Isi Cerita
Kurageko

Angin malam menyapa wajah ku lembut. Awan-awan menutupi sebagian cahaya sang rembulan. Para anggota DianXy lain nya sibuk membicarakan kejadian hari ini. Satu-dua dari mereka melontarkan teori-teori asumsi.

 

Aku memejamkan mata ku, menikmati dingin nya angin malam ini. Sejak Dua puluh menit lalu aku menatapi pemandangan kota dari atas balkon. Tidak tertarik untuk tidur. Kepalaku terlalu berisik dan penasaran.

 

Rasanya aneh. Jika saat ini aku berkata, “aku terlalu bersemangat” dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sedari awal aku membuka mata ku untuk dunia ini, dari situ juga takdir ku untuk selalu penasaran, ingin tahu, ikut campur. Bukan hal normal aku bisa bertemu dengan banyak sekali individu yang sama anehnya denganku lewat rasa ingin tahu ini.

 

“Bersemangat untuk apa?” Lantas aku menoleh kearah suara. Tak asing. Dan tak bukan lagi, itu Cavin. Aku menyunggingkan senyumku. Menatap kearah langit untuk yang kesekian kalinya.

 

“Menurutmu?”

 

Cavin menyatukan alisnya. Heran. “Aku gak akan nanya kalau aku tahu.”

 

Aku tertawa kecil mendengar jawaban singkat Cavin. “Hmm.. Sayangnya itu rahasia!” Seru ku. Menanggapi Cavin dengan bercanda. Aku membalikkan badan ku untuk menatapnya dengan jelas. Disambut Cavin dengan baju tidur, muka mengantuk, dan rambut acak-acakan nya.

 

“Kamu tampaknya sudah siap untuk tidur. Untuk apa menyapaku tengah malam begini?” Kata ku.

 

“Bukannya kamu yang begitu mencolok? Siapapun akan melihat kamu disini. Termasuk para Mentor yang berjaga.” Cavin menjawab dengan lugas. Aku menatap sorot bercahayanya dibawah sinar malam hari. Indah.

 

Aku memasang senyum meledek. “Khawatir mah bilang aja kali.” Cavin memasang wajah sebalnya. Karena jawaban ngawurku---kalau aku tidak salah mengira.

 

“Kamu yang butuh tidur tahu. Ku ajak bicara gak nyambung, dasar.” Kata Cavin. Laki-laki itu menghampiri ku. “Ayo kembali ke kamar, Kura.” Cavin mengulurkan tangan nya. Sejenak ku tatap jari-jemari nya, sebelum aku menerimanya.

 

“Baiklah.”

 

Aku dan Cavin berjalan berdampingan. Lenggang sejenak. Sebelum gelang pada lengan kami mengeluarkan alarm S.O.S.

 

Ketua hilang. Aku melotot. Ini adalah berita paling gila yang aku dapat malam ini. Dengan cepat aku dan Cavin bergegas menuju kamar masing-masing untuk bersiap berganti seragam misi.

 

Setelah sampai, beberapa dari anggota DianXy berseru panik. Satu-dua baru membuka matanya, bingung. Aku menyeka pelipis ku. Ini gawat.

 

“Silahkan buat kelompok untuk mencari ketua.” Perintah Mentor kepada semua anggota. Semuanya sibuk mencari anggota masing-masing kelompok. Aku menatap sekitarku, mencari yang sekiranya dapat ku jadikan kelompok.

 

Bahu ku ditepuk pelan. Lalu ku dapati Cavin, dan Heizhou. “Mau satu kelompok?” Tanpa basa-basi aku meng-iya-kan ajakan mereka. Tidak ada waktu.

 

“Jangan sampai terpisah, ya.” Kata Heizhou. Aku dan Cavin menganggukkan kepala. Aku memegang dada ku, jantung berdegup kencang, tanda aku bersemangat. Sial, ini terlampau seru.

 

“Ayo.” Heizhou bergegas jalan, mendahului aku dan Cavin. Segera aku mengikuti langkah nya. Menatap sekitar. Alun-alun ini sepi, gelap, dan lembab.

 

Cavin menatap Heizhou bingung. “Kita cari kemana dulu?” Aku menoleh kearah Heizhou dengan tatapan bertanya juga. Ada banyak kemungkinan kemana perginya Ketua. Harus mempersempit kemungkinan.

 

“Menurutku, kita coba cari dekat jalan kecil sekitar sini.” Aku mengangguk. Itu masuk akal.

 

“Kita harus bersama, jangan berpencar.” Kata Heizhou dengan Lugas. Heizhou menoleh kearah ku dan Cavin. Mempersempit celah.

 

"Menurut kalian, apa yang terjadi pada Ketua?” Aku menyibak poniku. Berpikir kemungkinan yang ada. Cavin mengangkat tangan, mengusulkan pendapat. “Tersesat atau boleh jadi diculik.” Ucapan Cavin terdengar masuk akal. Tapi masih banyak kemungkinan lain nya.

 

“Sulit membayangkan Ketua tersesat.”

 

“Itu masuk akal.” Aku menoleh kearah kegelapan. “Diculik adalah kemungkinan paling besar. Tapi siapa yang menculik? Mengapa mereka menculik? Atau justru Ketua hilang atas kemauan nya sendiri.” Jelas ku.

 

“Kamu berpikir sejauh itu. Bagaimana jika kita mencari Sekte Sesat. kita punya kemungkinan itu.” Heizhou menanggapi kalimatku. Wajahnya tampak serius. Aku menyeringai. Astaga, situasi inilah yang aku suka.

 

“Kamu mau cari sekte itu sendiri? Lebih baik kita bicarakan dengan Mentor terlebih dahulu.” Cavin benar. Ini bukan saat yang tepat untuk berbuat seenaknya.

 

“Aku didepan.” Heizhou melangkah mantap. Aku terkesiap. “Aku belakang aja deh.” Sahut Cavin.

 

“Aku ikut kalian.” Aku ikut melangkah kan kaki ku dengan mantap. Serius untuk mencari ketua.

 

Perjalanan yang panjang. Namun, sampai akhir. Kabar ketua masih misterius.

 

- End