Isi Cerita
Luisa Arcadia

Aku mengusap mataku yang terasa berdenyut-denyut saat mendengarkan pengumuman bahwa pesawat sudah mendarat di planet Xeplor dengan aman, aku sedikit meregangkan badanku lalu mengambil koper berisikan barang-barangku dengan ogah-ogahan.

 

"Disambut hangat nih?" gumamku saat mendengarkan seruan dari luar pesawat yang terasa seperti menyanjung kedatangan kami seakan-akan kedatangan kami adalah sebuah berkah yang luar biasa.

 

Aku meilirik spanduk yang terbentang cukup mencolok dari tangga pesawat, 'Ini terasa memalukan...' batinku sambil membuang muka.

 

Kakiku menginjak landasan tempat pesawat kami terparkir, landasan itu terasa cukup terawat dan hampir sepertinya baru saja dibuat dalam kurun waktu yang cepat. Tanganku mengcengkram pegangan dari koperku merasakan kalau ada beberapa hal yang cukup menganggu radar keamanan milikku.

 

"Ada apa?" tanya Saaochi yang berada di sampingku yang terlihat cukup santai, aku menggelengkan kepalaku mengisyaratkan kalau tidak ada apa-apa.

 

"Rambut kakak pendek ya?" tanya salah satu anak kecil yang berada tidak jauh dariku sambil menunjuk rambutnya sendiri, rambut anak itu terurai dengan cukup indah.

 

"Iya..., rambutmu cukup panjang, mau aku rapikan?" jawabku pada anak kecil itu sambil mengeluarkan pita berwarna merah.

 

"Wah apa ini? Benar-benar langka." Saaochi menutup mulutnya seakan-akan sangat syok dengan tindakanku.

 

Aku mengabaikannya dan mengisyaratkan anak kecil itu untuk mendekat, anak kecil itu tersenyum dan dengan senang hati membiarkan aku mengikat rambutnya. Aku mengikat rambutnya dengan model kepang dua dengan menggunakan pita.

 

Anak kecil itu terlihat senang setelah aku selesai mengikat rambutnya, dia terlihat berputar-putar dan memamerkan hal itu kepada teman-temannya. Tidak lama setelah itu Saaochi kembali dan mengatakan sesuatu tentang toko racun, tentu saja aku dengan senang hati mengikutinya.

 

"Apa yang kau tinggalkan pada anak manis tadi?" tanya Saaochi sambil melambaikan tangannya pada orang-orang yang masih menyapa kami di sepanjang jalan.

 

"Sesuatu yang bermanfaat," singkatku sambil sesekali melemparkan senyum pada para penduduk di sana.

 

"Memangnya Kak Luisa melakukan apa?" tanya Naren yang tiba-tiba datang dengan mulut penuh manisan dan selimut pink yang datang sentah darimana.

 

"Luisa mengepang rambut anak kecil tadi, aneh bukan?" jawab Saaochi pada Naren lalu mengambil salah satu manisan yang ada di genggaman Naren.

 

Aku juga ikut-ikutan mengambil manisan yang Naren bawa, lalu memakannya dan meresapi rasa dari manisan itu, "itu bukan hal aneh," sanggahku  sambil mengunyah manisan yang kuambil dari tangan Naren.

 

"Ah!? Kalian berdua jangan makan manisanku!" sentak Naren sambil menghentak-hentakkan kakinya di atas trotoar tempat kami berjalan.

 

Aku dan Saaochi hanya tertawa menanggapi Naren yang sedang mencak-mencak karena manisan miliknya berkurang.

 

"Oh tiga jalan. Ayo berpisah dan bertemu lagi di titik ini," saranku saat melihat persimpangan dengan lampu pejalan kaki yang berkedip-kedip, Saaochi dan Naren mengangguk setuju lalu berpisah.

 

Aku juga mulai berjalan lagi di arah yang berlawanan sambil menenteng koperku kesana kemari, sesekali juga aku menerima hadiah random dari para penduduk walaupun sepertinya tidak semuanya terlihat menyambut dan hanya ikut-ikutan saja.

 

Kebanyakan dari hadiah itu berbentuk makanan dan beberapa aksesoris yang sepertinya khas tempat ini karena terlihat cukup kuno, "Omong-omong sola kuno, bukannya ini cukup terlihat normal bagi kebanyakan kota? Bahkan tiang pejalan kakiknya juga cukup canggih..." gumamku sambil memakan roti pemberian salah satu penduduk.

 

Angin berhembus membawa dedaunan kering, suasana pagi di planet ini cukup damai, tanpa sadar aku sudah berjalan terlalu jauh setelah menyadarinya aku langsung berbalik berjalan ke tempat dimana harusnya aku, Saaochi, dan Naren kembali berkumpul.

 

Setelah berada ditempat itu aku tidak melihat tanda-tanda Saaochi maupun Naren di sekitar, aku hanya menghela nafas lelah setelah bergesa-gesa kembali ketitik awal. Aku duduk di samping tiang pejalan kaki dan menyandarkan kepalaku di tiang itu, koperku ku taruh di bekalang tubuhku.

 

Tanpa sadar aku terlelap dalam tidur tanpa memperhatikan keadaan sekitar, tidak lama setelah itu Saaochi dan Naren kembali lalu menatapku yang tertidur nyaman sambil bersandar ditiang pejalan kaki.

 

"Kak Luisa tidur?" tanya Naren sambil menahan tawa.

 

"Iya, simulasi jadi tunawisma kayanya," jawab Saaochi sambil terkekeh.

 

'Ya sudahlah, aku terlalu lelah untuk membuka mataku. Huh, malah tidak jadi ke roko racun.' batinku menyahuti mereka berdua. Sepertinya ini merupakan hari yang cukup baik untuk beristirahat sebelum sesuatu terjadi.

 

[To Be Countinue]