Isi Cerita
Saaochi

Saaochi menatap layar laptopnya sejenak, setelah berusaha mendapatkan sinyal untuk meminta bantuan, dia berhasil menghubungi sang Dokter. Saaochi tidak terlalu tahu apakah sang Dokter bisa membantu dalam pencarian Ketua, yang dia tahu hanyalah Dokter memiliki kekuatan berupa doa.

 

Saaochi berada di kamar Ketua bersama dengan Naren yang membantunya menghubungi Dokter. Sementara Bastian dan Luisa menjaga Kaia yang sedang diamankan di kamar lain. Gerak-gerik Kaia agak mencurigakan apalagi setelah para warga terang-terangan tidak menerima kehadirannya.

 

Sekarang Saaochi bertanya-tanya, apakah ini perbuatan orang berjubah hitam yang dilihatnya waktu itu? Kalau memang benar, Saaochi akan merasa bersalah karena tidak melaporkan hal sesegera mungkin. Namun, alih-alih kian mencurigai orang berjubah hitam itu kecurigaan Saaochi lebih banyak jatuh pada para warga.

 

Tingkah mereka yang aneh semenjak mereka pertama kali menginjakkan ke sini, kejadian hancurnya patung-patung itu dan reaksi para warga setelahnya. Mereka seperti terdoktrin oleh semacam sekte sesat.

 

Tenggelam dalam pikirannya, Saaochi terjingkat kaget saat Komandan masuk ke dalam ruangan. Dia menatap Saaochi sebelum berbicara.

 

“Bagaimana? Apa bisa dihubungi?”

 

“Ya Komandan, saya dan Naren berhasil menghubungi Dokter Kai Lee,” jawab Saaochi. Dia sudah berdiri tegak menghadap Komandan.

 

“Kapan dia akan datang?” tanya Koamdan lagi, jelas panik mendera seluruh pikirannya.

 

Saaochi melirik jam tangannya sebentar, menerka-nerka waktu kedatangan sang Dokter. “Sebentar lagi, Komandan,” jawabnya.

 

Setelah itu keheningan mengisi ruangan. Naren tengah memantau keadaan dari luar jendela, Komandan Maula dan pikirannya yang berkecamuk. Saaochi mengirimi Luisa pesan, menanyakan kabar interogasi Kaia yang saat ini sedang dilakukan.

 

Namun, jawaban Luisa membuat Saaochi berkerut kening. Di sana tertulis di atas layar hologramnya, “Aku bisa menyiksanya sampai dia buka mulut.”

 

Ngawur nih anak, batin Saaochi. Lantas mengambil kesimpulan bahwa Kaia memilih bungkam daripada mengatakan kebenarannya.

 

“Tidak ada informasi apa pun dari Kaia. Gadis memilih bungkam,” ujar Saaochi. Memberitahukan apa yang barusan ia simpulkan. Lalu diam-diam menutup pesan dari Luisa tanpa membalasnya.

 

Komandan Maula tidak menjawab Saaochi, suara Naren lebih dulu memecah keheningan sejenak itu.

 

“Tinggal tunggu waktu saja sampai berita ini sampai ke telinga Tuan Daeir. Aku yakin ini akan membuat kericuhan hebat di planet yang damai ini.” Celetukan Naren mendapat sikutan dari Saaochi yang buru-buru meralat perkataannya.

 

“Jadi, bagaimana Komandan?” Saaochi bertanya pada akhirnya.

 

“Beritahu Luisa dan Bastian agar tetap berusaha mencari informasi dari Kaia dan minta Kaynel untuk menjemput Dokter Kai Lee apabila ia telah sampai. Sisanya tetap lanjutkan pencarian, kalian berdua bisa menolong para murid.”

 

“Baik, Komandan!”

 

=••=

 

Saaochi berlari dilorong penginapan. Dia baru saja mendengar kabar dari Kaynel bahwa kuilnya palsu. Perasaan tidak nyaman Saaochi membludak keluar layaknya bendungan pecah.

 

Saat dia keluar pemandangan pertama yang ia lihat adalah para murid yang disirami air hingga basah kuyup oleh para warga dari dua orang yang terlihat familiar. Kedua kening Saaochi bertaut, benaknya bertanya-tanya, saat kakinya hendak melangkah mendekat seseorang sudah melemparkan air padanya.

 

Saaochi menatap orang itu yang mengucapkan kata-kata aneh yang membuat dada Saaochi makin kembang-kempis menahan marah. Sebelum orang itu pergi, Saaochi mencekal tangannya. Sesaat dia sadar lantas segera melepasnya.

 

“Maaf, boleh saya tahu ada apa ini?” Saaochi ulurkan senyum, masih berusaha terlihat sopan meski hati sudah memaki.

 

“Kami sedang melakukan penyucian. Kalian orang-orang luar harus suci terlebih dahulu sebelum masuk kuil.”

 

Saaochi ekspresikan dirinya terkejut, mengangguk-angguk paham. “Apakah akan ada acara nanti di kuil? Dan kami harus hadir?”

 

Orang itu terkekeh seolah hal yang dikatakan Saaochi barusan adalah hal yang lucu. “Tentu, tentu saja kalian harus hadir. Karena itu agar kalian tidak membawa dosa-dosa kotor itu masuk ke dalam kuil yang suci bersih, kami melakukan penyucian untuk kalian.”

 

“Tapi, apakah harus disiram hingga seperti ini? Menurut saya itu sama sekali tidak sopan.” Dan mencurigakan, tambah Saaochi dalam batin.

 

“Kami tidak sopan!? Kami melakukan penyucian ini untuk kalian dan kau bilang kami tidak sopan!?” Balas orang itu, melotot ke arah Saaochi.

 

Saaochi melebarkan senyumnya menahan marah. Dia diam-diam mengirim pesan pada murid dan mentor agar segera pergi dan berhati-hati tidak terkena siraman air. Saaochi menyadarinya, kepalanya berputar hebat, kakinya seolah tidak berpijak pada bumi lagi, matanya memburam, sementara telinganya berdengung mendengar ocehan orang di depannya.

 

Barulah saat itu, satu persatu murid tumbang, Saaochi menghela napas panjang sebelum mereka akhirnya dia ikutan pingsan.

 

Sial, kami dijebak.