03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Seorang pemuda putih memandang denah
dengan teliti mencari dimana ruangan kelas. Sebelumnya di pagi hari, mereka
diberitahukan untuk segera pergi ke ruang kelas dan jangan sampai terlambat
karena hari ini hari pertama mereka belajar. Tiba-tiba dia mendengar isak
tangis seseorang yang tak jauh dari tempat dia sebelumnya, saat dia menoleh
dari mana suara isak tangisan dia melihat Aoi yang nampaknya sedih dan bingung.
Menyadari
keadaan, pemuda putih tersebut melangkah maju dan memegang bahunya sembari
memberi solusi, "Lebih baik pergi bersama saja dulu" ujarnya
menepuk-nepuk bahu.
Perempuan
itu menangis sesenggukan. Shou memandang gelang yang ada melekat di tangan
kanan yang menunjukan denah peta ke ruang kelas. Shou memandang Aoi yang masih
nangis sesenggukan dan bertanya, "lebih baik ikut denah ini, kamu punya
kan?"
Perempuan
bersurai kuning membalas dengan tangisan yang masih melekat di
matanya."hiks hi-hilang" ujarnya yang membuat sang pemuda putih hanya
bisa heran bagaimana gelang dia bisa hilang? Bagaimana jika dia tersesat di
markas yang begitu besar ini? Dia menepis terlebih dahulu pertanyaan yang ada
di benaknya dan memberi solusi baginya.
Pemuda
itu mencoba menenangkan perempuan kuning untuk jangan terlalu lama bersedih,
"yaudah ikut saya aja deh? Mau?". Perempuan bersurai kuning
menjawabnya sebagai jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut, tepat dari
kejadian itu perempuan bersurai biru datang dan memanggil namanya.
"Ah!
Shou!", Shou menoleh ke sumber suara dan bertanya dengan Artha "oh
halo Artha! Apakah anda tersesat??" Kata pemuda bersurai putih itu yang
terlihat ekspresinya senang menyapa.
"Tidak,
aku hanya sedang mencari kelas, ayo pergi bersama!", ujarnya mengajak kami
berdua.
Tak
kala dari itu, pemuda lain bernama Dyras datang bersamaan dengan perbincangan
kami. Shou memutuskan menyetujui ajakan Artha untuk pergi bersama Dyras dan
Aoi.
Saat
mereka sampai, pemuda burung itu melihat Ardolf yang terpentok pintu membuat
pemuda itu miris melihatnya.
Tiba-tiba
ruangan itu perlahan tercium bau mawar yang menyengat dan segera muncul sebuah
kabut yang memperlihatkan seseorang yang menggunakan kacamatanya.
"Segera
duduk dengan tenang, kelas akan di mulai" ujarnya intonasi tegas, kini ia
berdiri menghadap semua murid yang bergegas menuju tempat duduk masing-masing.
"Pada
malam ini,kita akan terlebih dahulu membahas tentang Dianxy. Lebih tepatnya
sejarah tentang Dianxy. Karena tentu saja itu hal yang harus kalian ketahui
saat kalian masuk ke sini", ia segera menunjukkan sebuah hologram
dihadapan semua murid.
"Kalian
semua pasti bertanya tanya asal usul dari Dianxy itu sendiri,dan bisa kita
lihat sekarang. Begitu banyak artikel dan jurnal yang membahas soal ini, dan
tentu saja perpustakaan kita juga memiliki nya"
tapi..masih
belum ada yang tahu tentang kebenaran nya". Dia berhenti sejenak dan
memandang murid-murid disana.
"Karena
itu, saya akan bertanya kepada kalian. Apa yang kalian dengar tentang
Dianxy?", ia mulai melontarkan pertanyaan bagi seseorang yang pernah
mendengar markas tentang Dianxy.
"Sejauh
yang saya baca.. DianXy.. Sempat hancur... Hanya itu yang saya tau.." ujar
Vessel menyaut pertanyaan tersebut.
Pemuda
burung itu mengangkat tangannya dan menjelaskan dugaan-dugaannya.
"Dari
saya dengar di beberapa artikel, dikatakan jika ada peperangan besar di planet
Mursa yang membuat planet tersebut penuh senjata-senjata berjatuhan dan mayat
mata yang saya dengar... Tapi saya kurang pasti..." Sahutnya berpikir.
"Saya
cukup berteori jika mereka datang untuk mengambil kuasa?.." gumamnya.
Beberapa
dari mereka juga mengungkapkan pendapat salah satunya
"Dari
beberapa buku yang saya baca. sekelompok
orang dari berbagai planet mungkin.. Tugas mereka membantu planet yang
kesusahan namun katanya secara tiba tiba mereka diserang dan.. Mungkin mati..
Hanya itu yang ku tahu", ujar Aideen.
"Bertahun-tahun
yang lalu, Dianxy adalah organisasi yang bertujuan menolong dan menyelamatkan
galaxy. Dianxy berlokasi di planet Mursa dan dihancurkan oleh sekelompok orang
jahat. Itulah yang saya ketahui" ujar pendapat murid yang lain.
Dan
banyak juga ungkapan pendapat dari para murid semua, ada yang berpendapat bahwa
markas itu diserang, organisasi yang sejak ada di ribuan tahun yang lalu dan
lainnya.
Dari
semua ungkapan-ungkapan tersebut, sang pengajar di depan mereka tersenyum tipis
dan membuka pembicaraan.
"Ya,
ada banyak sekali variasi. Ada yang benar dan juga salah tentang itu",
terlihat sang pengajar mengerakkan tangannya menggeser hologram menampilkan
sosok sebuah foto seseorang.
"Sebenarnya
dari kejadian besar itu, ada seseorang yang masih hidup. Namun sayang sekali
kita tidak menemukan keberadaannya sama sekali sejak terakhir kali bertemu
dengan Kapten kita".
"Koran
dan majalah ini menunjukkan tentang adanya komunitas rahasia. Dan lama-kelamaan
terungkap ketika fenomena ‘Planet in Cage’ terjadi. Dan komunitas tersebut
hilang, hingga seorang jurnalis tv galaksi tak sengaja menemukan planet Mursa
dan nama DianXy yang langsung merebak ke seluruh galaksi", Menunjukkan
beberapa artikel.
Dan
sebagai penutup, diberikanlah tugas mencari tahu apa itu fenomena 'Planet in
Cage' sebelum melepas kacamatanya dan menghilang bagaikan kabut.
Mendadak
sang mentor bersurai merah datang melompat masuk ke kelas dengan senyum
sumringahnya.
"Hehe.
Nah, tunggu apa lagi?? Ayok ke kelas berikut nya!!!". Di sisi lain, sang
mentor sebelumnya yang mengajar waktu jam kelas langsung menarik tuas dan
segera kelas naik ke atas menjadi kelas outdoor. Siapa sangka jika pelajaran
selanjutnya bertahan?? Sungguh kiamat bagi murid yang ada disana.
Dikatakan
jika mereka jatuh dari sana mereka akan segera ditangkap oleh seseorang, semua
murid penasaran dan segera melihat kebawah dimana mentor mereka jatuh kebawah
dengan sengaja, tubuh mereka segera ditangkap tentakel dan menghilang.
Semua
murid berbalik dan kembali ke posisi awalnya, mereka dapat memandang sekitar
sepuluh lebih hologram perwujudan manusia yang masing-masingnya memegang pedang
berbeda-beda, dan hal yang semakin membuat mereka lebih soalnya lagi tingginya
adalah empat meter alias dua kali lipat dari mereka . Di tiap-tiap hologram,
ada tanda hati di dadanya menandakan HP dan persentase kekuatan damage dari
lawannya.
Semua
murid terlihat pasrah dan meneguk ludah terkejut. Hari pertama saja sudah
begini? Bagaimana dengan yang lain???
Angin
kencang menerjang mereka semua, membuatnya sulit untuk bertahan dan menyerang.
Para hologram melangkah maju dan menyerang murid secara terpisah.
Mari
kita kembali melihat sang pemuda putih kita yang nampaknya menyukai cara jalan
latihan dimulai.
"Demi
apa??... Kalau soal bertahan di angin kencang saya bisa..!", dengan senyum
semangatnya mulai mentransformasikan lengannya menjadi sayap putih besar dia
merasakan angin kencang menerjang dirinya dengan senantiasa kuatnya, dia tak
mengira akan sekuat ini, mencoba mempertahankan posisinya dan terbang ke atas
melepas satu persatu bulu sayapnya berubah serpihan benda tajam yang segera
terbang cepat mengandalkan kekuatan kencangnya angin melayang ke hati manusia
hologram tersebut.
Tentu
saja manusia hologram tidak akan diam saja memancarkan serangan mengarah Shou
dengan cepatnya membuatbya harus terus menghindar dan menghindar walau begitu
ada beberapa yang mengenai dirinya.
Manusia
hologram itu memajukan langkah kakinya dengan kuat berada tepat di depan pemuda
burung itu. Terlihat dia terkejut dan takjub dengan kecepatan hologram
tersebut, mengblokir serangan tersebut dengan sayap besarnya. Di saat menemukan
celah dia terbang ke atas dan menutupi dirinya, terdapat bulu sayap sengaja di
lepas dan membiarkannya melayang terbawa arus angin dan berputar membuat sebuah
tornado besar ke arah hologram tersebut yang sementara memberinya waktu untuk
menarik nafas dan terbawa arus angin kencang perlahan-lahan.
Untung
pemuda itu tidak terjatuh ke bawah karena terlalu banyak menggunakan tenaganya.
Dia langsung terbang cepat melawan arus angin yang menerpa dirinya dan
dihadapannay hologram tersebut melemparkan pedangnya ke arah bulu sayapnya,
untung saja dia bisa menghindarinya jika tidak mungkin dia akan melemah.
Lantas
dia mengeluarkan beberapa bulu sayapnya yang berterbangan dia belakangnya dan
melemparnya kuat mengarah manusia hologram tersebut tetapi serangan itu mudah
ditangkis oleh hologram itu dengan memutarkan pedangnya melemparkan kembali
serangan itu ke dirinya.
Matanya
membelalak dan mengambol alih bulu sayapbya yang berserakan di beberapa tempat
serangannya dan membuat perisai untuk dirinya sendiri, terlihat di sisi lain
perisainya menarik dan menghembuskan nafasnya karena terlalu banyak menggunakan
tenaganya tetapi dia kembali mengukir senyum miringnya.
"Boleh
juga..."
Dia
mengembalikan satu dari sayap bulunya. Memungut bulu sayap itu dan
menggabungkan menjadi satu dengan terbentuklah sebuah bulu besar yang lebih
besar dari ukuran Shou sendiri dan memancarkan serangannya tidak lupa naik di
atasnya untuk membimbing bulu sayap itu ke jalan yang benar.
Menarik
nafas dalam-dalam mempertahankan keseimbangan dirinya di atas bulu sayap itu
sembari bertahan keseimbangan di ambangnya angin kencang tersebut, menatap
tajam sorot matanya dan melemparnya kuat ke arah hologram itu dan segera
mengeluarkan serangan kecil-kecilan dan bar HP itu pun mengurang dan kini
mengurang menjadi kosong.
Setelah
kejadian itu, dia mengelap keringat yang ada di dahinya terduduk capek sembari
mempertahankan posisinya yang sudah mau dipinggir.
"Sejuknya
udara.." ujarnya terbang kesana dengan senang karena dia selesai juga.