03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Hari kembali dimulai saat cahaya mentari menyinari Planet Mursa, seluruh pehuni dianxy telah bangun dari mimpi indah mereka dan melakukan aktivitas masing-masing, bagitu juga dengan gadis bersurai kuning keemasan itu yang kini sedang bersiap-siap untuk menyantap sarapannya.
Bola robotnya ikut menyala menandakan pengisian daya telah selesai. Gamebot dengan segera menyusul Alice untuk sarapan atau hanya menemani Alice sarapan.
"Hm, sarapan hari ini roti coklat, Bot," ucap Alice melirik powerspheranya sekilas. "Setelah Alice sarapan, Alice akan memberi ini untuk Bot sarapan!" lanjut Alice lalu fokus untuk sarapan.
Disaat Alice sedang menikmati sarapan, suara radio membuyarkannya, Alice pun menoleh kearah sumber suara.
"Ekhem— Perhatian kepada seluruh siswa DianXy. Diperkenankan untuk memasuki kelas segera karena kelas akan dimulai! Jangan ada yang terlambat, yang terlambat tidak boleh ikut kelas."
"Ekhem, untuk denah nya kalian tinggal tekan gelang di tangan kanan kalian yah!!! Dan itu secara otomatis akan menuntun kalian ke kelas, hehe. Jangan sampai kalian tersesat atau pun terlambat, ini hari pertama kalian belajar. Eheq."
"Uhuk... uhuk...." Alice tersedak saat mendengar pengumuman dari kedua mentor, dengan segera Alice mengigit roti coklat dan segera berlari menuju kelas, dia tidak ingin terlambat dihari pertama atau Alice tidak bisa masuk kelas.
Alice melihat beberapa murid-murid lain menuju ke arah kelas, Alice segera menoleh mencari keberadaan orang yang dikenalnya. Langkah kaki Alice berhenti didepan kelas, beberapa murid lain sudah duduk dengan tenang dan tertib.
'Ah, ada kakak! batin Alice
"Alice," panggil Arumi dengan melambaikan tangan, Alice segera menuju tempat duduk yang ada disebelah Arumi.
Beberapa menit kemudian tercium bau mawar dan muncul sebuah kabut yang membentuk seseorang. "Segera duduk dengan tenang kelas akan dimulai," ucap Mentor Bastian dari guild spy.
Alice segera duduk dengan tenang, power sphera langsung duduk dipelukan Alice.
Mentor Bastian segera memulai pembelajaran dan memunculkan sebuah hologram didepan para murid, pembelajaran berlangsung dengan tenang hingga mentor mengajukan pertanyaan kepada para murid.
Semua murid mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan dengan antusias, Alice ikut mengangkat tangan, "menurut apa yang saya baca, organisasi pahlawan yang sudah ada, namun kabarnya mereka menghilang."
Mentor kembali memulai pembelajaran setelah mendengar berbagai jawaban dari para murid.
"Dan itu saja, sampai jumpa," ucap Mentor Bastian mengakhiri pembelajaran dan menghilang menjadi kabut, Mentor Naren muncul dan mengatakan tentang kelas berikutnya tak lama kemudian kedua mentor itu melompat dari ketinggian.
"Woah," ucap Alice terkejut dan ikut melihat kebawah seperti para murid lainnya. Murid lain termasuk Alice berbalik menatap lebih dari 10 hologram yang tingginya sekitar 4 meter dan terdapat tanda hati pada bagian hologram tersebut.
'Yang bener saja,' batin Alice menelan ludah dengan susah payah.
"Ah, Alice tidak bisa bela diri lagi, bot?"
Hologram datang kearah Alice dengan memegang senjata berupa pedang, tidak lupa angin kencang bertiup kearah gadis itu, walau kesusahan untuk berdiri namun gadis itu paksakan untuk tetap bertahan.
"Mari bertahan, bot mohon kerja samanya," ucap Alice menoleh kearah Gamebot yang terbang disamping nya.
Belum sempat Gamebot berubah sebuah pedang hampir menebas kepala Alice.
Serangan kedua di berikan oleh hologram namun Alice dapat menghindar dan tanpa Alice sadari hologram mengayunkan pedang di tangan kanan nya ka arah Alice.
Bruk...
Arumi datang menendang tangan hologram hingga pedangnya terlempar. "Hati-hati Alice."
Alice mengangguk dan kembali fokus kepada hologram didepannya, "tapi Alice tidak bisa bela diri."
"Arumi akan membantu Alice, sekarang Alice bertahan dan mencoba menyerang saja," ucap Arumi menendang para hologram dengan sedikit kesusahan.
"Bot, apa kelemahan hologram itu?" tanya Alice berusaha menghindari tebasan demi tebasan dari para hologram.
Alice terus terjatuh saat menghindari hologram dikarnakan angin yang kencang menyulitkan gadis itu untuk berdiri.
Setelah beberapa lama bot menganalisis, "anda hanya perlu menyerang nya hingga HP nya berkurang."
Alice mengeluarkan alat yang dibuatnya, tombak. "Huh, Alice tidak bisa bela diri tapi mungkin hanya bisa menusuk. Mohon kerja samanya Aru, bot!"
Setelah mengatakan itu Alice berusaha menghindari hologram dengan baik dan mencoba menusuk hologram itu kembali. Arumi sesekali ikut membantu Alice dengan menendang hologram hingga jatuh.
Alice memanfaatkan kesempatan demi kesempatan melawan balik hologram, bot ikut membantu menahan tubuh Alice agar tidak jatuh ke bawah.
Membutuhkan waktu yang lumayan lama, akhirnya Alice berhasil mengalahkan hologram dan keringat membasahinya.