03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
--|🪶
Matahari terbit seperti biasanya, mengundang kemalasan untuk bangun dari alam
mimpi. Namun, ketika aku ingin
kembali tertidur lagi, terdengar keributan dari luar.
“Pagi-pagi ada apa
ya? Hoam, harusnya kan
ini hari yang damai? Apa jangan-jangan
… memang tidak pernah ada hari
yang damai?” kataku sedikit berdrama di penghujung ucapan.
“Kau
ini kenapa sih? Kalau ada
yang ribut-ribut ya di lihat apa yang terjadi, bukan malah berdramatis seperti itu,” timpal
Luks sambil menatap ku malas.
Mendengar hal itu aku
menghela napas. Benar katanya, aku harus
bersiap untuk melihat apa yang terjadi di planet yang terlihat tenang ini.
Aku
mendekati kerumunan warga di alun-alun, “Ribut-ribut sekali disini.” Aku sesekali menguap sambil melihat keadaan yang terjadi. Dengan Luks yang berada di atas kepalaku sama penasaran
nya dengan diriku.
“Haduhai, gagal liburan dong kalau begini.” Aku melihat patung-patung yang hancur, lalu ekor Luks menutup mulut ku
karena menurutnya aku sudah berbicara
sembarangan di tengah situasi seperti ini.
“Perhatikan sekitar ketika sedang berbicara.”
Luks membekap mulutku menggunakan ekor nya.
“Puah, iya iya aku tahu.
Aku hanya berkata apa yang aku pikirkan,
dan kita ada disini sebelumnya memang karena sedang
berlibur kan? Tapi yah, itu artinya
perkataan ku kemarin benar. Ada sesuatu yang tidak biasa disini.” Aku memegang ekor Luks yang sebelumnya menutup mulut ku sambil
memperhatikan sekitar, siapa tahu menemukan
sesuatu.
“Emang kita pernah
liburan dengan tenang?” Alice menatap ku, tepat ketika
aku berkomentar soal liburan, sontak
aku gugup. Yahh, dia benar
sih.
“Err,
ya engga sih ... T-tapi kan kemarin katanya
kita benar-benar mau liburan loh
liburan!” bantah ku mencoba berpura-pura
lupa kalau kami belum pernah berlibur
dengan tenang sambil masih memegang
ekor Luks.
“Kita
selalu ketempelan masalah tau? Kau pikir kita akan liburan
dengan tenang?” kini yang menimpali adalah Shou, senior ku. Dia menatapku dengan
tatapan datar nya.
“Eiii, jangan lah
begitu. Kan kan aduhh, tolong jangan
mengatan sebuah fakta dulu,” ucapku
sambil berlagak sedih.
“Kasihan.” Alice menepuk pundak ku, “Tidak
ada liburan Retta,” sambungnya.
“Seseorang tolong berhenti untuk mengatakan faktanya,” ucapku semakin sedih. Luks hanya menatapku datar, entah apa yang dia pikirkan soal
aku yang bersikeras menolak liburan yang berakhir seperti ini.
“Aku
bisa memberitahu yang mana saja kau sebut 'liburan' itu.” Shou menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjawab perkataan ku.
“Eh
tidak tidak tidak, tidak perlu
memberi tahu. Ayo kita selidiki saja
masalahnya,” tolak ku. Aku tidak mau
membicarakan hal itu sekarang, karena
aku sudah terlalu bersedih setelah mengetahui fakta bahwa liburan
kita hanya sebuah khayalan saja. Setidaknya sebelum kejadian ini terjadi, aku
masih menganggap ini liburan.
“Sudah-sudah tidak perlu sedih taa,
anggap aja liburan menantang, tapi kenapa bisa
hancur tiba-tiba begitu?” tanya Alice yang masih tidak paham.
“Nah,
dari bau bau nya sih
memang sudah mencurigakan sejak awal, tapi … aku
tidak menyangka akan seperti sekarang
ini,” ujarku.
Sebenarnya aku pun masih tidak
mengerti tentang apa yang terjadi sekarang.
“Siap-siap dipotong leher taa, ga jadi
liburan,” ucap Alice menakut-nakuti ku, “Retta, penasaran ga kenapa itu?” sambungnya.
“Eits tidak boleh
begitu tidak boleh.” Aku menggerakan telunjuk ke kanan
dan kiri.
“Engga sih, soalnya
kenapa ya? Aku pun tidak tahu.” Aku mengangkat bahu ku merespons pertanyaannya Alice.
Yahh, aku tidak takut sih—untuk sekarang. Tapi aku memang
penasaran, jadi aku mengalihkan topik pembicaraan kami, “Bagaimana jika kita jadi detektif?
Hehe,”
Luks
yang juga mendengar nya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, aku sendiri tidak tahu
apakah dia tidak percaya pada ku, atau dia
sudah lelah dengan diriku? Yaa, untuk sekarang hanya Luks yang tahu apa ada dipikirkan
nya.
Shou
menghela napas nya, “Kau ingin menjadi detektif?
Karl.” Dia memandang Karl
yang telah memakai baju detektif dan di tangannya ada kaca pembesar.
Aku
melihat Karl yang sudah seperti detektif sejati kemudian berbinar.
“Oh
iya, jelas mau dongg! Let's go Karl kita jadi detektif.
Tapi aku tidak berpikiran kita bisa memecahkan
nya sekarang sih.” Aku memandang ke 4 patung yang kini sudah menjadi
serpihan itu, lalu melihat kearah
Luks yang masih duduk tenang
di kepalaku. Sepertinya dia menggunakan kemampuan tidak terlihatnya supaya hanya aku yang bisa melihatnya.
“Woah,
Luks Luks Luks ayo coba pakai
sepertinya juga,” bisik ku bersemangat. Dia melihat diriku
yang sangat tertarik melakukan
hal ini, yaitu menjadi detektif.
Aku
melihat yang lain—mentor, teman-teman
ku dan pribumi disini, mulai membersihkan
kekacauan yang terjadi.
Yah, sepertinya menjadi detektif bisa dilakukan
sambil membantu para pribumi membersihkan tempat ini.
“Bersih-bersih? Bukan berpetualang?” tanyaku secara spontan. Padahal sebelumnya aku sudah berniat
untuk membantu. Mendengar itu Luks menutup mulut ku
lagi dengan ekor nya.
“Puah, iya iya aku tahu
aku tahu, aku hanya mengutarakan
isi hatiku. Lagian kau juga harus membantu!” kesal ku karena tindakan
Luks yang hanya duduk di kepalaku.
“Astaga kalian jadi repot membantu. Maafkan kami ya, ada kejadian
seperti ini,” ujar seorang pribumi
merasa bersalah.
Aku
yang mendengar nya jadi tidak enak,
eh kenapa tidak enak ya? Apa
karena beliau meminta maaf padahal
bukan kesalahannya? Yah, entahlah. Toh aku
juga sudah ikut membantu membersihkan jadi tidak masalah
untuk melakukan bakti sosial. Toh,
kejadian ini juga tidak terduga.
“Ini yang namanya liburan,” ucap mentor Saaochi sambil menyeringai dan terkekeh.
“Liburan nya bersih-bersih?
Eh membantu merapikan puing? Emm, boleh
lah,” timpal ku sedikit merasa
kecewa, walau aku kecewa tapi
aku tetap mengambil serpihan-serpihan dari patung yang sudah hancur dan berserakan itu sambil sesekali memperhatikan pecahan batu yang satu persatu aku
ambil ini.
“Biar otot kuat,
siapa tau tiba-tiba nih planet diserang kan,” jawabnya sambil tertawa karir. Aku pun ikut tertawa karir mendengar
perkataan mentor Saaochi.
“Semangat,” ucapnya sambil tersenyum cerah kemudian melangkah pergi.
Aku
membalas senyumannya dan melambai. Lalu teralihkan ketika mendengar suara anak kecil
yang menangis saat dia tidak sengaja
menginjak pecahan patung.
“Apa ... Ah, jangan memikirkan hal yang lain dulu,” aku menepis
pikiran aneh ku. Saat hendak
menghampiri anak itu, aku melihat
banyak yang sudah menghampiri nya. Aku pun tersenyum dan kembali mengambil puing-puing yang masih berserakan.
“Sepertinya dia baik-baik saja, bukan?” tanyaku pada Luks, dan dia menganggukkan kepalanya ketika melihat ada seorang
pribumi lainnya yang menghampiri anak kecil itu.
“Ngomong-ngomong, rambut anak itu sama-sama
hijau seperti rambutmu. Apa jangan-jangan
kau warga asli planet ini yang tiba-tiba menghilang?” tanya Luks, yang entah benar-benar penasaran atau hanya bermain-main saja.
“Apa maksudnya itu?”
Aku kesal, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu disaat-saat
seperti ini.
“Lihat baik-baik, rambut anak-anak itu seperti rambut
Tuan, hmm oh Tuan Daeir,” ucapku
ngasal.
Luks
menatap ku sambil menghela napas, “Ingatan mu pendek ya? Tuan, siapa itu tadi? Ya
itu lah pokoknya,
dia tidak memiliki rambut berwarna hijau, yang berwarna hijau itu matanya,” timpal
Luks dengan bangga karena ingat soal
itu.
“Namanya
Tuan Daeir, kau juga sama saja tidak bisa
mengingat nama. Pokoknya anak-anak itu memiliki warna
rambut hijau muda, sedangkan aku hijau yang berbeda,” ucapku sambil berjalan ke tempat dimana
yang lain menyimpan puing-puing
yang sudah dipindahkan ke satu tempat
yang sama.
“Kau
memang tidak berniat untuk membantu,
ya?” ucapku kesal karena sejak
tadi Luks hanya duduk tenang di kepalaku sambil mengibaskan ekor nya.
“Ini juga termasuk membantu loh, membantu
memperhatikan,” jawabnya bangga. Aku mendengarnya memutarkan bola mataku malas untuk menanggapinya, jadi kubiarkan saja.
--|🧤