03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Samar-samar dalam tidurnya, Saaochi mendengar sesuatu
berdering, berdenting nyaring bagai hendak menulikan telinganya. Matanya masih
terkatup rapat ketika indra pendengarannya mulai sangat amat aktif seolah
berusaha menariknya dari mimpinya menaklukkan planet lain.
Sedetik kemudian, Saaochi membuka matanya paksa,
wajahnya murung, dia bangkit dari tidurnya, mengambil jam yang berada di atas
nakas. Sebelum kedua pupil Ya mengecil lantaran terkejut, kakinya dengan cepat
melangkah turun dari kasur.
“Tidak ...! Aku terlambat!”
=••=
Saaochi mencak-mencak, dia mau marah, tapi tidak tahu
marah untuk apa. Karena, keterlambatan ini jelas kesalahannya. Tapi, yang lebih
membuatnya marah sekaligus bingung adalah, ketika pintu ruang radio terbuka
lebar, hanya sepi yang menyambutnya.
“Luisa di mana, sih? Kirain udah datang. Jangan-jangan
tuh anak masih molor lagi.”
Sembari berusaha menghubungi Luisa, Saaochi juga
menyelinginya dengan menyiapkan hal-hal yang perlu untuk kepentingan mengajar
yang akan dilaksanakan pagi ini. Ini pertama kali, dan tentu saja, Saaochi
ingin semuanya sempurna. Yeah, minus dengan dirinya yang enggan bangun
barusan.
“Astaga, beneran masih tidur tuh anak. Malas banget
nyusulin.”
Saaochi mulai bimbang antara harus membangunkan Luisa
ke kamarnya jauhnya hampir seperti mengelilingi satu planet kalau kata Saaochi,
atau membiarkan dirinya sendiri saja mengemban tugas ini?
Ketika itu, tiba-tiba saja jam di tangannya berbunyi,
segera dipencetnya tombol tanpa melihat siapa yang memanggilnya. Wajah Naren
terpampang dalam bentuk hologram, Saaochi lemparkan senyum tipis.
“Kak Saaochi, materinya udah sampai, nih.”
“Okey, sip!” Saaochi acungkan jempol. Sebelum
mematikan panggilan tersebut.
Ditatapnya
Ditatapnya sekeliling Ruang Radio. Dari sini, dia bisa
melihat ruang outdoor, dan juga kelas yang nantinya akan mereka pakai.
Saaochi menatap mic yang tergeletak di meja. Lantas menghela napas
pelan.
Pintu tiba-tiba saja terbuka, Saaochi terjingkat
kaget, ada Naren di sana, memyengir ketika tahu bahwa dirinya tak sengaja
mengagetkan Saaochi. Gadis berambut merah itu melangkah mendekat.
“Ngapain Kak? Kok Kakak sendiri? Kak Luisa mana?”
“Luisa kayaknya ketiduran gara-gara begadang. Kamu
sendiri ngapain di sini?”
Naren terkekeh pelan, menggaruk tengkuknya yang tak
gatal. “Mau bantuin Kak Saaochi. Oh, iya! Mau Naren bangunkan ‘kah, Kak Luisa?”
Saaochi melirik Naren, dia menggeleng
Saaochi melirik Naren, dia sedikit menggeleng,
memamerkan senyum miringnya tanpa menoleh ke arah Naren. “Biarin aja. Biar
dimarahin sama Komandan Maula.”
Naren tampaknya terkejut, hingga kedua bola matanya
membesar. “Hee, gak boleh gitu!”
“Boleh! Siapa yang nyuruh dia begadang padahal udah
tahu ada tugas pagi-pagi? Biarin aja, buat pembelajaran.”
Naren tampak berpikir sejenak, bimbang dengan
kata-kata Saaochi, tanpa sadar kepalanya mengangguk-angguk kecil.
Setelah itu, tak ada lagi argumen dari keduanya.
Sama-sama fokus mengerjakan tugas masing-masing, meskipun ada kendala dengan mic
yang tidak bisa menyala. Meski dicoba berapa kali pun hasilnya nihil. Membuat
Saaochi maupun Naren kebingungan. Hingga kedatangan Bastian yang sama
tiba-tibanya seperti Naren hingga membuat Saaochi kaget, akhirnya memecahkan
masalah ini. Rupanya baterai dari mic yang akan mereka pakai, kehabisan
baterai.
Setelah baterai terpasang, Saaochi menepuk-nepuk
kepala mic, terdengar bunyi jelas dari suara ketukan. Lantas kepala mic
di dekatkan pada mulutnya yang berancang-ancang untuk mengeluarkan suara.
“Perhatian, kepada seluruh siswa DianXy. Diperkenankan
untuk memasuki kelas segera karena kelas akan dimulai! Jangan ada yang
terlambat, yang terlambat tidak boleh masuk kelas!”
Naren ikutan menyambung, menambahkan pesan Saaochi
barusan. “Untuk denahnya kalian tinggal tekan gelang di tangan kalian, ya! Dan
itu secara otomatis akan menuntun kalian ke kelas masing-masing. Jangan sampai
kalian tersesat atau pun terlambat. Ini hari pertama kalian belajar. Ehe.”
Saaochi mematikan mic setelah memastikan Naren sudah
selesai dengan pesan-pesannya. Saaochi memperhatikan dari layar, perlahan kelas
mulai dimasuki oleh satu, dia siswa. Sembari menunggu, Saaochi memeriksa
kembali materi yang sudah disiapkan oleh Komandan Maula.
“Kak Saaochi, udah sarapan?”
Saaochi menoleh, berpikir sejenak sebelum menjawab. “Belum,
nanti aja. Habis ini.”
“Hee, nanti Kak Saaochi sakit!”
Saaochi menggeleng pelan. “Nggak apa-apa aku kuat
kok.”
Setelah itu hening menyambut. Saaochi dan Naren
sama-sama memperhatikan layar yang menampilkan kelas yang mulai dipenuhi oleh
murid-murid DianXy. Rasanya keheningan ini seperti berusaha menarik Saaochi
untuk tenggelam dalam lautan mimpi lagi. Sampai suara Naren cukup untuk
menyentaknya kembali ke dunia nyata.
“Kenapa?” Saaochi menguap setelahnya.
“Naren, keluar duluan ya, Kak!”
Saaochi sekedar mengangguk. Sebenarnya, dia tidak
terlalu mendengar apalagi dikatakan Naren setelah dia berada di ambang pintu,
dirinya sekedar mengangguk. Lantas setelah Naren benar-benar sudah tak terlihat
lagi, dia menengkulupkan kepalanya ke meja, beralaskan kedua lengannya. Saaochi
samar-samar mendengar suara Bastian yang sepertinya akan memulai materinya. Dia
tanpa melihat, memencet tombol pada papan ketik di hadapannya, untuk sekedar
memunculkan gambar tema materi yang disampaikan.
Entah mengapa, suara Bastian rasanya bagaikan alunan
nada lembut yang membuainya untuk segera jatuh ke dalam tidur yang nyaman.
Belum lagi hawa dingin dari ruang radio, cukup untuk membuat tubuhnya santai.
Saaochi tiba-tiba saja melihat sesuatu yang berlawanan dari ruang radio, planet
yang dia taklukkan di mimpi tadi kembali lagi.
Sama sekali tidak sadar, dirinya sebenarnya sudah
terlelap dalam tidur.
=••=
“... Chi ... Saaochi, oi!”
Mata Saaochi terbelalak, tubuhnya sudah duduk tegap
bagai diinterogasi. Setelah beberapa detik, kesadarannya kembali, dia menoleh
cepat, menemukan Luisa, dengan kantong matanya.
“Apa?” Kening Saaochi berkerut. Tak sadar dirinya ada
di mana sekarang.
“Apanya yang apa? Tuh, liat. Udah mulai dari tadi kelasnya.”
Saaochi menoleh ke layar. Lantas mengangguk-angguk, ‘Oh,
iya ya. Kelas outdoor.”
Sekian detik kemudian, dia histeris. “Apa?! Udah
dimulai?! Tidak ...!”
Luisa mengabaikan jeritan histeris Saaochi, memilih
menarik kursi berdekatan untuk duduk di sebelah Saaochi. Memperhatikan
bagaimana murid-murid DianXy bertarung melawan robot yang sudah didesain
sedemikian rupa mengikuti data kekuatan yang dimiliki masing-masing murid.
“Tega banget, ya. Gak dibangunin.”
Saaochi tidak langsung menanggapi celetukan Luisa,
meski itu berhasil mengalihkannya dari acara sedihnya karena tidak bisa ikutan
naik ke atas.
“Ya udah. Sama, ‘kan? Aku juga ketiduran. Gara-gara
kau juga, ya! Begadang, malah ngajak-ngajak. Jadinya, aku ketiduran juga!”
Luisa menatap cemberut Saaochi. Padahal dirinya yang
mau marah. Tapi, malah dimarahin. Akhirnya, helaan napas keluar dari mulutnya. Malas
berdebat, konon.
Saaochi juga ikut memperhatikan, bagaimana mereka
bertarung dari layar. Ada yang tampak menyerang hologram dengan tangan kosong,
menggunakan kekuatan angin, hingga es kristal. Ada pula yang berusaha menyerang
dari jarak jauh. Tapi, Saaochi juga mendapati beberapa yang nampak pasrah,
seakan tak ada yang bisa dilakukan selain itu.
“Inilah pentingnya belajar beladiri.”
Luisa melirik Saaochi yang barusan nyeletuk. Wajahnya
teramat serius, mengikuti gerakan mereka yang tengah bertarung melawan
hologram.
“Aku sedikit tersindir, nih.”
Saaochi melepaskan pandangnya dari layar. “Makanya
belajar! Racun kan tidak berpengaruh ke hologram atau robot-robot. Kita gak
bisa Cuma bergantung ke kekuatan, bakat, atau senjata doang, kita butuh hal
lain untuk menyeimbanginya!”
Luisa mengusap wajahnya, sewot karena diceramahi
panjang-lebar begitu. Dalam batinnya, mulai melemparkan roasting yang sama
panjangnya seperti ceramah Saaochi. Barulah setelah Saaochi berhenti bicara,
dia menyahut.
“Pengalaman pribadi, ya?”
Saaochi yang baru saja hendak fokus ke layar lagi,
menoleh secepat kilat ke arah Luisa, dahinya sudah berkerut, tanda tak suka.
“Kalo ngomong tuh suka fakta, heran banget.”
Luisa mengabaikannya, menggidikkan bahu. Lantas,
menyuruh Saaochi untuk fokus memperhatikan para murid yang masih bertarung.
=••=