Isi Cerita
Alice

Pagi hari yang harusnya tenang itu tiba-tiba saja saja dipenuhi suara keributan. Hingga banyak orang yang terbangun dan bertanya-tanya soal apa yang terjadi. Tidak terkecuali beberapa anggota DianXy yang merasa begitu penasaran.

Gadis bersurai kuning emas itu mengucek mata terbangun saat mendengar keributan dan keluar untuk melihat apa yang terjadi.

"Ada apa?" tanya Alice penasaran.

"Kenapa ribut sekali?  Sesuatu yang aneh terjadi?" Shou bertanya dengan wajah bingung, Alice menoleh ke arah Shou dan bertanya "Ada apa??"

Alice mencoba melihat sekeliling. "Kata Mentor Luisa patung-patung planet ini hancur aku ingin melihat nya," jelas Shou dengan wajah fokus ke depan.

"Ha? Patung? Bagaimana bisa?"

Alice terkejut dengan penjelasan Shou dan menatap kedepan penasaran.

"Ya mungkin saja ini sebuah peringatan untuk kita semua."

Alice mendengar percakapan antara Shou dan Mentor Luisa.

'Peringatan?' Alice membatin dalam  hati dan berpikir dengan wajah serius perkataan Mentor Luisa.

"Kenapa bisa Mentor?" tanya Alice polos dengan rasa penasaran memenuhi pikirannya.

"Sesuatu menghacurkan patung itu, tidak tau siapa," jawab pemuda bersurai hijau, Vessel.

"Beh, berapa banyak patung yang hancur?" tanya Alice kembali, kini kepada Vessel yang ada disampingnya.

"Begini, ada berhala hancur dan itu disebabkan oleh pihak yang merencanakan hal buruk, dan ini mungkin peringatan buat kita juga." Shou menjelaskan dengan serius dan memandang keluar untuk melihat patung tersebut.

Alice mengangguk paham dengan penjelasan yang dia dengar.

"Sepertinya 4 patung," ucap Vessel kemudian.

Alice kembali mengangguk paham dengan penjelasan kedua pemuda disampingnya.

.

.

.

Meskipun ada kekacauan di pagi hari. Para penduduk pun langsung membersihkan tempat tersebut dan menyingkirkan puing-puing patung yang rusak. Dan beberapa anggota DianXy dengan penuh inisiatif pun membantu mereka untuk membersihkan alun-alun tersebut.

"Serius ni? Kupikir kita akan menyelidiki."

Alice yang sedang membersihkan puing-puing mendekati Shou untuk bertanya, "Menyelidiki apa? Kenapa?"

Alice muncul tiba-tiba dari belakang Shou yang sedang membersihkan puing sambil mengobrol.

"Menyelidiki kejadian ini. Kupikir akan seru karena aku bisa menggunakan sayapku untuk terbang mencari penyebab utama namun...."

Shou yang sedang menjawab tiba-tiba berubah menatap malas kearah puing-puing.

"Terbang mulu, ditembak tiba-tiba kan sakit, kenapa menatap malas?" ejek dan bingung Alice kearah Shou yang ada didepannya.

"Aku suka berkelana dan aku tidak suka di perangkap. Itu seperti aku akan membusuk di sebuah kandang burung."

Alice terdiam tidak ingin melanjutkan perkataan Shou.

"Hm, sudah lah Shou, mari membersihkan puing ini," ucap Alice mengangkat puing-puing yang berserakan.

'Apa patung-patung ini adalah penyelamat mereka? Alice jadi penasaran wajah patung ini.'

Alice membatin dan sibuk membersihkan puing bersama murid dianxy yang lainnya.

"Apa ini karena aku tidak percaya dengan ada nya Tuhan ya... Memangnya bagi kalian yang mempercayai Tuhan akan bereaksi sama seperti anak itu ya?"

"Entah, sepertinya iya," ucap Alice asal menyambung pertanyaan Aideen karena kaget dengan anak kecil yang menangis setelah menginjak puing patung dewi.

"Mereka...." Alice terdiam tidak melanjutkan perkataannya.

"Sejujurnya aku muak dengan penduduk yang ada disini... Rasanya sikap mereka terhadap sesuatu yang mereka sebut dewa...."

Aideen terdiam, tidak melanjutkan perkataan dan lebih memilih untuk melanjutkan membersihkan puing-puing.

"Eits kaka, jangan besar-besar suaranya. Tapi aneh, apa mereka dewa-dewi itu penyelamatan mereka?" Alice berbisik di belakang kak Aideen sambil membersihkan puing patung.

"Entahlah, aku tidak mengetahui cerita Planet ini," jawab Aideen menggeleng.

"Sama...," ucap Alice karena sama-sama tidak tau kisah planet ini.

"Awas tangan kakak terluka," peringat Alice sedikit khawatir.

"Seharusnya aku yang bilang begitu."

"Sesekali Alice." Alice tersenyum dan dibalas pat-pat oleh kak Aideen.

"Jika terluka, langsung datang padaku ya." Aideen membalas senyuman dan Alice memberi jempol sebagai jawaban.

Dan mereka melanjutkan membersihkan puing patung itu.