03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Sudah berjam-jam aku duduk di kursi ini sambil melihat seorang gadis kecil yang mungkin memiliki informasi dimana Ketua berada, ini membosankan dan menyebalkan melihat bagaimana gadis itu bahkan tidak menggerakkan mulutnya seinci pun.
Tanpa sadar aku berdecak dan sepertinya itu menarik perhatian dari Bastian yang juga berjaga bersama denganku, Bastian melirik ku sambil mengangkat salah satu alisnya seakan-akan mempertanyakan maksud dari decakan ku itu.
Hening. Tidak ada satupun dari kami yang membuka percakapan, entah karena tidak ada yang harus kami bahas atau karena hanya tidak ingin berbicara saja.
'Ah, benar jarum senjataku.' Aku mengambil jarum yang selalu ku bawa kemana-mana itu menatap jarum yang panjangnya hampir 15 cm itu dengan dalam dan berpikir apakah harus ku gunakan ini untuk menyiksa gadis kecil yang bernama Kaia itu atau tidak.
Aku menghela nafas dengan terang-terangan kali ini lalu mengetikkan sebuah pesan untuk Saaochi, [Aku bisa menyiksanya sampai dia membuka mulut] aku mengirim pesan itu kepada Saaochi yang sedang bersama dengan Komandan dan Naren.
Waktu terus berjalan dan semakin lama waktu berjalan aku semakin merengut, menyadari kalau aku tidak bisa membuat mulut Kaia terbuka, aku memutar mataku dengan malas lalu menghela nafas dengan kencang.
"Kenapa? Makin lama makin maju aja tuh bibir, udah mirip bebek." Bastian memperhatikanku dengan pandangan heran.
"Saaochi tidak membalas pesanku," balasku sambil terus menatap gelang komunikasi yang tidak mendapatkan jawaban sama sekali itu.
Bastian bersandar di dinding lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana miliknya, "Saaochi kan berada di sisi Komandan. Mungkin ada hal penting yang membuatnya tidak bisa membalas pesanmu. Prioritas kita kan adalah Komandan dan Ketua."
"Kalau begitu seharusnya kamu membiarkanku melakukan sesuatu agar mulut gadis itu terbuka!" sentakku sambil menunjuk-nunjuk Kaia yang masih saja terdiam sambil menarik tudungnya semakin dalam.
"Perintahnya adalah melindungi warga dan Kaia adalah warga, kamu seharusnya paham." Bastian menjelaskan dengan tatapan dingin, mungkin karena ini adalah perintah resmi jadi dia menjadi lebih serius tapi kan tetap saja.
"Semuanya saja warga, aku juga warga di planetku sebelumnya." Aku memutar kursiku lalu mengabaikan Bastian yang terus menerus memanggilku, bukan apa-apa aku hanya tidak ingin menyahutinya karena perkataannya hanya membuatku semakin marah jadi lebih baik aku mengabaikannya dan menghadap ke arah dinding.
Mungkin karena muak memanggilku berkali-kali akhirnya Bastian memutar kursi yang ku duduki lalu menekan kepalaku, rasanya seperti ingin dihancurkan saja jadi aku memukul tangannya sambil semakin merengut.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, kamu tidak malu dilihat oleh Kaia?" tanya Bastian sambil terus menekan kepalaku walaupun aku sudah memukul tangannya berkali-kali.
"Biarin, aku kan juga anak kecil!" sungutku sambil menatap Bastian dengan mata yang tajam.
"Anak kecil seperti apa yang memiliki badan sebesarmu," ejek Bastian lalu entah apa yang terjadi tapi dia mengangkat tangannya dari kepalaku.
Aku hanya merengut masam, "Tapikan dia hanya perlu membuka mulutnya tentang apa yang sedang terjadi, aku tidak sesabar yang lain..."
"Bagaimana kalau kamu mencoba untuk lengah sedikit, siapa tau nanti kebenarannya datang dengan sendirinya? Lalu kamu akan punya alasan untuk membalasnya." Bastian menyeringai dengan dingin.
Tersadar dengan kata-kata Bastian aku ikut menyeringai, "Idemu tidak buruk, kalau begitu aku akan menurut."
Begitulah caranya bagaimana aku menjadi tenang dan tidak mengutarakan kehendakku dengan sangat terang-terangan lagi, aku hanya diam dengan tenang bersama Bastian sambil terus mengawasi Kaia.
[To Be Continued]