Isi Cerita
Rayn Thunderstorm

TASK 01

 

Untuk kesekian kalinya, aku keluar dari ruangan yang berada di dalam markas ini. Aku menghela nafas gusar dengan wajah yang sudah muak akibat terlalu lama menyusuri salah satu ruangan yang baru ku sadari adalah bagian kesehatan. Mengerikan.

Entah mengapa masuk ke dalamnya malah memaksa kepalaku untuk berbuat hal buruk. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke lorong guna menjernihkan pikiran.

“Sunyi sekali di bagian sini, mereka lagi pada kumpul atau bagaimana ya.” Monologku sambil mengalihkan pandanganku ke bagian jendela yang ada di dekat dinding lorong. Menatap angkasa yang di penuhi dengan bintang dan benda benda angkasa yang lainnya.

Tanganku bergerak mengambil jepitan berbentuk diamond yang ada di rambutku kemudian menekannya, hingga memunculkan sebuah layar hologram berisi map markas yang telah ku simpan datanya.

Kedua tanganku sibuk mengutak atik beberapa bagian, memberi tanda pada semua ruangan atau bagian yang sudah ku lihat dan yang sudah ku hapal. Sampai gerakan tanganku berhenti ketika melihat masih ada salah satu ruangan yang belum ku kunjungi sama sekali.

“Lho, ada perpustakaan disini? Kok aku baru tau.” Gumamku sambil membuka bagian perpustakaan itu dengan cepat.

Tau kalau perpustakaan ada disana aja tidak, konon lagi menyusurinya.

Keningku berkerut, berpikir apakah aku harus datang ke sana dengan kondisi yang sudah jenuh seperti ini, atau lebih baik langsung ke kamarku saja. Ketika aku masih di landa kebingungan, sesuatu yang melayang menabrak kepalaku.

“Akh—“ Aku mengaduh kesakitan karena itu cukup keras. Karena merasa kesal, aku segera menoleh ke kanan dan kiri, mencari dalang dari hal yang tidak beradab barusan. Dan kekesalanku berhasil bertambah dengan tidak mendapati siapapun yang ada disana.

Apa apaan, hantu?

Sejenak aku terdiam, telingaku menangkap sebuah benda yang berdesing. Jadi aku menengadah ke atas, mendapati salah satu drone ku yang bisa bergerak mengikuti ku tengah melayang.

Lantas aku tertawa kecil, lihatlah betapa bodohnya manusia ini.

“Sedang apa kau disini? Dan lagi, bagaimana bisa kau keluar dari kamarku?” Tanyaku sambil meraih drone itu dan menangkupnya dengan kedua tanganku, yang tentu saja pertanyaan itu tidak akan dijawab dengan suara, melainkan dengan kalimat yang mulai muncul dari layar drone ku.

[Saya mendeteksi bahwa anda ada disini, dan kebetulan pintu anda bisa saya buka. Jadi saya menyusul anda.]

Aku hanya mengangguk angguk setelah membacanya. Beberapa menit kemudian, drone itu sedikit memberontak di tanganku dan mulai kembali melayang ke suatu tempat. Namun bisa ku tebak dia membawaku ke mana.

Dengan terpaksa, aku kembali melangkahkan kakiku untuk mengikutinya menuju perpustakaan.

Tidak butuh waktu lama untukku dan drone ku tiba di sana. Aku masuk ke dalam ruangan itu, manik bru safir ku berbinar melihat banyaknya buku yang ada. Namun mata itu kembali lagi menjadi jengah.

Tidak ada orang juga disini? Serius?

Aku menghela nafas lagi. Apa semuanya sudah pada tidur?

Dengan malas aku berjalan ke salah satu kursi yang tersediakan di sana dan duduk. Membaca buku? Tidak dulu. Tidur lebih penting. Urusan bakal dimarahin karena tidur disini bisa diurus nanti.

Tepat setelah aku menelungkupkan kepalaku di meja, kelopak mataku mulai tertutup.

Dan untuk hari ini juga, aku tertidur di sembarang tempat.

 

—Fin