Isi Cerita
Arumi Sinclair

Hari berganti, malam berlalu. Cahaya sang fajar mulai menyinarinya planet Mursa, menggantikan tugas sang rembulan.

 

Hari ini sedikit berbeda dari biasanya. Ini pertama kali Arumi bangun namun bukan di kamarnya. Arumi masih mencoba membiasakan diri tinggal di tempat baru, dan bertemu banyak orang baru. Banyak hal berubah sejak saat itu.

 

Arumi menatap pantulan tubuhnya di cermin, menganggukkan kepala ketika merasa penampilannya sudah rapi. Ia kemudian menarik nafas, mencoba menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti diri.

 

Namun rasa gugup kembali menyerang ketika melihat kerumunan siswa di depan pintu aula utama. Ah, rasanya mual.. Arumi tidak terlalu suka tempat ramai, ia juga belum mengenal semua orang di sini.

 

Beberapa menit kemudian pintu aula terbuka, semua siswa berhamburan masuk ke aula. Pekik penuh kekaguman terdengar begitu mereka melihat design interior aula yang sangat keren.

 

Aula besar ini memiliki kesan modern dan futuristik, di dominasi oleh warna biru serta abu, juga lampu LED yang terpasang cahayanya tidak menyakiti mata.

 

Arumi memilih berdiri di dekat dinding, sedikit menjauh dari keramaian. Alisnya sedikit terangkat ketika melihat seorang lelaki yang duduk di lantai. Terlihat seperti seorang anak kecil yang terpisah dengan ibunya di keramaian.

 

Perlahan, Arumi mendekatinya. Tangan terulur untuk menepuk pelan bahu lelaki itu.

 

Seingat Arumi, namanya Ardolf Wisteria, dari kelas Spy. Semoga saja tidak salah.

 

"Halo. Ardolf, kan?" Arumi menyapa sembari mengulurkan tangan. "Lebih baik jangan duduk di lantai. Apa kau gugup?"

 

Namun yang disapa tak menjawab. Ardolf kini menatap Arumi dengan tatapan panik sekaligus waspada.

 

'Apa dia baik? Bagaimana kalau dia menatapku dengan tatapan tidak suka?' gumamnya.

 

"Kau baik-baik saja? Kau terlihat... Panik." Arumi berucap kembali. Melihat Ardolf yang menatapnya seperti itu membuat Arumi kembali gugup.

 

"A-anu.. saya tidak terbiasa dengan orang baru.. maaf." Ardolf mencicit, panik juga takut jikalau Arumi marah akan ucapannya.

 

Melihat Ardolf yang malah meminta maaf membuat Arumi sedikit terkejut. Namun senyum kecil terutas ketika menyadari mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama tidak terbiasa dengan orang baru.

 

Arumi kemudian berdiri di belakang Ardolf setelah meyakinkan lelaki itu.

 

"Arumi!"

 

Sang pemilik nama menoleh ketika mendengar sebuah suara familiar memekikkan namanya.

 

"Halo, Rei." Balas Arumi dengan senyum di wajah, melihat Harumi Kirei yang berjalan ke arah mereka berdua.

 

Dua orang lagi ikut mendekat dan menyapa Arumi, mereka adalah Alice dan Aria.

 

Sesi bincang mereka harus sampai di sana karena ada sambutan dari ketua, komandan, an juga para mentor.

 

Hanya sambutan kecil, setelah itu siswa dibebaskan untuk keliling markas setelah diberi chip khusus.

 

Para siswa berhamburan ke luar aula, sangat bersemangat keliling markas. Sedangkan Arumi masih berdiri di aula, menatap chip di telapak tangannya. Ia bingung ingin ke mana.

 

Namun seseorang kemudian menggandeng tangannya, itu Alice.

 

"Arumi, ayo ikut berkeliling bersamaku dan Shou!" Gadis kuning tersenyum cerah, saking cerah senyumannya membuat Arumi harus menyipitkan matanya sedikit.

 

Arumi mengangguk pelan. "Boleh, ingin ke mana dulu?"

 

"Perpustakaan!" Serunya.

 

Arumi kembali mengangguk. Terserah saja, Arumi akan ikuti ke manapun Alice pergi.

 

Dari sekian banyaknya siswa, orang yang Arumi kenal baru hitungan jari. Alice dan Shou salah satunya, meskipun Arumi jarang mengobrol dengan Shou.

 

Bulu sayap milik Shou sedikit membuat Arumi terdistraksi. Tak berani menyentuh, Arumi hanya menatap bulu-bulu halus itu.

 

'Kira-kira kalau dijual laku berapa?' Arumi membatin.

 

Arumi terlalu fokus pada bulu sayap milik Shou. Sedikit kecewa ketika Shou mentransformasikan sayapnya untuk kembali seperti semula, menjadi lengannya yang utuh.

 

Arumi kembali menatap Alice yang.. wajahnya tersipu? Ada apa ini? Arumi ketinggalan sesuatu?

 

Arumi ingin bertanya, namun tahu bahwa ini bukan saat yang tepat. Namun ia sungguh penasaran dengan apa yang barusan terjadi, pasalnya jarang-jarang Arumi melihat gadis kuning ini tersipu.

 

Lucu. Andai Arumi bisa mengabadikannya.

 

Ekspresi bingung makin kentara di wajah Arumi ketika melihat Alice berlari, dengan wajahnya yang masih memerah.

 

Kini tersisa Shou dan Arumi di lorong markas.

 

"Sekarang apa?"

 

Shou mengendikkan bahu sebagai balasan. Arumi lalu memutuskan untuk berjalan mengikuti Shou.

 

Arumi menatap chip di telapak tangannya, tombol yang ada di sana ditekan olehnya, sesaat kemudian muncul sebuah peta hologram, membuat Arumi yang melihat itu berdecak kagum.

 

Terlalu fokus dengan peta tersebut, Arumi baru menyadari bahwa ia terpisah dengan Shou.

 

Bagus, sekarang ia sendirian di lorong. Hanya ada beberapa siswa, naasnya tak satupun Arumi mengenal mereka.

 

Arumi menghela nafas. Yasudah, sendiri pun tak apa.

 

 

 

 

______________________

 

-Fin.