Isi Cerita
Saaochi

Terbukanya pintu pesawat, cahaya berbondong-bondong masuk memenuhi penglihatan. Suara-suara sambutan terdengar menggelitik telinga, tatkala mata terbuka, terpaparlah para penduduk yang berdiri di hadapan mereka Seolah telah menunggu kedatangan mereka sejak lama.

 

Saaochi melangkah turun bersama yang lain, sebelumnya membiarkan para murid terlebih dahulu. Ia sempat melirik Rhino yang berbicara dengan pemimpin planet ini. Membiarkan perasaan kembali dipenuhi sesuatu yang tidak enak.

 

“Ah astaga, itu mereka. Selamat siang para pahlawan,” salam salah satu penduduk, sembari membungkukkan badan lantas yang lain ikut melakukannya sembari tersenyum tipis.

 

Saaochi turut tersenyum, membalas salam mereka. Para murid turut melakukannya. Dia mulai berpikir sejenak, tidak ada salahnya mencari tahu tentang tempat ini, selagi ada di sini. Informasi dari warga biasanya lebih berguna ketimbang berita dari luar yang asalnya simpang-siur tidak jelas. Jadi, Saaochi diam-diam mendekati seorang ibu-ibu.

 

“Halo, selamat siang.”

 

Si Ibu nampak tersentak sedikit, dia dengan gugup membalas salam Saaochi. “Ah, ya. Selamat siang. Ya ampun senangnya aku bisa berbicara dengan Pahlawan yang melindungi galaksi kami.”

 

Saaochi tersenyum mendengar penuturan itu. “Saya juga senang bisa bertemu dengan kalian yang menghormati kami.” Saaochi mengalihkan pandangannya ke samping, mengukur senyum getir. “Seperti yang anda tahu, tidak banyak orang yang mempercayai kami.”

 

Raut wajah si Ibu terlihat mengeras, keningnya mengerut, perasaan marah terlupa dengan jelas sekali. “Orang-orag yang tidak mempercayai kalian adalah orang-orang munafik! Padahal kalian sudah berkorban, tapi mereka sama sekali tidak menghargainya. Orang-orang seperti itu tidak layak untuk diampuni dosanya.”

 

Saaochi kaget sendiri dengan reaksi itu, padahal dia hanya berniat memancing sedikit. Saaochi sebelumnya hendak menenangkan si Ibu dengan mengatakan bahwa mereka baik-baik saja. Tapi, telinganya tanpa sengaja menangkap sesuatu yang membuatnya merinding sebadan.

 

“Aku penasaran bagaimana cara mereka berdoa.”

 

“Ah, mereka orang-orang yang terberkati oleh Tuhan.”

 

Kalimat yang diucapkan dengan nada gembira dan rasa penasaran itu, entah kenapa Saaochi merasakan de Javu. Dia tanpa sadar menghela napas berat.

 

“Nak, kamu baik-baik saja?”

 

Saaochi angkat kepalanya lagi, tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis. “Tidak, saya baik. Saya hanya senang bisa bertemu orang-orang baik seperti kalian,” ujarnya, mengusap matanya yang setengah berair.

 

“Ah, ya ampun. Kamu pasti sudah mengalami hal yang sangat buruk. Tidak apa-apa, di tempat ini kamu semua akan merasa seperti dilahirkan kembali. Jika berkenan, saya bisa membawa kamu ke tempat peribadatan agar kamu bisa menenangkan hatimu dan berdoa di sana.”

 

“Benarkah? Saya akan merasa sangat terhormat.” Saaochi memegang dadanya, sembari ukirkan senyum paling tulus yang bisa dia buat.

 

Setelah itu, perjalanan menuju tempat peribadatan diwarnai dengan celotehan si Ibu tentang pahlawan. Saaochi sempat bertanya, “Tuhan” seperti apa sebenarnya yang mereka sembah. Si Ibu tidak menjawab melainkan hanya tersipu malu.

 

Sebelum Saaochi sempat bertanya, sudut matanya melihat bayangan hitam menyelinap di antara rumah-rumah. Aura membunuh yang kental dirasakannya hingga ke tulang. Tapi, Saaochi berusaha tidak bereaksi, tidak ingin membuat keributan apa pun untuk saat ini.

 

Lagipula, dia tidak yakin tentang apa itu.

 

“Kita sampai, Nak.”

 

Saaochi tersenyum simpul, meski jujur saja dia tidak mendengar sepatah kata pun dari si Ibu semenjak matanya menangkap sosok itu. Matanya dia arahkan ke depan, melihat bangunan tinggi dengan arsitektur khas berdiri di depannya. Ada penjaga yang menjaga tempat ini.

 

“Ini adalah Pahlawan kita yang terhormat. Dia datang untuk berdoa.”

 

Saaochi ukirkan lagi senyum, membungkuk sebagai salam perkenalan.

 

“Saya Saaochi, Men—“

 

“Miria! Apa yang kau lakukan?!”

 

Saaochi berbalik ke belakang, begitu pula si Ibu, tampaknya merupakan namanya yang dipanggil. ‘Ternyata memang gak bakal semulus itu.’

 

“Ah, maaf. Aku hanya mengantarkan Pahlawan Saaochi ke tempat peribadatan.”

 

Wanita dengan konde itu menatap tajam ke arah Miria, namun ketika bertatapan dengan Saaochi senyumnya terukir manis. Dia hendak meraih tangan Saaochi, yang diam-diam panik. ‘Heh Mbak, jangan!’

 

“Ah, kalau boleh tahu, ada apa ya? Apa saya tidak diperbolehkan masuk? Jika benar, maka tidak apa-apa. Saya bisa mengerti.” Saaochi lekas menginterupsi wanita itu, berusaha tidak menunjukkan ekspresi panik apa pun.

 

“Begini, rasanya agak tidak sopan jika kami membiarkan anda langsung berdoa begitu saja tanpa istirahat. Bagaimana jika anda beristirahat di toko saya terlebih dahulu.”

 

‘Kelihatan banget alasannya. Okey, ayo ikuti saja. Ini bukannya tidak menguntungkan sama sekali.’

 

Saaochi mengangguk, setuju dengan permintaan wanita itu. Lantas setelah itu, mereka bertiga pergi ke toko yang dimaksud.

 

-To be Continue-