Isi Cerita
Luisa Arcadia

Bagi Luisa tidak ada yang lebih menyebalkan selain waktu tidurnya yang terkadang sering berkurang dengan drastis, sekarang dia sedang merengut di belakang Saaochi yang sedari tadi tidak menjelaskan apa yang sebenarnya dia ingin lakukan.

 

"Saaochi, kalau kataku lebih baik kamu menjelaskan atau beritahukan kemana kita berjalan," sungut Luisa menahan kantuk yang terus melanda.

 

"Ikut aja," singkat Saaochi tanpa memperhatikan Luisa yang terlihat sedikit lagi melayangkan pukulan namun sayangnya gadis berambut putih itu hanya memilih untuk mengelus dadanya sendiri dengan sabar.

 

Lebih tepatnya mengusir kesabaran.

 

Setelah itu Luisa hanya diam dan mengikuti kemana Saaochi ingin membawanya, gadis berambut putih itu dengan tenang mengikut Saaochi tepat di belakangnya sebelum akhirnya Saaochi terdiam.

 

"Luisa, coba liat itu. Menurutmu itu mencurigakan tidak?" tanya Saaochi sambil bersembunyi diantara sela-sela gedung.

 

"Mana ku tahu, hah... rasanya angin ini menusuk sampai ke rusuk-rusukku." Luisa memeluk dirinya sendiri berusaha mencari kehangatan.

 

"Dasar, perkataanmu malah membuatku menjadi merinding," canda Saaochi sambil sedikit tertawa.

 

Luisa hanya menatap datar Saaochi setelah itu mengulangi pertanyaannya tentang kenapa dia harus diseret pagi-pagi buta dengan alasan mencari udara segar ini.

 

"Uhm... jangan panik dulu, tapi aku sebenarnya melihat kerumunan yang cukup mencurigakan, maksudku seperti tidak mungkin kan ada sekelompok orang-orang berjubah hitam yang terlihat seperti mendiskusikan sesuatu disela-sela gedung itu hal yang normal?" jelas Saaochi dengan panjang lebar, "dan kita sebagai mentor harus mengantisipasi kemungkinan bahaya yang berada disekitar murid-murid lain apalagi kita dipercayai Ketua untuk melakukan hal seperti ini."

 

"Bisa lebih singkat?" tanya Luisa sambil menutup separuh wajahnya.

 

"Perkumpulan jubah hitam, berbahaya," singkat Saaochi sambil menggaruk kepala belakangnya.

 

"Hah!? Harusnya-" belum sempat Luisa melanjutkan kalimatnya sebuah suara dentuman terdengar dari pusat kota.

 

"Malah terang-terangan." Saaochi menarik Luisa untuk pergi dari tempat mereka bersembunyi setelah melihat asal dari suara dentuman keras yang baru saja terdengar.

 

Luisa yang dibawa Saaochi hanya diam dan mengikuti kembali Saaochi yang menyeretnya secara tiba-tiba, setelah berada cukup jauh dari lokasi tempat pertama mereka Luisa melepaskan genggaman Saaochi lalu terduduk di tanah sambil sedikit ngos-ngosan.

 

"Sebentar, haus." Luisa mengipas-ngipaskan tangannnya di depan muka, anak sepertinya yang jarang berolahraga ini disuruh untuk melakukan lari? Mana mungkin bisa lebih jauh dari ini.

 

"Luisa, lihat tuh," tunjuk Saaochi ke sebuah toko dengan logo es krim, "Ayo ke sana."

 

Luisa bangun dari duduknya lalu pergi terlebih dahulu ke dalam toko tersebut, dia berhadapan dengan pelayan yang sedang menjaga toko tersebut lalu membeli salah satu menu yang tertera, setelah itu dia membayarnya dengan uang yang dia kumpulkan dari kamar Bastian.

 

"Lah, dapat duit darimana?" tanya Saaochi sambil menatap heran uang yang Luisa keluarkan dari kantung bajunya.

 

"Hasil kumpulan kita di kamar Bastian setiap malam lah," jawab Luisa dengan santai sambil menyambut minuman yang dia pesan dengan wajah yang terlihat cerah.

 

"Minta dong, aku juga mau minum." Saaochi menyodorokan tangannya ke arah Luisa tentu saja langsung Luisa berikan duit yang dia kumpulkan bersama Saaochi.

 

Setelah itu dia duduk di pinggir trotoar jalan sambil meminum minuman miliknya, sebuah sensai aneh menyelimuti indra perasanya. Dia melihat minuman itu sejenak sebelum menoleh ke arah Saaochi yang sedang memesan sebuah minuman juga.

 

"Rasanya tidak asing..." gumam Luisa sambil meminum kembali minuman miliknya, "Obat tidur, dosis rendah?" tanya Luisa pada dirinya sendiri setelah kembali mengecap rasa dari minumannya.

 

"Kenapa?" tanya Saaochi sambil duduk di samping Luisa.

 

"Minta minuman milikmu," ucap Luisa ambil mengambil minuman Saaochi yang sepertinya belumnsempat Saaochi minum.

 

"Kenapa sih?" tanya Saaochi dengan penuh tanda tanya.

 

"Hm... minumannya sama, ada obat tidur tapi dengan dosis yang cukup rendah," jelas Luisa setelah meminum minuman milik Saaochi lalu mengembalikannya kembali.

 

"He... pantas saja, jujur saja gelagat pelayan tadi cukup aneh."

 

"Eh?"

 

Mereka berdua terdiam sejenak sebelum kembali meminum minuman milik mereka dan mempertanyakan kejanggalan yang terjadi, Luisa melirik ke arah Saaochi begitu juga Saaochi yang melirik ke arah Luisa mereka berdua bertukar pandangan dengan cukup lama.

 

"Patung yang ada di tengah-tengah kota itu, patung biasa atau sesuatu yang cukup sakral seperti berhala?" tanya Luisa sambil menyedot minumannya sampai tetes terakhir.

 

"Patungnya cukup mirip dengan para pendahulu tapi aku tidak yakin akan beberapa hal..." jawab Saaochi, "Sepertinya masih banyak hal yang perlu kita selidiki."

 

Luisa hanya membalas dengan menghela nafas panjang, sepertinya jam tidurnya kembali berkurang.

 

[To Be Countinue]