Isi Cerita
Shou Masayoshi

Arc 02 Chapter 04

 

Pagi hari yang seharusnya tenang dan damai diganggu sebuah kebisingan di lingkungan luar membangunkan para anggota Dianxy dengan tanda tanya besar.

Pemuda bersayap burung terbangun dengan perasaan kesal saat ia mengucek matanya. "Kenapa ribut sekali?" tanyanya. Dia berdiri dan mencoba melangkah ke sumber suara tersebut, "Sesuatu yang aneh terjadi?"

Langkah kakinya membawa dirinya keluar untuk bertemu mentor di sekitar lokasi kejadian. "Apa yang terjadi mentor?" tanya Shou lalu ia mengintip menyimak ada sebuah serpihan dari batu ia mendongakkan kepalanya memandang empat buah patung dan salah satunya hancur. "Patung hancur?" ucap pemuda itu penuh kebingungan.

Mentor yang bersurai putih sama dengan Shou menganggukkan kepala, "Itu berhala mereka hancur, tidak tahu penyebabnya apa," jawabnya. Shou kaget mendengar perkataan mentornya, "Berhala hancur? Ada seseorang yang melakukan ini, tidak mungkin berhala tersebut hancur sendiri ..., " gumam pemuda sambil berpikir.

Mentor menjawab, "Ya mungkin saja ini sebuah peringatan untuk kita semua," balasnya. "Pihak lain sepertinya mencoba memancing ya? Entah untuk apa tujuan ini." Jarinya tergerak untuk memijit dahinya.

 Suasana sekitar semakin berisik dengan banyaknya perkataan keluar dari mulut ke mulut hanya membuat Shou pusing sesaat sebuah suara gadis memecahkan isi pikirannya. "Ada apa?" tanya sang gadis yang rupanya Alice menyebabkan Shou terkesiap sesaat sebelum menarik nafasnya lalu membuangnya.

"Kata Mentor Luisa berhala planet ini hancur. Aku ingin melihatnya lebih jelas," jawab Shou mengutarakan keinginannya. Alice kebingungan, "Hah? Berhala? Kok bisa?" tanyanya bertubi-tubi mencoba mencerna perkataan pemuda.

"Begini, ada berhala hancur dan itu disebabkan oleh pihak yang merencanakan hal buruk dan ini mungkin peringatan buat kita juga," ucapnya serius saat memandang keluar untuk melihat patung tersebut.

"Owalah, paham-paham. Apa orang jahat itu tidak suka?" kata Alice menebak-nebak. "Kemungkinan iya. Tetapi itu ganjal karena mereka melakukannya sekarang, tepat sekali setelah kedatangan kita. Kalau dipikir pikir kita akan terkena musibah," jelasnya menyilangkan lengannya.

"Haduhai, gagal liburan dong kalau begini," gerutu sang gadis bernama Naretta. "Memang kita pernah liburan dengan tenang?" balas balik Alice menatap perempuan itu.

"Err ya enggak sih ... t-tapi kan kemarin katanya kita benar-benar mau liburan loh! liburan!" sahut perempuan itu mencoba mengelak. Shou memandang Naretta dengan tatapan datar, "Kita selalu ketempelan masalah tau? Kau pikir kita akan liburan dengan tenang?" lontar Shou mengatakan apa yang sudah selalu terjadi akhir-akhir ini.

"Ey,  jangan lah begitu. Kan kan aduh plis tolong jangan berkata fakta dulu." Berlagak sedih. "Seseorang tolong jangan mengatakan faktanya," berucap sedih.

Shou mendekat menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan tinggi badan perempuan tersebut. "Aku bisa memberitahu yang mana saja kau sebut 'liburan' itu." Menggelengkan kepala.

"Eh tidak tidak tidak, tidak perlu memberi tahu. Ayo kita selidiki saja masalahnya," lontar mendadak berusaha mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana jika kita jadi detektif?" Terkekeh.

Shou menghembuskan nafas beranggapan malas. "Kau ingin menjadi detektif? Karl," panggil Shou sesaat memandang Karl yang telah memakai baju detektif dan di tangannya ada kaca pembesar.

"Oh iya, jelas mau dong! Let's go Karl kita jadi detektif. Tapi aku tidak berpikiran kita bisa memecahkan nya sekarang sih," katanya mengucap isi pikirannya.

Shou membiarkan Karl bermain sejenak dengan gadis hijau tersebut. Ia menyimak saat yang lain sibuk berspekulasi yang terjadi sesaat ia sedikit menguping salah satu pembicaraan dua lelaki.

"Saya curiga ada beberapa orang yang tersinggung dengan kehadiran orang asing seperti kita. Kalau gitu kenapa? Apa motivasi mereka?" wajahnya serius.

Shou yang seolah terpancing mendekat dan memotong pembicaraan mereka. "Mengkambing hitamkan," tebaknya.

"Saya hanya menebak," tanggapnya. "Kalau gitu opsinya kedua. Ada konflik yang sedang terjadi disini, tapi disembunyikan," katanya memikirkan kemungkinan lain sesaat suara hentikan jari terdengar.

"Itu pernyataan yang bagus Dolf!" puji Shou setuju. "Karena ini ada saku pautnya dengan ketua dan ketua planet ini".

"Ada yang melihat kemana perginya Kak Rhino?" Suara lelaki menanyakan keberadaan sang ketua mereka yaitu Rhino. Shou menyilangkan kedua lengan menjawab, "Kau pikir kami tahu? Tentu saja tidak. Jika mereka tahu bahwa ketua dimana pasti mereka tidak akan memberi tahu," jawab Shou muak dengan hal yang terjadi kali ini.

Dibalas balik oleh lelaki tersebut. "Iya sih ... tapi janggal sekali".

Meskipun ada kekacauan di pagi hari. Para penduduk pun langsung membersihkan tempat tersebut dan menyingkirkan puing-puing patung yang rusak. Dan beberapa anggota DianXy dengan penuh inisiatif pun membantu mereka untuk membersihkan alun-alun tersebut.

"Woi Karl bantuin apa?" Menatap Karl yang hanya duduk tersenyum santai tidak peduli tuannya yang memanggil dirinya. Shou mendecit kesal.

"Serius nih? Kupikir kita akan menyelidiki?" gerutunya memungut puing puing patung tersebut dengan malas. "Menyelidiki apa?" ujar Alice di sampingnya ikut membantu.

Shou menjawab, "Menyelidiki kejadian ini. Kupikir akan seru karena aku bisa menggunakan sayapku untuk terbang mencari penyebab utama namun .... " Menghembuskan nafas kecewa menatap kebawah ke arah puing puing dengan malas.

"Terbang mulu, ditembak tiba-tiba jatuh kan sakit. Kenapa menatap malas?" nada mengejek dan bingung ke arah Shou. Pemuda tersebut menjelaskan, "Aku suka berkelana dan aku tidak suka di perangkap. Itu seperti aku akan membusuk di sebuah kandang burung," jelasnya saat menggelengkan kepala.

Alice berdeham saja, "Dah Shou lebih baik bersihkan puing itu saja." Menepuk pundak Shou keras. Shou mendengus sebal.

Seorang bocah laki-laki meloncat kaget saat tak sengaja menginjak pecahan patung. "Eh aku menginjak dewi-- ah aduh maafkan aku Tuhan .... " Mengambil pecahan yang tak sengaja di injak sambil menangis.

Aideen dan di sampingnya Shou yang sudah bosan ikut gotong royong ikut memperhatikan. "Berlebihan sekali reaksinya," gumamnya. Shou melirik sekilas, "Ya begitulah".

"Apa ini karena aku tidak percaya dengan adanya Tuhan ya ... memangnya bagi kalian yang mempercayai Tuhan akan bereaksi sama seperti anak itu ya?" Berpikir sambil terus memungut puing-puing.

"Kau pikir aku tahu? Coba tanyakan yang lain," ucapnya datar sambil membuang jauh di tempat puing itu dikumpulkan. Aideen hanya menghela nafas.

Shou memandang sekitar mencari pecahan puing tersisa hingga ia sekilas melirik Sienna penasaran, apa yang membuat tatapannya begitu aneh?

"Tatapan apa apaan itu Sienna?" tanyanya memperhatikan gerak-geriknha saat dirinya selesai meletakkan puing itu jauh. Sienna hanya menoleh tidak merespon. Terkejut dengan tidak ada respon, "Sepertinya menyembunyikan ya? Tapi baiklah".

Telinga elf bergerak secara alami ada suara mengenai sekte sekte sesat.

"Begitulah. Tuan Daeir mengatakan bahwa mereka adalah sekte sesat yang sangat membenci dewa-dewi kami. Kami tidak terlalu mengetahuinya karena tidak pernah ada berita besar tentangnya."

Shou mengulurkan tangan kearah bahu penduduk tersebut. "Mereka disini sudah sejak kapan? Kelihatannya mereka bersembunyi dalam kelompok kalian," tanya Shou berharap ada sesuatu yang berguna untuk dipikirkan.

Penduduk itu berucap, "Saya tidak tahu itu".

Shou memijit dahi dengan jari-jarinya. "Gitu ya?" ungkapnya. "Hayolo, buntukan," Kata gadis dari belakang Shou.

Lengan Shou tergerak Meletakkan jari telunjuknya di bibir gadis itu menyuruh diam sambil berdesis. "Ini namanya mencari jejak tersembunyi," elaknya. "Heh! Tangannya" Mengawasi tangan Shou.

"Apa yg Shou dapat?" tanya Alice. Shou mulai menjelaskan, "Salah satu penduduk mengatakan sekte sesat ini sudah berada disini dan ku pikir itu cukup lama. Dan ketua dari planet ini memutuskan memanggil Dianxy. Aku tidak tau apa isi pikiran mereka." Berpikir tentang kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.