Isi Cerita
Saaochi

Saaochi mengajak Luisa pergi ke salah satu kedai minum, segera setelah mereka melaporkan mengenai yang terjadi pagi tadi pada Founder dan Commander. Tanggapan tenang Pak Rhino sudah cukup membuat Saaochi paham apa yang dipikirkannya. Namun, segala gundah di hati Saaochi aman mungkin sirna begitu saja.

 

“Sudah kubilang ‘kan, untuk menangkapnya segera! Kenapa kau malah diam saja dan mengajakku keliling pagi-pagi buta!” Luisa berujar dengan marah setelah meneguk minumannya. Mengerutkan wajah pada Saaochi yang menggaruk pipinya salah tingkah.

 

“Lagipula, tidak semua orang berjubah hitam mencurigakan,” balas Saaochi. Kehabisan kata-kata, karena sedari tadi Luisa terus-menerus memarahinya.

 

“Cih, basi.” Luisa menyenderkan badannya pada kursi, lantas menghela napas berat.

 

Saaochi menatap Luisa sejenak. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, dia agak merasa bersalah. Tapi, ada sesuatu yang menghentikannya untuk memberitahu mengenai penemuannya pada Founder.

 

Bagi Saaochi, gerak-gerik penduduk Xeplor lebih mencurigakan ketimbang orang berjubah hitam yang berkeliaran di sudut-sudut gelap kota. Tapi, Saaochi tetap diam karena perlakuan semua orang tampak bersenang-senang.

 

“Bukankah ini agak mencurigakan?” Saaochi berbicara sepelan mungkin. Entah mengapa tengkuknya terasa agak hangat.

 

Luisa tidak membalas, sebaliknya duduk tegap, dengan kedua tangan terletak di atas meja. Menandakan bahwa dia mendengarkan dengan saksama.

 

Saaochi mendekatkan tubuhnya dengan menopang pada satu tangan di atas meja. “Bagaimana mungkin mereka melakukan hal ini, sementara kita para pahlawan dan bahkan bisa dibilang penerus dari pendahulu pahlawan DianXy ada di sini?” Saaochi menjauhkan wajahnya dari Luisa, lantas duduk dengan postur sesantai mungkin. “Aku sangat sedih karena rasanya seperti kita tidak diterima di sini.”

 

Bola mata Saaochi bergeser ke samping, berusaha memberi kode pada Luisa bahwa mereka sedang diawasi. Sementara Luisa, segera berdeham dan menjauhkan tubuhnya dari kawannya.

 

“Yah, mau bagaimanapun, kita tidak mungkin bisa menjadi seperti para pendahulu kita yang sangat amat hebat itu. Meski begitu, sudah ada yang mengakui keberadaan kita saja sudah membuatku bersyukur, Luisa.”

 

Luisa angguk-angguk, menyetujui. “Kau benar. Kita bukan para Pendahulu, tapi kita bisa melakukan yang terbaik.”

 

Seorang pelayan berjalan ke arah mereka, membawa senampan yang berisi dua cangkir minuman.

 

“Maaf, kami tidak memesan minuman lagi,” ujar Saaochi, tampilkan senyum tipis di wajahnya.

 

Sedangkan si pelayan hanya menggeleng cepat, balas senyuman Saaochi yang masih terpatri di wajahnya. “Ini traktiran dari saya, kalian adalah Pahlawan yang melindungi kami semua, setidaknya hanya ini yang bisa saya berikan.”

 

“Terima kasih banyak.” Saaochi segera berdiri dan menunduk sebagai tanda terima kasih. “Anda tidak perlu melakukannya, kami melindungi galaksi karena sudah menjadi kewajiban bagi kami. Saya akan tetap membayarnya.”

 

“Jangan begitu.” Pelayan meletakkan minuman ke atas meja, memeluk nampan di dada lantas tatap Saaochi kembali dengan senyuman. “Ada kejadian buruk pagi ini dan saya dengar kalian melihat kejadian secara langsung, pasti kalian sangat syok.”

 

“Tidak, kami baik-baik saja.”

 

“Aku syok kok,” celetuk Luisa, tepat setelah Saaochi selesai bicara.

 

Saaochi berusaha mempertahankan senyumnya dan tangannya agar tidak melempar cangkir ke arah temannya itu.

 

“Sudah saya duga.” Tampaknya si pelayan menganggap celetukan Luisa serius. “Maafkan kami kunjungan kalian ke sini menjadi tidak menyenangkan.”

 

“Tidak, itu bukan salah kalian—“

 

Belum sempat Saaochi menyelesaikan bicaranya, pergelangan tangannya diraih. Saaochi tersentak kaget, menahan napasnya berusaha agar durinya tidak tumbuh tiba-tiba.

 

“Kami akan memastikan tidak ada kejadian buruk lainnya. Jadi, tolong nikmati sisa kalian semua di sini.” Si pelayan menarik dua ujung bibirnya, tersenyum hingga kedua matanya menyipit. “Semoga kalian semua selalu diberkati kebahagiaan dan keselamatan oleh Tuhan.”

 

“Oh—terima kasih.”

 

Si pelayan membungkuk sedikit, lantas berbalik pergi setelah ucapkan selamat tinggal.

 

“Dia aneh,” komentar Luisa, berbisik di dekat telinga Saaochi.

 

“Memang.”

 

-•Bersambung•-