samping gadis kuning yang akrab ia sapa Alice atau Liz.

 

Sapaan selamat pagi dilontarkan kepada Arumi, dan dibalas dengan sebuah senyuman.

 

Satu per satu murid mulai memasuki kelas. Ramai.

 

Sebuah kabut tiba-tiba muncul bersamaan dengan bau mawar yang menyengat. Perlahan kabut itu berkumpul dan membentuk sebuah wujud... Itu mentor Bastian.

 

"Segera duduk dengan tenang, kelas akan segera dimulai." Ucapnya

 

Ruang kelas seketika hening, murid tak ada yang berbicara.

 

Mentor Bastian memakai kacamatanya kemudian beralih kembali menatap para murid.

 

"Pada malam ini, kita akan terlebih dahulu membahas tentang DianXy. Lebih tepatnya sejarah tentang DianXy.

 

Karena tentu saja itu adalah hal pertama yang harus kalian ketahui saat masuk ke sini."

 

Jelasnya sembari menatap seisi kelas.

 

Mentor Bastian kemudian menunjukkan sebuah hologram di hadapan para murid.

 

"Kalian semua pasti bertanya tanya asal usul dari Dianxy itu sendiri,dan bisa kita lihat sekarang.

 

Begitu banyak artikel dan jurnal yang membahas soal ini, dan tentu saja perpustakaan kita juga memiliki nya."

 

"Tpi..masih belum ada yang tahu tentang kebenaran nya." Mentor Bastian berhenti sejenak sambil memandang para murid.

 

"Karena itu, saya akan bertanya kepada kalian. Apa yang kalian dengar tentang Dianxy?"

 

Salah seorang murid mengangkat tangan, memberikan jawaban atas pertanyaan dari mentor Bastian sesuai dengan informasi yang dia tahu.

 

Arumi mengangkat tangannya lalu menjawab, "Pahlawan galaxy. Rumornya pernah terjadi peperangan di planet ini, lalu mereka menghilang."

 

Setidaknya, itu yang Arumi tahu. Pasalnya hanya sedikit sekali informasi tentang organisasi ini.

 

Murid yang lain ikut menjawab. Dan ketika Mentor Bastian merasa tak ada lagi yang ingin menjawab pertanyaan, ia melanjutkan penjelasannya.

 

Sebuah senyum tipis terlukis di wajah sang mentor sebelum akhirnya berucap, "Ya, ada banyak sekali variasi. Ada yang benar dan juga salah tentang itu."

 

 

Mentor lalu menggeser hologram, menampilkan sebuah foto seseorang.

 

"Sebenarnya dari kejadian besar itu, ada seseorang yang masih hidup. Namun sayang sekali kita tidak menemukan keberadaannya sama sekali sejak terakhir kali bertemu dengan Kapten kita." Lanjutnya.

 

"Koran dan majalah ini menunjukkan tentang adanya komunitas rahasia. Dan lama-kelamaan terungkap ketika fenomena ‘Planet in Cage’ terjadi. Dan komunitas tersebut hilang, hingga seorang jurnalis tv galaksi tak sengaja menemukan planet Mursa dan nama DianXy yang langsung merebak ke seluruh galaksi."

 

Mentor kemudian beralih nunjukkan beberapa artikel. "Dan tugas kalian adalah mencari tahu tentang fenomena ‘Planet in Cage’."

 

Beliau melepaskan kacamata nya lalu berucap.

 

"Dan itu saja, sampai jumpa."

 

Setelah itu beliau menghilang, lebih tepatnya berubah menjadi kabut dengan bau mawar yang khas itu.

 

Kelas hening selama beberapa saat, sebelum keheningan itu dipecahkan oleh suara imut milik mentor dengan surai merah.

 

Mentor Naren.

 

Mentor Naren dengan semangat memasuki kelas. Senyum lebar terlukis di wajah imutnya, lalu ia berujar, "Nah! Tunggu apa lagi, ayo ke kelas selanjutnya!!"

 

Mentor Bastian kemudian menarik Tuas. Kelas tiba-tiba menjadi ruang outdoor dan lantai naik ke atas hingga mereka berada 10 kaki dari tanah.

 

Angin berhembus kencang, menerbangkan surai mereka.. atau bisa saja mereka yang terbang kalau tidak hisa menjaga keseimbangan.

 

"Pelajaran berikutnya adalah ‘bertahan’. Pastikan tidak ada yang jatuh."

 

Ucapan dari mentor Bastian membuat sebagian besar murid menengguk ludah kasar.

 

Mentor Naren kembali tersenyum, para murid bisa melihat ke dua mentor berjalan mundur sampai ujung.

 

"Hehe, tenang saja. Jika kalian jatuh tidak akan langsung mati. Nanti bakal ada yang menangkap kalian jika jatuhh, mwachh. Semoga berhasil!!"

 

Lalu mereka melompat turun.

 

Para murid yang penasaran kemudian menatap dua mentor yang terjun bebas dengan melongo, mereka tambah terkejut ketika sebuah tentakel menangkap tubuh mentor Bastian dan mentor Naren.

 

Namun ketika para murid menoleh ke belakang, mereka melihat hologram sejumlah para murid, berdiri tegak dan membawa senjata.

 

Hologram itu memiliki tinggi empat kali lipat dari mereka... Sungguh.. baru hari pertama dan Arumi harus melawan titan ini?

 

Jika Arumi tidak hati-hati, bisa-bisa ia digeprek oleh hologram ini, atau.. terjatuh dari ketinggian 10 kaki. Meskipun mentor Naren bolang ia tidak akan mati, tapi tetap saja.

 

Arumi menyiapkan kuda-kuda, mencoba menendang hologram, tendangannya cukup keras untuk membuat Hologram itu oleng.

 

Gawatnya, hologram itu berhasil memojokkan Arumi. Sedikit lagi dan Arumi akan terjatuh.

 

Arumi sedikit tersentak ketika ia merasa bulu-bulu putih membantunya menepi. Bulu yang cukup familiar, dan ia tahu seseorang yang memiliki kekuatan ini.

 

Shou Masayoshi.

 

Arumi melihat ke atas, benar saja, Shou terbang di atasnya sambil menyeringai jahil.

 

"Terima kasih. Sehabis ini saya belikan susu kotak sebagai balasan, bagaimana?"

 

Arumi berucap, merasa tak enak hati.

 

"Ooh! Boleh!"

 

Shou mengangguk, sebelum kemudian terbang dan mengurus hologramnya.

 

Arumi memincingkan mata, menatap hologram setinggi 4 meter di hadapannya. Oh.. sungguh tidak adil.

 

Namun Arumi akan melawannya, ia.. sudah berjanji akan menjadi pahlawan agar tak ada lagi planet yang bernasib sama seperti Planet tempat tinggalnya.