03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Rhino yang sedang sendirian itu
dihampiri oleh seorang pria paruh baya. Ia menyapa dengan penuh hormat, bahkan
diikuti oleh beberapa orang yang sama ramahnya—terlihat dari wajahnya.
“Selamat siang, tuan.”
“Selamat siang juga. Maaf jika saya
tidak mengenali, apakah anda adalah pemimpin di planet ini?”
Pria paruh baya itu tertawa. Ia lalu
berkata, “Benar, saya adalah kepala planet ini. Astaga, di mana sopan santunku?
Maafkan saya yang terlambat memperkenalkan diri, nama saya Daeir. Terima kasih
telah memenuhi undangan dari planet kecil kami.”
Daeir menjulurkan tangan, Rhino tidak
langsung menyalami tangan tersebut. Setelah itu, ia menjabat tangan tua
tersebut dengan lembut. “Sama-sama, saya bertanya-tanya bagaimana sebuah planet
kecil bisa mengirimi kami undangan istimewa tersebut.”
Rhino melirik ke arah para anggotanya
yang lain. Mereka terlihat sibuk, ada yang berbincang-bincang dengan warga lain
dan ada juga yang sibuk dengan temannya untuk merencakan apa yang harus mereka
lakukan.
Bahkan mentor lain sama sibuknya. Sama
halnya dengan Maula yang berbincang dengan Geist, tampak tidak terpisahkan.
“Apakah anda memiliki tujuan? Saya
hendak mengundang Tuan untuk berbincang bersama saya di kantor saya.” Ia
memastikan. “Ah, kalau anda lelah maka tidak perlu.”
Rhino tersenyum dengan lembut. “Tidak
apa-apa, mari kita berbincang. Saya rasa mendengar beberapa cerita dari Tuan
Daeir dapat mengurangi rasa lelah.”
“Hoho, anda terlalu pandai,” katanya.
“Saya dengan senang hati berbincang bersama anda. Mari saya tuntun.”
Rhino sekali lagi melirik, dan tidak
ada yang memperhatikan dirinya. “Tentu, mohon bantuannya, Tuan Daeir.”
Sementara Rhino mengikuti sang
pemimpin Planet Xeplor. Anggota yang lain seperti mentor dan murid pun
berpencar untuk berkeliling di alun-alun planet Xeplor.
.
.
.
Selagi berjalan bersama
Tuan Daeir untuk pergi ke rumahnya. Rhino bisa melihat beberapa orang di
jalanan yang menyapa mereka dengan ramah sambil berucap syukur kepada Tuhan.
Sementara Rhino hanya bisa tersenyum menanggapi, tidak tahu harus mengucapkan
apa.
“Tuan, apakah anda
hendak berkeliling dulu?” tanya Tuan Daeir dengan hangat. Rhino hanya
menggeleng pelan, memberikan jawaban ‘tidak
perlu’ pada Tuan Daeir.
Beruntung Tuan Daeir
tidak memaksa dirinya untuk berkeliling. Karena jujur saja, Rhino tidak
terbiasa untuk menghabiskan dirinya mengobrol dengan banyak orang baru.
Biasanya ia ditemani Maula, namun kali ini Rhino memaksa untuk tetap sendirian.
Rhino melihat-lihat
sekitar selama perjalanan. Dan matanya terpaku pada sebuah tempat di monumen.
Ada empat buah patung dengan ukuran dua kali lipat dari manusia. Masing-masing
dari empat patung itu memiliki ciri khas masing-masing walau pun sekilas bentuk
mereka sama—karena semua wajah mereka dibuat layaknya tertutup sehelai kain.
“Apa anda tertarik
dengan patung itu?” Tuan Daeir tampaknya menyadari bahwa Rhino terus-terusan
melihat ke arah patung itu. Rhino terkekeh kecil.
“Anda menyadarinya.”
Daeir tampak ikut
menatap empat patung tersebut dengan raut kagum. Ia membuka suara, “Itu adalah
empat patung yang melambangkan dewa dan dewi. Dasarnya mereka hanya menjadi
empat pecahan tubuh Tuhan. Itulah agama yang kami pegang.” Sejenak, Daeir
seolah menatap Rhino dengan cukup dalam. “Apakah agama mu, Rhino?”
Meski hawa Daeir
tiba-tiba agak terasa sedikit berbeda. Rhino tidak merubah ekspresi atas
apapun. Ia justru tersenyum simpul. “Astaga, Tuan Daeir bahkan sudah mengetahui
nama saya meski belum saya sebutkan. Saya rasa, anda memang adalah utusan Tuhan
yang sangat taat. Saya mengaguminya.”
“Tentu.”
Dan Daeir pun
melanjutkan perjalanan bersama Rhino. Yang tak berselang lama, mereka akhirnya
sampai di tempat yang dituju.
.
.
.
To
be continued …