Isi Cerita
Shou Masayoshi

Chapter 2

 

Seorang pemuda putih memandang denah dengan teliti mencari dimana ruangan kelas. Sebelumnya di pagi hari, mereka diberitahukan untuk segera pergi ke ruang kelas dan jangan sampai terlambat karena hari ini hari pertama mereka belajar. Tiba-tiba dia mendengar isak tangis seseorang yang tak jauh dari tempat dia sebelumnya, saat dia menoleh dari mana suara isak tangisan dia melihat Aoi yang nampaknya sedih dan bingung.

Menyadari keadaan, pemuda putih tersebut melangkah maju dan memegang bahunya sembari memberi solusi, "Lebih baik pergi bersama saja dulu" ujarnya menepuk-nepuk bahu.

Perempuan itu menangis sesenggukan. Shou memandang gelang yang ada melekat di tangan kanan yang menunjukan denah peta ke ruang kelas. Shou memandang Aoi yang masih nangis sesenggukan dan bertanya, "lebih baik ikut denah ini, kamu punya kan?"

Perempuan bersurai kuning membalas dengan tangisan yang masih melekat di matanya."hiks hi-hilang" ujarnya yang membuat sang pemuda putih hanya bisa heran bagaimana gelang dia bisa hilang? Bagaimana jika dia tersesat di markas yang begitu besar ini? Dia menepis terlebih dahulu pertanyaan yang ada di benaknya dan memberi solusi baginya.

Pemuda itu mencoba menenangkan perempuan kuning untuk jangan terlalu lama bersedih, "yaudah ikut saya aja deh? Mau?". Perempuan bersurai kuning menjawabnya sebagai jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut, tepat dari kejadian itu perempuan bersurai biru datang dan memanggil namanya.

"Ah! Shou!", Shou menoleh ke sumber suara dan bertanya dengan Artha "oh halo Artha! Apakah anda tersesat??" Kata pemuda bersurai putih itu yang terlihat ekspresinya senang menyapa.

"Tidak, aku hanya sedang mencari kelas, ayo pergi bersama!", ujarnya mengajak kami berdua.

Tak kala dari itu, pemuda lain bernama Dyras datang bersamaan dengan perbincangan kami. Shou memutuskan menyetujui ajakan Artha untuk pergi bersama Dyras dan Aoi.

Saat mereka sampai, pemuda burung itu melihat Ardolf yang terpentok pintu membuat pemuda itu miris melihatnya.

Tiba-tiba ruangan itu perlahan tercium bau mawar yang menyengat dan segera muncul sebuah kabut yang memperlihatkan seseorang yang menggunakan kacamatanya.

"Segera duduk dengan tenang, kelas akan di mulai" ujarnya intonasi tegas, kini ia berdiri menghadap semua murid yang bergegas menuju tempat duduk masing-masing.

"Pada malam ini,kita akan terlebih dahulu membahas tentang Dianxy. Lebih tepatnya sejarah tentang Dianxy. Karena tentu saja itu hal yang harus kalian ketahui saat kalian masuk ke sini", ia segera menunjukkan sebuah hologram dihadapan semua murid.

"Kalian semua pasti bertanya tanya asal usul dari Dianxy itu sendiri,dan bisa kita lihat sekarang. Begitu banyak artikel dan jurnal yang membahas soal ini, dan tentu saja perpustakaan kita juga memiliki nya"

tapi..masih belum ada yang tahu tentang kebenaran nya". Dia berhenti sejenak dan memandang murid-murid disana.

"Karena itu, saya akan bertanya kepada kalian. Apa yang kalian dengar tentang Dianxy?", ia mulai melontarkan pertanyaan bagi seseorang yang pernah mendengar markas tentang Dianxy.

"Sejauh yang saya baca.. DianXy.. Sempat hancur... Hanya itu yang saya tau.." ujar Vessel menyaut pertanyaan tersebut.

Pemuda burung itu mengangkat tangannya dan menjelaskan dugaan-dugaannya.

"Dari saya dengar di beberapa artikel, dikatakan jika ada peperangan besar di planet Mursa yang membuat planet tersebut penuh senjata-senjata berjatuhan dan mayat mata yang saya dengar... Tapi saya kurang pasti..." Sahutnya berpikir.

"Saya cukup berteori jika mereka datang untuk mengambil kuasa?.." gumamnya.

Beberapa dari mereka juga mengungkapkan pendapat salah satunya

"Dari beberapa buku yang saya baca.  sekelompok orang dari berbagai planet mungkin.. Tugas mereka membantu planet yang kesusahan namun katanya secara tiba tiba mereka diserang dan.. Mungkin mati.. Hanya itu yang ku tahu", ujar Aideen.

"Bertahun-tahun yang lalu, Dianxy adalah organisasi yang bertujuan menolong dan menyelamatkan galaxy. Dianxy berlokasi di planet Mursa dan dihancurkan oleh sekelompok orang jahat. Itulah yang saya ketahui" ujar pendapat murid yang lain.

Dan banyak juga ungkapan pendapat dari para murid semua, ada yang berpendapat bahwa markas itu diserang, organisasi yang sejak ada di ribuan tahun yang lalu dan lainnya.

Dari semua ungkapan-ungkapan tersebut, sang pengajar di depan mereka tersenyum tipis dan membuka pembicaraan.

"Ya, ada banyak sekali variasi. Ada yang benar dan juga salah tentang itu", terlihat sang pengajar mengerakkan tangannya menggeser hologram menampilkan sosok sebuah foto seseorang.

"Sebenarnya dari kejadian besar itu, ada seseorang yang masih hidup. Namun sayang sekali kita tidak menemukan keberadaannya sama sekali sejak terakhir kali bertemu dengan Kapten kita".

"Koran dan majalah ini menunjukkan tentang adanya komunitas rahasia. Dan lama-kelamaan terungkap ketika fenomena ‘Planet in Cage’ terjadi. Dan komunitas tersebut hilang, hingga seorang jurnalis tv galaksi tak sengaja menemukan planet Mursa dan nama DianXy yang langsung merebak ke seluruh galaksi", Menunjukkan beberapa artikel.

Dan sebagai penutup, diberikanlah tugas mencari tahu apa itu fenomena 'Planet in Cage' sebelum melepas kacamatanya dan menghilang bagaikan kabut.

Mendadak sang mentor bersurai merah datang melompat masuk ke kelas dengan senyum sumringahnya.

"Hehe. Nah, tunggu apa lagi?? Ayok ke kelas berikut nya!!!". Di sisi lain, sang mentor sebelumnya yang mengajar waktu jam kelas langsung menarik tuas dan segera kelas naik ke atas menjadi kelas outdoor. Siapa sangka jika pelajaran selanjutnya bertahan?? Sungguh kiamat bagi murid yang ada disana.

Dikatakan jika mereka jatuh dari sana mereka akan segera ditangkap oleh seseorang, semua murid penasaran dan segera melihat kebawah dimana mentor mereka jatuh kebawah dengan sengaja, tubuh mereka segera ditangkap tentakel dan menghilang.

Semua murid berbalik dan kembali ke posisi awalnya, mereka dapat memandang sekitar sepuluh lebih hologram perwujudan manusia yang masing-masingnya memegang pedang berbeda-beda, dan hal yang semakin membuat mereka lebih soalnya lagi tingginya adalah empat meter alias dua kali lipat dari mereka . Di tiap-tiap hologram, ada tanda hati di dadanya menandakan HP dan persentase kekuatan damage dari lawannya.

Semua murid terlihat pasrah dan meneguk ludah terkejut. Hari pertama saja sudah begini? Bagaimana dengan yang lain???

Angin kencang menerjang mereka semua, membuatnya sulit untuk bertahan dan menyerang. Para hologram melangkah maju dan menyerang murid secara terpisah.

Mari kita kembali melihat sang pemuda putih kita yang nampaknya menyukai cara jalan latihan dimulai.

"Demi apa??... Kalau soal bertahan di angin kencang saya bisa..!", dengan senyum semangatnya mulai mentransformasikan lengannya menjadi sayap putih besar dia merasakan angin kencang menerjang dirinya dengan senantiasa kuatnya, dia tak mengira akan sekuat ini, mencoba mempertahankan posisinya dan terbang ke atas melepas satu persatu bulu sayapnya berubah serpihan benda tajam yang segera terbang cepat mengandalkan kekuatan kencangnya angin melayang ke hati manusia hologram tersebut.

Tentu saja manusia hologram tidak akan diam saja memancarkan serangan mengarah Shou dengan cepatnya membuatbya harus terus menghindar dan menghindar walau begitu ada beberapa yang mengenai dirinya.

Manusia hologram itu memajukan langkah kakinya dengan kuat berada tepat di depan pemuda burung itu. Terlihat dia terkejut dan takjub dengan kecepatan hologram tersebut, mengblokir serangan tersebut dengan sayap besarnya. Di saat menemukan celah dia terbang ke atas dan menutupi dirinya, terdapat bulu sayap sengaja di lepas dan membiarkannya melayang terbawa arus angin dan berputar membuat sebuah tornado besar ke arah hologram tersebut yang sementara memberinya waktu untuk menarik nafas dan terbawa arus angin kencang perlahan-lahan.

Untung pemuda itu tidak terjatuh ke bawah karena terlalu banyak menggunakan tenaganya. Dia langsung terbang cepat melawan arus angin yang menerpa dirinya dan dihadapannay hologram tersebut melemparkan pedangnya ke arah bulu sayapnya, untung saja dia bisa menghindarinya jika tidak mungkin dia akan melemah.

Lantas dia mengeluarkan beberapa bulu sayapnya yang berterbangan dia belakangnya dan melemparnya kuat mengarah manusia hologram tersebut tetapi serangan itu mudah ditangkis oleh hologram itu dengan memutarkan pedangnya melemparkan kembali serangan itu ke dirinya.

Matanya membelalak dan mengambol alih bulu sayapbya yang berserakan di beberapa tempat serangannya dan membuat perisai untuk dirinya sendiri, terlihat di sisi lain perisainya menarik dan menghembuskan nafasnya karena terlalu banyak menggunakan tenaganya tetapi dia kembali mengukir senyum miringnya.

"Boleh juga..."

Dia mengembalikan satu dari sayap bulunya. Memungut bulu sayap itu dan menggabungkan menjadi satu dengan terbentuklah sebuah bulu besar yang lebih besar dari ukuran Shou sendiri dan memancarkan serangannya tidak lupa naik di atasnya untuk membimbing bulu sayap itu ke jalan yang benar.

Menarik nafas dalam-dalam mempertahankan keseimbangan dirinya di atas bulu sayap itu sembari bertahan keseimbangan di ambangnya angin kencang tersebut, menatap tajam sorot matanya dan melemparnya kuat ke arah hologram itu dan segera mengeluarkan serangan kecil-kecilan dan bar HP itu pun mengurang dan kini mengurang menjadi kosong.

Setelah kejadian itu, dia mengelap keringat yang ada di dahinya terduduk capek sembari mempertahankan posisinya yang sudah mau dipinggir.

"Sejuknya udara.." ujarnya terbang kesana dengan senang karena dia selesai juga.