Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Matahari terbit seperti biasanya, mengundang kemalasan untuk bangun dari alam mimpi. Namun, ketika aku ingin kembali tertidur lagi, terdengar keributan dari luar.

 

“Pagi-pagi ada apa ya? Hoam, harusnya kan ini hari yang damai? Apa jangan-janganmemang tidak pernah ada hari yang damai?” kataku sedikit berdrama di penghujung ucapan.

 

“Kau ini kenapa sih? Kalau ada yang ribut-ribut ya di lihat apa yang terjadi, bukan malah berdramatis seperti itu,” timpal Luks sambil menatap ku malas.

 

Mendengar hal itu aku menghela napas. Benar katanya, aku harus bersiap untuk melihat apa yang terjadi di planet yang terlihat tenang ini.

 

Aku mendekati kerumunan warga di alun-alun, “Ribut-ribut sekali disini.” Aku sesekali menguap sambil melihat keadaan yang terjadi. Dengan Luks yang berada di atas kepalaku sama penasaran nya dengan diriku.

 

Haduhai, gagal liburan dong kalau begini.” Aku melihat patung-patung yang hancur, lalu ekor Luks menutup mulut ku karena menurutnya aku sudah berbicara sembarangan di tengah situasi seperti ini.

 

Perhatikan sekitar ketika sedang berbicara.” Luks membekap mulutku menggunakan ekor nya.

 

Puah, iya iya aku tahu. Aku hanya berkata apa yang aku pikirkan, dan kita ada disini sebelumnya memang karena sedang berlibur kan? Tapi yah, itu artinya perkataan ku kemarin benar. Ada sesuatu yang tidak biasa disini.” Aku memegang ekor Luks yang sebelumnya menutup mulut ku sambil memperhatikan sekitar, siapa tahu menemukan sesuatu.

 

Emang kita pernah liburan dengan tenang?” Alice menatap ku, tepat ketika aku berkomentar soal liburan, sontak aku gugup. Yahh, dia benar sih.

 

“Err, ya engga sih ... T-tapi kan kemarin katanya kita benar-benar mau liburan loh liburan!” bantah ku mencoba berpura-pura lupa kalau kami belum pernah berlibur dengan tenang sambil masih memegang ekor Luks.

 

“Kita selalu ketempelan masalah tau? Kau pikir kita akan liburan dengan tenang?” kini yang menimpali adalah Shou, senior ku. Dia menatapku dengan tatapan datar nya.

 

Eiii, jangan lah begitu. Kan kan aduhh, tolong jangan mengatan sebuah fakta dulu,” ucapku sambil berlagak sedih.

 

Kasihan.” Alice menepuk pundak ku, “Tidak ada liburan Retta,” sambungnya.

 

Seseorang tolong berhenti untuk mengatakan faktanya,” ucapku semakin sedih. Luks hanya menatapku datar, entah apa yang dia pikirkan soal aku yang bersikeras menolak liburan yang berakhir seperti ini.

 

“Aku bisa memberitahu yang mana saja kau sebut 'liburan' itu.” Shou menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjawab perkataan ku.

 

“Eh tidak tidak tidak, tidak perlu memberi tahu. Ayo kita selidiki saja masalahnya,” tolak ku. Aku tidak mau membicarakan hal itu sekarang, karena aku sudah terlalu bersedih setelah mengetahui fakta bahwa liburan kita hanya sebuah khayalan saja. Setidaknya sebelum kejadian ini terjadi, aku masih menganggap ini liburan.

 

Sudah-sudah tidak perlu sedih taa, anggap aja liburan menantang, tapi kenapa bisa hancur tiba-tiba begitu?” tanya Alice yang masih tidak paham.

 

“Nah, dari bau bau nya sih memang sudah mencurigakan sejak awal, tapiaku tidak menyangka akan seperti sekarang ini,” ujarku.

 

Sebenarnya aku pun masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi sekarang.

 

Siap-siap dipotong leher taa, ga jadi liburan,” ucap Alice menakut-nakuti ku, “Retta, penasaran ga kenapa itu?” sambungnya.

 

Eits tidak boleh begitu tidak boleh.” Aku menggerakan telunjuk ke kanan dan kiri.

 

Engga sih, soalnya kenapa ya? Aku pun tidak tahu.” Aku mengangkat bahu ku merespons pertanyaannya Alice.

 

Yahh, aku tidak takut sihuntuk sekarang. Tapi aku memang penasaran, jadi aku mengalihkan topik pembicaraan kami, “Bagaimana jika kita jadi detektif? Hehe,”

 

Luks yang juga mendengar nya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, aku sendiri tidak tahu apakah dia tidak percaya pada ku, atau dia sudah lelah dengan diriku? Yaa, untuk sekarang hanya Luks yang tahu apa ada dipikirkan nya.

 

Shou menghela napas nya, “Kau ingin menjadi detektif? Karl.” Dia memandang Karl yang telah memakai baju detektif dan di tangannya ada kaca pembesar.

 

Aku melihat Karl yang sudah seperti detektif sejati kemudian berbinar.

 

“Oh iya, jelas mau dongg! Let's go Karl kita jadi detektif. Tapi aku tidak berpikiran kita bisa memecahkan nya sekarang sih.” Aku memandang ke 4 patung yang kini sudah menjadi serpihan itu, lalu melihat kearah Luks yang masih duduk tenang di kepalaku. Sepertinya dia menggunakan kemampuan tidak terlihatnya supaya hanya aku yang bisa melihatnya.

 

“Woah, Luks Luks Luks ayo coba pakai sepertinya juga,” bisik ku bersemangat. Dia melihat diriku yang sangat tertarik melakukan hal ini, yaitu menjadi detektif.

 

Aku melihat yang lain—mentor, teman-teman ku dan pribumi disini, mulai membersihkan kekacauan yang terjadi. Yah, sepertinya menjadi detektif bisa dilakukan sambil membantu para pribumi membersihkan tempat ini.

 

Bersih-bersih? Bukan berpetualang?” tanyaku secara spontan. Padahal sebelumnya aku sudah berniat untuk membantu. Mendengar itu Luks menutup mulut ku lagi dengan ekor nya.

 

Puah, iya iya aku tahu aku tahu, aku hanya mengutarakan isi hatiku. Lagian kau juga harus membantu!” kesal ku karena tindakan Luks yang hanya duduk di kepalaku.

 

Astaga kalian jadi repot membantu. Maafkan kami ya, ada kejadian seperti ini,” ujar seorang pribumi merasa bersalah.

 

Aku yang mendengar nya jadi tidak enak, eh kenapa tidak enak ya? Apa karena beliau meminta maaf padahal bukan kesalahannya? Yah, entahlah. Toh aku juga sudah ikut membantu membersihkan jadi tidak masalah untuk melakukan bakti sosial. Toh, kejadian ini juga tidak terduga.

 

Ini yang namanya liburan,” ucap mentor Saaochi sambil menyeringai dan terkekeh.

 

Liburan nya bersih-bersih? Eh membantu merapikan puing? Emm, boleh lah,” timpal ku sedikit merasa kecewa, walau aku kecewa tapi aku tetap mengambil serpihan-serpihan dari patung yang sudah hancur dan berserakan itu sambil sesekali memperhatikan pecahan batu yang satu persatu aku ambil ini.

 

Biar otot kuat, siapa tau tiba-tiba nih planet diserang kan,” jawabnya sambil tertawa karir. Aku pun ikut tertawa karir mendengar perkataan mentor Saaochi.

 

Semangat,” ucapnya sambil tersenyum cerah kemudian melangkah pergi.

 

Aku membalas senyumannya dan melambai. Lalu teralihkan ketika mendengar suara anak kecil yang menangis saat dia tidak sengaja menginjak pecahan patung.

 

Apa ... Ah, jangan memikirkan hal yang lain dulu,” aku menepis pikiran aneh ku. Saat hendak menghampiri anak itu, aku melihat banyak yang sudah menghampiri nya. Aku pun tersenyum dan kembali mengambil puing-puing yang masih berserakan.

 

Sepertinya dia baik-baik saja, bukan?” tanyaku pada Luks, dan dia menganggukkan kepalanya ketika melihat ada seorang pribumi lainnya yang menghampiri anak kecil itu.

 

Ngomong-ngomong, rambut anak itu sama-sama hijau seperti rambutmu. Apa jangan-jangan kau warga asli planet ini yang tiba-tiba menghilang?” tanya Luks, yang entah benar-benar penasaran atau hanya bermain-main saja.

 

Apa maksudnya itu?” Aku kesal, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu disaat-saat seperti ini.

 

Lihat baik-baik, rambut anak-anak itu seperti rambut Tuan, hmm oh Tuan Daeir,” ucapku ngasal.

 

Luks menatap ku sambil menghela napas, “Ingatan mu pendek ya? Tuan, siapa itu tadi? Ya itu lah pokoknya, dia tidak memiliki rambut berwarna hijau, yang berwarna hijau itu matanya,” timpal Luks dengan bangga karena ingat soal itu.

 

“Namanya Tuan Daeir, kau juga sama saja tidak bisa mengingat nama. Pokoknya anak-anak itu memiliki warna rambut hijau muda, sedangkan aku hijau yang berbeda,” ucapku sambil berjalan ke tempat dimana yang lain menyimpan puing-puing yang sudah dipindahkan ke satu tempat yang sama.

 

“Kau memang tidak berniat untuk membantu, ya?” ucapku kesal karena sejak tadi Luks hanya duduk tenang di kepalaku sambil mengibaskan ekor nya.

 

Ini juga termasuk membantu loh, membantu memperhatikan,” jawabnya bangga. Aku mendengarnya memutarkan bola mataku malas untuk menanggapinya, jadi kubiarkan saja.

 

--|🧤