03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Saaochi
mengajak Luisa pergi ke salah satu kedai minum, segera setelah mereka
melaporkan mengenai yang terjadi pagi tadi pada Founder dan Commander. Tanggapan
tenang Pak Rhino sudah cukup membuat Saaochi paham apa yang dipikirkannya.
Namun, segala gundah di hati Saaochi aman mungkin sirna begitu saja.
“Sudah
kubilang ‘kan, untuk menangkapnya segera! Kenapa kau malah diam saja dan
mengajakku keliling pagi-pagi buta!” Luisa berujar dengan marah setelah meneguk
minumannya. Mengerutkan wajah pada Saaochi yang menggaruk pipinya salah
tingkah.
“Lagipula,
tidak semua orang berjubah hitam mencurigakan,” balas Saaochi. Kehabisan
kata-kata, karena sedari tadi Luisa terus-menerus memarahinya.
“Cih,
basi.” Luisa menyenderkan badannya pada kursi, lantas menghela napas berat.
Saaochi
menatap Luisa sejenak. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, dia agak merasa
bersalah. Tapi, ada sesuatu yang menghentikannya untuk memberitahu mengenai
penemuannya pada Founder.
Bagi
Saaochi, gerak-gerik penduduk Xeplor lebih mencurigakan ketimbang orang
berjubah hitam yang berkeliaran di sudut-sudut gelap kota. Tapi, Saaochi tetap
diam karena perlakuan semua orang tampak bersenang-senang.
“Bukankah
ini agak mencurigakan?” Saaochi berbicara sepelan mungkin. Entah mengapa
tengkuknya terasa agak hangat.
Luisa
tidak membalas, sebaliknya duduk tegap, dengan kedua tangan terletak di atas
meja. Menandakan bahwa dia mendengarkan dengan saksama.
Saaochi
mendekatkan tubuhnya dengan menopang pada satu tangan di atas meja. “Bagaimana
mungkin mereka melakukan hal ini, sementara kita para pahlawan dan bahkan bisa
dibilang penerus dari pendahulu pahlawan DianXy ada di sini?” Saaochi menjauhkan
wajahnya dari Luisa, lantas duduk dengan postur sesantai mungkin. “Aku sangat
sedih karena rasanya seperti kita tidak diterima di sini.”
Bola
mata Saaochi bergeser ke samping, berusaha memberi kode pada Luisa bahwa mereka
sedang diawasi. Sementara Luisa, segera berdeham dan menjauhkan tubuhnya dari
kawannya.
“Yah,
mau bagaimanapun, kita tidak mungkin bisa menjadi seperti para pendahulu kita
yang sangat amat hebat itu. Meski begitu, sudah ada yang mengakui keberadaan
kita saja sudah membuatku bersyukur, Luisa.”
Luisa
angguk-angguk, menyetujui. “Kau benar. Kita bukan para Pendahulu, tapi kita
bisa melakukan yang terbaik.”
Seorang
pelayan berjalan ke arah mereka, membawa senampan yang berisi dua cangkir
minuman.
“Maaf,
kami tidak memesan minuman lagi,” ujar Saaochi, tampilkan senyum tipis di
wajahnya.
Sedangkan
si pelayan hanya menggeleng cepat, balas senyuman Saaochi yang masih terpatri
di wajahnya. “Ini traktiran dari saya, kalian adalah Pahlawan yang melindungi
kami semua, setidaknya hanya ini yang bisa saya berikan.”
“Terima
kasih banyak.” Saaochi segera berdiri dan menunduk sebagai tanda terima kasih.
“Anda tidak perlu melakukannya, kami melindungi galaksi karena sudah menjadi
kewajiban bagi kami. Saya akan tetap membayarnya.”
“Jangan
begitu.” Pelayan meletakkan minuman ke atas meja, memeluk nampan di dada lantas
tatap Saaochi kembali dengan senyuman. “Ada kejadian buruk pagi ini dan saya
dengar kalian melihat kejadian secara langsung, pasti kalian sangat syok.”
“Tidak,
kami baik-baik saja.”
“Aku
syok kok,” celetuk Luisa, tepat setelah Saaochi selesai bicara.
Saaochi
berusaha mempertahankan senyumnya dan tangannya agar tidak melempar cangkir ke
arah temannya itu.
“Sudah
saya duga.” Tampaknya si pelayan menganggap celetukan Luisa serius. “Maafkan
kami kunjungan kalian ke sini menjadi tidak menyenangkan.”
“Tidak,
itu bukan salah kalian—“
Belum
sempat Saaochi menyelesaikan bicaranya, pergelangan tangannya diraih. Saaochi
tersentak kaget, menahan napasnya berusaha agar durinya tidak tumbuh tiba-tiba.
“Kami
akan memastikan tidak ada kejadian buruk lainnya. Jadi, tolong nikmati sisa
kalian semua di sini.” Si pelayan menarik dua ujung bibirnya, tersenyum hingga
kedua matanya menyipit. “Semoga kalian semua selalu diberkati kebahagiaan dan
keselamatan oleh Tuhan.”
“Oh—terima
kasih.”
Si
pelayan membungkuk sedikit, lantas berbalik pergi setelah ucapkan selamat
tinggal.
“Dia
aneh,” komentar Luisa, berbisik di dekat telinga Saaochi.
“Memang.”
-•Bersambung•-