03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Di sebuah jalan penuh bangunan,
sehelai bulu putih bersih jatuh lambat kebawah lalu terseret terbawa angin
kencang. Satu-persatu bulu putih berjatuhan dari atas langit ketika ada siluet
layaknya burung sedang terbang mondar-mandir.
Sudut pandang berganti ketiak
seorang alien rupawan manusia gelisah. Sayapnya terbentang jelas lalu sati
helai bulu putih jatuh kebawah, seketika itu pula mengumpulkan tenaganua lalu
melesat cepat mengepakkan sayapnya. Mata terus tertuju di setiap jalan dan
sudut-sudut bangunan-bangunan tersebut.
"Mengesalkan sekali situasi
hari ini ...," gerutu sang pemuda kesal.
Kesibukan kini terhenti mendengar
teriak seorang gadis, Shou berhenti lalu
mencari sumber suara dan memandang jelas siluet gadis hetechromia bando hitam
bertelinga kelinci. Selekasnya pemuda tersebut mendarat tepat disamping sang
gadis dengan perasaan lesu.
"Yo Alice ...," balas
Shou.
Alice tampak menyadari perubahan
couplenya mempertanyakan kondisinya.
"Kenapa? Banyak pikiran?
Menemukan sesuatu?" tanya Alice sembari mnepuk pelan kepala Shou.
Mengabaikan pertanyaan mendadak
memegang tangan gadis itu lalu memegangnya erat tapi tidak menyakiti.
"Hanya kesal. Situasi kali ini
begitu sial. Aku tidak bisa menemukan jejak yang ditinggal," jawabnya
tidak yakin atas kondisi sang ketua.
"ah, tidak adak jejak membuat
tidak ada informasi yang bisa kita temukan, awas loh jatuh kalo banyak
pikiran." Senyuman terpampang di
wajahnya membuat Shou sedikit rileks, ia tersenyum tipis.
Alice mengganti topik pembicaraan
mengarah ke seseorang.
"Gadis kemarin gimana ya
kabarnya?" tanyanya.
Shou sadar dengan pembicaraan mereka
yang mengarah seseorang yaitu sang kakak yang mencoba menculik adiknya yang
sempat ia jaga. Tidak diketahui apa tujuan dari segala itu disebabkan sang
kakak sama sekali membuka mulut.
"Dia tidak membuka mulut dari
sesaat aku dan Ardolf menangkapnya. Kini ia mungkin di tahan," jawab
pemuda memikirkan kemungkinan.
Alice menghembuskan nafas pasrah.
"Oh, mau patroli kemana?"
bertanya memandang sekitar.
Shou menanggapi, "Mungkin
mengecek ulang di sudut jalan. Karena Karl juga di sana, mengetahui rakun itu
pintar".
.
.
.
Waktu berlalu begitu saja mendadak
Shou disiram air dan murid lain juga terkena hal yang sama. Mereka bingung
dengan tindakan para warga yang membawa ember dan menyiram mereka dengan
brutal.
"Aku benci air," geramnya
marah.
"Pergilah kamu ketempat yang
tenang dasar roh jahat yang mendiami anak malang ini!"
Warga itu menyiramnya sekali lagi
dengan seember.
"Tunggu jang—"
Ucapannya terpotong saat air di
lempar sekali lagi, membasahi pakaian dan rambutnya.
Pemuda mendengus marah dengan
perilaku mereka. Apakah ini yang mereka sebut sebagai pesucian?!
"Bukankah mereka yang perlu
disucikan karena melempar air ke seseorang tanpa mengetahui situasi?!?"
gerutu dia marah, wajahnya cemberut terpampang jelas.
Shou berkerut kesal hingga ia bisa
saja memukul seseorang tapi ia harus bisa mengendalikan emosinya.
"Hayoloh basah, lebih baik gak
berbicara lagi," sahut Alice menertawakan pemuda tersebut.
Pemuda menghela nafas kesal,
tangannya memeras sisa air yang menempel padanya berusaha mengeringkan dirinya.
Shou terus bersin dan menggigil, tidak cocok sekali untuk burung seperti dia.
"Tidak cocok untuk burung yang
berbulu," kritiknya
Sudut penglihatan melihat air
dilempar dalam skala besar reflek menghindar nangkring di atas tiang lampu tak
jauh dari tempat itu berada. Shou memutar bola matanya mulai tidak suka dengan
perilaku mereka.
"Baik-baik kini rohnya telah
hilang. Gak perlu lempar air lagi." Ia berjongkok di atas tiang lampu
menatap miris keadaan temannya tersiksa.
.
.
SHOU POV
"Hei apakah sudah
berakhir?"
Aku memandang area sekitar yang
berantakan dengan banyaknya air tergenang dan korban dari penjaga kuil gila
ini. Mereka ini gila ya? Mereka seperti ingin membunuh kita semua. Ya lagipula
aku aman sekarang karena tidak mungkin mereka bisa menggapai ku di tiang lampu
tunggu apa - apaa—?!? batinnya bergejolak.
Air meluncur keluar dari selang
air?!? Cheater!!? Aku tersedak air hingga aku bisa merasa perutku terisi air,
aku akan benar-benar memuntahkannya. Kakiku terpeleset lalu jatuh dari tiang
lampu yang tinggi lalu bagian terburuknya pinggulku yang berakhir mendarat
duluan ke tanah!
"Sialan ...."
Aku terbatuk-batuk berusaha
mengeluarkan air yang masuk, tanganku tergerak menggosok pinggulku yang nyeri
kebangetan.
"Hohoho... ini adalah perayaan
setiap tahun untuk kuil. Mungkin kalian disiram karena dianggap kotor dan harus
disucikan dahulu."
Suci...? INI DIA KATAKAN SUCI?!? Ini
lebih seperti pembunuhan massal!!
"Bapak yakin penjaga kuil ini
beneran penjaga kuil? Mereka seperti punya niat membunuh...!"
protesku kepada pak tua itu. Mencoba menahan
amarah untuk tidak memukulnya atau suatu buruk terjadi.
.
.
AUTHOR POV
Akhirnya acara penyiraman telah
selesai digantikan keheningan yang aneh. Tetapi keheningan itu berubah menjadi
ambrukan ketika salah satu murid pingsan, mereka mendekat mengecek kondisi
mempertanyakan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia
pingsan?"
Belum terjawab, ada anggota lain
yang turut pingsan. Kemudian, salah satu dari mereka menyadari.
"Air suci itu—"
.
.
SHOU POV
Apa-apaan?!? Mereka satu-persatu
pingsan!! Aku menoleh tajam menatap sang pelaku dengan amarah yang menggebu di
dalamku.
"Woy?!? Apa yang kau
lakukan?!?"
seruku dengan marah hingga kerutan
di wajahku menumpuk menatap tajam iri kuningku dan bahaya ke mereka. Aku dengan
cepat melangkah kakiku hendak memukul wajah mereka yang telah ku genggam
erat-erat hingga kuku memutih.
Tepat sekali ketika adrenalin
kemarahan mengendalikanku kemudian lumpuh saat pandangan mulai menggelap dan
buram, pukulanku melembek hingga seperti tamparan ke orang itu.
"Sial..an ..kau..."
Lirihku dendam terjatuh ke samping
sebelah orang itu terkapar. Pusing dan sakit melanda tubuhku kemudian kelopak
mataku tertutup menyaksikan kelemahanku sendiri...