03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Arc 2 Heretical Sects
Chapter 4 They Appear
Di pagi buta, Maula terbangun cukup pagi oleh suara angin yang merayap masuk melalui
celah jendela kamar penginapan. Udara dingin menggigit kulitnya, tapi ia tidak keberatan.
Dalam suasana yang sepi, hanya terdengar
desahan napasnya yang perlahan menenangkan. Maula memandang ke luar
jendela, menyaksikan awan pagi yang mulai merona merah
keemas an, menandakan matahari
segera terbit.
Dia
menarik napas panjang, merasakan udara pagi yang segar sambil terduduk diam, membiarkan pikirannya mengembara. Namun pemikirannya buyar begitu mendapatkan sebuah pesan melalui
alat komunikasinya, pesan tersebut berasal dari salah satu mentor yaitu Saaochi.
Maula membaca
pesan darinya secara perlahan. Pesan tersebut berisikan, “Ada orang-orang berjubah
hitam mencurigakan yang pergi ke alun-alun
dan menghancurkan empat buah patung yang ada di monument itu dalam keadaan hancur.”
Maula terkejut
membaca pesan itu. Matanya terbelalak.
Bagi penduduk planet Xeplor, patung-patung di alun-alun bukan hanya sekedar benda
biasa, melainkan simbol dewa dan dewi.
Tanpa
pikir panjang, Maula langsung bergegas bangkit dari tempat
tidur. Ia membuka lemari dengan cukup tergesa,
memakai pakaiannya setelah mandi. Tentu saja ia harus
segera menuju ke kamar Rhino untuk memberi tahu
tentang kejadian ini.
Maula segera
bergerak ke arah pintu kamar.
Ketika pintu ia buka, di hadapannya berdiri Geist. Matanya yang tajam menyapu sekeliling
ruangan sebelum akhirnya bertemu dengan maa Maula. “Pagi,” kata Geist, suaranya
yang tenang namun penuh makna.
Maula sedikit
terkejut. “Kau membuatku terkejut, Geist.” Maula segera menutup pintu setelah
dirinya keluar dari kamar, ia
hendak bergegas menuju kamar Rhino. “Maula…”
“Geist, maaf.
Aku tidak bisa bicara sekarang. Ada yang terjadi di alun-alun. Aku harus menemui Rhino.” Jawab
Maula.
“Alun-alun?”
Geist melangkahkan kakinya hingga ia berjalan
bersampingan bersamanya. “Maksudmu pesan dari Saaochi?”
Maula mengangguk.
“Sekelompok orang berjubah hitam menghancurkan patung-patung di alun-alun. Aku harus ke kamar
Rhino. Pasti ada sesuatu dibalik ini.”
“Sudah kuduga…” gumam Geist. “Kalau begitu kau temui saja Rhino. Aku akan mencoba mencari
tahu.” Lanjut Geist membuat Maula sedikit tersenyum. “Baiklah, berhati-hati.” Geist pun menghilang
dari sampingnya.
Setibanya di kamar Rhino, Maula segera membuka pintu tersebut
dengan ekspresi yang masih ia gunakan
sebelumnya. Terkejut.
“Rhino!”
.
.
.
Sepanjang
pagi hingga siang, mereka berdua
membahasnya. "Sepertinya
kejadian ini tak begitu mengejutkanmu,
ya, Rhino," ujar
Maula. Mendengar itu, Rhino
hanya tersenyum tipis.
Maula, yang biasanya
terbangun pagi dengan tenang, kali ini terkejut mendengar
kabar kericuhan yang terjadi di alun-alun ibukota. Setelah mendengar laporan dari Saaochi
dan Luisa yang kebetulan berada
di tempat kejadian, ia langsung menuju
kamar Rhino untuk melaporkan peristiwa yang sedang berlangsung.
Namun,
yang ia temui justru tampak berbeda.
Rhino terlihat sangat tenang.
"Jangan
salah paham dulu, Kak
Maula. Aku sudah mendengar ini dari Tuan Daeir
sebelumnya. Memang benar, itu ulah
orang-orang berjubah hitam
yang dilihat oleh Luisa dan Saaochi.
Mereka disebut sebagai sekte sesat
di sini," jelas Rhino.
"Sekte
sesat? Di tempat yang
sangat menjunjung tinggi
agama seperti ini?" Maula
tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Bagaimana bisa begitu?"
Rhino mengangkat
bahu. "Tuan Daeir hanya
memberitahuku itu. Tapi tidakkah Kak
Maula penasaran kenapa mereka berani menghancurkan
patung itu, bahkan dengan adanya
organisasi pahlawan seperti kita di sini?"
Maula semakin
penasaran. "Kenapa?"
"Karena patung-patung
simbolis dewa-dewi di alun-alun itu sebenarnya
adalah penghormatan kepada empat mentor DianXy terdahulu," jelas Rhino, tersenyum hangat sambil mengubah
posisi duduknya. "Dan kita, sebagai organisasi
DianXy yang baru, ternyata tak diterima
oleh mereka."