Isi Cerita
Alice

Para anggota DianXy tampak khawatir dan gundah soal apa yang akan terjadi pada Ketua mereka. Juga bagaimana ini akan berakhir. Sekilas setelah para warga memergoki mereka di pagi buta tengah mengejar Kaia, akhirnya berita hilangnya sang Founder pun terdengar dimana-mana.

Mereka kini diberi tugas untuk berjaga di area kota dan alun-alun. Mencegah adanya kericuhan atau sesuatu hal yang tidak terduga.

Gadis bermanik hetechromia dengan bendo hitam berbentuk telinga kelinci itu sedang berjalan tanpa arah mengelilingi kota. Sebuah bulu putih menarik perhatian gadis, gadis itu menoleh ke atas menatap couple nya yang terbang dengan keadaan gelisah.

'Sepertinya itu Shou.'

Yakin dengan dugaannya, gadis bernama Alice itu melambaikan tangan, bermaksud memanggil.

"Yo, Shou."

Sang empun menoleh dan mendarat di samping Sang gadis.

"Yo, Alice," balas Shou menyapa.

Alice menatap raut wajah pemuda didepannya berkerut, bertanya, "Kenapa?  banyak pikiran? menemukan sesuatu?"

Alice menepuk-nepuk kepala dengan lembut Shou.

Shou mengenggam tangan Alice dengan sangat erat.

"Hanya kesal. Situasi saat ini begitu sial, aku tidak menemukan jejal yang tertinggal," jawab Shou tidak yakin dengan keadaan Founder.

Alice menatap Shou yang kesal, tidak mempermasalahkan dengan tangannya yang digenggaman dengan erat.

"Ah, tidak adak jejak membuat tidak ada informasi yang bisa kita temukan, awas loh jatuh kalo banyak pikiran," ucap alice tersenyum.

Pemuda didepannya hanya tersenyum tipis dengan tatapan yang bingung.

"Kira-kira gadis kemarin bagaimana ya kabarnya?" tanya Alice mengalihkan topik, tidak ingin membuat pemuda itu larut dalam pikirannya sendiri.

"Dia tidak membuka mulut dari sesaat aku dan Ardolf menangkapnya. Kini ia mungkin di tahan."

"Hah.. " Alice menghembuskan napas lelah, terdiam sejenak karena tidak menemukan pertunjuk sama sekali.

"Oh, mau patroli kemana?" Alice bertanya sambil menatap sekeliling sudut kota.

"Mungkin mengecek ulang di sudut jalan. Karena Karl juga di sana, mengetahui rakun itu pintar," ucap shou menggaruk kepalanya.

.

 

.

 

.

“Aduh! Kenapa disiram?” pekik salah satu murid ketika tubuhnya disiram oleh seorang warga yang lewat sambil membawa gentong air. Bukan hanya seorang, namun ada beberapa warga lainnya yang berkeliling sambil memegang gentong air dan centong untuk melempar air.

“Hahaha, aku juga disiram,” ujar siswa lain yang menghampiri siswa itu dengan pakaian basah kuyup.

 “Astaga, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Hanya menyiram pendatang?” Ia bisa melihat temannya yang lain disiram sedemikian rupa ketika sedang berdiri di sana.

“Katanya hari ini adalah hari penting. Yang kutahu, mereka itu semacam pengurus kuil. Mungkin saja mereka tengah menyucikan kita lebih dulu sebelum memulai acara suci mereka.” Hanya helaan napas yang ia dapat.

Dalam diam, para murid hanya bisa berharap Ketua mereka segera ditemukan.

Alice menyemburkan air dari mulut dan sedikit shock karena mendapat siraman air yang tiba-tiba.

"Syok dikit, mandi dong," kaget karena sudah basah setengah badan.

'Apa ini, seperti sedang disiram air yasin,' gumam Alice menebak asal.

"Oh anak malang! Akan ku usir roh jahat yang mendiamimu!" ucap salah satu warga dan menyiram Alice kembali pakai ember ke 4.

Alice yang tidak dapat menghindar berhasil menelan air yang disiram begitu saja.

Rasanya begitu aneh bagi Alice.

"Aduhai, cukup." Bukannya berhenti, warga itu semakin menyiram Alice dan anak-anak lain dengan air yang entah dari mana.

 "MENJAUHLAH KALIAN PARA ROH ROH JAHAT RRRAAAHHHH!!!!" Siram siram menggunakan ember ke 6

"Itu pake air apa dah? Banyak lagi ember nya," tanya Alice tidak menerima keadaan yang sudah basah keseluruhan.

"Disiram tau² ditumbal," tebak Alice asal karena terlalu kesal.

Tidak lama kemudian,  satu persatu murid dianxy mulai jatuh ke tanah, murid yang belum pingsan terkejut dengan keadaan dan bertanya-tanya apa yang terjadi.

"Ini—"

Bruk, Alice ikut terjatuh, matanya mulai menutup dan kesadarannya mulai hilang

 

Tbc...