03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
The Cold
[Pembaruan sedang
berlangsung 98%]
Layar hologram yang
muncul dari alat kotak melayang itu masih saja menunjukkan tampilan dan suara
yang sama dengan angka persentase yang semakin bertambah. Sudah semalaman sang
pemilik menunggu, namun pembaruan tersebut tak kunjung selesai bahkan setelah
ia selesai melaksanakan ibadahnya.
Erangan malas untuk
kesenian kalinya kembali terdengar dari Rayn. Pemuda bersurai cokelat yang kini
sedang berpelukan dengan tiga lapis selimut dan hanya menyisakan bagian kepala
saja yang menyembul dari sana.
Jangan lupakan
posisinya yang berada di pojok ruangan dengan kedua lengan yang memeluk erat
tumpukan selimut itu. Sudah persis seperti anak hilang.
“Ayolah, Iro. Harus
sampai kapan Aku menunggu pembaruan mu selesai?” Lirih Rayn sembari mengeratkan
selimutnya. Masih setia memandangi layar hologram tersebut dengan
matanya yang hanya terbuka setengah.
Sungguh, ia sangat
ingin memejamkan matanya dan masuk ke mimpi. Namun cuaca disini tidak bisa
diajak kompromi sama sekali.
Berkali-kali Rayn
merutuki dirinya yang lupa melakukan pembaruan tersebut sebelum mereka
berangkat ke planet dengan suhu dingin seperti ini. Inimah bukan berlibur
namanya.
Memang siapa yang bilang liburan?
“Kau ini kenapa tidak
sabaran sekali, sih, Tuan?”
[Pembaruan telah
selesai dan hologram shield sudah siap untuk digunakan]
Thunk!
Tanpa menunggu suara
sistem menyelesaikan kalimatnya lebih lanjut, tubuh yang tinggi dengan jepit
rambut khusus di kepalanya itu segera menarik robot dengan kode 00261
miliknya dengan cepat dan mengutak-atik sistem robotnya yang baru saja selesai
secara ugal-ugalan. Sehingga membuat suara logam beradu pelan akibat tubuh
keduanya bertabrakan.
Hal tersebut tentunya
berhasil membuat Shiro menggeliat dengan kesal, “Kau berniat menghancurkan ku
atau bagaimana, sih!?” Sungutnya namun masih membiarkan Rayn melanjutkan
kegiatannya.
Hingga akhirnya
AeroGuard miliknya yang terhubung dengan robot kesayangannya itu sudah bisa
memiliki fitur Warm shield terbaru.
Selesai dengan proyek
barunya tersebut, Ia segera mengaktifkan salah satu AeroGuardnya. Dalam
hitungan detik, sebuah hologram shield mengelilinginya dan menyalurkan
rasa hangat yang membuat pemuda itu menghela nafas lega. Kemudian ia
melemparkan tumpukan selimut tadi secara asal ke Shiro dengan senyum puas.
“Asal kau tau saja,
Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman karena cuaca disini,” Rayn mendengus
kesal sambil melirik ke arah luar jendela. “Apa lagi yang terjadi itu?” Ucapnya
dengan Shiro yang segera mengikuti arah pandang ke mana Tuannya itu melihat.
Melupakan niatnya yang
ingin mencak-mencak ke Tuannya karena bertidak sesuka hati.
“Lagi ada keributan,
mungkin? Bagaimana kalau kita mengham—“
“Oh tidak, terimakasih
banyak. Aku mau melanjutkan tidur ku yang hanya bertahan beberapa menit tadi
berkat mu dan sistem itu.”
“Tapi Aku lihat disana
juga ada beberapa Mentor— EH WOI!! DENGERIN DULU!”
Terlambat, Shiro.
Pemilik mu sudah bergelayutan di sofa sambil mulai membaca doa hendak tidur.
Tidak mempedulikan si robot yang sudah menghentak-hentakkan tangannya di udara.
Segera Ia menarik kaki
Rayn dengan sekuat tenaga, yang mengakibatkan sang Tuan membuka kembali matanya
dengan perasaan jengkel dan terpaksa bangkit. Dibandingkan dirinya digantung
terbalik oleh Shiro nantinya.
Baru saja Ia hendak
melemparkan protes, namun ternyata Rayn kalah cepat dengan tali panjang yang
sudah mengikat tangannya dan beralih menariknya keluar dari bangunan tempat
mereka menetap tersebut.
Tentu saja itu ulah
Shiro, siapa lagi.
“… Sejak kapan Kau menjadi
sepenasaran ini?”
“Kau mau ku lempar ke
para penganut-penganut ane—“
“Tadi kita mau ke
mana?”
—————
Sudah lima menit sejak
keduanya ikut bergabung ke kerumunan di alun-alun kota, tempat dimana
terletaknya empat patung yang menjadi keyakinan penduduk planet itu.
Seharusnya begitu,
namun ketika mereka tiba disana, yang mereka dapati hanyalah empat patung yang
sudah dalam kondisi hancur dan hampir tidak berbentuk lagi.
Rayn sendiri
sebenarnya tidak begitu terkejut, melainkan merasa aneh. Ia memaksa otaknya
untuk memutar kembali suatu hal yang tadi malam sempat Ia saksikan lewat layar drone
miliknya yang berkeliaran di sekitaran kota.
Ada yang melakukan
pergerakan di sekitaran alun-alun kemarin malam.
Tangan kanannya
beralih menutup mulutnya yang menguap. Mungkin hanya itu saja yang bisa Ia
ingat. Rasa kantuk lebih menguasainya kemarin malam.
Suara seseorang
kemudian membuatnya kembali sadar dari pemikirannya, “Kau baik-baik saja?” Tanya seorang Gadis muda dengan surai merah gelap
miliknya, yang merupakan salah satu dari para Mentor.
Rayn mengernyit, apa
Ia terlihat begitu tertekan di pandangannya?
“Iya, Aku hanya
mengantuk.” Ujar sang murid sambil
memasukkan kedua tangannya kedalaman saku celananya. Memandangi sekitaran
alun-alun yang dipenuhi dengan para penduduk, para Mentor, dan beberapa murid
yang mulai membersihkan area tersebut dari bongkahan-bongkahan patung.
“Anyway, daripada
kalian hanya berdiri dan memandangi saja, mengapa tidak membantu membersihkan
juga?”
“Tapi Aku tidak
berdir—“
“Tentu, Mentor Naren.
Kami memang berniat untuk membantu, kok. Ayo, Iro.” Pemuda tinggi itu langsung
saja menarik tangan Shiro sambil menatapnya tajam dan mendekati murid-murid
yang sedang membantu para penduduk.
Shiro berani bertaruh,
Rayn kalau lagi marah itu seru untuk dijahili.
Bisa-bisa bukannya
membantu, Shiro malah cari ribut dengan sang Mentor.
Rayn mengaktifkan lima
AeroGuard miliknya untuk membantu murid-murid yang lain mengangkat bongkahan
dari patung tersebut. Ia memainkan tangannya sambil mengendalikan
drone-drone miliknya tersebut.
Ada satu hal yang Rayn
sadari, tapi saat Ia hendak mengutarakan hal tersebut, Ia malah lupa. Hingga
ada seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu tak jauh dari mereka.
“Aku menginjak
kepalanya… kakiku pasti Nanti masuk neraka..”
Buru- uru Rayn dan
Shiro berjalan ke pinggir sambil menahan tawa mereka mati-matian yang hendak
keluar. Membuat sang Mentor yang berbicara dengan mereka tadi hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisa habis mereka kalau ketahuan penduduk
sini.
“Duh, siapa suruh
menganut yang tidak-tidak!”
“Shiro, kecilkan
suaramu atau kita akan di lempar!”