03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Malam hari yang tenang di sinari oleh terang nya rembulan malam. Di saat sedang berpatroli aku mengingat pesan ketua, mengapa ketua begitu yakin bahwa pelaku nya ialah salah satu warga disini? Aku tidak pandai menebak jadi nya pikiran itu hanya terlintas sekilas.
“Ini sudah waktunya Kak Luisa dan Kak Saaochi yang patroli malam,” kata ku mengingatkan. Pasalnya mereka sudah berkeliling dan tidak menemukan satu hal pun yang mencurigakan.
“Baiklah, mari kita melewati alun-alun sekali lagi sebelum ke penginapan.” aku mengangguk menyetujui saran komandan dan kembali melewati alun alun sekali lagi.
Kami berdua berjalan melewati alun-alun yang hanya diterangi lampu jalan berisi lentera. Dalam redup-redup samar cahaya, Maula menyipitkan mata saat melihat sehelai kain tak jauh dari patung monumen berada, Kami berdua mendekat ke arah itu. Saat berjalan mendekati dan mengambilnya. Aku berkata pada komandan yang memegang kain tersebut. “Bukankah itu selimut yang tadi dipakai Ketua?”
Komandan tanpa aba-aba langsung saja berlari kencang menuju penginapan, aku lalu mengikuti komandan dengan merasa kebingungan. Komandan langsung mendobrak masuk kamar yang dipakai oleh Rhino. Namun, ia tidak menemukan pemuda itu ada di dalam sana. Aku tersentak kaget ikut bingung tidak melihat ketua kami yang seharusnya ia telah beristirahat kembali.
Komandan bernapas dengan berat, hingga aku tidak berani bertanya. “Panggil semua anggota dan bersiap.” komandan menatap wajah ku yang hanya bergeming di belakangnya, tampak ekpresi yang tidak bisa diungkapkan olehku.
“Temukan Rhino, sekarang.”
.
.
.
Kini semua murid telah berkumpul menggunakan seragam nya, telah siap menerima perintah. Aku dan beberapa mentor lain nya memberi aba aba terhadap murid kami. Bastian mengambil alih memberikan informasi agar mencari ketua dengan cara berkelompok. Mereka dengan cepat lalu berpencar.
Kelompok ku terdiri dari Ryu, Alice, dan juga naretta. Kami sepakat mencari nya bareng bareng agar tidak tersesat terlalu jauh. Shu sempat ingin bergabung dengan kami tapi aku menolak nya, aku sih GK mau yah ada buaya di dalam kelompok ku.
Ryu lalu mengubah bentuk nya menjadi naga lalu menerbang kan kami ke atas, dari atas kami sangat leluasa mencari nya di karena pandangan kami semakin luas. Kami semakin jauh mencari hingga Ryu mencapai batas nya.
Kami lalu melanjutkan perjalan Dengan berjalan kaki sembari meneriakkan ketua. Beberapa jam tak ada hasil kami beristirahat sejenak sembari memikirkan berbagai cara agar bisa menemukan ketua. Tiba tiba saja ada anak kecil yang bertingkah aneh, mengapa dia keluar di malam yang larut ini? Tidakkah dia takut dengan hantu? Apalagi ini tempat nya lumayan gelap.
Dia tidak sendiri melainkan berdua, salah satu nya sedang menangis ntah karena ketakutan atau pun kebingungan. Ryu dengan inisiatif langsung mendekati nya, begitupun dengan murid yang lain nya. Aku hanya acuh tak acuh dengan anak itu, fokus ku kini adalah bagaimana cara mencari ketua
"Bagaimana cara nya menemukan ketua di keadaan seperti ini.." aku mondarj mandir tak jelas memikirkan berbagai hal, tiba tiba aku menangkap sesuatu dari ekor mata ku. Samar samar aku lalu mengikuti nya meninggalkan yang lain, apakah aku salah liat? Aku trs mengikuti pergerakan tersebut. Hingga sampai lah aku ke sebuah rumah besar seperti nya masih terawat