Isi Cerita
Luisa Arcadia

Chapter 02 : Study

࿓٭

     Seperti biasa setiap 1 bulan sekali Luisa akan keluar dari markas dan mencari beberapa bahan untuk Blastech, senjata kesayangannya yang dia rawat sejak masih seonggok besi biasa. Setelah kemarin Luisa berkeliling sebenarnya dia tidak kembali ke Asrama nya, dia sebenarnya putar balik ke Hutan untuk melaksanakan rutinitas diam-diamnya.

     Jangan salahkan dia karena tidak ada yang mengingatkan dirinya kalau sekarang bulan tepat berada di atas kepalanya, dia terlalu terbawa suasana sampai-sampai melupakan jam berapa sekarang.

     Setelah kembali ke markas dia tidak langsung tidur melainkan bereksperimen dengan hasil temuannya yang di luar nalar seperti ular yang berwarna pink dan mengeluarkan bunyi seperti kucing, kodok dengan racun yang beraroma coklat, dan lain-lainnya. Tidak lupa dia juga membuat beberapa amunisi dengan bahan yang baru tentunya itu amunisi yang lebih ringan tapi dia juga membuat yang lebih berat.

     Tanpa di sadari malam itu dia tertidur dengan rasa bahagia akan penemuan untuk amunisi senjata miliknya.

BRAK!

     "NgrkAstaga!?" Luisa berseru sambil menatap ke arah pintu kamar miliknya yang di banting dengan sangat keras oleh salah satu mentor dengan rambut hijau tosca dan cengiran eksentrik miliknya.

     "Ayo bangun dasar sleeping beauty! Hari ini hari dimana kita akan mengajar ayo cepat bersiap!" Ucap Saaochi lalu pergi meninggalkannya dengan pintu kamar miliknya yang masih terbuka.

     Luisa menatap datar pintu itu, memilih mengabaikan dan mulai bersiap-siap untuk menyambut pagi indahnya dengan mengajar.

     Setelah selesai merapikan kamarnya Luisa berjalan keluar sambil sesekali menguap dengan pelan, dia masih mengantuk karena cuma bisa tertidur sebentar. Itu salahnya juga karena tidak mengingat waktu yang terus berjalan.

     "Hm... hm..." Luisa bersenandung pelan sambil melihat ke arah luar dimana sejauh mata memandang dia hanya melihat hijaunya dedaunan yang tumbuh subur di pohon. Benar-benar planet yang asri.

     Di tengah-tengah perjalanan dia bertemu lagi dengan Saaochi yang sedang berjalan sambil sesekali menggaruk kepalanya seperti orang kebingungan.

     "Selamat pagi, Luisa." Ucap Saaochi saat melihat teman berambut putih dengan muka kusut yang jarang dikeluarkannya.

     "Pagi juga, Saaochi." Balas Luisa dengan senyum biasanya yang entah kenapa sekarang terlihat suram di mata Saaochi.

     "Coba lebih ikhlas lagi senyumnya bro, kalau fake smile gitu yang ada nanti murid-murid baru pada takut melihatmu." Ucap Saaochi sambil mencontohkan senyum yang benar dan baik kepada Luisa.

     Luisa yang melihat Saaochi senyum sendiri membuat bulu kuduknya sedikit merinding, "Itu jelas-jelas bukan senyum yang baik, bahkan itu lebih terlihat seperti senyum seorang penculik."

     Saaochi yang mendengar tuturan Luisa pun mulai terlihat perempatan di dahinya, tangannya terangkat seakan-akan ingin mencubit pipi Luisa tapi dia urungkan karena Luisa bisa saja tiba-tiba ditemukan tidak bernyawa saat mengajar nanti. Dia lebih memilih menarik lengan baju milik Luisa dan menyeretnya ke ruang penyiaran.

     Tiba-tiba jam tangan mereka berdua berbunyi menampilkan hologram Naren, ["Haloo! Ka Luisa, ka Saaochi. Materinya sudah di kasih sama Komandan."] setelah menganggukan kepala tanda mengerti hologram itu pun mati.

     Menghela nafas pelan Luisa mulai mengambil mikrofon dan mulai melakukan cek suara, "Tes, halo? Kenapa ini? Astaga kenapa sih mic ini. Gimana ini Saaochi? Micnya tidak mau hidup." Ucap Luisa sambil menyodorkan mic itu kepada Saaochi.

     "He.. yang benar saja, rugi dong ini." Sahut Saaochi setelah menerima mic itu dari tangan Luisa.

     Luisa mulai memutari tempat itu untuk melihat apakah kabel mic nya belum tercolok atau apa. Saaochi menatap heran Luisa yang terlihat seperti orang linglung.

     "Micnya wireless, Luisa..." ucap Saaochi yang menghentikan langkah Luisa seketika.

     "Kasih tahu sedari tadi dong..." jawab Luisa dengan lesu.

Tuk.

     "Nih baterainya, dari Komandan." Sahut Bastian yang tiba-tiba saja muncul dengan kabut aroma mawarnya yang khas sambil menyerahkan baterainya kepada Saaochi yang masih mengotak-atik micnya. Setelah itu Bastian menghilangkan kembali.

     "Lah... tidak ada baterainya ternyata, Luisa ini makanya kalau di kasih tahu itu jangan di makan," ucap Saaochi sambil memasang baterainya lalu mulai memberikan pengumuman untuk seluruh murid.

     "Tidak ada yang memberiku tahu..." sahut Luisa sambil mendekat ke arah Saaochi.

     Setelah memberikan pengumuman Luisa dan Saaochi kembali berjalan ke arah kelas dan memulai pelajaran pada hari pertama murid-murid baru. Setelah selesai menyampaikan materi mereka lanjut terjun ke bawah untuk menyiapkan pelajaran selanjutnya, bertahan.

     "Apa hologram yang di sana sudah siap?" Tanya Luisa kepada Naren yang sedang mengotak-atik salah satu hologram yang akan mereka pakai untuk pelajaran bertahan.

     "Aman! Serahkan saja pada Naren, muehehe~" sahut Naren sambil tertawa jahat di akhir perkataannya, itu terdengar mengerikan.

     "Bagus, setidaknya ada 10 hologram yang kemampuannya di lebihkan sedikit." Ucap Saaochi yang tiba-tiba ada di antara Luisa dan juga Naren dengan cengirannya yang entah kenapa terlihat ada maksud tersembunyinya.

     Luisa menggelengkan kepala memaklumi tingkah mereka yang terkadang sedikit di luar nalarnya, atau sebenarnya nalar dia yang meluari nalar mereka ya? Seringai keji mulai terpampang jelas di wajah Luisa, tidak ada yang tau maksud dari seringainya.

     Para makhluk hologram mulai menyerang murid dengan membabi buta, entah kenapa para murid baru ini ternyata melebihi ekspektasi miliknya. Mereka dengan cepat dan tanggap menghadapi hologram-hologram itu.

Sret!

     Suara tebasan terdengar, andai saja telat beberapa detik mungkin Luisa hanya tersisa badan tanpa kepala. Hologram itu mulai menegakkan dirinya.

     "Astaga~ apakah aku mengaturnya terlalu berlebihan?" Ucap Luisa dengan nada sedih akan tetapi itu berbanding terbalik dengan seringai gila yang terpampang di wajahnya. Dia sendiri yang mengotak-atiknya bukan?

     Tangannya dengan cepat mengambil Blastech dari balik rok miliknya, mulai menghindari serangan yang hampir saja tidak bisa dia baca pergerakannya tolong ingatkan dirinya untuk berterimakasih karena di berikan reflek yang sangat cepat.

     "Woah~ lambat banget sih."

Syut!

     Salah satu amunisi miliknya berhasil mengenai titik vital dari hologram itu, kenapa rasanya sangat mudah ya? Lupakan saja sepertinya masih ada hologram lain yang belum dikalahkan.

Jleb!

     Mata gelapnya menatap kearah dada yang kini tertusuk pedang hologram dengan warna ungu bercampur dengan darah miliknya. Kenapa bisa jadi seperti ini? Kenapa muka mereka terlihat panik? Ini cuma sedikit tertusuk, masih bisa di jahit.

Brak!

     "Hah... hah... apa-apaan itu..." Luisa bangun dari tempat duduknya dan mulai memegang dadanya yang harusnya— "Tunggu. Tidak ada apa-apa? Sshh... jam berapa sekarang?" Mata gelapnya menatap ke arah jam yang berada tepat di samping bahan-bahan yang dia kumpulkan tadi malam.

     "Jangan bilang..." dia mengatup bibirnya rapat-rapat, "Lagi-lagi tertidur...?" Mengusap muka dengan frustasi mata gelap miliknya mulai menerawang jauh setiap waktu yang tidak sengaja tertinggal dan tergantikan di alam mimpinya.

     "Luis... lagi-lagi aku seperti ini... sepertinya aku harus ke UKS dan berkonsultasi dengan penjaga di sana..." Luisa mendongakkan kepalanya agar menghadap ke arah langit-langit kamarnya.

     Tujuan awalnya Luisa mendongak agar airmata miliknya tidak terjatuh di atas bahan-bahan yang dia kumpulkan tapi siapa menyangka kalau sekarang dia malah melihat Saaochi yang menempel di langit-langit kamarnya. 'Kenapa dia bisa memasuki kamarku? Bukankah kamar cuma bisa di akses memakai ID card? Ah, ya sudahlah.'

     "Turun Saaochi, kau terlihat seperti cicak jika terus berada di sana." Ucap Luisa dengan datar setelah melihat Saaochi yang cecengesan di langit-langit kamarnya.

     "Peace~" Saaochi melompat turun dan menghadapkan mukanya sejajar dengan Luisa, "Kamu 'ketinggalan lagi, Luisa."

     Saaochi tersenyum sambil menampilkan muka yang menenangkan, "Tidurlah lagi, masih ada beberapa jam lagi untuk pelajaran yang selanjutnya." Ucapnya lalu pergi.

     "Terimakasih..." itulah kata-kata yang keluar dari mulut Luisa dengan nada yang pelan tapi cucup untuk di dengar Saaochi sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar Luisa.

࿓٭

Tamat.