Isi Cerita
Saaochi

Samar-samar dalam tidurnya, Saaochi mendengar sesuatu berdering, berdenting nyaring bagai hendak menulikan telinganya. Matanya masih terkatup rapat ketika indra pendengarannya mulai sangat amat aktif seolah berusaha menariknya dari mimpinya menaklukkan planet lain.

Sedetik kemudian, Saaochi membuka matanya paksa, wajahnya murung, dia bangkit dari tidurnya, mengambil jam yang berada di atas nakas. Sebelum kedua pupil Ya mengecil lantaran terkejut, kakinya dengan cepat melangkah turun dari kasur.

“Tidak ...! Aku terlambat!”

=••=

Saaochi mencak-mencak, dia mau marah, tapi tidak tahu marah untuk apa. Karena, keterlambatan ini jelas kesalahannya. Tapi, yang lebih membuatnya marah sekaligus bingung adalah, ketika pintu ruang radio terbuka lebar, hanya sepi yang menyambutnya.

“Luisa di mana, sih? Kirain udah datang. Jangan-jangan tuh anak masih molor lagi.”

Sembari berusaha menghubungi Luisa, Saaochi juga menyelinginya dengan menyiapkan hal-hal yang perlu untuk kepentingan mengajar yang akan dilaksanakan pagi ini. Ini pertama kali, dan tentu saja, Saaochi ingin semuanya sempurna. Yeah, minus dengan dirinya yang enggan bangun barusan.

“Astaga, beneran masih tidur tuh anak. Malas banget nyusulin.”

Saaochi mulai bimbang antara harus membangunkan Luisa ke kamarnya jauhnya hampir seperti mengelilingi satu planet kalau kata Saaochi, atau membiarkan dirinya sendiri saja mengemban tugas ini?

Ketika itu, tiba-tiba saja jam di tangannya berbunyi, segera dipencetnya tombol tanpa melihat siapa yang memanggilnya. Wajah Naren terpampang dalam bentuk hologram, Saaochi lemparkan senyum tipis.

“Kak Saaochi, materinya udah sampai, nih.”

“Okey, sip!” Saaochi acungkan jempol. Sebelum mematikan panggilan tersebut.

Ditatapnya

Ditatapnya sekeliling Ruang Radio. Dari sini, dia bisa melihat ruang outdoor, dan juga kelas yang nantinya akan mereka pakai. Saaochi menatap mic yang tergeletak di meja. Lantas menghela napas pelan.

Pintu tiba-tiba saja terbuka, Saaochi terjingkat kaget, ada Naren di sana, memyengir ketika tahu bahwa dirinya tak sengaja mengagetkan Saaochi. Gadis berambut merah itu melangkah mendekat.

“Ngapain Kak? Kok Kakak sendiri? Kak Luisa mana?”

“Luisa kayaknya ketiduran gara-gara begadang. Kamu sendiri ngapain di sini?”

Naren terkekeh pelan, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Mau bantuin Kak Saaochi. Oh, iya! Mau Naren bangunkan ‘kah, Kak Luisa?”

Saaochi melirik Naren, dia menggeleng

Saaochi melirik Naren, dia sedikit menggeleng, memamerkan senyum miringnya tanpa menoleh ke arah Naren. “Biarin aja. Biar dimarahin sama Komandan Maula.”

Naren tampaknya terkejut, hingga kedua bola matanya membesar. “Hee, gak boleh gitu!”

“Boleh! Siapa yang nyuruh dia begadang padahal udah tahu ada tugas pagi-pagi? Biarin aja, buat pembelajaran.”

Naren tampak berpikir sejenak, bimbang dengan kata-kata Saaochi, tanpa sadar kepalanya mengangguk-angguk kecil.

Setelah itu, tak ada lagi argumen dari keduanya. Sama-sama fokus mengerjakan tugas masing-masing, meskipun ada kendala dengan mic yang tidak bisa menyala. Meski dicoba berapa kali pun hasilnya nihil. Membuat Saaochi maupun Naren kebingungan. Hingga kedatangan Bastian yang sama tiba-tibanya seperti Naren hingga membuat Saaochi kaget, akhirnya memecahkan masalah ini. Rupanya baterai dari mic yang akan mereka pakai, kehabisan baterai.

Setelah baterai terpasang, Saaochi menepuk-nepuk kepala mic, terdengar bunyi jelas dari suara ketukan. Lantas kepala mic di dekatkan pada mulutnya yang berancang-ancang untuk mengeluarkan suara.

“Perhatian, kepada seluruh siswa DianXy. Diperkenankan untuk memasuki kelas segera karena kelas akan dimulai! Jangan ada yang terlambat, yang terlambat tidak boleh masuk kelas!”

Naren ikutan menyambung, menambahkan pesan Saaochi barusan. “Untuk denahnya kalian tinggal tekan gelang di tangan kalian, ya! Dan itu secara otomatis akan menuntun kalian ke kelas masing-masing. Jangan sampai kalian tersesat atau pun terlambat. Ini hari pertama kalian belajar. Ehe.”

Saaochi mematikan mic setelah memastikan Naren sudah selesai dengan pesan-pesannya. Saaochi memperhatikan dari layar, perlahan kelas mulai dimasuki oleh satu, dia siswa. Sembari menunggu, Saaochi memeriksa kembali materi yang sudah disiapkan oleh Komandan Maula.

“Kak Saaochi, udah sarapan?”

Saaochi menoleh, berpikir sejenak sebelum menjawab. “Belum, nanti aja. Habis ini.”

Hee, nanti Kak Saaochi sakit!”

Saaochi menggeleng pelan. “Nggak apa-apa aku kuat kok.”

Setelah itu hening menyambut. Saaochi dan Naren sama-sama memperhatikan layar yang menampilkan kelas yang mulai dipenuhi oleh murid-murid DianXy. Rasanya keheningan ini seperti berusaha menarik Saaochi untuk tenggelam dalam lautan mimpi lagi. Sampai suara Naren cukup untuk menyentaknya kembali ke dunia nyata.

“Kenapa?” Saaochi menguap setelahnya.

“Naren, keluar duluan ya, Kak!”

Saaochi sekedar mengangguk. Sebenarnya, dia tidak terlalu mendengar apalagi dikatakan Naren setelah dia berada di ambang pintu, dirinya sekedar mengangguk. Lantas setelah Naren benar-benar sudah tak terlihat lagi, dia menengkulupkan kepalanya ke meja, beralaskan kedua lengannya. Saaochi samar-samar mendengar suara Bastian yang sepertinya akan memulai materinya. Dia tanpa melihat, memencet tombol pada papan ketik di hadapannya, untuk sekedar memunculkan gambar tema materi yang disampaikan.

Entah mengapa, suara Bastian rasanya bagaikan alunan nada lembut yang membuainya untuk segera jatuh ke dalam tidur yang nyaman. Belum lagi hawa dingin dari ruang radio, cukup untuk membuat tubuhnya santai. Saaochi tiba-tiba saja melihat sesuatu yang berlawanan dari ruang radio, planet yang dia taklukkan di mimpi tadi kembali lagi.

Sama sekali tidak sadar, dirinya sebenarnya sudah terlelap dalam tidur.

=••=

“... Chi ... Saaochi, oi!”

Mata Saaochi terbelalak, tubuhnya sudah duduk tegap bagai diinterogasi. Setelah beberapa detik, kesadarannya kembali, dia menoleh cepat, menemukan Luisa, dengan kantong matanya.

“Apa?” Kening Saaochi berkerut. Tak sadar dirinya ada di mana sekarang.

“Apanya yang apa? Tuh, liat. Udah mulai dari tadi kelasnya.”

Saaochi menoleh ke layar. Lantas mengangguk-angguk, ‘Oh, iya ya. Kelas outdoor.”

Sekian detik kemudian, dia histeris. “Apa?! Udah dimulai?! Tidak ...!”

Luisa mengabaikan jeritan histeris Saaochi, memilih menarik kursi berdekatan untuk duduk di sebelah Saaochi. Memperhatikan bagaimana murid-murid DianXy bertarung melawan robot yang sudah didesain sedemikian rupa mengikuti data kekuatan yang dimiliki masing-masing murid.

“Tega banget, ya. Gak dibangunin.”

Saaochi tidak langsung menanggapi celetukan Luisa, meski itu berhasil mengalihkannya dari acara sedihnya karena tidak bisa ikutan naik ke atas.

“Ya udah. Sama, ‘kan? Aku juga ketiduran. Gara-gara kau juga, ya! Begadang, malah ngajak-ngajak. Jadinya, aku ketiduran juga!”

Luisa menatap cemberut Saaochi. Padahal dirinya yang mau marah. Tapi, malah dimarahin. Akhirnya, helaan napas keluar dari mulutnya. Malas berdebat, konon.

Saaochi juga ikut memperhatikan, bagaimana mereka bertarung dari layar. Ada yang tampak menyerang hologram dengan tangan kosong, menggunakan kekuatan angin, hingga es kristal. Ada pula yang berusaha menyerang dari jarak jauh. Tapi, Saaochi juga mendapati beberapa yang nampak pasrah, seakan tak ada yang bisa dilakukan selain itu.

“Inilah pentingnya belajar beladiri.”

Luisa melirik Saaochi yang barusan nyeletuk. Wajahnya teramat serius, mengikuti gerakan mereka yang tengah bertarung melawan hologram.

“Aku sedikit tersindir, nih.”

Saaochi melepaskan pandangnya dari layar. “Makanya belajar! Racun kan tidak berpengaruh ke hologram atau robot-robot. Kita gak bisa Cuma bergantung ke kekuatan, bakat, atau senjata doang, kita butuh hal lain untuk menyeimbanginya!”

Luisa mengusap wajahnya, sewot karena diceramahi panjang-lebar begitu. Dalam batinnya, mulai melemparkan roasting yang sama panjangnya seperti ceramah Saaochi. Barulah setelah Saaochi berhenti bicara, dia menyahut.

“Pengalaman pribadi, ya?”

Saaochi yang baru saja hendak fokus ke layar lagi, menoleh secepat kilat ke arah Luisa, dahinya sudah berkerut, tanda tak suka. “Kalo ngomong tuh suka fakta, heran banget.”

Luisa mengabaikannya, menggidikkan bahu. Lantas, menyuruh Saaochi untuk fokus memperhatikan para murid yang masih bertarung.

=••=