03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Pagi hari yang seharusnya tenang dan
damai diganggu sebuah kebisingan di lingkungan luar membangunkan para anggota
Dianxy dengan tanda tanya besar.
Pemuda bersayap burung terbangun
dengan perasaan kesal saat ia mengucek matanya. "Kenapa ribut
sekali?" tanyanya. Dia berdiri dan mencoba melangkah ke sumber suara
tersebut, "Sesuatu yang aneh terjadi?"
Langkah kakinya membawa dirinya
keluar untuk bertemu mentor di sekitar lokasi kejadian. "Apa yang terjadi
mentor?" tanya Shou lalu ia mengintip menyimak ada sebuah serpihan dari
batu ia mendongakkan kepalanya memandang empat buah patung dan salah satunya
hancur. "Patung hancur?" ucap pemuda itu penuh kebingungan.
Mentor yang bersurai putih sama
dengan Shou menganggukkan kepala, "Itu berhala mereka hancur, tidak tahu
penyebabnya apa," jawabnya. Shou kaget mendengar perkataan mentornya,
"Berhala hancur? Ada seseorang yang melakukan ini, tidak mungkin berhala
tersebut hancur sendiri ..., " gumam pemuda sambil berpikir.
Mentor menjawab, "Ya mungkin saja
ini sebuah peringatan untuk kita semua," balasnya. "Pihak lain
sepertinya mencoba memancing ya? Entah untuk apa tujuan ini." Jarinya
tergerak untuk memijit dahinya.
Suasana sekitar semakin berisik dengan
banyaknya perkataan keluar dari mulut ke mulut hanya membuat Shou pusing sesaat
sebuah suara gadis memecahkan isi pikirannya. "Ada apa?" tanya sang
gadis yang rupanya Alice menyebabkan Shou terkesiap sesaat sebelum menarik
nafasnya lalu membuangnya.
"Kata Mentor Luisa berhala
planet ini hancur. Aku ingin melihatnya lebih jelas," jawab Shou
mengutarakan keinginannya. Alice kebingungan, "Hah? Berhala? Kok
bisa?" tanyanya bertubi-tubi mencoba mencerna perkataan pemuda.
"Begini, ada berhala hancur dan
itu disebabkan oleh pihak yang merencanakan hal buruk dan ini mungkin
peringatan buat kita juga," ucapnya serius saat memandang keluar untuk
melihat patung tersebut.
"Owalah, paham-paham. Apa orang
jahat itu tidak suka?" kata Alice menebak-nebak. "Kemungkinan iya.
Tetapi itu ganjal karena mereka melakukannya sekarang, tepat sekali setelah
kedatangan kita. Kalau dipikir pikir kita akan terkena musibah," jelasnya
menyilangkan lengannya.
"Haduhai, gagal liburan dong
kalau begini," gerutu sang gadis bernama Naretta. "Memang kita pernah
liburan dengan tenang?" balas balik Alice menatap perempuan itu.
"Err ya enggak sih ... t-tapi
kan kemarin katanya kita benar-benar mau liburan loh! liburan!" sahut
perempuan itu mencoba mengelak. Shou memandang Naretta dengan tatapan datar,
"Kita selalu ketempelan masalah tau? Kau pikir kita akan liburan dengan
tenang?" lontar Shou mengatakan apa yang sudah selalu terjadi akhir-akhir
ini.
"Ey, jangan lah begitu. Kan kan aduh plis tolong
jangan berkata fakta dulu." Berlagak sedih. "Seseorang tolong jangan
mengatakan faktanya," berucap sedih.
Shou mendekat menundukkan kepalanya
hingga sejajar dengan tinggi badan perempuan tersebut. "Aku bisa
memberitahu yang mana saja kau sebut 'liburan' itu." Menggelengkan kepala.
"Eh tidak tidak tidak, tidak
perlu memberi tahu. Ayo kita selidiki saja masalahnya," lontar mendadak
berusaha mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana jika kita jadi
detektif?" Terkekeh.
Shou menghembuskan nafas beranggapan
malas. "Kau ingin menjadi detektif? Karl," panggil Shou sesaat
memandang Karl yang telah memakai baju detektif dan di tangannya ada kaca
pembesar.
"Oh iya, jelas mau dong! Let's
go Karl kita jadi detektif. Tapi aku tidak berpikiran kita bisa memecahkan nya
sekarang sih," katanya mengucap isi pikirannya.
Shou membiarkan Karl bermain sejenak
dengan gadis hijau tersebut. Ia menyimak saat yang lain sibuk berspekulasi yang
terjadi sesaat ia sedikit menguping salah satu pembicaraan dua lelaki.
"Saya curiga ada beberapa orang
yang tersinggung dengan kehadiran orang asing seperti kita. Kalau gitu kenapa?
Apa motivasi mereka?" wajahnya serius.
Shou yang seolah terpancing mendekat
dan memotong pembicaraan mereka. "Mengkambing hitamkan," tebaknya.
"Saya hanya menebak,"
tanggapnya. "Kalau gitu opsinya kedua. Ada konflik yang sedang terjadi
disini, tapi disembunyikan," katanya memikirkan kemungkinan lain sesaat
suara hentikan jari terdengar.
"Itu pernyataan yang bagus
Dolf!" puji Shou setuju. "Karena ini ada saku pautnya dengan ketua
dan ketua planet ini".
"Ada yang melihat kemana
perginya Kak Rhino?" Suara lelaki menanyakan keberadaan sang ketua mereka
yaitu Rhino. Shou menyilangkan kedua lengan menjawab, "Kau pikir kami
tahu? Tentu saja tidak. Jika mereka tahu bahwa ketua dimana pasti mereka tidak
akan memberi tahu," jawab Shou muak dengan hal yang terjadi kali ini.
Dibalas balik oleh lelaki tersebut.
"Iya sih ... tapi janggal sekali".
Meskipun ada kekacauan di pagi hari.
Para penduduk pun langsung membersihkan tempat tersebut dan menyingkirkan
puing-puing patung yang rusak. Dan beberapa anggota DianXy dengan penuh
inisiatif pun membantu mereka untuk membersihkan alun-alun tersebut.
"Woi Karl bantuin apa?"
Menatap Karl yang hanya duduk tersenyum santai tidak peduli tuannya yang
memanggil dirinya. Shou mendecit kesal.
"Serius nih? Kupikir kita akan
menyelidiki?" gerutunya memungut puing puing patung tersebut dengan malas.
"Menyelidiki apa?" ujar Alice di sampingnya ikut membantu.
Shou menjawab, "Menyelidiki
kejadian ini. Kupikir akan seru karena aku bisa menggunakan sayapku untuk
terbang mencari penyebab utama namun .... " Menghembuskan nafas kecewa
menatap kebawah ke arah puing puing dengan malas.
"Terbang mulu, ditembak
tiba-tiba jatuh kan sakit. Kenapa menatap malas?" nada mengejek dan
bingung ke arah Shou. Pemuda tersebut menjelaskan, "Aku suka berkelana dan
aku tidak suka di perangkap. Itu seperti aku akan membusuk di sebuah kandang
burung," jelasnya saat menggelengkan kepala.
Alice berdeham saja, "Dah Shou
lebih baik bersihkan puing itu saja." Menepuk pundak Shou keras. Shou
mendengus sebal.
Seorang bocah laki-laki meloncat kaget
saat tak sengaja menginjak pecahan patung. "Eh aku menginjak dewi-- ah
aduh maafkan aku Tuhan .... " Mengambil pecahan yang tak sengaja di injak
sambil menangis.
Aideen dan di sampingnya Shou yang
sudah bosan ikut gotong royong ikut memperhatikan. "Berlebihan sekali
reaksinya," gumamnya. Shou melirik sekilas, "Ya begitulah".
"Apa ini karena aku tidak
percaya dengan adanya Tuhan ya ... memangnya bagi kalian yang mempercayai Tuhan
akan bereaksi sama seperti anak itu ya?" Berpikir sambil terus memungut
puing-puing.
"Kau pikir aku tahu? Coba
tanyakan yang lain," ucapnya datar sambil membuang jauh di tempat puing
itu dikumpulkan. Aideen hanya menghela nafas.
Shou memandang sekitar mencari
pecahan puing tersisa hingga ia sekilas melirik Sienna penasaran, apa yang
membuat tatapannya begitu aneh?
"Tatapan apa apaan itu
Sienna?" tanyanya memperhatikan gerak-geriknha saat dirinya selesai
meletakkan puing itu jauh. Sienna hanya menoleh tidak merespon. Terkejut dengan
tidak ada respon, "Sepertinya menyembunyikan ya? Tapi baiklah".
Telinga elf bergerak secara alami
ada suara mengenai sekte sekte sesat.
"Begitulah. Tuan Daeir
mengatakan bahwa mereka adalah sekte sesat yang sangat membenci dewa-dewi kami.
Kami tidak terlalu mengetahuinya karena tidak pernah ada berita besar
tentangnya."
Shou mengulurkan tangan kearah bahu
penduduk tersebut. "Mereka disini sudah sejak kapan? Kelihatannya mereka
bersembunyi dalam kelompok kalian," tanya Shou berharap ada sesuatu yang
berguna untuk dipikirkan.
Penduduk itu berucap, "Saya
tidak tahu itu".
Shou memijit dahi dengan
jari-jarinya. "Gitu ya?" ungkapnya. "Hayolo, buntukan,"
Kata gadis dari belakang Shou.
Lengan Shou tergerak Meletakkan jari
telunjuknya di bibir gadis itu menyuruh diam sambil berdesis. "Ini namanya
mencari jejak tersembunyi," elaknya. "Heh! Tangannya" Mengawasi
tangan Shou.
"Apa yg Shou dapat?" tanya
Alice. Shou mulai menjelaskan, "Salah satu penduduk mengatakan sekte sesat
ini sudah berada disini dan ku pikir itu cukup lama. Dan ketua dari planet ini
memutuskan memanggil Dianxy. Aku tidak tau apa isi pikiran mereka."
Berpikir tentang kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.