Isi Cerita
Rayn Thunderstorm

The Cold

[Pembaruan sedang berlangsung 98%]

Layar hologram yang muncul dari alat kotak melayang itu masih saja menunjukkan tampilan dan suara yang sama dengan angka persentase yang semakin bertambah. Sudah semalaman sang pemilik menunggu, namun pembaruan tersebut tak kunjung selesai bahkan setelah ia selesai melaksanakan ibadahnya.

 

Erangan malas untuk kesenian kalinya kembali terdengar dari Rayn. Pemuda bersurai cokelat yang kini sedang berpelukan dengan tiga lapis selimut dan hanya menyisakan bagian kepala saja yang menyembul dari sana.

 

Jangan lupakan posisinya yang berada di pojok ruangan dengan kedua lengan yang memeluk erat tumpukan selimut itu. Sudah persis seperti anak hilang.

 

“Ayolah, Iro. Harus sampai kapan Aku menunggu pembaruan mu selesai?” Lirih Rayn sembari mengeratkan selimutnya. Masih setia memandangi layar hologram tersebut dengan matanya yang hanya terbuka setengah.

 

Sungguh, ia sangat ingin memejamkan matanya dan masuk ke mimpi. Namun cuaca disini tidak bisa diajak kompromi sama sekali.

 

Berkali-kali Rayn merutuki dirinya yang lupa melakukan pembaruan tersebut sebelum mereka berangkat ke planet dengan suhu dingin seperti ini. Inimah bukan berlibur namanya.

 

Memang siapa yang bilang liburan?

 

“Kau ini kenapa tidak sabaran sekali, sih, Tuan?”

 

[Pembaruan telah selesai dan hologram shield sudah siap untuk digunakan]

 

Thunk!

 

Tanpa menunggu suara sistem menyelesaikan kalimatnya lebih lanjut, tubuh yang tinggi dengan jepit rambut khusus di kepalanya itu segera menarik robot dengan kode 00261 miliknya dengan cepat dan mengutak-atik sistem robotnya yang baru saja selesai secara ugal-ugalan. Sehingga membuat suara logam beradu pelan akibat tubuh keduanya bertabrakan.

 

Hal tersebut tentunya berhasil membuat Shiro menggeliat dengan kesal, “Kau berniat menghancurkan ku atau bagaimana, sih!?” Sungutnya namun masih membiarkan Rayn melanjutkan kegiatannya.

 

Hingga akhirnya AeroGuard miliknya yang terhubung dengan robot kesayangannya itu sudah bisa memiliki fitur Warm shield terbaru.

 

Selesai dengan proyek barunya tersebut, Ia segera mengaktifkan salah satu AeroGuardnya. Dalam hitungan detik, sebuah hologram shield mengelilinginya dan menyalurkan rasa hangat yang membuat pemuda itu menghela nafas lega. Kemudian ia melemparkan tumpukan selimut tadi secara asal ke Shiro dengan senyum puas.

 

“Asal kau tau saja, Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman karena cuaca disini,” Rayn mendengus kesal sambil melirik ke arah luar jendela. “Apa lagi yang terjadi itu?” Ucapnya dengan Shiro yang segera mengikuti arah pandang ke mana Tuannya itu melihat.

 

Melupakan niatnya yang ingin mencak-mencak ke Tuannya karena bertidak sesuka hati.

 

“Lagi ada keributan, mungkin? Bagaimana kalau kita mengham—“

 

“Oh tidak, terimakasih banyak. Aku mau melanjutkan tidur ku yang hanya bertahan beberapa menit tadi berkat mu dan sistem itu.”

 

“Tapi Aku lihat disana juga ada beberapa Mentor— EH WOI!! DENGERIN DULU!”

 

Terlambat, Shiro. Pemilik mu sudah bergelayutan di sofa sambil mulai membaca doa hendak tidur. Tidak mempedulikan si robot yang sudah menghentak-hentakkan tangannya di udara.

 

Segera Ia menarik kaki Rayn dengan sekuat tenaga, yang mengakibatkan sang Tuan membuka kembali matanya dengan perasaan jengkel dan terpaksa bangkit. Dibandingkan dirinya digantung terbalik oleh Shiro nantinya.

 

Baru saja Ia hendak melemparkan protes, namun ternyata Rayn kalah cepat dengan tali panjang yang sudah mengikat tangannya dan beralih menariknya keluar dari bangunan tempat mereka menetap tersebut.

 

Tentu saja itu ulah Shiro, siapa lagi.

 

“… Sejak kapan Kau menjadi sepenasaran ini?”

 

“Kau mau ku lempar ke para penganut-penganut ane—“

 

“Tadi kita mau ke mana?”

—————

 

Sudah lima menit sejak keduanya ikut bergabung ke kerumunan di alun-alun kota, tempat dimana terletaknya empat patung yang menjadi keyakinan penduduk planet itu.

 

Seharusnya begitu, namun ketika mereka tiba disana, yang mereka dapati hanyalah empat patung yang sudah dalam kondisi hancur dan hampir tidak berbentuk lagi.

 

Rayn sendiri sebenarnya tidak begitu terkejut, melainkan merasa aneh. Ia memaksa otaknya untuk memutar kembali suatu hal yang tadi malam sempat Ia saksikan lewat layar drone miliknya yang berkeliaran di sekitaran kota.

 

Ada yang melakukan pergerakan di sekitaran alun-alun kemarin malam.

 

Tangan kanannya beralih menutup mulutnya yang menguap. Mungkin hanya itu saja yang bisa Ia ingat. Rasa kantuk lebih menguasainya kemarin malam.

 

Suara seseorang kemudian membuatnya kembali sadar dari pemikirannya, “Kau baik-baik saja?” Tanya seorang Gadis muda dengan surai merah gelap miliknya, yang merupakan salah satu dari para Mentor.

 

Rayn mengernyit, apa Ia terlihat begitu tertekan di pandangannya?

 

“Iya, Aku hanya mengantuk.” Ujar sang murid  sambil memasukkan kedua tangannya kedalaman saku celananya. Memandangi sekitaran alun-alun yang dipenuhi dengan para penduduk, para Mentor, dan beberapa murid yang mulai membersihkan area tersebut dari bongkahan-bongkahan patung.

 

“Anyway, daripada kalian hanya berdiri dan memandangi saja, mengapa tidak membantu membersihkan juga?”

 

“Tapi Aku tidak berdir—“

 

“Tentu, Mentor Naren. Kami memang berniat untuk membantu, kok. Ayo, Iro.” Pemuda tinggi itu langsung saja menarik tangan Shiro sambil menatapnya tajam dan mendekati murid-murid yang sedang membantu para penduduk.

 

Shiro berani bertaruh, Rayn kalau lagi marah itu seru untuk dijahili.

 

Bisa-bisa bukannya membantu, Shiro malah cari ribut dengan sang Mentor.

 

Rayn mengaktifkan lima AeroGuard miliknya untuk membantu murid-murid yang lain mengangkat bongkahan dari patung tersebut. Ia memainkan tangannya sambil mengendalikan drone-drone miliknya tersebut.

 

Ada satu hal yang Rayn sadari, tapi saat Ia hendak mengutarakan hal tersebut, Ia malah lupa. Hingga ada seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu tak jauh dari mereka.

 

“Aku menginjak kepalanya… kakiku pasti Nanti masuk neraka..”

 

Buru- uru Rayn dan Shiro berjalan ke pinggir sambil menahan tawa mereka mati-matian yang hendak keluar. Membuat sang Mentor yang berbicara dengan mereka tadi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisa habis mereka kalau ketahuan penduduk sini.

 

“Duh, siapa suruh menganut yang tidak-tidak!”

 

“Shiro, kecilkan suaramu atau kita akan di lempar!”