Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Malam pun tiba, akhirnya aku dapat beristirahat di kamar setelah kericuhan tadi siang terlalu cukup baik. Kurasa. Sebanyak apa pun aku memikirkan kemungkinan yang terjadi, namun tetap saja aku tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan diriku.

 

Aku menghela napas ku, lelah memikirkan semua kemungkinan yang dapat terjadi. Karenanya, aku memutuskan untuk menghirup udara malam—walau hanya sebatas berjalan di lorong kamar kamar.

 

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ini cukup melelahkan. Walaupun aku tidak tahu apa yang kulakukan siang tadi,"

 

Di tengah lamunan ku, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan dan menghampiri ku, "Yoo! Kok gak masuk kamar? Belum ngantuk yah?" tanya nya.

 

"Oh? Iya, aku bosan. Lou sendiri?" Aku menatap Lou, seseorang yang baru aja menghampiri ku.

 

"Jam segini mah aku memang belum tidur." Dia Meluk boneka yang dari tadi di bawahnya.

 

"Btw kejadian tadi siang itu benar-benar kacau yah! Aku jadi penasaran siapa pelakunya. Kenapa kita gak disuruh nyariin mereka? Kan kita pahlawan!"

 

"Oho, begitu rupanya," jawabku dengan senyuman.

 

"Iya benar, kejadian tadi siang benar-benar kacau. Dan yaa ... aku juga tidak tahu kalau soal itu." Aku mengangkat bahu tidak tahu. Karena ya, aku juga sudah memikirkan nya namun tetap tidak menemukan apapun.

 

"Heran deh, padahal tinggal cari pelaku nya terus bak bik buk! Beres kan!"

 

Dia cemberut. Sepertinya, Lou benar-benar tipe orang yang tidak sabaran soal sesuatu ya. Aku tertawa pelan karenanya.

 

"Ahh! Aku juga mau lawan penjahat asli sebagai seorang pahlawan!" sambungnya

 

"Err, tidak semudah yang dikatakan, Lou," jawab ku tersenyum, kemudian melanjutkan perkataan ku, "Ah begitu begitu, mungkin nanti ada saat nya untuk kita juga,"

 

Setelah cukup lama berbincang, aku memutuskan untuk kembali menghirup udara. Setidaknya ini bisa sedikit menjernihkan pikiran ku. Namun, tiba-tiba gelang yang aku gunakan berbunyi mengeluarkan suara alarm S.O.S.

 

Aku terkejut bukan main, masalahnya panggilan darurat ini memiliki catatannya sendiri bahwa Ketua menghilang.

 

"Apa? Bagaimana mungkin ...?"

 

"Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang Ketua menghilang? Ah, sekarang bukan waktunya untuk itu. Aku harus segera bersiap siap," sambungku.

 

Segera aku kembali ke kamarku untuk menggunakan seragam misi dan menghampiri mentor yang telah berdiri di depan penginapan untuk memberikan perintahnya.

 

Di sini, tak hanya mentor, Komandan Maula pun turut hadir. Dan, ekspresi beliau sungguh menyeramkan. Karena hal itu, aku mengerti bahwa pencarian ini harus bisa segera berhasil. Meskipun langit masih gelap seperti ini.

 

Ketika semua sudah hadir, seorang mentor berkata untuk membuat sebuah tim pencarian. Ku rasa, tujuan mentor membuat tim agar tidak ada yang ikut menghilang.

 

Setelah pengumuman untuk membuat kelompok disampaikan aku melihat seseorang yang cukup panik dan bingung? Yah, aku mengerti alasannya kenapa.

 

"Tenang kak." Aku memegang bahu Alice untuk menenangkannya.

 

"Retta, ayo bareng," tawarnya padaku sambil memasang muka memelas.

 

"Ayo! Kita jangan sampai berpisah ya,"

 

"Ayo." Alice menggenggam tanganku erat.

 

"Kita berdua saja? mulai cari dari mana nih?"

 

"Bertiga? Berempat? Siapa aja bisa Retta, dari toko-toko?"

 

"Hm, boleh aja. Aku bisa dengan siapa saja," jawabku.

 

Ketika kami sedang berjalan, ada yang memanggil Alice. Aku pun ikut melihat orang tersebut.

 

"Haa?? Naik ke atas??" Alice menatap nya bingung dan menatap diriku juta. Aku membalas melihat, dan mengajukan sesuatu.

 

"Melompat berarti?" Aku memiringkan wajahku.

 

"Eik!? Bukan seperti itu, nanti Ryu dan kak Naren akan terjatuh!" ucap seseorang yang tadi memanggil Alice. Ternyata dia adalah Ryu.

 

"Ohh! Salah ya? Hehe." Aku menggaruk kepalaku sambil cengengesan.

 

"Ah ayo Retta." Alice melompat ke arah Ryu.

 

"Gow!" ucapku hendak mengikuti apa yang Alice ikuti.

 

"Agh!? Ryu tidak bisa mengangkat tiga!" oh Ryu, maaf kan aku yang menjadi beban mu.

 

"Oh begitu? Aku jalan saja, kabari jika bertemu sesuatu ya!" ucapku, yah aku merasa tidak enak saja karena tadi dia bilang kalau dia tidak bisa mengangkat tiga orang.

 

Setelah perbincangan, sepertinya Ryu memutuskan untuk ber-transform menjadi naga, kenapa dia bisa berubah menjadi naga? Katanya dia pernah melihat naga ini di cerita dongeng. Menarik.

 

"Wow keren, serius jadi naga?" binar ku sangat terkesan. Sudah lama tidak melihat naga, aku jadi merindukannya. Eh, disaat seperti ini tidak seharusnya memikirkan hal lain, aku harus fokus dalam pencarian Ketua.

 

Aku melihatnya yang sudah siap untuk membawa kami terbang. Wow, terbang ya, akan terlihat seperti apa di planet ini ya? Setelah aku bertanya ulang mengenai keikutsertaan aku menaikinya, aku pun akhirnya benar-benar ikut terbang?

 

"Ryu, Retta kalian menemukan sesuatu?" tanya Alice ketika kami melihat sekitar dari langit.

 

Ryu melihat ke bawah sambil terbang dengan menggelengkan kepalanya begitu juga aku, aku tidak melihat sesuatu.

 

"Belum, tidak terlalu jelas karena gelap," jelas ku.

 

Ryu menyarankan untuk menggunakan ponsel, ketika aku merogoh saku aku tidak menemukan apa apa di sana. Apa aku keluar tanpa membawa apa apa? Dimana ya barang-barang ku?

 

Aku berpikir dan oh, aku baru ingat kalau barang - barang ku masih ada di senior pemilik dimensi tak terbatas. Aku menepuk jidat ku ketika sadar.

 

"Ah itu, ada di tas dan tas ku err, masih di senior? Hehe lupa untuk di ambil," aku tertawa canggung.

 

"Alamak tinggal di mana?"

 

"Dimensinya senior, apa sekalian teriak namanya juga ya?" aku mencoba mengusulkan saran itu kepada Ryu. Ryu bilang dia bisa terbang saja menuju ke arah senior, dan ya aku menyetujuinya saja.

 

"Haruskah kita berteriak? Memanggil-manggil? Siapa tau ketua menyahut," usul Alice tiba-tiba kepada kami soal pencarian Ketua. Yah tidak buruk.

 

"Bukan ide buruk. Kurasa bisa dicoba,"

 

"Ayo kita coba." Alice mencoba memastikan suaranya untuk berteriak. Dan aku pun mengangguk.

 

"Ketua, ketua dimana?" Alice mulai berteriak, dan aku mengikuti apa yang dia lakukan.

 

Dan ya, saat kami berteriak, Ryu berhasil menemukan senior dan turun disana. Seperti kemarin sedang landing pesawat kami saja.

 

"Oh wow, cara mudah menemukan kak Fadey terima kasih ryu." Aku melompat turun, "Hup,"

 

Baru saja kami turun, dia kembali ke bentuk semulanya, eh yah itu lah pokoknya. Dia bilang, dia tidak bisa berubah lama-lama, nama nya itu 'shapeshift'.

 

"Mari jalan kaki, Ryu, Retta," tawar Alice.

 

"Haruskah kita menyinari jalan ini? Pake bot." Alice menunjuk botnya dari samping.

 

"Boleh, pakai penerangan supaya jalan senantiasa terang,"

 

Ryu meminta maaf karena saat kami terbang tidak selama itu. Yah, aku juga tidak mempermasalahkan nya karena aku juga penumpang tiba-tiba dirinya. Aku malay ikut merasa bersalah padanya, dan aku meminta maaf juga padanya.

 

Alice meminta bot untuk mengeluarkan cahaya dari mata bot nya, "Yo bot terangin,"

 

"Walau tidak terlalu terang tapi bisa ya," sambungnya dengan canggung.

 

"Tidak apa apa, ini cukup membantu,"

 

"Sip, mari mencari," ucap Alice, "Kemana dulu?" sambungnya.

 

"Kesana? Disana terdengar banyak suara?" ucapku dan Alice menyetujuinya. Kami akhirnya menghampiri kerumunan—eh itu benar kerumunan? Tapi, yah sama saja lah.

 

"Terlihat ada anak anak? Ngapain kira-kira mereka?" aku merasa penasaran dengan kerumunan itu.

 

"Tidak tau? Ayo kita tanyakan Retta, siapa tau mereka bertemu ketua atau orang yang mirip ketua?" usul Alice—lagi.

 

"Boleh, kita tanya ke anak-anak atau yang lain? Lihat banyak yang berkumpul di sana." Aku menunjuk murid lainnya yang terlihat berkumpul.

 

"Anak-anak dan murid aja Retta." Alice menarik diriku dan berlari ke arah mereka. Aku yang ditarik pun hanya bisa mengikuti saja.

 

Setibanya disana, aku melihat anak kecil yang kemarin ada di alun alun. Semua sepertinya sedang bertanya-tanya padanya. Alice dan aku terpisah karena ya, entah lah. Dan seperti biasanya, Luks muncul setelah tidak ada orang di sekitarku.

 

"Anak itu kenapa?" tanya Luks.

 

"Entah, aku tidak mendengar percakapannya, dilihat-lihat mereka sedang bertengkar ringan dengan teman-teman yang lain," jawabku. Aku mendekati kerumunan, mencoba tetap mendengar percakapan mereka sambil mengikuti dalam diam.

 

"Ku dengar tidak boleh sendirian ketika mencari Ketua?" tanya Luks. Aku mendengus pelan.

 

"Aku tidak sendirian, aku bersama mu dan mengikuti mereka dari belakang,"

 

Ketika aku mengobrol dengan Luks, anak kecil itu tiba-tiba berjalan ke rumah seseorang. Aku melihat yang lain mengikuti dan ya aku pun mengikuti mereka.

 

Mereka berada di dalam rumah itu, aku tidak ingin masuk karena aku merasa ragu untuk ikut. Aku meminta Luks membantuku mendengar percakapan di dalam.

 

"Luks, bisa kau pinjamkan kekuatanmu untuk membantuku mendengar percakapan di dalam?"

 

"Tentu." Luks mengaktifkan kekuatannya, dia menyelimuti telingaku dengan aura berwarna biru. Setelah itu aku bisa mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.

 

"Dia cengeng ya? Kalau tidak salah ingat, sejak kejadian kemarin dia selalu menangis," ucap Luks yang ikut menyimak percakapan di dalam. Dan aku mengangguk, menyetujui perkataanya.

 

"Tapi oh? Kakak anak yang menangis? Wah, apa yang mereka bicarakan?" aku cukup terkejut soal kakak nya.

 

"Kakak?" ucapku dan Luks bersamaan, kami bertatapan karena bingung. Apa jangan-jangan suara yang cukup keras dari belakang adalah pergerakan kakak anak yang cengeng itu?

 

"Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua kejadian ini? Pertama patung patung yang dihancurkan, lalu Ketua menghilang, dan sekarang kakak dari anak cengeng itu berkata kalau masih ingin hidup kita harus pergi dari sini?" Aku mengacak-acakan rambutku bingung sambil mendengar dan melihat interaksi yang sedang mereka semua lakukan dari jarak yang tidak terlalu dekat.

 

Luks menggelengkan kepala rubahnya, dan menepuk pundakku menggunakan ekornya.

 

 

--|🔍