Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Pagi ini datang lebih cepat dari biasanya. Sinar matahari masuk ke dalam asrama sang gadis yang kemudian membangunkannya dari alam mimpi.

Setelah kesadarannya terkumpul, ia segera bersiap untuk menghadapi hari ini dengan penuh semangat. Ia bergerak untuk kembali menyusuri DianXy ini sembari memakan sandwich sederhana buatan dirinya dengan menggunakan stok camilannya yang masih ada.

Ditengah-tengah perjalanan berkeliling untuk mencari aktivitas dan pembelajaran baru, ia mendengar sebuah pengumuman dari para mentor.

Pengumuman tersebut berisi sebuah informasi bahwa kelas akan segera dimulai, dan jika terlambat hadir maka tidak diperbolehkan untuk mengikuti kelas.

Sang gadis mengangguk-angguk paham saat mendengar informasi itu, sambil terus mengunyah, ia mempercepat pergerakan kakinya supaya segera sampai kelas, walau dia sendiri ragu dimana letak ruang kelas nya. Kemudian terdengar lagi sebuah pengumuman bahwa denah dapat diakses dengan menekan gelang yang berada di tangan kanan.

Dan sang gadis kemudian menatap gelang yang berada di tangan kanannya lalu menekannya, dan ya dia berbinar-binar melihatnya.

"Kwerjenna. (Kerennya)", ia–Naretta– berucap dengan mulut yang masih mengunyah sandwich.

Setelah berucap begitu, ia berjalan mengikuti arahan denah untuk segera menuju ruang kelas. Diperjalanan ia melihat teman-teman yang lain, yang sama-sama menuju ruang kelas, lalu tersenyum.

Setelah itu, akhirnya dia sampai di kelas lalu masuk dan duduk di tempat duduk.

Selang beberapa saat, tercium aroma mawar di dalam ruangan bersamaan dengan kabut yang kemudian membentuk seseorang.

"Ah, mentor rupanya", gumam perlahan Naretta.

Mentor menjelaskan dan menunjukkan sebuah hologram yang membahas tentang asal usul DianXy yang tepat ada dihadapannya, Naretta terkagum.

"Ini keren sekali...", gumam nya saat memerhatikan hologram dihadapannya.

"Jadi begitu rupanya..", ucapnya pelan saat melihat artikel dan jurnal yang ditunjukkan oleh mentor.

Kemudian Naretta tersentak, saat mentor bertanya tentang apa yang didengar tentang DianXy. Dia berpikir sejenak, menelusuri kepingan memorinya yang mengetahui tentang DianXy.

"Hmm, DianXy itu sebuah organisasi pahlawan yang sudah lama ada namun tiba-tiba tidak terdengar satu kabar pun lagi... Tapi ada yang berkata bahwa mereka diserang dan menghilang tanpa jejak...", gumam nya pelan sambil mencoba mengingat-ngingat.

Naretta tertegun saat mendengar penuturan teman sekelasnya yang lain, ternyata mereka mengetahui banyak hal tentang DianXy yang belum dirinya ketahui. Membuatnya mengangguk-angguk karena mengetahui informasi baru.

Setelah hal itu, mentor menunjukkan sebuah foto dan menjelaskan lagi hal lain. Dan, menyuruh untuk mencari tahu tentang 'Planet in Cage'.

"Hm? 'Planet in Cage'?", bingung nya. Naretta ingin bertanya namun sang mentor mengakhiri kelas ini dan menghilang lagi.

Saat kebingungan itu datang, tiba-tiba salah seorang mentor lainnya berkata tentang kelas selanjutnya.

"Kelas selanjutnya?"

Tiba-tiba, tubuhnya terapung ke atas, seolah-olah dilempar kan. Tapi memang dia sedang dilempar ke ketinggian yang sangat tinggi.

"WWUUUAAAGGHHHHH AKU JATUHHHH!!" ucapnya saat terlempar ke atas. Dia berucap demikian padahal tubuhnya masih mengambang di atas setelah dilemparkan.

Saat berusaha menenangkan diri, tiba-tiba terdengar bawah kelas kali ini adalah 'bertahan atau terjatuh'.

"Ohh?? Jatuh atau bertahan ya?", Naretta yang sedikit syok, memperlihatkan tampang wajah yang sedikit innocent(?), dia pun kemudian melihat mentor-mentor nya yang melompat turun setelah berkata demikian.

Dia membalikkan tubuhnya dan melihat ada sekitar lebih dari 10 hologram berbentuk manusia yang memegang senjata yang berukuran sangat tinggi dan besar itu. Kemudian meneguk ludah.

"S-serius? Langsung seperti ini kelasnya?", ucapnya yang sedikit terintimidasi setelah melihat manusia hologram itu.

Namun intimidasi itu tidak berselang lama. Dia kemudian berpikir alangkah lebih baiknya menggunakan kekuatannya atau kemampuannya. Melihat beberapa teman lainnya sudah mulai bergerak. Namun dia tidak bisa berpikir karena manusia hologram itu tidak memberi kesempatan untuk berpikir.

Dirinya terdesak.

"Tadi katanya jatuh atau bertahan ya? Ya bertahan lah! Jadi bersiaplah kalian para manusia hologram!", ucapnya kepada para manusia hologram dengan menggenggam sebilah katana yang tiba-tiba muncul dan melompat kearah manusia hologram tersebut untuk menebasnya.

Naretta terus mengayunkan katana nya untuk menebas para manusia hologram yang mendekat. Dia mengarahkan serangannya kearah hati yang menandakan HP mereka, dan sesekali memperhatikan penjelasan mengenai damage juga persentase kekuatan hologram itu.

Sesekali ya.

Dia menghela napas, mencoba tenang menghadapinya, "Ugh, mereka—para manusia hologram besar— sangat bersemangat. Aku jadi kesulitan menganalisis nya. Tapi aku bisa, kalau tidak aku akan jatuh nanti. Hiyaah!"

Setelah berucap begitu, dia terus menebas mereka dan bertahan agar tidak terjatuh begitu saja. Melihat teman-teman yang lain juga bersemangat, ia pun memantapkan hati nya untuk tidak kalah bersemangat dan terus maju.

"Ini sedikit melelahkan, tapi membuatku mendapat sebuah pelatihan baru", ucapnya dengan menggenggam katanya dan sambil tersenyum.

"Sudah lama aku tidak menggunakan katana sejak terakhir berlatih di hari itu...", sedikit nostalgia tentang pelatihan nya dahulu. Meski demikian Naretta tetap fokus dan berpikir cara yang paling efektif untuk mempersingkat pertarungan namun tetap memberi damage yang besar untuk para hologram itu.

Pertarungan bertahan atau terjatuh pada kelas ini terus berlanjut, hingga waktu yang ditentukan oleh para mentor.

 

--| Fin