Isi Cerita
Atalanta Sienna Kyrane

Mentari pagi mulai menghiasi langit pagi di planet Mursa. Seluruh anggota DianXy, baik mentor, murid bahkan para staff mulai menjalankan hari-hari mereka seperti biasanya.

 

Di salah satu kamar di daerah asrama gen 2, nampak Sienna yang keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah tabung yang merupakan tab miliknya dan sebuah buku. Dia tidak akan ikut sarapan seperti yang lainnya, hingga akhirnya dia memilih untuk pergi ke perpustakaan.

 

Tujuannya ke ruangan itu hanya satu, mengembalikan buku yang sempat dipinjamnya sebelum waktu belajar dimulai.

 

Hari ini pun Sienna merasakan rasa kantuk yang amat berat, tapi rasa kantuknya berkurang setelah mandi dan meminum teh hitam.

 

Gadis itu bergumam “Semoga saja saya tidak akan ketiduran di dalam kelas.”

 

♪♪♪

 

Tepat setelah Sienna melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan, suara dari para mentor melalui speaker mulai terdengar.

 

“Ekhem. Perhatian untuk seluruh siswa DianXy. Diperkenankan agar segera masuk ke kelas, kelas akan segera dimulai! Bagi yang terlambat tidak akan diizinkan masuk.”

 

Indra pendengarannya mendengar suara milik Saaochi, salah satu mentornya dari guild Spy. Belum semenit pemberitahuan disampaikan, kini kembali terdengar suara yang berbeda dari suara sebelumnya.

 

“Untuk denahnya kalian bisa tekan gelang di tangan kanan ya!! Secara langsung mereka akan menuntun kalian ke kelas. Jangan sampai tersesat ataupun terlambat, hari ini adalah pertama kalian!”

 

Kali ini, Naren, mentor dari guild Vanguard yang berbicara. Sienna lantas melirik gelang yang berada di tangan kanannya dan berujar, “Sepertinya saya akan tetap membutuhkan benda ini walaupun saya sudah lumayan hafal denah markas ini.”

 

Dikarenakan tidak ingin memakan waktu lama, Sienna pun lantas mengambil langkah panjang ke kelas. Sesekali dirinya melihat murid DianXy yang berjalan bersama, namun ada juga yang berjalan sendirian seperti dirinya.

 

Salah satunya Freya, seniornya di organisasi ini sekaligus anggota dari guild Spy sepertinya. Merasa ada yang aneh dengan seniornya dengan cepat Sienna menghampiri sosok gadis tersebut.

 

“Freya?”

 

Tanpa menoleh Freya merespon panggilan yang diterimanya. Sienna sontak menghela nafas pelan. “Sepertinya tuan Shu sangat berguna untuk anda, tapi sayang sekali anda berbeda kelas dengannya.”

 

“Aku tau itu,” jawaban yang Freya lontarkan membuat Sienna samar-samar mengukir senyum tipis.

 

“Anda fokus saja ke denah, saya yang akan mendampingi jika ada yang menghambat perjalanan kita ke kelas.”

 

Dilihatnya Freya melirik ke arahnya lalu dengan cepat kembali fokus pada denah. “Iya, terimakasih.”

 

Pada akhirnya mereka berjalan ke kelas bersama.

 

♪♪♪

 

Di hari pertama kelas diawali dengan pembahasan awal mula DianXy.

 

Sienna dengan perasaan tekun memperhatikan materi yang mentornya bawakan. Dia akui, dia merasakan sesuatu yang aneh namun berfikir kalau itu hanyalah efek karena kurang tidur.

 

Di depan terlihat hologram yang memperlihatkan gambar artikel yang membahas perihal organisasi DianXy begitupun dengan gambar perpustakaan.

 

“Kali ini saya akan bertanya kepada kalian. Apa yang kalian tau tentang organisasi DianXy?”

 

Pertanyaan yang Bastian lontarkan mendapatkan banyak jawaban dari para murid. Entah akan didengar oleh mentor guild Spy itu atau tidak.

 

“DianXy..”

 

Ingatan samar-samar kembali muncul di ingatannya yang membuat rasa sakit menyerang kepalanya. Namun sepertinya rasa sakit itu sekarang sudah tidak sesakit disaat awal-awal Sienna mengingatnya.

 

“Organisasi yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, salah organisasi yang menyelamatkan galaksi dari para penjahat.”

 

Sienna memejamkan matanya saat berusaha melawan rasa sakit hanya untuk mencoba mengingat beberapa potong ingatan lainnya. “Bahkan planet ini menjadi saksi bisu hancurnya organisasi kala itu.”

 

Entah mentornya akan mendengar atau tidak, yang pasti Sienna sudah berusaha menjawab dengan perasaan aneh yang menyerangnya.

 

Karena tidak tahan Sienna menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.

 

♪ ♪ ♪

 

Beberapa menit kemudian Sienna mendengar suara Bastian yang mengatakan jika materi sudah selesai segera mengangkat wajahnya dan sudah berniat untuk berdiri.

 

Namun belum saja dia bergerak, dilihatnya Bastian menarik sebuah tuas dan sontak ruang kelas berubah menjadi outdoor. Bahkan lantai kelas pun naik ke atas langit setinggi 10 kaki yang membuat keseimbangan Sienna sedikit goyah.

 

Didalam lubuk hatinya Sienna berfikir ‘Apa yang terjadi? Sekarang apalagi?’

 

Tepat 10 kaki di atas tanah dapat dirasakan angin berhembusan dengan kencang. “Pelajaran berikutnya ialah bertahan, dimana kalian harus bertahan dan jangan sampai jatuh.”

 

Para murid menampilkan bermacam ekspresi, mulai dari lesu hingga panik, namun ekspresi wajahnya berubah menjadi kebingungan disaat Naren berjalan mundur ke pinggir lantai.

 

“Tidak perlu khawatir, kalau jatuh kalian tidak langsung mati. Nanti kalian ditangkap oleh sesuatu.” Ucapan Naren sedikit terdengar ambigu namun menimbulkan rasa lega di lubuk hati Sienna.

 

“Kalau begitu semoga berhasil! Mwah!”

 

Tanpa isyarat apapun Naren langsung saja melompat dan diikuti oleh Bastian. Para murid kaget dan sontak saja mengintip untuk melihat ke bawah.

 

Dibalik wajah datarnya Sienna terkejut melihat banyaknya tentakel yang menangkap kedua mentornya.

 

Dengan susah payah Sienna menelan ludahnya dengan kasar. Fikirannya berkecamuk dan mulai panik karena dia hanya mempelajari dasar bertarung, sedangkan yang harus dilawannya adalah hologram berbentuk manusia yang tinggi nya 2× lebih tinggi darinya.

 

“Seharusnya saya membawa Nyx mengikuti kelas hari ini,” gumamnya dengan rasa takut yang hanya dapat dirasakan tapi tidak bisa dia ekspresikan.

 

Netranya mulai memperhatikan senior, seangkatan hingga juniornya mulai menyerang hologram itu. Namun dia juga melihat ada yang sama seperti dirinya, tidak bisa bertarung.

 

“Terpaksa.”

 

Tanpa berfikir lama lagi Sienna menekan tombol di visornya dan mulai menyambungkan panggilan dengan Nyx melalui alat yang dipasangkan pada hewannya itu. “Saya tidak peduli anda masih marah dengan saya atau tidak. Yang pasti jika anda tidak datang dengan cepat, anda terpaksa kembali ke dunia asal anda.”

 

Setelah mengatakan hal tersebut, Sienna mulai melangkah dengan kaki panjangnya ke arah hologram dan mulai menyerang hologram itu dengan tangan kosong. Sesekali juga dia memanfaatkan serangan yang dilakukan oleh yang lainnya untuk menyerang, walaupun pada akhirnya tangannya kesakitan dan dia tidak bisa melakukan kick head andalannya.

 

Merasa semua usahanya sia-sia dirinya pun lantas mundur beberapa langkah.

 

Dari arah belakangnya Sienna merasakan angin berhembus semakin cepat, dia lantas menyadari jika burungnya telah tiba. Tanpa rasa takut Sienna pun melompat cukup tinggi dan mendarat di punggung Nyx yang terbang cukup cepat.

 

“Serang dengan tajammu atau kepakkan sayap anda dengan kuat agar pergerakan mereka semakin lambat.”

 

Tanpa ragu ataupun memberontak Nyx mulai mengikuti perintah Sienna, seringkali burung itu menghindari serangan yang datang. Nyx melakukannya sesuai dengan instruksi yang tuannya berikan.

 

Namun karena fokus Sienna yang sempat pecah, dirinya kaget saat sebuah serangan melayang ke arah dirinya dan Nyx.

 

“Nyx! Menghindar!”

 

Dengan cepat Nyx menghindar sehingga serangannya tidak mengenainya karena serangannya cukup lambat, namun sayangnya serangannya itu mengenai Sienna dan cukup berefek pada keseimbangan Sienna yang hampir jatuh dari tubuh Nyx.

 

Menyadari tuannya mengalami luka Nyx dengan cepat kembali menyerang hologram itu dan mulai terbang tinggi setelah menyerang hologram itu agar Sienna bisa bernafas sejenak.

 

Walaupun hanya luka biasa, tapi Sienna cukup meringis karena tangannya cukup sensitif jika terluka.

 

“Padahal saya berharap tidak mendapatkan luka sebelum luka pemberian anda sembuh, Nyx.” Sienna menatap ke arah Nyx yang terlihat fokus pada hologram yang berada di jarak 3 meter di bawah mereka.

 

Merasa jika hewannya masih ingin menyerang hologram itu membuat Sienna menghela nafas pelan. “Kapan pelajaran ini selesai?”

 

Karena tidak memiliki pilihan lain, pada akhirnya Sienna memerintahkan Nyx menyerang kembali hologram tersebut hingga hologram tersebut tumbang karena mendapat banyak serangan dari para murid dan menjadi penanda pelajaran ‘bertahan’ selesai tanpa ada yang terjatuh.