03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Sejak penangkapan yang tidak terduga itu, pencarian Tuan Cheiros sama sekali tidak memberikan hasil yang baik. Bahkan dari para mentor pun tak ada informasi apapun mengenai anak-anak yang di tahan.
Helaan nafas berat keluar begitu saja kala perasaan lelah mulai menyerang tubuhku yang sejak awal memang lemah. Aku mengelus tengkuk dengan pelan karena leherku akan selalu sakit jika terlalu lelah.
Tatapanku mulai kosong, memikirkan diriku yang dulu terlihat tak peduli dengan segala hal selain keselamatan ku. Ah- rasanya aku ingin kembali ke masa itu.
Aku terlalu terhanyut pada masa lampau sampai bulu halus yang familiar menyadarkan ku kembali pada kenyataan masa kini. Tanpa perlu menunduk aku sudah mengetahui siapa pelaku yang telah menyelamatkanku dari masa lalu, tapi aku tetap menunduk dan melihat Faa, rubah kesayangan Tuan Aideen sedang mencari kenyamanan di kakiku.
“Faa? Apa yang Anda lakukan di sini?” tanyaku lalu menggendong hewan berbulu putih itu dengan hati-hati. Tepat setelah itu pemiliknya pun ikut menampakkan diri.
Aku tidak mengalihkan pandanganku dari Faa tapi tetap menyadari kehadirannya. Mungkin karena insting ku yang cukup sensitif sebagai mata-mata. “Apakah ada tanda-tanda mencurigakan lainnya?”
Pandangan ku akhirnya beralih menatap netra biru kehijauan seperti lautan itu, dan entah mengapa aku merasakan firasat tidak mengenakkan saat dia menggelengkan kepalanya dengan memasang ekspresi kecewa.
“Tidak ada. Aku sudah menyusuri semua jalanan kecil di kota ini tapi tak ada satupun informasi yang bisa aku dapatkan.”
Aneh. Bagaimana bisa ada tempat setenang ini? Sejak awal tempat ini memang mencurigakan. Mereka terlalu tenang untuk hal genting seperti ini.
Aku kembali menatap netranya sekali lagi sebelum bertanya, “Apakah kita harus melihat dari atas?”
Tuan Aideen terlihat berpikir sejenak saat aku menatap ke arah langit. “Kurasa untuk berjaga-jaga, ada baiknya iya.”
Jawaban Tuan Aideen membuat ku ikut menganggukkan kepalaku. Tanpa berfikir panjang lagi aku bersiul hingga Nyx yang sedang dalam wujud burung raksasanya terbang menghampiri kami berdua.
Bulu putihnya ku elus dengan lembut agar dia tetap tenang sebelum di tunggangi.
“Anda baiklah. Saya akan tetap berjaga-jaga di bawah bersama Faa.”
Aku menahan tawa sejenak saat melihat Tuan Aideen terdiam sejenak sebelum menatapku dengan ragu. “Aku? …. Menaiki Nyx?”
“Mengapa tidak?” tanyaku balik sembari tetap menahan tawa. Ya, tidak aneh jika tidak ada yang berani menaiki Nyx seorang diri mengingat burung besar ini sangat jahil bahkan padaku.
Aku menepuk pundaknya pelan sebelum kembali meyakinkannya. “Kali ini percayalah pada saya.”
Entah mengapa tapi lagi dan lagi pemuda itu tidak protes sama sekali melainkan patuh dan menaiki tubuh besar Nyx. Lucu rasanya melihat Tuan Aideen berbincang dengan makhluk besar itu seperti berusaha menyogoknya agar tetap bersikap baik.
Tiba-tiba Nyx terbang dengan cepat ke langit. Samar-samar ekspresi terkejut Tuan Aideen dapat ku lihat karena gerakan tiba-tiba Nyx dan aku pun hanya bisa menggelengkan kepalaku heran.
Karena Tuan Aideen melakukan patroli di udara, aku pun mulai berpatroli di darat sembari tetap menggendong Faa.
Di perjalanan ku melihat sosok Nona Stellar yang sedang duduk di tanah sembari melihat sekeliling. Tanpa berpikir panjang aku mulai menyapanya.
“Nona,” panggilku sembari melambaikan tangan padanya. Ku lihat dirinya menoleh dengan ekspresi yang berubah saat menatapku.
“Kak Sienn!! Halo!” sapanya balik.
Aku mengajaknya berpatroli agar bisa melihat kota ini sekali lagi dengan seksama. Rasanya kota ini memang perlu di perhatikan dengan teliti jika ingin menemukan Tuan Cheiros dan keanehan lainnya.
Kami berdua berjalan bersama dan sesekali berbincang santai agar tidak merasa bosan melakukan patroli kali ini.
“Saya merasa planet ini tuh vibesnya aneh, kak. Saya jadi agak gimana gitu kalau mau patroli sendiri.” Ucapan polos Nona Stellar membuat ku diam sejenak. Tapi apa yang dia katakan ada benarnya.
Sejak awal planet ini sudah tidak benar dan semakin kami berusaha menguak misteri di tempat ini, semakin aneh hawa di sekitar yang membuat firasat ku semakin tidak baik jika Tuan Cheiros tidak dapat di temukan dan kami tidak pergi secepatnya.
“.... Haruskah kita mengajak seseorang dengan iman sekuat mereka agar bisa berkomunikasi dengan baik?” tanyaku pada diri sendiri tapi Amarine tetap bisa mendengar nya.
Tawa pelan terdengar darinya yang membuat ku keheranan. Bukankah benar? Sepertinya kita memerlukan satu orang seperti itu dan seingat ku ada Nona Azizah dan Tuan Thunder yang memiliki iman yang kuat.
Selagi kami berpatroli hingga ke depan kuil, tiba-tiba saja aku memejamkan mata ku saat air mulai membasahi tubuhku.
Aku melihat pelaku yang melakukannya yang merupakan warga asli planet ini yang sedang memegang centong berisi air. Bukan hanya satu, tapi ada warga lain yang memegang centong air dan menyirami ku dan anggota yang sedang berpatroli. Bahkan penjaga kuil pun ikut menyirami kami dengan senyum tanpa dosa.
Aku tidak bisa melakukan apapun setelah disiram sekali, tapi aku merasa kesal saat tatanan rambut yang sudah aku rapikan rusak begitu saja.
Aku melepas hair stick ku hingga rambut ku yang basah terurai begitu saja.
“Warga yang menyebalkan…,” gumamku sembari menatap mereka dengan tatapan kosong. Sial, lagi-lagi aku merasa jika pura-pura tidak tau akan lebih baik tapi kali ini mereka cukup keterlaluan.
Ritual? Ritual apa yang membuat tamu sampai di siram seperti ini? Terlebih... Airnya terasa aneh.
Tuan Aideen sempat menghampiri ku dan memeriksa kondisiku sebelum akhirnya dia pun terkena air siraman warga.
Karena tidak ingin terkena air lagi, aku berinisiatif untuk bersembunyi di balik sayap Nyx yang besar.
“Dingin....” Aku tak bohong, air yang mereka siram padaku terasa dingin seolah tubuhku yang sedingin es bisa membeku jika terkena air itu sekali lagi.
Tapi sialnya salah satu penjaga kuil menyadari keberadaan ku dan menyiram Nyx. “Oh burung kecil yang malang. Akan ku usir roh yang menempelimu.”
Nyx semakin melindungi tubuhku dari siraman air walaupun tidak terlalu berefek karena siraman air itu pun datang dari belakang kami.
Nyx menatap mereka dengan tatapan marah, bersiap untuk menyerang orang-orang yang menyirami kami. Sebisa mungkin aku menenangkannya dengan mengelus tubuhnya. Bagaimanapun mereka adalah warga lokal dan aku hanya bisa menatap mereka dengan tatapan kosong karena tidak tau harus merespon dengan ekspresi apa.
Pada akhirnya Nyx menjadi burung berukuran normal dan berlindung di pelukanku seperti yang aku lakukan pada Faa.
Hal itu terus terjadi hingga seorang pria tua berjenggot terlihat memperhatikan kami yang di siram.
“Astaga, sudah di mulai kah ritualnya.”
Ucapannya menarik perhatian ku dan aku memperhatikan gerak geriknya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Walaupun sempat berbincang sebentar tapi aku tetap saja curiga pada pria tua itu, ah tidak, lebih tepatnya ke semua warga dan penjaga kuil.
Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang terjatuh yang membuat ku menolehkan pandangan ku.
Aku menatap salah satu dari kami pingsan. Bukan hanya satu tapi sudah ada beberapa yang pingsan dengan tidak wajar.
Kebingungan, itulah satu kata yang mendeskripsikan diriku saat ini hingga aku menyadari satu hal.
“Nyx!” Aku memanggil peliharaan ku di pelukanku itu tapi nihil, Nyx pun ikut tak sadarkan diri seperti halnya Faa yang berada di pelukanku juga.
Tubuhku gemetar, terkejut dan tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Apa yang....”
Aku merasakan pandangan ku mulai menghitam, tapi sebisa mungkin aku menahan diriku agar tidak melepaskan pelukan ku dari kedua hewan itu.
“Ter... jadi...?”
Tidak sanggup menahan perasaan aneh itu, aku pun tak sadarkan diri sembari memeluk Nyx dan Faa dengan erat, tidak ingin melepaskan mereka sedikitpun dariku.
— To Be Continue —