Isi Cerita
Shou Masayoshi

Arc 02 Chapter 05

 

Ketika malam sudah sepenuhnya tiba, seluruh anggota dipersilahkan untuk segera beristirahat di kamarnya masing-masing. Meski terjadi kericuhan tadi siang, tampaknya para mentor punya rencana mereka sendiri untuk mengatasi permasalahan yang ada di tempat ini.

"Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kita juga bisa membantu." Di tengah heningnya dimana anggota lelaki terbaring bingung dengan maksud para mentor. Kini ia benar-benar tidak mengerti, mengapa mereka tidak ikut kompromi? Apakah karena kemungkinan kita akan menghilang? Ia terbaring bosan tidak bisa tidur.

Di sebelah bahunya Karl yang telah tertidur pulas. Sementara Shou memutar balik badannya ke arah berlawanan bertemu punggung Ardolf. Ia memiliki ide untuk menghilangkan kebosanannya, bangun dari posisi baringnya lalu terduduk menyenggol.

"Yo Ardolf. Ngelamun aja?" tanyanya. Ardolf menyatu, matanya sedikit mengantuk. "Ah daritadi mikir kejadian tiba-tiba ... ".

Shou mendekat dengan nada terkekeh. "Gak bagus mikirin hal ribet saat malam gini. Susah tidur jadinya," kekehnya. Ardolf menggaruk kepala, "Iya juga sih, disini terlalu tenang, jadi agak curiga juga," ungkapnya. Yang dikatakannya memang benar, malam hari kali ini lumayan tenang hingga memancing kecurigaan.

Tatapan iris kuningnya menyala di tengah kegelapan malam. "Aku berspekulasi bahwa akan ada kejadian heboh kali ini" Tatapannya begitu yakin.

Ardolf berdiri lalu pamit sebentar untuk menyiapkan sesuatu. Shou mengangguk lalu menoleh ke arah yang lain dengan aktif mengobrol. Shou bertemu tatapan hampa milik Damiel, itu membuatnya tegang dan khawatir.

"Dami?" panggil Shou kemudian Damiel tersentak lalu menoleh ke arah pemuda itu sembari tersenyum. "Ah iya? Ada apa Shou?" tanya Damiel. Shou menghela nafas, "pikirin soal penduduk itu? Tenang aja. Nanti kita bisa tangkap bareng dengan mentor!" Mencoba sekilas menghibur.

"Ah iya, kamu benar." Tersenyum. "Saya hanya sedikit bingung," Shou mengangguk paham.

Ardolf kembali lalu duduk menyangkal spekulasi Shou. Ardolf menyangkal, "Jangan aneh-aneh ... iya kali kita gak ngapain-ngapain tiba-tiba diajak ribut," gerutunya. Shou tersenyum misterius dengan nada sedikit meledek. "Oh Ardolf~." Menepuk punggung belakangnya pelan. "Pernyataan mana yang salah ku katakan?" ujar dirinya mengedipkan mata kirinya.

Cemberut terpampang di wajahnya. "Habis sudah capek dengan kejadian mendadak ... saya sudah gak kuat," lelahnya. Shou bergaya layaknya seorang pahlawan, "Ini namanya ujian mengetes seberapa siap dirimu menjadi pahlawan galaxy. Walaupun memang benar!" Menggaruk tengkuk.

"Gak salah sih, tapi masih banyak hal yang dilakukan di bumi, setidaknya mau bertahan aja," sahut dirinya membenarkan.

Suara alarm S.O.S yang berasal dari gelang yang mereka pakai. Saat melihat bahwa ada panggilan darurat dan terdapat catatan untuk segera mencari Ketua yang menghilang. Segera mungkin memakai seragam misi. Dan menghampiri mentor yang telah berdiri di depan penginapan untuk memberikan perintah.

Saat melihat ekspresi Komandan Maula yang begitu menyeramkan, paham bahwa pencarian ini harus segera berhasil. Meski langit masih gelap, pilihanmu hanyalah menemukan Ketua atau—

Pemuda Shou bergegas merapikan rambut putihnya yang berantakan mengikuti bergiring yang lain. "Kebenaran terjadi ..., " batinnya saat ia terengah-engah. "Kalau kelompok aku bisa terbang untuk mencari," ujarnya yakin. Sayap putihnya telah terbentang.

"Apa kamu bermaksud bersikap sombonh dalam keadaan seperti ini?" tanya Fadeyka. "Memangnya aku tidak bisa melakukan seperti itu heh," sahutnya. Shou Dengan tatapan menyelidik, "Begitukah? Aku bisa dibilang penasaran dengan kemampuanmu. Tapi lebih baik mencari terlebih dahulu".

Fadeyka menjawab, "Lebih baik tidak dicari tahu sih." Mengibaskan jubahnya dan langsung menghilang dari kerumunan Shou hanya melongo lalu menggeleng-gelengkan kepalanya langsung terbang menjauh.

.

Pemuda itu sembari mendengus kesal tidak menemukan sesuatu, hanya sebuah kelompok para anggota yang ikut mencari dan jejak tertinggal. Langit malam membuatnya kedinginan, ia segera mendarat ke jalan setapak. Sepatunya menyentuh jalan setapak lalu mengembalikan lengannya ke wujud semula memasukkan ke kantong celananya, langkah demi langkah memandang Ardolf dan beberapa orang yang mencari di area sekitar. Shou menghampiri.

"Ardolf. Apakah kau menemukan ketua?" tanya sang pemuda di depannya. Lelaki iris hetechromia menggelengkan kepala, "Tidak, sepertinya ada sesuatu kejadian sama ketua," jawabnya Shou mengangguk paham.

"Mari kita coba cari di alun-alun dimana aku dengar terakhir kali ketua menghilang berada disana." Tangannya menarik lengan baju Ardolf menunjuk.

"Begitu ya? Sayangnya terlalu beresiko kalau saya pakai parasit buat cari ketua disini," katanya khawatir.

Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tetap pergi. Shou yang berada di samping Ardolf. Cahaya senter terarahkan di genggaman Ardolf.

"Kau menemukan sesuatu?" tanya pemuda mengetahui tidak ada sesuatu yang mencurigakan di penglihatan night visionnya.

"Tidak, disini terlalu gelap. Harusnya pakai kacamata dulu," ujar dirinya. Bukannya mendapatkan jawaban lelaki tersebut hanya melihat sebuah helaian daun jatuh berguguran.

Ekspresi waspada terpasang di wajahnya, "Perasaanku gak enak, walau gitu tidak bisa keluarkan tentakel disini, bisa dikira monster nanti," nadanya begitu waspada. Shou berdengus menatap datar orang disampingnya.

"Siapa peduli soal itu? Dan lagipula siapa yang akan keluar malam larut seperti ini?"

Mengetahui tidak adanya tanda-tanda. Shou berdecak sebal. "Aku akan mencari sedikit jauh," lontarnya. Tangannya menangkap GPS yang dilemparkan oleh Ardolf. "Kabarin kamu dimana. GPS auto terlacak".

Sebuah tangan dari belakang kegelapan menyentuh bahu kiri seketika Ardolf tertegun. Suara lelaki menanyakan, "Kamu sedang apa Ardolf?"

Mereka berdua terkejut tidak main sesaat mengetahui aroma mawar. "Mentor? Mengagetkan saja," kekehnya ngeri.

"Kalian sedang apa disini?" tanya sang Mentor Bastian.

"Kami mendengar suara gemericik disini. Jadi aku dan Ardolf memutuskan untuk pergi ke sini dan." Cahaya senter terarahkan ke wajah kamu menyilaukan mata.

"Iya tuh, Takutnya ada binatang buas yang terkam bang," selorosnya membetulkan. Mendengarkan jawaban dua murid Bastian mengatakan, "Lebih baik kalian lebih berhati-hati".

"Lebih baik kita pergi bersama, ikuti aku," perintahnya setelah terdiam sejenak melangkah kaki duluan. Dua murid tersebut mengikuti dari belakang, "Kemana?" tanya Shou.

"Kalian bilang ada suara gemericik di arah sana kan, kita akan melihatnya," ajak sang mentor.

"Baiklah-baiklah. Dolf. Jangan ngusik bocah." Menarik menjauh berjalan mengikuti bersama sang mentor.

.

Shou pun bertanya terhadap Ardolf, "Apakah bocah kecil itu tau sesuatu?" bingungnya. "Sepertinya ia pernah melihat ketua malam gini." pikirnya.

"Kadang-kadang anak kecil juga gak bisa ditebak ... ayo kita ikuti bang ... ".

Dalam perjalanan mengikuti bocil yang sempat menendang kaki Ardolf mereka berdua kaget ketika mendengar suara tangisan anak kecil. Mengikuti asal suara, mata mereka membelalakkan ada bocah laki-laki tadi siang menangis.

Shou berjalan maju mendahului temannya dibelakang lalu menunduk kepada sang bocah. "Dedek kenapa? Kesasar kah?" tanya Shou ingin mendekat hingga sebuah tangan menahannya.

"Tunggu bang ... perasaanku gak enak. Daritadi rasanya ada yang ikutin kita," bisik Ardolf ada yang janggal.

Shou memiringkan kepalanya bertanya-tanya, "Huh? Siapa ngikutin?" Menarik paksa mencoba melepaskan tangan Ardolf niat ingin mendekati bocah tersebut.

Ardolf memandang sekitar yang begitu gelap dan minim pencahayaan. "Pokoknya perasaanku tidak enak ... kita jangan gegabah juga dekatin anak kecil. Bisa saja mereka umpan." bisiknya memerintah.

Shou menatap tak yakin lalu berbalik arah memandang raut sang bocah yang melongo. "Kau yakin?" bisik Shou.

Ekspresi Ardolf sangat serius, tangannya menggapai poket kecil mengeluarkan sebuah sajam. Shou menyimak dengan diam lalu tersenyum miris.

"Benar-benar malam yang mencekam ya?"

Suara pintu di dobrak berdenging di telinga Shou. Mereka berdua berlari kencang menuju arah suara. Bocah laki laki tersebut menatap berbinar menyebut "Kakak!" nya yang berjubah hitam menutupi identitas aslinya.

"Bukankah itu kakak sang bocah yang dibicarakan tobat?" Menunjuk menyenggol bahu Ardolf. "Tidak, selama belum pasti jangan percaya sama omongan orang ... sekalipun anak kecil." gumamnya waspada.

Mendadak sang kakak menggendong sang adik membawanya kabur menghindari sekumpulan orang disana.

Shou yang menyimak ikut terkejut bergegas mengejar dengan sayapnya mencoba menggapai. Sang kakak begitu lincah menghindari tangkapan mereka semua, adiknya dipeluk berhati-hati tidak ikut terluka.

Shou melompat jatuh kebawah merentangkan sayapnya menghadangbya untuk kabur namun tidak sesuai harapan sang kakak melesat ke samping. Shou menggeram kesal.

"Gesit juga nih orang ... nantangin apa?" Terbang menyusul mencapai kecepatan maksimal.

Ardolf lompat dan melemparkan sanpi kearah Shou. "Tangkap bang, sekalian bidik dari atas. Lumpuhkan kakinya biar bisa kita tangkap," teriaknya.

 Shou membidik sanpi tersebut ke arah sang kakak yang masih menggendong adiknya. Shou narik nafas, "Kali akan ku tangkap kau!" teriak tekad dan ternyata benar-benar terjadi. Sang kakak tersebut jatuh tersungkur kebawah

Shou merentangkan sayapnya menggapai sang bocah lalu menangkapnya. "Gotcha!" serunya penuh kemenangan.

Ia berdiri letih berjalan pelan ke arah sang kakak yang telah tersungkur. "Kini tertangkap kau!" seru dirinya masih menggendong sang bocah itu. Nafas pemuda tersengal-sengal.

"Bawa anak kecilnya dulu bang, saya akan coba tangkap orang itu." Menahan kaki sosok jubah hitam dengan tentakel parasit secara kuat. Shou mengangguk paham.

Dengan demikian ia menjauh dari kerumunan menyenderkan sang bocah di dinding bangunan, ia ikut duduk sejajar dengan sang bocah.

"Ada yang terluka?" tanya sembari tersenyum. Sang bocah menggelengkan kepalanya.

Menepuk pelan bahu bocah kecil itu tidak ingin bocah kesakitan. "Oke bagus. Abang akan menemani sementara yang lain memeriksa apakah kakakmu baik-baik saja. Tidak apa apa?" tanyanya.

Kerumunan para warga terbangun akibat keributan ditimbulkan. Mereka semua mengintrogasi sang kakak dari sang bocah tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Pencarian berakhir dengan tidak membuahkan hasil, benar benar dimasak.