Isi Cerita
Maula Syndulla

Arc 2 Heretical Sects

Chapter 4 They Appear

 

Di pagi buta, Maula terbangun cukup pagi oleh suara angin yang merayap masuk melalui celah jendela kamar penginapan. Udara dingin menggigit kulitnya, tapi ia tidak keberatan. Dalam suasana yang sepi, hanya terdengar desahan napasnya yang perlahan menenangkan. Maula memandang ke luar jendela, menyaksikan awan pagi yang mulai merona merah keemas an, menandakan matahari segera terbit.

Dia menarik napas panjang, merasakan udara pagi yang segar sambil terduduk diam, membiarkan pikirannya mengembara. Namun pemikirannya buyar begitu mendapatkan sebuah pesan melalui alat komunikasinya, pesan tersebut berasal dari salah satu mentor yaitu Saaochi.

Maula membaca pesan darinya secara perlahan. Pesan tersebut berisikan, “Ada orang-orang berjubah hitam mencurigakan yang pergi ke alun-alun dan menghancurkan empat buah patung yang ada di monument itu dalam keadaan hancur.”

Maula terkejut membaca pesan itu. Matanya terbelalak. Bagi penduduk planet Xeplor, patung-patung di alun-alun bukan hanya sekedar benda biasa, melainkan simbol dewa dan dewi.

Tanpa pikir panjang, Maula langsung bergegas bangkit dari tempat tidur. Ia membuka lemari dengan cukup tergesa, memakai pakaiannya setelah mandi. Tentu saja ia harus segera menuju ke kamar Rhino untuk memberi tahu tentang kejadian ini.

Maula segera bergerak ke arah pintu kamar. Ketika pintu ia buka, di hadapannya berdiri Geist. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya bertemu dengan maa Maula. “Pagi,” kata Geist, suaranya yang tenang namun penuh makna.

Maula sedikit terkejut. “Kau membuatku terkejut, Geist.” Maula segera menutup pintu setelah dirinya keluar dari kamar, ia hendak bergegas menuju kamar Rhino. “Maula…”

“Geist, maaf. Aku tidak bisa bicara sekarang. Ada yang terjadi di alun-alun. Aku harus menemui Rhino.” Jawab Maula.

“Alun-alun?” Geist melangkahkan kakinya hingga ia berjalan bersampingan bersamanya. “Maksudmu pesan dari Saaochi?”

Maula mengangguk. “Sekelompok orang berjubah hitam menghancurkan patung-patung di alun-alun. Aku harus ke kamar Rhino. Pasti ada sesuatu dibalik ini.”

Sudah kuduga…” gumam Geist. “Kalau begitu kau temui saja Rhino. Aku akan mencoba mencari tahu.” Lanjut Geist membuat Maula sedikit tersenyum. “Baiklah, berhati-hati.” Geist pun menghilang dari sampingnya.

 Setibanya di kamar Rhino, Maula segera membuka pintu tersebut dengan ekspresi yang masih ia gunakan sebelumnya. Terkejut. “Rhino!”

.

.

.

Sepanjang pagi hingga siang, mereka berdua membahasnya. "Sepertinya kejadian ini tak begitu mengejutkanmu, ya, Rhino," ujar Maula. Mendengar itu, Rhino hanya tersenyum tipis.

Maula, yang biasanya terbangun pagi dengan tenang, kali ini terkejut mendengar kabar kericuhan yang terjadi di alun-alun ibukota. Setelah mendengar laporan dari Saaochi dan Luisa yang kebetulan berada di tempat kejadian, ia langsung menuju kamar Rhino untuk melaporkan peristiwa yang sedang berlangsung.

Namun, yang ia temui justru tampak berbeda. Rhino terlihat sangat tenang.

"Jangan salah paham dulu, Kak Maula. Aku sudah mendengar ini dari Tuan Daeir sebelumnya. Memang benar, itu ulah orang-orang berjubah hitam yang dilihat oleh Luisa dan Saaochi. Mereka disebut sebagai sekte sesat di sini," jelas Rhino.

"Sekte sesat? Di tempat yang sangat menjunjung tinggi agama seperti ini?" Maula tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Bagaimana bisa begitu?"

Rhino mengangkat bahu. "Tuan Daeir hanya memberitahuku itu. Tapi tidakkah Kak Maula penasaran kenapa mereka berani menghancurkan patung itu, bahkan dengan adanya organisasi pahlawan seperti kita di sini?"

Maula semakin penasaran. "Kenapa?"

"Karena patung-patung simbolis dewa-dewi di alun-alun itu sebenarnya adalah penghormatan kepada empat mentor DianXy terdahulu," jelas Rhino, tersenyum hangat sambil mengubah posisi duduknya. "Dan kita, sebagai organisasi DianXy yang baru, ternyata tak diterima oleh mereka."