03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Ketika malam sudah sepenuhnya tiba,
seluruh anggota dipersilahkan untuk segera beristirahat di kamarnya
masing-masing. Meski terjadi kericuhan tadi siang, tampaknya para mentor punya
rencana mereka sendiri untuk mengatasi permasalahan yang ada di tempat ini.
"Kenapa harus
sembunyi-sembunyi? Kita juga bisa membantu." Di tengah heningnya dimana
anggota lelaki terbaring bingung dengan maksud para mentor. Kini ia benar-benar
tidak mengerti, mengapa mereka tidak ikut kompromi? Apakah karena kemungkinan kita
akan menghilang? Ia terbaring bosan tidak bisa tidur.
Di sebelah bahunya Karl yang telah
tertidur pulas. Sementara Shou memutar balik badannya ke arah berlawanan
bertemu punggung Ardolf. Ia memiliki ide untuk menghilangkan kebosanannya,
bangun dari posisi baringnya lalu terduduk menyenggol.
"Yo Ardolf. Ngelamun aja?"
tanyanya. Ardolf menyatu, matanya sedikit mengantuk. "Ah daritadi mikir
kejadian tiba-tiba ... ".
Shou mendekat dengan nada terkekeh.
"Gak bagus mikirin hal ribet saat malam gini. Susah tidur jadinya,"
kekehnya. Ardolf menggaruk kepala, "Iya juga sih, disini terlalu tenang,
jadi agak curiga juga," ungkapnya. Yang dikatakannya memang benar, malam
hari kali ini lumayan tenang hingga memancing kecurigaan.
Tatapan iris kuningnya menyala di
tengah kegelapan malam. "Aku berspekulasi bahwa akan ada kejadian heboh
kali ini" Tatapannya begitu yakin.
Ardolf berdiri lalu pamit sebentar
untuk menyiapkan sesuatu. Shou mengangguk lalu menoleh ke arah yang lain dengan
aktif mengobrol. Shou bertemu tatapan hampa milik Damiel, itu membuatnya tegang
dan khawatir.
"Dami?" panggil Shou
kemudian Damiel tersentak lalu menoleh ke arah pemuda itu sembari tersenyum.
"Ah iya? Ada apa Shou?" tanya Damiel. Shou menghela nafas,
"pikirin soal penduduk itu? Tenang aja. Nanti kita bisa tangkap bareng dengan
mentor!" Mencoba sekilas menghibur.
"Ah iya, kamu benar."
Tersenyum. "Saya hanya sedikit bingung," Shou mengangguk paham.
Ardolf kembali lalu duduk menyangkal
spekulasi Shou. Ardolf menyangkal, "Jangan aneh-aneh ... iya kali kita gak
ngapain-ngapain tiba-tiba diajak ribut," gerutunya. Shou tersenyum
misterius dengan nada sedikit meledek. "Oh Ardolf~." Menepuk punggung
belakangnya pelan. "Pernyataan mana yang salah ku katakan?" ujar
dirinya mengedipkan mata kirinya.
Cemberut terpampang di wajahnya.
"Habis sudah capek dengan kejadian mendadak ... saya sudah gak kuat,"
lelahnya. Shou bergaya layaknya seorang pahlawan, "Ini namanya ujian
mengetes seberapa siap dirimu menjadi pahlawan galaxy. Walaupun memang
benar!" Menggaruk tengkuk.
"Gak salah sih, tapi masih
banyak hal yang dilakukan di bumi, setidaknya mau bertahan aja," sahut
dirinya membenarkan.
Suara alarm S.O.S yang berasal dari
gelang yang mereka pakai. Saat melihat bahwa ada panggilan darurat dan terdapat
catatan untuk segera mencari Ketua yang menghilang. Segera mungkin memakai
seragam misi. Dan menghampiri mentor yang telah berdiri di depan penginapan
untuk memberikan perintah.
Saat melihat ekspresi Komandan Maula
yang begitu menyeramkan, paham bahwa pencarian ini harus segera berhasil. Meski
langit masih gelap, pilihanmu hanyalah menemukan Ketua atau—
Pemuda Shou bergegas merapikan
rambut putihnya yang berantakan mengikuti bergiring yang lain. "Kebenaran
terjadi ..., " batinnya saat ia terengah-engah. "Kalau kelompok aku
bisa terbang untuk mencari," ujarnya yakin. Sayap putihnya telah
terbentang.
"Apa kamu bermaksud bersikap
sombonh dalam keadaan seperti ini?" tanya Fadeyka. "Memangnya aku
tidak bisa melakukan seperti itu heh," sahutnya. Shou Dengan tatapan
menyelidik, "Begitukah? Aku bisa dibilang penasaran dengan kemampuanmu.
Tapi lebih baik mencari terlebih dahulu".
Fadeyka menjawab, "Lebih baik
tidak dicari tahu sih–." Mengibaskan jubahnya dan
langsung menghilang dari kerumunan Shou hanya melongo lalu menggeleng-gelengkan
kepalanya langsung terbang menjauh.
.
Pemuda itu sembari mendengus kesal
tidak menemukan sesuatu, hanya sebuah kelompok para anggota yang ikut mencari
dan jejak tertinggal. Langit malam membuatnya kedinginan, ia segera mendarat ke
jalan setapak. Sepatunya menyentuh jalan setapak lalu mengembalikan lengannya
ke wujud semula memasukkan ke kantong celananya, langkah demi langkah memandang
Ardolf dan beberapa orang yang mencari di area sekitar. Shou menghampiri.
"Ardolf. Apakah kau menemukan
ketua?" tanya sang pemuda di depannya. Lelaki iris hetechromia
menggelengkan kepala, "Tidak, sepertinya ada sesuatu kejadian sama
ketua," jawabnya Shou mengangguk paham.
"Mari kita coba cari di
alun-alun dimana aku dengar terakhir kali ketua menghilang berada disana."
Tangannya menarik lengan baju Ardolf menunjuk.
"Begitu ya? Sayangnya terlalu
beresiko kalau saya pakai parasit buat cari ketua disini," katanya
khawatir.
Akhirnya mereka berdua memutuskan
untuk tetap pergi. Shou yang berada di samping Ardolf. Cahaya senter terarahkan
di genggaman Ardolf.
"Kau menemukan sesuatu?"
tanya pemuda mengetahui tidak ada sesuatu yang mencurigakan di penglihatan
night visionnya.
"Tidak, disini terlalu gelap.
Harusnya pakai kacamata dulu," ujar dirinya. Bukannya mendapatkan jawaban
lelaki tersebut hanya melihat sebuah helaian daun jatuh berguguran.
Ekspresi waspada terpasang di
wajahnya, "Perasaanku gak enak, walau gitu tidak bisa keluarkan tentakel
disini, bisa dikira monster nanti," nadanya begitu waspada. Shou berdengus
menatap datar orang disampingnya.
"Siapa peduli soal itu? Dan
lagipula siapa yang akan keluar malam larut seperti ini?"
Mengetahui tidak adanya tanda-tanda.
Shou berdecak sebal. "Aku akan mencari sedikit jauh," lontarnya.
Tangannya menangkap GPS yang dilemparkan oleh Ardolf. "Kabarin kamu
dimana. GPS auto terlacak".
Sebuah tangan dari belakang
kegelapan menyentuh bahu kiri seketika Ardolf tertegun. Suara lelaki
menanyakan, "Kamu sedang apa Ardolf?"
Mereka berdua terkejut tidak main
sesaat mengetahui aroma mawar. "Mentor? Mengagetkan saja," kekehnya
ngeri.
"Kalian sedang apa
disini?" tanya sang Mentor Bastian.
"Kami mendengar suara gemericik
disini. Jadi aku dan Ardolf memutuskan untuk pergi ke sini dan–." Cahaya senter terarahkan ke
wajah kamu menyilaukan mata.
"Iya tuh, Takutnya ada binatang
buas yang terkam bang," selorosnya membetulkan. Mendengarkan jawaban dua
murid Bastian mengatakan, "Lebih baik kalian lebih berhati-hati".
"Lebih baik kita pergi bersama,
ikuti aku," perintahnya setelah terdiam sejenak melangkah kaki duluan. Dua
murid tersebut mengikuti dari belakang, "Kemana?" tanya Shou.
"Kalian bilang ada suara
gemericik di arah sana kan, kita akan melihatnya," ajak sang mentor.
"Baiklah-baiklah. Dolf. Jangan
ngusik bocah." Menarik menjauh berjalan mengikuti bersama sang mentor.
.
Shou pun bertanya terhadap Ardolf,
"Apakah bocah kecil itu tau sesuatu?" bingungnya. "Sepertinya ia
pernah melihat ketua malam gini." pikirnya.
"Kadang-kadang anak kecil juga
gak bisa ditebak ... ayo kita ikuti bang ... ".
Dalam perjalanan mengikuti bocil
yang sempat menendang kaki Ardolf mereka berdua kaget ketika mendengar suara
tangisan anak kecil. Mengikuti asal suara, mata mereka membelalakkan ada bocah
laki-laki tadi siang menangis.
Shou berjalan maju mendahului
temannya dibelakang lalu menunduk kepada sang bocah. "Dedek kenapa?
Kesasar kah?" tanya Shou ingin mendekat hingga sebuah tangan menahannya.
"Tunggu bang ... perasaanku gak
enak. Daritadi rasanya ada yang ikutin kita," bisik Ardolf ada yang
janggal.
Shou memiringkan kepalanya
bertanya-tanya, "Huh? Siapa ngikutin?" Menarik paksa mencoba
melepaskan tangan Ardolf niat ingin mendekati bocah tersebut.
Ardolf memandang sekitar yang begitu
gelap dan minim pencahayaan. "Pokoknya perasaanku tidak enak ... kita
jangan gegabah juga dekatin anak kecil. Bisa saja mereka umpan." bisiknya
memerintah.
Shou menatap tak yakin lalu berbalik
arah memandang raut sang bocah yang melongo. "Kau yakin?" bisik Shou.
Ekspresi Ardolf sangat serius,
tangannya menggapai poket kecil mengeluarkan sebuah sajam. Shou menyimak dengan
diam lalu tersenyum miris.
"Benar-benar malam yang
mencekam ya?"
Suara pintu di dobrak berdenging di
telinga Shou. Mereka berdua berlari kencang menuju arah suara. Bocah laki laki
tersebut menatap berbinar menyebut "Kakak!" nya yang berjubah hitam
menutupi identitas aslinya.
"Bukankah itu kakak sang bocah
yang dibicarakan tobat?" Menunjuk menyenggol bahu Ardolf. "Tidak,
selama belum pasti jangan percaya sama omongan orang ... sekalipun anak
kecil." gumamnya waspada.
Mendadak sang kakak menggendong sang
adik membawanya kabur menghindari sekumpulan orang disana.
Shou yang menyimak ikut terkejut
bergegas mengejar dengan sayapnya mencoba menggapai. Sang kakak begitu lincah
menghindari tangkapan mereka semua, adiknya dipeluk berhati-hati tidak ikut
terluka.
Shou melompat jatuh kebawah
merentangkan sayapnya menghadangbya untuk kabur namun tidak sesuai harapan sang
kakak melesat ke samping. Shou menggeram kesal.
"Gesit juga nih orang ...
nantangin apa?" Terbang menyusul mencapai kecepatan maksimal.
Ardolf lompat dan melemparkan sanpi
kearah Shou. "Tangkap bang, sekalian bidik dari atas. Lumpuhkan kakinya
biar bisa kita tangkap," teriaknya.
Shou membidik sanpi tersebut ke arah sang
kakak yang masih menggendong adiknya. Shou narik nafas, "Kali akan ku
tangkap kau!" teriak tekad dan ternyata benar-benar terjadi. Sang kakak
tersebut jatuh tersungkur kebawah
Shou merentangkan sayapnya menggapai
sang bocah lalu menangkapnya. "Gotcha!" serunya penuh kemenangan.
Ia berdiri letih berjalan pelan ke
arah sang kakak yang telah tersungkur. "Kini tertangkap kau!" seru
dirinya masih menggendong sang bocah itu. Nafas pemuda tersengal-sengal.
"Bawa anak kecilnya dulu bang,
saya akan coba tangkap orang itu." Menahan kaki sosok jubah hitam dengan
tentakel parasit secara kuat. Shou mengangguk paham.
Dengan demikian ia menjauh dari
kerumunan menyenderkan sang bocah di dinding bangunan, ia ikut duduk sejajar
dengan sang bocah.
"Ada yang terluka?" tanya
sembari tersenyum. Sang bocah menggelengkan kepalanya.
Menepuk pelan bahu bocah kecil itu
tidak ingin bocah kesakitan. "Oke bagus. Abang akan menemani sementara
yang lain memeriksa apakah kakakmu baik-baik saja. Tidak apa apa?"
tanyanya.
Kerumunan para warga terbangun
akibat keributan ditimbulkan. Mereka semua mengintrogasi sang kakak dari sang
bocah tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Pencarian berakhir dengan tidak
membuahkan hasil, benar benar dimasak.