03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Terbukanya pintu pesawat, cahaya berbondong-bondong masuk memenuhi
penglihatan. Suara-suara sambutan terdengar menggelitik telinga, tatkala mata
terbuka, terpaparlah para penduduk yang berdiri di hadapan mereka Seolah telah
menunggu kedatangan mereka sejak lama.
Saaochi melangkah turun bersama yang lain, sebelumnya membiarkan
para murid terlebih dahulu. Ia sempat melirik Rhino yang berbicara dengan
pemimpin planet ini. Membiarkan perasaan kembali dipenuhi sesuatu yang tidak
enak.
“Ah astaga, itu mereka. Selamat siang para pahlawan,” salam salah
satu penduduk, sembari membungkukkan badan lantas yang lain ikut melakukannya
sembari tersenyum tipis.
Saaochi turut tersenyum, membalas salam mereka. Para murid turut
melakukannya. Dia mulai berpikir sejenak, tidak ada salahnya mencari tahu
tentang tempat ini, selagi ada di sini. Informasi dari warga biasanya lebih
berguna ketimbang berita dari luar yang asalnya simpang-siur tidak jelas. Jadi,
Saaochi diam-diam mendekati seorang ibu-ibu.
“Halo, selamat siang.”
Si Ibu nampak tersentak sedikit, dia dengan gugup membalas salam
Saaochi. “Ah, ya. Selamat siang. Ya ampun senangnya aku bisa berbicara dengan
Pahlawan yang melindungi galaksi kami.”
Saaochi tersenyum mendengar penuturan itu. “Saya juga senang bisa
bertemu dengan kalian yang menghormati kami.” Saaochi mengalihkan pandangannya
ke samping, mengukur senyum getir. “Seperti yang anda tahu, tidak banyak orang
yang mempercayai kami.”
Raut wajah si Ibu terlihat mengeras, keningnya mengerut, perasaan
marah terlupa dengan jelas sekali. “Orang-orag yang tidak mempercayai kalian
adalah orang-orang munafik! Padahal kalian sudah berkorban, tapi mereka sama
sekali tidak menghargainya. Orang-orang seperti itu tidak layak untuk diampuni
dosanya.”
Saaochi kaget sendiri dengan reaksi itu, padahal dia hanya berniat
memancing sedikit. Saaochi sebelumnya hendak menenangkan si Ibu dengan
mengatakan bahwa mereka baik-baik saja. Tapi, telinganya tanpa sengaja
menangkap sesuatu yang membuatnya merinding sebadan.
“Aku penasaran bagaimana cara mereka berdoa.”
“Ah, mereka orang-orang yang terberkati oleh Tuhan.”
Kalimat yang diucapkan dengan nada gembira dan rasa penasaran itu,
entah kenapa Saaochi merasakan de Javu. Dia tanpa sadar menghela napas berat.
“Nak, kamu baik-baik saja?”
Saaochi angkat kepalanya lagi, tersenyum tipis. Matanya
berkaca-kaca seperti menahan tangis. “Tidak, saya baik. Saya hanya senang bisa
bertemu orang-orang baik seperti kalian,” ujarnya, mengusap matanya yang
setengah berair.
“Ah, ya ampun. Kamu pasti sudah mengalami hal yang sangat buruk.
Tidak apa-apa, di tempat ini kamu semua akan merasa seperti dilahirkan kembali.
Jika berkenan, saya bisa membawa kamu ke tempat peribadatan agar kamu bisa
menenangkan hatimu dan berdoa di sana.”
“Benarkah? Saya akan merasa sangat terhormat.” Saaochi memegang
dadanya, sembari ukirkan senyum paling tulus yang bisa dia buat.
Setelah itu, perjalanan menuju tempat peribadatan diwarnai dengan
celotehan si Ibu tentang pahlawan. Saaochi sempat bertanya, “Tuhan”
seperti apa sebenarnya yang mereka sembah. Si Ibu tidak menjawab melainkan
hanya tersipu malu.
Sebelum Saaochi sempat bertanya, sudut matanya melihat bayangan
hitam menyelinap di antara rumah-rumah. Aura membunuh yang kental dirasakannya
hingga ke tulang. Tapi, Saaochi berusaha tidak bereaksi, tidak ingin membuat
keributan apa pun untuk saat ini.
Lagipula, dia tidak yakin tentang apa itu.
“Kita sampai, Nak.”
Saaochi tersenyum simpul, meski jujur saja dia tidak mendengar
sepatah kata pun dari si Ibu semenjak matanya menangkap sosok itu. Matanya dia
arahkan ke depan, melihat bangunan tinggi dengan arsitektur khas berdiri di
depannya. Ada penjaga yang menjaga tempat ini.
“Ini adalah Pahlawan kita yang terhormat. Dia datang untuk berdoa.”
Saaochi ukirkan lagi senyum, membungkuk sebagai salam perkenalan.
“Saya Saaochi, Men—“
“Miria! Apa yang kau lakukan?!”
Saaochi berbalik ke belakang, begitu pula si Ibu, tampaknya
merupakan namanya yang dipanggil. ‘Ternyata memang gak bakal semulus itu.’
“Ah, maaf. Aku hanya mengantarkan Pahlawan Saaochi ke tempat
peribadatan.”
Wanita dengan konde itu menatap tajam ke arah Miria, namun ketika
bertatapan dengan Saaochi senyumnya terukir manis. Dia hendak meraih tangan
Saaochi, yang diam-diam panik. ‘Heh Mbak, jangan!’
“Ah, kalau boleh tahu, ada apa ya? Apa saya tidak diperbolehkan
masuk? Jika benar, maka tidak apa-apa. Saya bisa mengerti.” Saaochi lekas
menginterupsi wanita itu, berusaha tidak menunjukkan ekspresi panik apa pun.
“Begini, rasanya agak tidak sopan jika kami membiarkan anda
langsung berdoa begitu saja tanpa istirahat. Bagaimana jika anda beristirahat
di toko saya terlebih dahulu.”
‘Kelihatan banget alasannya. Okey, ayo ikuti saja. Ini bukannya
tidak menguntungkan sama sekali.’
Saaochi mengangguk, setuju dengan permintaan wanita itu. Lantas
setelah itu, mereka bertiga pergi ke toko yang dimaksud.
-To be Continue-