03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
“Menurutmu mereka akan bergerak
malam ini?” Pertanyaan itu terlontar dari kedua belah bibir Luisa sebagai
pembuka pembicaraan mereka. Yang sedari tadi hanya dikuasai sepi.
Saaochi mengambil waktu sebelum
menjawab, melepaskan jarinya dari keyboard lantas mengangguk. “Yap,
kemungkinan besar.”
Luisa angguk-angguk, memahami
mengapa Saaochi berkata begitu. “Tapi, saat ini Ketua mengarahkan kita untuk
patroli bergantian. Bagaimana mereka akan bergerak? Maksudku, membuat kekacauan
macam apa?”
Gedikkan bahu acuh tak acuh
didapatkan Luisa sebagai jawaban dari Saaochi. Sebaliknya gadis itu lebih fokus
pada laptop di depannya.
Luisa yang melihat itu, reflek
berdecak. “Serius dikit dong. Ini juga gara-gara kamu—“
“Iya-iya tahu. Yaudah maaf.” Helaan
napas terdengar keras dari Saaochi. Dia akhirnya berbalik menatap Luisa yang
sedari tadi rebahan di kasur penginapan. “Menurutku, mereka tidak akan
menargetkan para murid atau penduduk.”
“Kenapa?”
“Para murid sudah diperingatkan
untuk bergerak secara berkelompok. Para penduduk pada dasarnya juga menghormati
Pahlawan terdahulu, mereka tidak punya alasan mengganggu penduduk kecuali untuk
dijadikan sandera untuk mengancam kita. Kalau aku jadi mereka, aku tidak akan
melakukan itu karena setidaknya orang-orang ini butuh dukungan dari para penduduk
untuk melawan dan membuatku kita mundur.”
Luisa akhirnya bangun dari posisi
berbaringnya, menatap Saaochi dengan serius. “Semakin banyak yang memberontak,
semakin sulit kita bergerak?”
“Yaps. Apalagi di situasi sekarang,
tidak banyak yang mengakui DianXy. Kebanyakan mereka menganggap itu tabu,
berbahaya, dan semacamnya. Nah, aku tidak akan menyangkal itu, jika aku masih
berada di tempat asalku sekarang. Tapi, itu hal normal, tidak ada apa pun di
dunia ini yang bisa diterima dengan mudah oleh khalayak umum.”
Luisa mengangguk lagi, tapi Saaochi
tidak yakin apakah itu anggukan paham atau hanya pura-pura paham. Mengingat
dirinya bukan penjelas handal.
“Tapi, kalau begitu yang akan
diincar adalah Founder?”
Saaochi tiba-tiba tersedak ludahnya
sendiri, napasnya ikutan tersekat, dia memukul dadanya kencang.
Saat itu juga, Naren datang ke kamar
mereka, memberitahukan berita yang baru saja berhasil ditebak Luisa.
“Oh, bagus,” ucap Saaochi sembari
menepuk dahinya sendiri.
=••=
Usai memberi arahan pada timnya
untuk mencari Ketua di daerah sekitar yang Saaochi yakin bisa ia jangkau, dia
berakhir memisahkan diri dari para nurid. Saaochi sudah menginvestigasi daerah
yang akan mereka telusuri saat ini, ketika kedatangan mereka hari itu. Dia
memang tidak menelusuri seluruh area di planet ini, setidaknya butuh tiga atau
lima bulan dan bukan hal baik membuang waktu untuk itu.
Saaochi kini berjalan di antara gedung
bangunan dalam keadaan gelap. Dia membekali dirinya dengan senter, namun
memilih tidak memggunakannya agar dia bisa membaur dengan sekitar.
Setelah yakin tidak menemukan atau
merasakan apa pun dis sekitar sana, Saaochi akhirnya keluar dari gang. Dia
bertemu jalan kecil dan melihat Ardolf tengah mengarahkan senter pada sesuatu.
Padahal ada lampu jalan di sekitarnya.
Saaochi mendekat dan berhenti di
belakangnya, menengok pada sesuatu yang dilihat Ardolf.
“Bukan apa-apa itu mah, cuma angin
lalu doang, celetuknya.
Ardolf menengok ke belakang,
wajahnya masih kentara waspada. “Waktu malam rentan kejahatan Bang, lengah
dikit nyawa melayang.”
Saaochi mengangguk-angguk, setuju
dengan pendapat Ardolf. Lalu, entah bagaimana ide jahil muncul di kepalanya.
“Makanya harus diam-diam, jangan terang-terangan.” Usai berkata seperti itu,
Saaochi mematikan senter milik Ardolf.
“Mana bisa liat aku Bang kalo kayak
gini, ntar kepijak sesuatu gimana?”
Saaochi hanya terkekeh, lantas
melambaikan tangan sembari menepuk punggung Ardolf. “Bercanda. Yaudah lanjut,
tapi hati-hati, ya.”
“Siap, Bang.”
=••=
Saaochi kini nangkring di atap
bangunan. Dia memperhatikan timnya yang mulai bergabung dengan yang lain. Dari
kejauhan sini, Saaochi bisa melihat mereka berkerumun di dekat anak kecil dan
seorang gadis yang terlihat marah-marah. Saaochi berusaha membaca benruk bibir
gadis itu, berharap menemukan satu atau dua informasi berguna.
Meski tidak semuanya dapat ia baca
dari kejauhan seperti ini, tapi setidaknya dia mencoba.
Setelah beberapa saat, para warga
bermunculan. Mereka seperti berusaha menjauhkan gadis itu dari murid-murid yang
mengerumuninya. Bahkan dari sini, Saaochi merasa mereka lebih seperti menyeret
gadis itu agar berhenti bicara yang mereka anggap “aneh”.
Nah, bagi Saaochi, sepertinya para
warga ini yang lebih aneh. Serius, lebih aneh dibanding orang-orang berjubah
hitam yang sedari tadi mengawasi.
=••=