03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
--|🪶
Malam pun tiba, akhirnya aku dapat
beristirahat di kamar setelah kericuhan tadi siang terlalu cukup baik. Kurasa.
Sebanyak apa pun aku memikirkan kemungkinan yang terjadi, namun tetap saja aku
tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan diriku.
Aku menghela napas ku, lelah
memikirkan semua kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya, aku memutuskan
untuk menghirup udara malam—walau hanya sebatas berjalan di lorong kamar kamar.
"Aku tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi, tapi ini cukup melelahkan. Walaupun aku tidak tahu apa yang
kulakukan siang tadi,"
Di tengah lamunan ku, tiba-tiba ada
seseorang yang berjalan dan menghampiri ku, "Yoo! Kok gak masuk kamar?
Belum ngantuk yah?" tanya nya.
"Oh? Iya, aku bosan. Lou
sendiri?" Aku menatap Lou, seseorang yang baru aja menghampiri ku.
"Jam segini mah aku memang
belum tidur." Dia Meluk boneka yang dari tadi di bawahnya.
"Btw kejadian tadi siang itu
benar-benar kacau yah! Aku jadi penasaran siapa pelakunya. Kenapa kita gak
disuruh nyariin mereka? Kan kita pahlawan!"
"Oho, begitu rupanya,"
jawabku dengan senyuman.
"Iya benar, kejadian tadi siang
benar-benar kacau. Dan yaa ... aku juga tidak tahu kalau soal itu." Aku
mengangkat bahu tidak tahu. Karena ya, aku juga sudah memikirkan nya namun
tetap tidak menemukan apapun.
"Heran deh, padahal tinggal
cari pelaku nya terus bak bik buk! Beres kan!"
Dia cemberut. Sepertinya, Lou
benar-benar tipe orang yang tidak sabaran soal sesuatu ya. Aku tertawa pelan
karenanya.
"Ahh! Aku juga mau lawan
penjahat asli sebagai seorang pahlawan!" sambungnya
"Err, tidak semudah yang
dikatakan, Lou," jawab ku tersenyum, kemudian melanjutkan perkataan ku,
"Ah begitu begitu, mungkin nanti ada saat nya untuk kita juga,"
Setelah cukup lama berbincang, aku
memutuskan untuk kembali menghirup udara. Setidaknya ini bisa sedikit
menjernihkan pikiran ku. Namun, tiba-tiba gelang yang aku gunakan berbunyi
mengeluarkan suara alarm S.O.S.
Aku terkejut bukan main, masalahnya
panggilan darurat ini memiliki catatannya sendiri bahwa Ketua menghilang.
"Apa? Bagaimana mungkin
...?"
"Aku bertanya-tanya, bagaimana
bisa seorang Ketua menghilang? Ah, sekarang bukan waktunya untuk itu. Aku harus
segera bersiap siap," sambungku.
Segera aku kembali ke kamarku untuk
menggunakan seragam misi dan menghampiri mentor yang telah berdiri di depan
penginapan untuk memberikan perintahnya.
Di sini, tak hanya mentor, Komandan
Maula pun turut hadir. Dan, ekspresi beliau sungguh menyeramkan. Karena hal
itu, aku mengerti bahwa pencarian ini harus bisa segera berhasil. Meskipun
langit masih gelap seperti ini.
Ketika semua sudah hadir, seorang
mentor berkata untuk membuat sebuah tim pencarian. Ku rasa, tujuan mentor
membuat tim agar tidak ada yang ikut menghilang.
Setelah pengumuman untuk membuat
kelompok disampaikan aku melihat seseorang yang cukup panik dan bingung? Yah,
aku mengerti alasannya kenapa.
"Tenang kak." Aku memegang
bahu Alice untuk menenangkannya.
"Retta, ayo bareng,"
tawarnya padaku sambil memasang muka memelas.
"Ayo! Kita jangan sampai
berpisah ya,"
"Ayo." Alice menggenggam
tanganku erat.
"Kita berdua saja? mulai cari
dari mana nih?"
"Bertiga? Berempat? Siapa aja
bisa Retta, dari toko-toko?"
"Hm, boleh aja. Aku bisa dengan
siapa saja," jawabku.
Ketika kami sedang berjalan, ada
yang memanggil Alice. Aku pun ikut melihat orang tersebut.
"Haa?? Naik ke atas??"
Alice menatap nya bingung dan menatap diriku juta. Aku membalas melihat, dan
mengajukan sesuatu.
"Melompat berarti?" Aku
memiringkan wajahku.
"Eik!? Bukan seperti itu, nanti
Ryu dan kak Naren akan terjatuh!" ucap seseorang yang tadi memanggil
Alice. Ternyata dia adalah Ryu.
"Ohh! Salah ya? Hehe." Aku
menggaruk kepalaku sambil cengengesan.
"Ah ayo Retta." Alice
melompat ke arah Ryu.
"Gow!" ucapku hendak
mengikuti apa yang Alice ikuti.
"Agh!? Ryu tidak bisa
mengangkat tiga!" oh Ryu, maaf kan aku yang menjadi beban mu.
"Oh begitu? Aku jalan saja,
kabari jika bertemu sesuatu ya!" ucapku, yah aku merasa tidak enak saja
karena tadi dia bilang kalau dia tidak bisa mengangkat tiga orang.
Setelah perbincangan, sepertinya Ryu
memutuskan untuk ber-transform menjadi naga, kenapa dia bisa berubah menjadi
naga? Katanya dia pernah melihat naga ini di cerita dongeng. Menarik.
"Wow keren, serius jadi
naga?" binar ku sangat terkesan. Sudah lama tidak melihat naga, aku jadi
merindukannya. Eh, disaat seperti ini tidak seharusnya memikirkan hal lain, aku
harus fokus dalam pencarian Ketua.
Aku melihatnya yang sudah siap untuk
membawa kami terbang. Wow, terbang ya, akan terlihat seperti apa di planet ini
ya? Setelah aku bertanya ulang mengenai keikutsertaan aku menaikinya, aku pun
akhirnya benar-benar ikut terbang?
"Ryu, Retta kalian menemukan
sesuatu?" tanya Alice ketika kami melihat sekitar dari langit.
Ryu melihat ke bawah sambil terbang
dengan menggelengkan kepalanya begitu juga aku, aku tidak melihat sesuatu.
"Belum, tidak terlalu jelas
karena gelap," jelas ku.
Ryu menyarankan untuk menggunakan
ponsel, ketika aku merogoh saku aku tidak menemukan apa apa di sana. Apa aku
keluar tanpa membawa apa apa? Dimana ya barang-barang ku?
Aku berpikir dan oh, aku baru ingat
kalau barang - barang ku masih ada di senior pemilik dimensi tak terbatas. Aku
menepuk jidat ku ketika sadar.
"Ah itu, ada di tas dan tas ku
err, masih di senior? Hehe lupa untuk di ambil," aku tertawa canggung.
"Alamak tinggal di mana?"
"Dimensinya senior, apa
sekalian teriak namanya juga ya?" aku mencoba mengusulkan saran itu kepada
Ryu. Ryu bilang dia bisa terbang saja menuju ke arah senior, dan ya aku
menyetujuinya saja.
"Haruskah kita berteriak?
Memanggil-manggil? Siapa tau ketua menyahut," usul Alice tiba-tiba kepada
kami soal pencarian Ketua. Yah tidak buruk.
"Bukan ide buruk. Kurasa bisa
dicoba,"
"Ayo kita coba." Alice
mencoba memastikan suaranya untuk berteriak. Dan aku pun mengangguk.
"Ketua, ketua dimana?"
Alice mulai berteriak, dan aku mengikuti apa yang dia lakukan.
Dan ya, saat kami berteriak, Ryu
berhasil menemukan senior dan turun disana. Seperti kemarin sedang landing
pesawat kami saja.
"Oh wow, cara mudah menemukan
kak Fadey terima kasih ryu." Aku melompat turun, "Hup,"
Baru saja kami turun, dia kembali ke
bentuk semulanya, eh yah itu lah pokoknya. Dia bilang, dia tidak bisa berubah
lama-lama, nama nya itu 'shapeshift'.
"Mari jalan kaki, Ryu,
Retta," tawar Alice.
"Haruskah kita menyinari jalan
ini? Pake bot." Alice menunjuk botnya dari samping.
"Boleh, pakai penerangan supaya
jalan senantiasa terang,"
Ryu meminta maaf karena saat kami
terbang tidak selama itu. Yah, aku juga tidak mempermasalahkan nya karena aku
juga penumpang tiba-tiba dirinya. Aku malay ikut merasa bersalah padanya, dan
aku meminta maaf juga padanya.
Alice meminta bot untuk mengeluarkan
cahaya dari mata bot nya, "Yo bot terangin,"
"Walau tidak terlalu terang
tapi bisa ya," sambungnya dengan canggung.
"Tidak apa apa, ini cukup
membantu,"
"Sip, mari mencari," ucap
Alice, "Kemana dulu?" sambungnya.
"Kesana? Disana terdengar
banyak suara?" ucapku dan Alice menyetujuinya. Kami akhirnya menghampiri
kerumunan—eh itu benar kerumunan? Tapi, yah sama saja lah.
"Terlihat ada anak anak?
Ngapain kira-kira mereka?" aku merasa penasaran dengan kerumunan itu.
"Tidak tau? Ayo kita tanyakan
Retta, siapa tau mereka bertemu ketua atau orang yang mirip ketua?" usul
Alice—lagi.
"Boleh, kita tanya ke anak-anak
atau yang lain? Lihat banyak yang berkumpul di sana." Aku menunjuk murid
lainnya yang terlihat berkumpul.
"Anak-anak dan murid aja
Retta." Alice menarik diriku dan berlari ke arah mereka. Aku yang ditarik
pun hanya bisa mengikuti saja.
Setibanya disana, aku melihat anak
kecil yang kemarin ada di alun alun. Semua sepertinya sedang bertanya-tanya
padanya. Alice dan aku terpisah karena ya, entah lah. Dan seperti biasanya,
Luks muncul setelah tidak ada orang di sekitarku.
"Anak itu kenapa?" tanya
Luks.
"Entah, aku tidak mendengar
percakapannya, dilihat-lihat mereka sedang bertengkar ringan dengan teman-teman
yang lain," jawabku. Aku mendekati kerumunan, mencoba tetap mendengar
percakapan mereka sambil mengikuti dalam diam.
"Ku dengar tidak boleh
sendirian ketika mencari Ketua?" tanya Luks. Aku mendengus pelan.
"Aku tidak sendirian, aku
bersama mu dan mengikuti mereka dari belakang,"
Ketika aku mengobrol dengan Luks,
anak kecil itu tiba-tiba berjalan ke rumah seseorang. Aku melihat yang lain
mengikuti dan ya aku pun mengikuti mereka.
Mereka berada di dalam rumah itu,
aku tidak ingin masuk karena aku merasa ragu untuk ikut. Aku meminta Luks
membantuku mendengar percakapan di dalam.
"Luks, bisa kau pinjamkan
kekuatanmu untuk membantuku mendengar percakapan di dalam?"
"Tentu." Luks mengaktifkan
kekuatannya, dia menyelimuti telingaku dengan aura berwarna biru. Setelah itu
aku bisa mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.
"Dia cengeng ya? Kalau tidak
salah ingat, sejak kejadian kemarin dia selalu menangis," ucap Luks yang
ikut menyimak percakapan di dalam. Dan aku mengangguk, menyetujui perkataanya.
"Tapi oh? Kakak anak yang
menangis? Wah, apa yang mereka bicarakan?" aku cukup terkejut soal kakak
nya.
"Kakak?" ucapku dan Luks
bersamaan, kami bertatapan karena bingung. Apa jangan-jangan suara yang cukup
keras dari belakang adalah pergerakan kakak anak yang cengeng itu?
"Aku benar-benar tidak mengerti
dengan semua kejadian ini? Pertama patung patung yang dihancurkan, lalu Ketua
menghilang, dan sekarang kakak dari anak cengeng itu berkata kalau masih ingin
hidup kita harus pergi dari sini?" Aku mengacak-acakan rambutku bingung
sambil mendengar dan melihat interaksi yang sedang mereka semua lakukan dari
jarak yang tidak terlalu dekat.
Luks menggelengkan kepala rubahnya,
dan menepuk pundakku menggunakan ekornya.
--|🔍