Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Aku menguap, sesekali mengusap mata dan meregangkan tubuhku.

 

“Uh, berapa lama aku tertidur ya?” Aku mengambil minuman yang sebelumnya aku simpan tepat sebelum tertidur untuk diminum. Lalu menopang dagu dengan tangan sambil menatap ke luar jendela.

 

Di tengah lamunan ku tiba-tiba terdengar suara pengumuman yang mengejutkan. “Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit.

 

Aku pun tersedak, karena terkejut atas pengumuman tiba-tiba ini.

 

Uhuk. Oh, jadi sudah sampai? Wow, perjalanan yang panjang,” ucapku setelah merasa baikan.

 

Uh, ini memang perjalanan panjang, karena sepanjang perjalanan aku merasa bosan. Bagaimana tidak bosan? Setelah membantu Ketua aku hanya duduk, memakan cemilan, minum, tidur, dan terus melakukan hal itu berulang kali hingga pengumuman ini diterbitkan.

 

Aku pun merapikan dan mengemas sampah makanan yang kumakan, sesekali aku melihat melalui jendela betapa banyaknya orang yang sedang berdiri di dekat pesawat kami.

 

“Hm, ini penyambutan ya? Kurasa tadi aku melihat sebuah spanduk besar, tapi aku tidak sempat membaca tulisannya,”

 

Aku mendengar pengumuman bahwa pintu pesawat akan dibuka, sontak aku merapikan pakaian ku sebentar. Yaa, melihat ada banyak yang menunggu di bawah, setidaknya pakaian ku harus tetap rapi seperti saat pertama naik ke pesawat ini kan? Penampilan itu yang utama. Hehe.

 

“Yang lain mengemas barang-barang mereka, kalau aku? Tentu saja tidak! Hehehe, aku kan menitipkan nya ke ‘gudang unlimited’ milik seniorku,” gumamku sambil berseri-seri.

 

“Selamat datang para pahlawan!”

 

Sambutan yang begitu meriah dan hangat dilontarkan oleh para pribumi.

 

Aku terkejut dengan segala sambutan dan perkataan hangat para pribumi yang terlontar. Kemudian tersentak ketika mendengar beberapa percakapan yang meributkan soal usia kami? Yah, itu yang ku tangkap setelah mendengar perkataan mereka soal ketidakmasukakalan jika kami ternyata kakek-kakek—sudah berusia tua.

 

“Uh, aku memang masih muda sih …,” Aku menggaruk pipiku lalu bergumam, “Kuharap pesta nya semeriah sambutan sekarang,”

 

Eh, memang akan ada pesta ya? Hm, tidak ada yang tahu bukan? Mungkin mereka akan membuatkan sebuah pesta yang megah untuk kami. Hehe.

 

Ngomong-ngomong banyak sekali yang menawarkan barang-barang dari toko mereka. Ku dengar ada pemilik toko roti yang menawarkan untuk mampir ke tempatnya. Dan juga seorang penjual kain? Wow, kurasa planet ini memang seperti planet pada umumnya.

 

Di tengah-tengah kegiatan mengamati, aku mendengar beberapa suara anak-anak.

 

“Oh lihat! Mereka pahlawan dalam buku dongeng itu.” Anak pertama menunjuk ke tempat kami berdiri—dengan kata lain, tempat dimana kami pertama kali turun dari pesawat terbang.

 

“Tetapi bentuknya agak berbeda. Oh, simbol itu. Saya juga mau punya seperti kakak itu.”

 

Oh, semangat masa muda. Eh tunggu, apa maksudnya semangat masa muda?! Kan aku juga masih muda! Tapi, simbol? Apa maksudnya pin yang berada di dasi kami ya? Hm, dan kenapa dia menyebutkan pin ini sebagai simbol ya? Aku jadi penasaran. Atau memang begitu sebutannya? Ah, entahlah.

 

“Ngomong-ngomong, tadi ada penjual roti dan penjual kain ya. Hmm, kira-kira toko bunga ada tidak ya?” Aku melihat kembali sekitar sambil memikirkan bunga apa yang akan ku beli, dan melupakan maksud dari simbol yang diucapkan anak-anak sebelumnya.

 

Kemudian, aku mendengar suara yang ku kenal, setelah melakukan pemindaian sekitar aku menemukannya! Tidak salah untuk melakukan bertukar sapa bukan? Toh selama di pesawat aku tidak melihatnya.

 

“Wah, kak alice!” Aku melambai lalu mendekat ke arahnya.

 

“Retta!” Balasnya sambil melambaikan tangannya, “Aaa, senang nya!” sambungnya.

 

Aku tersenyum menanggapinya. Melihat yang lain mulai berpencar untuk berjalan-jalan satu sama lainnya—termasuk Alice yang akan berkeliling dengan pasangan nya. Yah wajar saja kan dia menghabiskan waktu dengan pasangan nya? Hais, dasar aku yang masih sendiri, nasib nasib— lantas aku berpikir.

 

“Hmm, tadi katanya ada toko roti ya. Apa aku berkeliling dulu sambil mencari toko bunga?” Aku melihat sekitar. Tidak buruk berkeliaran sendiri, yaa walau aku berharap ada yang menemani sih.

 

Tiba-tiba ada yang memegang bahu ku.

 

“Hati-hati diikuti hantu. Ekhm, awas nyasar,” ucapnya menakuti-nakutiku.

 

“A!” Aku tersentak dan melompat mundur. “Aduh, terkejut aku kak.” Aku mengusap dadaku terkejut karena ada yang memegang bahu ku. Hampir saja aku akan membanting nya.

 

“Hehehe. Sorry Retta, soalnya Retta terlalu fokus.” Dia membungkuk sebagai permintaan maaf. Aku tentu tidak masalah sebenarnya, jadi aku memaafkannya. Yah hitung-hitung hiburan di tengah liburan, kan? Ah ya, Alice berpamitan karena ada yang mencarinya. Lalu memisahkan diri dengan ku, ah tidak, tapi aku yang memisahkan diri. Toh aku kan tidak diajak kenapa harus mengikuti? Hehe.

 

“Mari mari roti di sini masih hangat. Saya berikan gratis untuk para pahlawan muda,” ucap penjual roti.

 

Wow, gratis? Kejadian langka yang harus diambil. Karena kesempatan tidak datang dua kali. Tapi sebelum itu, kalau diperhatikan baik-baik tempat ini indah. Walau dingin. Brrrr, aku tidak tahan.

 

“Apa kalian kedinginan? Masuklah kemari, saya punya banyak kain-kain tebal yang telah dirajut menjadi baju hangat dan syal tebal,” kali ini ucap seorang penjual kain. Oho kebetulan.

 

“Memang benar sih, disini cukup dingin. Oke pertama-tama mari cari yang hangat-hangat.” Aku berlari kecil ke toko kain untuk membeli beberapa syal. Karena ternyata disini dingin, atau aku nya saja yang tidak kuat dengan suhu dingin ya? Ah, entahlah. Seingatku juga kemarin Ketua sedikit menyinggung soal keadaan dari planet ini yang sedikit sejuk? Sepertinya begitu deh, tapi entahlah aku lupa.

 

Setibanya di toko, aku langsung memilih salah satu syal yang berada di rak. Dan aku juga melihat syal yang ukurannya lebih kecil. Entah kenapa aku merasa harus membelinya juga.

 

“Kurasa syal-syal ini akan membuat hangat. Aku akan beli!” Aku mengambil syal itu lalu menyimpan uang di meja kasir dan segera keluar.

 

“Yah, walau gratis tapi ... nanti saja untuk makanan!” ucapku sambil terkekeh mengingat perkataan penjual disana tepat sebelum aku memasuki tokonya perihal semua gratis untuk kami, entah kenapa kebaikan yang tiba-tiba ini membuat aku merasa tidak nyaman. Bukan berarti aku tidak bersyukur karena mendapat barang gratis tapi ya aneh saja.

 

Kemudian, seekor rubah muncul dan bersandar di kepalaku, “Brrr, disini dingin juga. Tempat apa ini?” tanya rubah itu. Oh ya, nama nya Luks. Dia sebenarnya roh, namun terikat dengan kekuatan ku sehingga memiliki wujud seekor rubah. Dia jarang terlihat di hadapan banyak orang, karena menurutnya hal itu akan merepotkan. Jadi, dia hanya muncul ketika aku sedang sendirian atau aku sedang dalam keadaan kritis sehingga mendesaknya untuk muncul—tapi kalau ditawari makanan dia pasti akan dengan senang hati untuk muncul secara sukarela.

 

“Planet Xeplor. Kita sedang holiday!” jawabku sambil tersenyum cerah.

 

“Holiday? Apa itu bisa dimakan?” tanya nya lagi.

 

“Aish, kau ini kan roh yang sudah hidup lama, masa yang begitu tidak tahu! Holiday itu liburan, begitu yang dikatakan mentor. Yah, istilah lainnya itu tamasya. Artinya kita itu sedang berlibur!” jelasku sambil memperhatikan sekitar.

 

Dia menganggukkan kepalanya mengerti, dan mulai menyelimuti dirinya dengan aura untuk menghangatkan dirinya sendiri. Tapi, “Hei, belikan aku syal juga,” ucapnya.

 

Aku menghela napas, lalu mengeluarkan syal kecil yang sebelumnya sudah aku beli. Hm, feeling ku bagus kan? Hehe. Aku menyuruhnya untuk terbang di hadapan ku supaya aku bisa melilitkan syal miliknya. Lalu setelah selesai dia kembali ke atas kepalaku, dasar pemalas.

 

Di tengah-tengah obrolan kami, aku mendengar perkataan para pribumi lagi dalam diam sambil tetap berjalan santai.

 

“Apakah mereka memiliki pemimpin?”

 

“Saya melihat Tuan Daeir membawanya pergi. Ah, tentu saja.” Dia mengaitkan tangannya dan berdoa, “Hanya Tuan Daeir yang pantas berbicara dengan utusan maha suci.”

 

Aku melirik singkat ke arah keduanya, “Aku sejak tadi penasaran, kenapa mereka selalu mengaitkan segalanya dengan Tuhan ya? Maksudku, ini jadi sedikit aneh. Dan pemimpin? Apa itu merujuk kepada Ketua?”

 

“Memangnya kenapa?” tanya nya tidak minat.

 

“Tidak, hanya saja sejak tiba disini aku mendengar orang-orang bertanya-tanya atau penasaran soal hubungan kami dengan Tuhan. Dan, menganggap kami sebagai utusan Tuhan? Atau bagaimana, ya? Ah, entahlah aku sendiri jadi bingung,”

 

“Jangan terlalu dipikirkan, kau harus menikmati saat ini. Dan bukankah tadi kau mau ke toko bunga?” Katanya sambil memejamkan mata.

 

“Eh iya!” Aku pun berbelok menjauhi dua orang pribumi tadi, sambil mencari-cari toko bunga. Yah aku harap aku tidak akan tersesat sekarang. Setidaknya aku tidak sendirian lagi karena Luks menemani ku—walau dia enggan jujur tentang hal itu, dasar rubah tsundere.

 

“Kau mau beli apa ke toko bunga?” tanyanya.

 

“Tentu saja bunga, apalagi kalau bukan bunga? Dasar kau,” ucapku malas.

 

“Bukan itu maksudku, ah sudahlah terserah kau saja,” balasnya. Aku terkekeh mendengar perkataan nya dan menatap langit yang menampilkan warna indah ketika dilihat dari tengah kota yang juga sama indahnya.

 

--|🧣