Isi Cerita
Rhino La Cheiros

Rhino yang sedang sendirian itu dihampiri oleh seorang pria paruh baya. Ia menyapa dengan penuh hormat, bahkan diikuti oleh beberapa orang yang sama ramahnya—terlihat dari wajahnya.

“Selamat siang, tuan.”

“Selamat siang juga. Maaf jika saya tidak mengenali, apakah anda adalah pemimpin di planet ini?”

Pria paruh baya itu tertawa. Ia lalu berkata, “Benar, saya adalah kepala planet ini. Astaga, di mana sopan santunku? Maafkan saya yang terlambat memperkenalkan diri, nama saya Daeir. Terima kasih telah memenuhi undangan dari planet kecil kami.”

Daeir menjulurkan tangan, Rhino tidak langsung menyalami tangan tersebut. Setelah itu, ia menjabat tangan tua tersebut dengan lembut. “Sama-sama, saya bertanya-tanya bagaimana sebuah planet kecil bisa mengirimi kami undangan istimewa tersebut.”

Rhino melirik ke arah para anggotanya yang lain. Mereka terlihat sibuk, ada yang berbincang-bincang dengan warga lain dan ada juga yang sibuk dengan temannya untuk merencakan apa yang harus mereka lakukan.

Bahkan mentor lain sama sibuknya. Sama halnya dengan Maula yang berbincang dengan Geist, tampak tidak terpisahkan.

“Apakah anda memiliki tujuan? Saya hendak mengundang Tuan untuk berbincang bersama saya di kantor saya.” Ia memastikan. “Ah, kalau anda lelah maka tidak perlu.”

Rhino tersenyum dengan lembut. “Tidak apa-apa, mari kita berbincang. Saya rasa mendengar beberapa cerita dari Tuan Daeir dapat mengurangi rasa lelah.”

“Hoho, anda terlalu pandai,” katanya. “Saya dengan senang hati berbincang bersama anda. Mari saya tuntun.”

Rhino sekali lagi melirik, dan tidak ada yang memperhatikan dirinya. “Tentu, mohon bantuannya, Tuan Daeir.”

Sementara Rhino mengikuti sang pemimpin Planet Xeplor. Anggota yang lain seperti mentor dan murid pun berpencar untuk berkeliling di alun-alun planet Xeplor.

.

.

.

Selagi berjalan bersama Tuan Daeir untuk pergi ke rumahnya. Rhino bisa melihat beberapa orang di jalanan yang menyapa mereka dengan ramah sambil berucap syukur kepada Tuhan. Sementara Rhino hanya bisa tersenyum menanggapi, tidak tahu harus mengucapkan apa.

“Tuan, apakah anda hendak berkeliling dulu?” tanya Tuan Daeir dengan hangat. Rhino hanya menggeleng pelan, memberikan jawaban ‘tidak perlu’ pada Tuan Daeir.

Beruntung Tuan Daeir tidak memaksa dirinya untuk berkeliling. Karena jujur saja, Rhino tidak terbiasa untuk menghabiskan dirinya mengobrol dengan banyak orang baru. Biasanya ia ditemani Maula, namun kali ini Rhino memaksa untuk tetap sendirian.

Rhino melihat-lihat sekitar selama perjalanan. Dan matanya terpaku pada sebuah tempat di monumen. Ada empat buah patung dengan ukuran dua kali lipat dari manusia. Masing-masing dari empat patung itu memiliki ciri khas masing-masing walau pun sekilas bentuk mereka sama—karena semua wajah mereka dibuat layaknya tertutup sehelai kain.

“Apa anda tertarik dengan patung itu?” Tuan Daeir tampaknya menyadari bahwa Rhino terus-terusan melihat ke arah patung itu. Rhino terkekeh kecil.

“Anda menyadarinya.”

Daeir tampak ikut menatap empat patung tersebut dengan raut kagum. Ia membuka suara, “Itu adalah empat patung yang melambangkan dewa dan dewi. Dasarnya mereka hanya menjadi empat pecahan tubuh Tuhan. Itulah agama yang kami pegang.” Sejenak, Daeir seolah menatap Rhino dengan cukup dalam. “Apakah agama mu, Rhino?”

Meski hawa Daeir tiba-tiba agak terasa sedikit berbeda. Rhino tidak merubah ekspresi atas apapun. Ia justru tersenyum simpul. “Astaga, Tuan Daeir bahkan sudah mengetahui nama saya meski belum saya sebutkan. Saya rasa, anda memang adalah utusan Tuhan yang sangat taat. Saya mengaguminya.”

“Tentu.”

Dan Daeir pun melanjutkan perjalanan bersama Rhino. Yang tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju.

.

.

.

To be continued …