03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
--|🪶
Aku menguap,
sesekali mengusap mata dan meregangkan tubuhku.
“Uh, berapa
lama aku tertidur ya?” Aku mengambil minuman yang sebelumnya aku simpan tepat
sebelum tertidur untuk diminum. Lalu menopang dagu dengan tangan sambil menatap
ke luar jendela.
Di tengah
lamunan ku tiba-tiba terdengar suara pengumuman yang mengejutkan. “Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan
dan akan mendarat dalam lima menit.”
Aku pun
tersedak, karena terkejut atas pengumuman tiba-tiba ini.
“Uhuk. Oh, jadi sudah sampai? Wow,
perjalanan yang panjang,” ucapku setelah merasa baikan.
Uh, ini
memang perjalanan panjang, karena sepanjang perjalanan aku merasa bosan.
Bagaimana tidak bosan? Setelah membantu Ketua aku hanya duduk, memakan cemilan,
minum, tidur, dan terus melakukan hal itu berulang kali hingga pengumuman ini
diterbitkan.
Aku pun
merapikan dan mengemas sampah makanan yang kumakan, sesekali aku melihat
melalui jendela betapa banyaknya orang yang sedang berdiri di dekat pesawat
kami.
“Hm, ini
penyambutan ya? Kurasa tadi aku melihat sebuah spanduk besar, tapi aku tidak
sempat membaca tulisannya,”
Aku
mendengar pengumuman bahwa pintu pesawat akan dibuka, sontak aku merapikan
pakaian ku sebentar. Yaa, melihat ada banyak yang menunggu di bawah, setidaknya
pakaian ku harus tetap rapi seperti saat pertama naik ke pesawat ini kan?
Penampilan itu yang utama. Hehe.
“Yang lain
mengemas barang-barang mereka, kalau aku? Tentu saja tidak! Hehehe, aku kan
menitipkan nya ke ‘gudang unlimited’
milik seniorku,” gumamku sambil berseri-seri.
“Selamat
datang para pahlawan!”
Sambutan
yang begitu meriah dan hangat dilontarkan oleh para pribumi.
Aku terkejut
dengan segala sambutan dan perkataan hangat para pribumi yang terlontar.
Kemudian tersentak ketika mendengar beberapa percakapan yang meributkan soal
usia kami? Yah, itu yang ku tangkap setelah mendengar perkataan mereka soal
ketidakmasukakalan jika kami ternyata kakek-kakek—sudah berusia tua.
“Uh, aku
memang masih muda sih …,” Aku menggaruk pipiku lalu bergumam, “Kuharap pesta
nya semeriah sambutan sekarang,”
Eh, memang
akan ada pesta ya? Hm, tidak ada yang tahu bukan? Mungkin mereka akan
membuatkan sebuah pesta yang megah untuk kami. Hehe.
Ngomong-ngomong
banyak sekali yang menawarkan barang-barang dari toko mereka. Ku dengar ada
pemilik toko roti yang menawarkan untuk mampir ke tempatnya. Dan juga seorang
penjual kain? Wow, kurasa planet ini memang seperti planet pada umumnya.
Di
tengah-tengah kegiatan mengamati, aku mendengar beberapa suara anak-anak.
“Oh lihat!
Mereka pahlawan dalam buku dongeng itu.” Anak pertama menunjuk ke tempat kami
berdiri—dengan kata lain, tempat dimana kami pertama kali turun dari pesawat
terbang.
“Tetapi
bentuknya agak berbeda. Oh, simbol itu. Saya juga mau punya seperti kakak itu.”
Oh, semangat
masa muda. Eh tunggu, apa maksudnya semangat masa muda?! Kan aku juga masih
muda! Tapi, simbol? Apa maksudnya pin yang berada di dasi kami ya? Hm, dan
kenapa dia menyebutkan pin ini sebagai simbol ya? Aku jadi penasaran. Atau
memang begitu sebutannya? Ah, entahlah.
“Ngomong-ngomong,
tadi ada penjual roti dan penjual kain ya. Hmm, kira-kira toko bunga ada tidak
ya?” Aku melihat kembali sekitar sambil memikirkan bunga apa yang akan ku beli,
dan melupakan maksud dari simbol yang diucapkan anak-anak sebelumnya.
Kemudian,
aku mendengar suara yang ku kenal, setelah melakukan pemindaian sekitar aku
menemukannya! Tidak salah untuk melakukan bertukar sapa bukan? Toh selama di
pesawat aku tidak melihatnya.
“Wah, kak
alice!” Aku melambai lalu mendekat ke arahnya.
“Retta!”
Balasnya sambil melambaikan tangannya, “Aaa, senang nya!” sambungnya.
Aku
tersenyum menanggapinya. Melihat yang lain mulai berpencar untuk berjalan-jalan
satu sama lainnya—termasuk Alice yang akan berkeliling dengan pasangan nya. Yah
wajar saja kan dia menghabiskan waktu dengan pasangan nya? Hais, dasar aku yang
masih sendiri, nasib nasib— lantas aku berpikir.
“Hmm, tadi
katanya ada toko roti ya. Apa aku berkeliling dulu sambil mencari toko bunga?”
Aku melihat sekitar. Tidak buruk berkeliaran sendiri, yaa walau aku berharap
ada yang menemani sih.
Tiba-tiba
ada yang memegang bahu ku.
“Hati-hati
diikuti hantu. Ekhm, awas nyasar,” ucapnya menakuti-nakutiku.
“A!” Aku
tersentak dan melompat mundur. “Aduh, terkejut aku kak.” Aku mengusap dadaku
terkejut karena ada yang memegang bahu ku. Hampir saja aku akan membanting nya.
“Hehehe.
Sorry Retta, soalnya Retta terlalu fokus.” Dia membungkuk sebagai permintaan
maaf. Aku tentu tidak masalah sebenarnya, jadi aku memaafkannya. Yah
hitung-hitung hiburan di tengah liburan, kan? Ah ya, Alice berpamitan karena
ada yang mencarinya. Lalu memisahkan diri dengan ku, ah tidak, tapi aku yang
memisahkan diri. Toh aku kan tidak diajak kenapa harus mengikuti? Hehe.
“Mari mari
roti di sini masih hangat. Saya berikan gratis untuk para pahlawan muda,” ucap
penjual roti.
Wow, gratis?
Kejadian langka yang harus diambil. Karena kesempatan tidak datang dua kali.
Tapi sebelum itu, kalau diperhatikan baik-baik tempat ini indah. Walau dingin.
Brrrr, aku tidak tahan.
“Apa kalian
kedinginan? Masuklah kemari, saya punya banyak kain-kain tebal yang telah
dirajut menjadi baju hangat dan syal tebal,” kali ini ucap seorang penjual
kain. Oho kebetulan.
“Memang
benar sih, disini cukup dingin. Oke pertama-tama mari cari yang hangat-hangat.”
Aku berlari kecil ke toko kain untuk membeli beberapa syal. Karena ternyata
disini dingin, atau aku nya saja yang tidak kuat dengan suhu dingin ya? Ah,
entahlah. Seingatku juga kemarin Ketua sedikit menyinggung soal keadaan dari
planet ini yang sedikit sejuk? Sepertinya begitu deh, tapi entahlah aku lupa.
Setibanya di
toko, aku langsung memilih salah satu syal yang berada di rak. Dan aku juga
melihat syal yang ukurannya lebih kecil. Entah kenapa aku merasa harus
membelinya juga.
“Kurasa
syal-syal ini akan membuat hangat. Aku akan beli!” Aku mengambil syal itu lalu
menyimpan uang di meja kasir dan segera keluar.
“Yah, walau
gratis tapi ... nanti saja untuk makanan!” ucapku sambil terkekeh mengingat
perkataan penjual disana tepat sebelum aku memasuki tokonya perihal semua
gratis untuk kami, entah kenapa kebaikan yang tiba-tiba ini membuat aku merasa
tidak nyaman. Bukan berarti aku tidak bersyukur karena mendapat barang gratis
tapi ya aneh saja.
Kemudian,
seekor rubah muncul dan bersandar di kepalaku, “Brrr, disini dingin juga.
Tempat apa ini?” tanya rubah itu. Oh ya, nama nya Luks. Dia sebenarnya roh,
namun terikat dengan kekuatan ku sehingga memiliki wujud seekor rubah. Dia
jarang terlihat di hadapan banyak orang, karena menurutnya hal itu akan
merepotkan. Jadi, dia hanya muncul ketika aku sedang sendirian atau aku sedang
dalam keadaan kritis sehingga mendesaknya untuk muncul—tapi kalau ditawari
makanan dia pasti akan dengan senang hati untuk muncul secara sukarela.
“Planet
Xeplor. Kita sedang holiday!” jawabku sambil tersenyum cerah.
“Holiday?
Apa itu bisa dimakan?” tanya nya lagi.
“Aish, kau
ini kan roh yang sudah hidup lama, masa yang begitu tidak tahu! Holiday itu
liburan, begitu yang dikatakan mentor. Yah, istilah lainnya itu tamasya.
Artinya kita itu sedang berlibur!” jelasku sambil memperhatikan sekitar.
Dia
menganggukkan kepalanya mengerti, dan mulai menyelimuti dirinya dengan aura
untuk menghangatkan dirinya sendiri. Tapi, “Hei, belikan aku syal juga,”
ucapnya.
Aku menghela
napas, lalu mengeluarkan syal kecil yang sebelumnya sudah aku beli. Hm, feeling ku bagus kan? Hehe. Aku
menyuruhnya untuk terbang di hadapan ku supaya aku bisa melilitkan syal
miliknya. Lalu setelah selesai dia kembali ke atas kepalaku, dasar pemalas.
Di
tengah-tengah obrolan kami, aku mendengar perkataan para pribumi lagi dalam
diam sambil tetap berjalan santai.
“Apakah
mereka memiliki pemimpin?”
“Saya
melihat Tuan Daeir membawanya pergi. Ah, tentu saja.” Dia mengaitkan tangannya
dan berdoa, “Hanya Tuan Daeir yang pantas berbicara dengan utusan maha suci.”
Aku melirik
singkat ke arah keduanya, “Aku sejak tadi penasaran, kenapa mereka selalu
mengaitkan segalanya dengan Tuhan ya? Maksudku, ini jadi sedikit aneh. Dan
pemimpin? Apa itu merujuk kepada Ketua?”
“Memangnya
kenapa?” tanya nya tidak minat.
“Tidak,
hanya saja sejak tiba disini aku mendengar orang-orang bertanya-tanya atau
penasaran soal hubungan kami dengan Tuhan. Dan, menganggap kami sebagai utusan
Tuhan? Atau bagaimana, ya? Ah, entahlah aku sendiri jadi bingung,”
“Jangan
terlalu dipikirkan, kau harus menikmati saat ini. Dan bukankah tadi kau mau ke
toko bunga?” Katanya sambil memejamkan mata.
“Eh iya!”
Aku pun berbelok menjauhi dua orang pribumi tadi, sambil mencari-cari toko
bunga. Yah aku harap aku tidak akan tersesat sekarang. Setidaknya aku tidak
sendirian lagi karena Luks menemani ku—walau dia enggan jujur tentang hal itu,
dasar rubah tsundere.
“Kau mau
beli apa ke toko bunga?” tanyanya.
“Tentu saja
bunga, apalagi kalau bukan bunga? Dasar kau,” ucapku malas.
“Bukan itu
maksudku, ah sudahlah terserah kau saja,” balasnya. Aku terkekeh mendengar
perkataan nya dan menatap langit yang menampilkan warna indah ketika dilihat
dari tengah kota yang juga sama indahnya.
--|🧣