Isi Cerita
Luisa Arcadia

"@!!#!$%@$!%??!?!!"

"#%!&@&???!!!"

 

Luisa menatap datar kerumunan murid-murid yang sedang ribut karena pesan darurat di larut malam, sebenarnya Luisa juga panik tapi apalah daya dirinya masih belum terlalu sadar untuk menanggapi hal ini.

 

Plak!

 

"Luisa! Sadarlah, astaga jangan kembali ke alam mimpi dulu!" Saaochi menggoyang-goyangkan badan Luisa yang sudah lengkap dengan seragam misinya dengan wajah yang kelihatan kesal, bagaimana tidak kesal. Andai Saaochi tidak membangunkan Luisa, gadis berambut putih itu tidak akan pernah terbangun dari tidur nyenyaknya.

 

"Ck, iya-iya sabar. Aku sedang berfikir jalur yang dipakai mereka untuk membawa Ketua," balas Luisa sambil memijat dahinya yang berdenyut-denyut.

 

"Kamu ini seperti tidak ada panik-paniknya ya?" heran Saaochi sambil mengerutkan alisnya.

 

"Kakak! Kata Komandan, bagi beberapa kelompok untuk mencari Ketua!" ucap Naren yang berada tidak jauh dari kedua gadis yang seharusnya melakukan shift malam mereka namun tergantikan karena mereka semua kehilangan jejak Ketua.

 

Kedua gadis itu mengangguk paham lalu mengambil bagian mereka masing-masing.

 

Malam yang seharusnya menjadi tempat mereka beristirahat di planet Xeplor ini tergantikan menjadi misi pencarian Ketua yang tiba-tiba menghilang. Ada banyak rasa khawatir di dada mereka semua, kehilangan seorang Pemimpin di planet yang termasuk asing ini sepertinya akan menjadi awal mimpi buruk mereka semua.

 

.

.

.

 

Luisa sekarang sudah berada di atas pohon yang cukup besar dan tinggi yang berada di sekitar pemukiman, gadis itu duduk di dahan yang bercabang sambil melihat ke arah sekitar berusaha melihat apakah ada hal mencurigakan yang melintas di depan matanya.

 

Srek!

 

Srak!

 

"Wah diam-diam sekali," datar Luisa sambil melihat dua orang berjubah hitam yang sedang berjalan di balik semak-semak, "Tunggu sebentar, jubah hitam? Itu terdengar seperti hal yang sama dengan yang Saaochi ucapkan."

 

Gadis itu memilih untuk memantau kedua orang itu sambil mengikuti mereka secara diam-diam dari atas pohon, bulan menjadi satu-satunya penerangan bagi gadis itu diantara dedaunan. Langkah demi langkah, loncatan demi loncatan, setelah sekian lama akhirnya gadis itu kembali merasakan hembusan angin malam.

 

"Oh laporan," ucap Luisa lalu memencet sebuah alat komunikasi yang mereka pakai untuk berkomunikasi, "Lapor, Luisa Arcadia menemukan dua orang berjubah hitam yang terlihat mencurigakan. Sekali lagi, Luisa Arcadia menemukan dua orang berjubah hitam yang terlihat mencurigakan."

 

"Ku harap laporannya sampai, mengingat di sini tidak ada tower sinyal. Walaupun alat ini menggunakan frekuensi gelombang untuk terhubung, tapi tetap saja," gumam Luisa sambil mematikan alat komunikasinya.

 

"Fyuh, pusat kota sedang kacau ditambah dengan orang asing dari luar planet yang menganggap diri mereka pahlawan itu sedang kehilangan Pemimpin mereka. Aku yakin di sana sangat kacau hahaha!" ucap salah satu orang asing itu.

 

"Bagaimana tidak kacau kalau yang datang itu yang palsu hahaha!" sahut orang lainnya sambil menepuk-nepuk pundak orang disebelahnya.

 

Luisa yang mendengarkan itu hanya bisa menahan diri untuk tidak langsung turun dan menyerbu mereka, tangan gadis itu mengepal di belakang tubuhnya. Dia memang membawa beberapa jarum amunisi senjatanya namun Ketua sudah memperingatinya untuk tidak menggunakan benda itu jadi dia hanya bisa menahan rasa marah yang bergejolak di dalam hatinya.

 

"Oh ini dia. Kata Bos kita berkumpul di markas untuk melakukan penyambutan untuk orang-orang palsu itu," ucap salah satu dari mereka yang sedang berjongkok di salah satu akar pohon yang terlihat besar.

 

.

.

.

 

"Luisa, kamu tidak apa-apa? Wajahmu terlihat lebih suram." Saaochi menepuk pundak temannya itu dengan tatapan kasihan, bagaimana tidak kasihan. Muka Luisa terlihat lebih parah sejak terakhir kali dia berpisah dengannya dan pergi ke kelompoknya sendiri.

 

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang bingung, bingung tentang kenapa Ketua bisa menghilang dan bingung kenapa anak-anak di planet ini seperti menyembunyikan banyak hal yang tidak terlihat di luar," balas Luisa dengan nada pelan, ini sudah botol ketiga dari air putih yang dia minum.

 

"Kau terlihat buruk," sahut Bastian yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan keadaan Luisa, bahkan dia terlihat lebih suram.

 

"Kita semua terlihat buruk, lihat saja Naren dia sudah dibujuk pakai coklat tetap tidak berkutik sama sekali," sela Kaynel sebelum Luisa membuka mulutnya.

 

Benar mereka semua terlihat buruk karena tidak ada sedikitpun informasi valid tentang keberadaan Ketua mereka, sekarang mereka hanya bisa menunggu kepastian dari seorang gadis yang berkemungkinan besar mengetahui sesuatu yang ada dibalik hilangnya Ketua mereka.

 

[To Be Continue]