Isi Cerita
Shou Masayoshi

Chapter 06

 

Di sebuah jalan penuh bangunan, sehelai bulu putih bersih jatuh lambat kebawah lalu terseret terbawa angin kencang. Satu-persatu bulu putih berjatuhan dari atas langit ketika ada siluet layaknya burung sedang terbang mondar-mandir.

Sudut pandang berganti ketiak seorang alien rupawan manusia gelisah. Sayapnya terbentang jelas lalu sati helai bulu putih jatuh kebawah, seketika itu pula mengumpulkan tenaganua lalu melesat cepat mengepakkan sayapnya. Mata terus tertuju di setiap jalan dan sudut-sudut bangunan-bangunan tersebut.

"Mengesalkan sekali situasi hari ini ...," gerutu sang pemuda kesal.

Kesibukan kini terhenti mendengar teriak seorang gadis,  Shou berhenti lalu mencari sumber suara dan memandang jelas siluet gadis hetechromia bando hitam bertelinga kelinci. Selekasnya pemuda tersebut mendarat tepat disamping sang gadis dengan perasaan lesu.

"Yo Alice ...," balas Shou.

Alice tampak menyadari perubahan couplenya mempertanyakan kondisinya.

"Kenapa? Banyak pikiran? Menemukan sesuatu?" tanya Alice sembari mnepuk pelan kepala Shou.

Mengabaikan pertanyaan mendadak memegang tangan gadis itu lalu memegangnya erat tapi tidak menyakiti.

"Hanya kesal. Situasi kali ini begitu sial. Aku tidak bisa menemukan jejak yang ditinggal," jawabnya tidak yakin atas kondisi sang ketua.

"ah, tidak adak jejak membuat tidak ada informasi yang bisa kita temukan, awas loh jatuh kalo banyak pikiran."  Senyuman terpampang di wajahnya membuat Shou sedikit rileks, ia tersenyum tipis.

Alice mengganti topik pembicaraan mengarah ke seseorang.

"Gadis kemarin gimana ya kabarnya?" tanyanya.

Shou sadar dengan pembicaraan mereka yang mengarah seseorang yaitu sang kakak yang mencoba menculik adiknya yang sempat ia jaga. Tidak diketahui apa tujuan dari segala itu disebabkan sang kakak sama sekali membuka mulut.

"Dia tidak membuka mulut dari sesaat aku dan Ardolf menangkapnya. Kini ia mungkin di tahan," jawab pemuda memikirkan kemungkinan.

Alice menghembuskan nafas pasrah.

"Oh, mau patroli kemana?" bertanya memandang sekitar.

Shou menanggapi, "Mungkin mengecek ulang di sudut jalan. Karena Karl juga di sana, mengetahui rakun itu pintar".

.

.

.

Waktu berlalu begitu saja mendadak Shou disiram air dan murid lain juga terkena hal yang sama. Mereka bingung dengan tindakan para warga yang membawa ember dan menyiram mereka dengan brutal.

"Aku benci air," geramnya marah.

"Pergilah kamu ketempat yang tenang dasar roh jahat yang mendiami anak malang ini!"

Warga itu menyiramnya sekali lagi dengan seember.

"Tunggu jang—"

Ucapannya terpotong saat air di lempar sekali lagi, membasahi pakaian dan rambutnya.

Pemuda mendengus marah dengan perilaku mereka. Apakah ini yang mereka sebut sebagai pesucian?!

"Bukankah mereka yang perlu disucikan karena melempar air ke seseorang tanpa mengetahui situasi?!?" gerutu dia marah, wajahnya cemberut terpampang jelas.

Shou berkerut kesal hingga ia bisa saja memukul seseorang tapi ia harus bisa mengendalikan emosinya.

"Hayoloh basah, lebih baik gak berbicara lagi," sahut Alice menertawakan pemuda tersebut.

Pemuda menghela nafas kesal, tangannya memeras sisa air yang menempel padanya berusaha mengeringkan dirinya. Shou terus bersin dan menggigil, tidak cocok sekali untuk burung seperti dia.

"Tidak cocok untuk burung yang berbulu," kritiknya

Sudut penglihatan melihat air dilempar dalam skala besar reflek menghindar nangkring di atas tiang lampu tak jauh dari tempat itu berada. Shou memutar bola matanya mulai tidak suka dengan perilaku mereka.

"Baik-baik kini rohnya telah hilang. Gak perlu lempar air lagi." Ia berjongkok di atas tiang lampu menatap miris keadaan temannya tersiksa.

.

.

SHOU POV

"Hei apakah sudah berakhir?"

Aku memandang area sekitar yang berantakan dengan banyaknya air tergenang dan korban dari penjaga kuil gila ini. Mereka ini gila ya? Mereka seperti ingin membunuh kita semua. Ya lagipula aku aman sekarang karena tidak mungkin mereka bisa menggapai ku di tiang lampu tunggu apa - apaa?!? batinnya bergejolak.

Air meluncur keluar dari selang air?!? Cheater!!? Aku tersedak air hingga aku bisa merasa perutku terisi air, aku akan benar-benar memuntahkannya. Kakiku terpeleset lalu jatuh dari tiang lampu yang tinggi lalu bagian terburuknya pinggulku yang berakhir mendarat duluan ke tanah!

"Sialan ...."

Aku terbatuk-batuk berusaha mengeluarkan air yang masuk, tanganku tergerak menggosok pinggulku yang nyeri kebangetan.

"Hohoho... ini adalah perayaan setiap tahun untuk kuil. Mungkin kalian disiram karena dianggap kotor dan harus disucikan dahulu."

Suci...? INI DIA KATAKAN SUCI?!? Ini lebih seperti pembunuhan massal!!

"Bapak yakin penjaga kuil ini beneran penjaga kuil? Mereka seperti punya niat membunuh...!"

 protesku kepada pak tua itu. Mencoba menahan amarah untuk tidak memukulnya atau suatu buruk terjadi.

.

.

AUTHOR POV

Akhirnya acara penyiraman telah selesai digantikan keheningan yang aneh. Tetapi keheningan itu berubah menjadi ambrukan ketika salah satu murid pingsan, mereka mendekat mengecek kondisi mempertanyakan apa yang terjadi.

"Apa yang terjadi? Kenapa dia pingsan?"

Belum terjawab, ada anggota lain yang turut pingsan. Kemudian, salah satu dari mereka menyadari.

"Air suci itu—"

.

.

SHOU POV

Apa-apaan?!? Mereka satu-persatu pingsan!! Aku menoleh tajam menatap sang pelaku dengan amarah yang menggebu di dalamku.

"Woy?!? Apa yang kau lakukan?!?"

seruku dengan marah hingga kerutan di wajahku menumpuk menatap tajam iri kuningku dan bahaya ke mereka. Aku dengan cepat melangkah kakiku hendak memukul wajah mereka yang telah ku genggam erat-erat hingga kuku memutih.

Tepat sekali ketika adrenalin kemarahan mengendalikanku kemudian lumpuh saat pandangan mulai menggelap dan buram, pukulanku melembek hingga seperti tamparan ke orang itu.

"Sial..an ..kau..."

Lirihku dendam terjatuh ke samping sebelah orang itu terkapar. Pusing dan sakit melanda tubuhku kemudian kelopak mataku tertutup menyaksikan kelemahanku sendiri...