Isi Cerita
Maula Syndulla

ARC 01 YEAR 03

Chapter 02 : Study

 

Hari dimana seluruh anggota DianXy akan memulai aktivitas pertama mereka di markas DianXy yakni belajar di kelas ataupun ditempat simulasi pertahanan akan segera berlangsung. Dari mempersiapkan diri masing – masing sampai, menyiapkan bahan materi, sarapan terlebih dahulu supaya bertenaga dan bersemangat, ada juga yang sibuk berjaga di sekitar DianXy untuk mencegah kedatangan penyusup.

Maula salah satu yang sudah bangun dari awal karena jadwal kegiatannya hari ini cukup sibuk, dia sedang menyiapkan materi – materi yang akan disampaikan kepada para anggota baru. Materi – materi tersebut dia siapkan dalam hologram, distruktur secara rapi.

Selain itu dia juga menyadari ada seseorang yang bersandar pada pintu masuk ruangannya. Bukan Geist karena dirinya memintanya untuk berjaga ditempat dimana pesawat angkasa berada. “Bastian, apa yang kamu lakukan disana?”

“Menunggu,” ujar Bastian secara singkat.

Maula tidak bertanya apapun lagi. Ia langsung berjalan keluar dari ruangan setelah menyiapkan bahan materi yang akan disampaikan kepada para anggota baru, diikuti oleh Bastian hingga lelaki itu menghilang menjadi asap serta mengeluarkan aroma bunga mawar.

Maula tidak membawa buku atau apapun, hanya chip kecil yang dia bawa. Di dalamnya adalah materi yang akan diberikan kepada para anggota baru. Setiap materi dia ringkas dan rangkum kembali. Ditambah lagi dia menggunakan kata – katanya sendiri supaya para anggota mengerti. Harapannya seperti itu. Tidak perlu panjang lebar karena disisi lain dia juga berpikir mungkin saja akan ada beberapa yang tidak akan dibaca nanti jika terlalu panjang.

Sambil berjalan menuju ruang kelas, terlihat Naren yang melambai – lambaikan tangannya kepada Maula bersama dengan Kaynel yang sedang mengintip ke dalam ruang kelas. Dihampirilah mereka berdua oleh Maula.

“Para anggota belum masuk ke kelas, Komandan. Munkin lima menit lagi.” Ujarnya. Mendengar hal itu, Maula mengangguk sembari tersenyum. Dia kemudian memberikan chip sederhana kepada Naren dan Kaynel.

“Isi nya apa, Komandan?” tanya Naren memperhatikan chip tersebut dengan baik – baik.

“Hanya materi sederhana saja. Untuk saat ini.” Jawab Maula. Mendengar hal itu, Naren dan Kaynel menatap satu sama lain lalu menganggukkan kepala mereka. “Baik, Komandan.”

“Komandan tidak akan masuk ke kelas?” tanya Kaynel.

Maula berpikir sejenak. Tadinya ia ingin langsung mengerjakan aktivitas lain tetapi mungkin ada baiknya jika dia berhadapan langsung dengan para anggota meskipun hanya sebentar saja.

“Hmm. Mungkin sebentar saja.” Naren dan Kaynel bertatapan kembali lalu tersenyum. “Yay!”

Setelah lima menit, terlihat setiap anggota masuk ke dalam kelas. Ada yang bersemangat, gugup akan apakah materi yang disampaikan akan begitu rumit atau tidak, apalagi jika sudah berhadapan dengan yang namanya ujian, pikiran pasti blank meskipun sudah belajar keras hingga kepala berasap – asap.

Maula menjelaskan materi yang akan disampaikan selama kurang lebih 10 – 15 menit lamanya, entah itu dipahami oleh para anggota atau tidak tetapi setidaknya sudah berusaha menyampaikannya sebaik mungkin.

Setelah itu, Maula berjalan keluar dari ruangan kelas dan menatap kepada Naren dan Kaynel lagi. “Mungkin untuk saat ini segitu saja dari saya, selanjutnya saya serahkan kepada kalian berdua ya.”

“Siap, Komandan!” Jawab Naren dan Kaynel secara bersamaan.

“Saya ada urusan lain, saya pergi dulu ya.” Ujar Maula sembari memberikan senyuman kecil kepada mereka berdua dan memberikan lambaian tangan.

“Semangat, Komandan!” teriak Naren dengan penuh semangat. Dari situ, Maula segera berjalan pergi menyerahkan sisanya kepada mereka – mereka yang akan memberikan materi yang diberikan oleh Maula ke dalam chip tadi.

|| END OF CHAPTER 02 ||