Isi Cerita
Saaochi

“Menurutmu mereka akan bergerak malam ini?” Pertanyaan itu terlontar dari kedua belah bibir Luisa sebagai pembuka pembicaraan mereka. Yang sedari tadi hanya dikuasai sepi.

 

Saaochi mengambil waktu sebelum menjawab, melepaskan jarinya dari keyboard lantas mengangguk. “Yap, kemungkinan besar.”

 

Luisa angguk-angguk, memahami mengapa Saaochi berkata begitu. “Tapi, saat ini Ketua mengarahkan kita untuk patroli bergantian. Bagaimana mereka akan bergerak? Maksudku, membuat kekacauan macam apa?”

 

Gedikkan bahu acuh tak acuh didapatkan Luisa sebagai jawaban dari Saaochi. Sebaliknya gadis itu lebih fokus pada laptop di depannya.

 

Luisa yang melihat itu, reflek berdecak. “Serius dikit dong. Ini juga gara-gara kamu—“

 

“Iya-iya tahu. Yaudah maaf.” Helaan napas terdengar keras dari Saaochi. Dia akhirnya berbalik menatap Luisa yang sedari tadi rebahan di kasur penginapan. “Menurutku, mereka tidak akan menargetkan para murid atau penduduk.”

 

“Kenapa?”

 

“Para murid sudah diperingatkan untuk bergerak secara berkelompok. Para penduduk pada dasarnya juga menghormati Pahlawan terdahulu, mereka tidak punya alasan mengganggu penduduk kecuali untuk dijadikan sandera untuk mengancam kita. Kalau aku jadi mereka, aku tidak akan melakukan itu karena setidaknya orang-orang ini butuh dukungan dari para penduduk untuk melawan dan membuatku kita mundur.”

 

Luisa akhirnya bangun dari posisi berbaringnya, menatap Saaochi dengan serius. “Semakin banyak yang memberontak, semakin sulit kita bergerak?”

 

“Yaps. Apalagi di situasi sekarang, tidak banyak yang mengakui DianXy. Kebanyakan mereka menganggap itu tabu, berbahaya, dan semacamnya. Nah, aku tidak akan menyangkal itu, jika aku masih berada di tempat asalku sekarang. Tapi, itu hal normal, tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa diterima dengan mudah oleh khalayak umum.”

 

Luisa mengangguk lagi, tapi Saaochi tidak yakin apakah itu anggukan paham atau hanya pura-pura paham. Mengingat dirinya bukan penjelas handal.

 

“Tapi, kalau begitu yang akan diincar adalah Founder?”

 

Saaochi tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri, napasnya ikutan tersekat, dia memukul dadanya kencang.

 

Saat itu juga, Naren datang ke kamar mereka, memberitahukan berita yang baru saja berhasil ditebak Luisa.

 

“Oh, bagus,” ucap Saaochi sembari menepuk dahinya sendiri.

 

=••=

 

Usai memberi arahan pada timnya untuk mencari Ketua di daerah sekitar yang Saaochi yakin bisa ia jangkau, dia berakhir memisahkan diri dari para nurid. Saaochi sudah menginvestigasi daerah yang akan mereka telusuri saat ini, ketika kedatangan mereka hari itu. Dia memang tidak menelusuri seluruh area di planet ini, setidaknya butuh tiga atau lima bulan dan bukan hal baik membuang waktu untuk itu.

 

Saaochi kini berjalan di antara gedung bangunan dalam keadaan gelap. Dia membekali dirinya dengan senter, namun memilih tidak memggunakannya agar dia bisa membaur dengan sekitar.

 

Setelah yakin tidak menemukan atau merasakan apa pun dis sekitar sana, Saaochi akhirnya keluar dari gang. Dia bertemu jalan kecil dan melihat Ardolf tengah mengarahkan senter pada sesuatu. Padahal ada lampu jalan di sekitarnya.

 

Saaochi mendekat dan berhenti di belakangnya, menengok pada sesuatu yang dilihat Ardolf.

 

“Bukan apa-apa itu mah, cuma angin lalu doang, celetuknya.

 

Ardolf menengok ke belakang, wajahnya masih kentara waspada. “Waktu malam rentan kejahatan Bang, lengah dikit nyawa melayang.”

 

Saaochi mengangguk-angguk, setuju dengan pendapat Ardolf. Lalu, entah bagaimana ide jahil muncul di kepalanya. “Makanya harus diam-diam, jangan terang-terangan.” Usai berkata seperti itu, Saaochi mematikan senter milik Ardolf.

 

“Mana bisa liat aku Bang kalo kayak gini, ntar kepijak sesuatu gimana?”

 

Saaochi hanya terkekeh, lantas melambaikan tangan sembari menepuk punggung Ardolf. “Bercanda. Yaudah lanjut, tapi hati-hati, ya.”

 

“Siap, Bang.”

 

=••=

 

Saaochi kini nangkring di atap bangunan. Dia memperhatikan timnya yang mulai bergabung dengan yang lain. Dari kejauhan sini, Saaochi bisa melihat mereka berkerumun di dekat anak kecil dan seorang gadis yang terlihat marah-marah. Saaochi berusaha membaca benruk bibir gadis itu, berharap menemukan satu atau dua informasi berguna.

 

Meski tidak semuanya dapat ia baca dari kejauhan seperti ini, tapi setidaknya dia mencoba.

 

Setelah beberapa saat, para warga bermunculan. Mereka seperti berusaha menjauhkan gadis itu dari murid-murid yang mengerumuninya. Bahkan dari sini, Saaochi merasa mereka lebih seperti menyeret gadis itu agar berhenti bicara yang mereka anggap “aneh”.

 

Nah, bagi Saaochi, sepertinya para warga ini yang lebih aneh. Serius, lebih aneh dibanding orang-orang berjubah hitam yang sedari tadi mengawasi.

 

=••=