03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Hari berganti, malam berlalu. Cahaya sang fajar mulai menyinarinya
planet Mursa, menggantikan tugas sang rembulan.
Hari ini sedikit
berbeda dari biasanya. Ini pertama kali Arumi bangun namun
bukan di kamarnya. Arumi masih mencoba
membiasakan diri tinggal di tempat baru, dan bertemu banyak orang baru. Banyak hal berubah sejak
saat itu.
Arumi menatap pantulan tubuhnya di cermin, menganggukkan kepala ketika merasa
penampilannya sudah rapi. Ia kemudian
menarik nafas, mencoba menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti diri.
Namun rasa gugup kembali menyerang ketika melihat kerumunan siswa di depan pintu aula utama. Ah, rasanya mual.. Arumi tidak terlalu
suka tempat ramai, ia juga belum mengenal semua orang di sini.
Beberapa menit
kemudian pintu aula terbuka, semua siswa berhamburan masuk ke aula. Pekik penuh kekaguman
terdengar begitu mereka melihat design interior
aula yang sangat keren.
Aula besar ini memiliki kesan
modern dan futuristik, di dominasi
oleh warna biru serta abu, juga lampu LED yang terpasang cahayanya tidak menyakiti mata.
Arumi memilih berdiri di dekat dinding, sedikit menjauh dari keramaian.
Alisnya sedikit terangkat ketika melihat seorang lelaki yang duduk di lantai. Terlihat seperti seorang anak kecil
yang terpisah dengan ibunya di keramaian.
Perlahan, Arumi
mendekatinya. Tangan terulur
untuk menepuk pelan bahu lelaki itu.
Seingat Arumi, namanya Ardolf Wisteria, dari kelas Spy. Semoga saja tidak salah.
"Halo. Ardolf, kan?"
Arumi menyapa sembari mengulurkan tangan. "Lebih baik jangan duduk di lantai. Apa kau gugup?"
Namun yang disapa
tak menjawab. Ardolf kini menatap Arumi
dengan tatapan panik sekaligus waspada.
'Apa dia
baik? Bagaimana kalau dia menatapku
dengan tatapan tidak suka?' gumamnya.
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat...
Panik." Arumi berucap kembali. Melihat Ardolf yang menatapnya seperti itu membuat Arumi
kembali gugup.
"A-anu.. saya tidak terbiasa
dengan orang baru.. maaf." Ardolf mencicit, panik juga takut jikalau Arumi
marah akan ucapannya.
Melihat Ardolf yang malah
meminta maaf membuat Arumi sedikit
terkejut. Namun senyum kecil terutas
ketika menyadari mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama tidak terbiasa dengan orang baru.
Arumi kemudian berdiri di belakang Ardolf setelah meyakinkan lelaki itu.
"Arumi!"
Sang pemilik nama menoleh ketika
mendengar sebuah suara familiar memekikkan namanya.
"Halo, Rei." Balas Arumi
dengan senyum di wajah, melihat Harumi Kirei yang berjalan ke arah
mereka berdua.
Dua orang lagi ikut mendekat dan menyapa Arumi, mereka adalah Alice dan Aria.
Sesi bincang mereka harus sampai
di sana karena ada sambutan dari ketua,
komandan, an juga para mentor.
Hanya sambutan kecil, setelah itu siswa dibebaskan
untuk keliling markas setelah diberi chip khusus.
Para siswa berhamburan ke luar aula, sangat bersemangat keliling markas. Sedangkan Arumi masih berdiri di aula, menatap chip di telapak tangannya. Ia bingung
ingin ke mana.
Namun seseorang kemudian menggandeng tangannya, itu Alice.
"Arumi, ayo ikut berkeliling
bersamaku dan Shou!" Gadis kuning
tersenyum cerah, saking cerah senyumannya
membuat Arumi harus menyipitkan matanya sedikit.
Arumi mengangguk pelan. "Boleh, ingin ke mana dulu?"
"Perpustakaan!" Serunya.
Arumi kembali mengangguk. Terserah saja, Arumi akan
ikuti ke manapun Alice pergi.
Dari sekian banyaknya siswa, orang yang Arumi kenal baru
hitungan jari. Alice dan
Shou salah satunya, meskipun
Arumi jarang mengobrol dengan Shou.
Bulu sayap milik Shou sedikit membuat Arumi terdistraksi.
Tak berani menyentuh, Arumi hanya menatap
bulu-bulu halus itu.
'Kira-kira kalau dijual laku
berapa?' Arumi membatin.
Arumi terlalu fokus pada bulu sayap milik Shou. Sedikit kecewa ketika Shou mentransformasikan sayapnya untuk kembali seperti semula, menjadi lengannya yang utuh.
Arumi kembali menatap Alice yang.. wajahnya tersipu? Ada apa ini? Arumi
ketinggalan sesuatu?
Arumi ingin bertanya, namun tahu bahwa ini
bukan saat yang tepat. Namun ia
sungguh penasaran dengan apa yang barusan terjadi, pasalnya jarang-jarang Arumi melihat gadis kuning ini tersipu.
Lucu. Andai Arumi bisa mengabadikannya.
Ekspresi bingung
makin kentara di wajah Arumi ketika
melihat Alice berlari, dengan wajahnya yang masih memerah.
Kini tersisa Shou dan Arumi di lorong markas.
"Sekarang apa?"
Shou mengendikkan bahu sebagai balasan. Arumi lalu memutuskan
untuk berjalan mengikuti Shou.
Arumi menatap
chip di telapak tangannya, tombol yang ada di sana ditekan olehnya, sesaat kemudian muncul sebuah peta
hologram, membuat Arumi
yang melihat itu berdecak kagum.
Terlalu fokus dengan peta tersebut,
Arumi baru menyadari bahwa ia terpisah dengan
Shou.
Bagus, sekarang ia sendirian di lorong. Hanya ada beberapa siswa, naasnya tak satupun
Arumi mengenal mereka.
Arumi menghela nafas. Yasudah, sendiri pun tak apa.
______________________
-Fin.