03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Kegundahan dan kekhawatiran melingkupi seluruh hati para anggota DianXy karena apa yang terjadi pada Ketua kami. Ditambah dengan berita menghilangnya Ketua yang sudah terdengar kemana-mana, ini membuat hatiku merasa semakin gelisah dan waspada. Aku takut terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini. Tubuhku sejujurnya sudah merasa lelah dan sakit, tapi aku tidak bisa menurunkan kewaspadaanku begitu saja.
Lengah sedikit saja dalam situasi seperti ini tentunya akan sangat fatal.
Kami kembali mendapatkan tugas untuk berjaga area kota dan alun-alun. Jelas ini untuk mencegah adanya kericuhan atau sesuatu hal lain yang tidak terduga dan dapat membahayakan.
Aku menghela nafas sejenak, setidaknya aku ingin hatiku tidak terlalu kacau dalam keadaan ini. Aku harus fokus pada tugasku. Kulihat sekitar, teman-teman yang lain tampak cukup tenang. Sepertinya memang hanya aku yang khawatir berlebihan.
Salah satu dari mereka ada yang mengusulkan untuk berpatroli hingga akhirnya terjadi pembicaraan cukup panjang yang menghasilkan kami membagi grup untuk patroli. Ada beberapa yang berpatroli melalui jalur udara, sisanya melalui darat namun menggunakan rute yang berbeda.
Aku menghela nafas sejenak, mau bagaimanapun aku memang lelah. Kakiku juga terasa sakit karena terlalu lama berjalan.
“Aku harap semua ini dapat cepat terselesaikan dengan baik … “ aku berujar lirih, teramat lirih hingga hanya aku seorang yang dapat mendengarnya.
Aku berpatroli disekitar alun-alun dengan beberapa orang lainnya. Disaat aku sedang memperhatikan sekitar, tiba-tiba aku mendengar suara seperti air yang sedang disiram.
“Aduh! Kenapa disiram?”
Suara pekikan itu membuatku seketika menoleh, namun sebelum aku dapat melihat apa yang terjadi dengan jelas, aku sudah lebih dulu merasakan dinginnya air yang tanpa kusadari juga disiram padaku.
“Akh-! A-apa-apaan ini..? “
Dingin! Airnya dingin! Ini memang airnya yang terlalu dingin atau tubuhku yang sedang kurang sehat hingga terasa begitu dingin? Aku tatap diriku sendiri dengan kerutan di dahi. Baju seragam misi yang aku kenakan jadi basah kuyup begini. Apa yang harus kulakukan?
“Hahaha, aku juga disiram.”
Telingaku yang tidak sengaja mendengar itupun segera menoleh, ternyata ada banyak juga yang disiram oleh warga. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Tiba-tiba saja mereka menyirami kami begini.
“Astaga, sebenarnya apa yang mereka lakukan? Hanya menyiram pendatang? “
“Katanya hari ini adalah hari penting. Yang kutahu, mereka semacam pengurus kuil. Mungkin saja mereka tengah menyucikan kita lebih dulu sebelum acara suci mereka.”
Aku yang mendengar salah satu pembicaraan teman-temanku, entah mengapa kalimat itu tidak terdengar menyakinkan. Bukankah kita semua hanya pendatang? Kami juga tidak ada niatan untuk bergabung dalam perayaan mereka.
“Ya Dewa! Pergilah kalian para roh-roh jahat yang mendiami tubuh anak suci ini! “
“Akh-!”
Kenapa mereka malah menyiramku lagi? Apa yang sebelumnya tidak cukup?! Aku mengusap kasar air yang tersisa di wajahku. Aku menghela nafas lagi, kali ini tanpa ragu.
“Betapa malangnya anak ini! Tubuhnya di diami oleh roh jahat!”
Sebelum air itu kembali mengenaiku, aku segera menghindar dengan senyuman canggung.
“Maaf, Tuan. Sepertinya saya sudah cukup disucikan, lebih dari ini-‘
“Ya ampun, roh jahat itu bahkan sudah mengendalikanmu, Nak!”
Omong kosong macam apa yang pria tua ini katakan? Aku kembali menghindar saat ada warga lain yang berniat menyiramku lagi. Benar-benar, planet ini memang terasa aneh. Mulai dari ritual dan agama yang dianut membuatku tidak nyaman.
“Menyebranglah kea lam lain dengan aman wahai anak-anak yang ternoda, biarkan dewa mengampuni kalian.”
Apa penjaga kuil itu tengah menyumpahi kami?
Waktu berlalu cukup lama disaat warga dan penjaga kuil masih sibuk menyirami kami semua dengan segentong air yang mereka bilang air ‘suci’. Namun kepalaku sudah mulai pusing dan terasa sedikit berkunang-kunang. Apa ini? Apa aku benar-benar sedang sakit?
Brak!
Salah satu anggota DianXy tiba-tiba pingsan, semuanya tampak bingung. Namun aku menyadari apa yang terjadi.
“Air tadi-!”
Tetapi, sebelum aku dapat melanjutkan kalimatku. Kepalaku terasa semakin pusing bahkan seolah-olah tubuhku melayang walaupun aku masih dapat dengan jelas merasakan kakiku menapak ditanah. Tanpa menyadarinya, kesadaranku hilang sepenuhnya bersamaan dengan keseimbangan tubuhku. Membuatku terjatuh tanpa kesadaran.