03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
"Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit."
Samar ku dengar suara pengumuman berkumandang. Ku lihat orang-orang di sekitarku mulai ricuh setelah mendengar pengumuman. Cavin, laki-laki itu sudah bersiap sedari tadi, dasar.
Aku mengusap mata ku pelan, menatap kearah luar jendela. Sebuah spanduk terpampang jelas dibawah sana. Aku menolehkan kepala ku, menatap Cavin. Laki-laki itu menatap ku balik dengan tatapan bingung.
Aku memicingkan mata ku sejenak. "Kamu gak tidur, ya?"
"Iya." Kata Cavin dengan nada serius. Tapi aku tahu dia hanya bercanda.
"Hmph."
Aku menyiapkan barang bawaan ku, untuk segera turun. Kulihat beberapa dari mereka berdiri didekat pesawat, menunggu kami turun. Lantas aku melangkah menuju pintu pesawat untuk keluar. Dan ku tarik juga Cavin untuk bersamaku.
Pintu pesawat dibuka. Suara ricuh dari luar pesawat terdengar. Ramai sekali. Orang-orang di planet ini sangat senang dengan kedatangan kami. Mereka dengan ramah menyambut kami semua.
"Selamat datang para pahlawan!"
Sejenak aku terheran-heran. Bingung. Banyak yang aku pikir kan setelah berhasil datang kesini. Tentu, ini adalah pengalaman yang menakjubkan, aku tidak akan terpikirkan bisa sampai disini. Orang-orang di planet ini, rupa mereka tampak sama dengan manusia pada umum nya.
"Apa yang kalian tunggu? Mari turun ke sana dan berterima kasih dengan sambutan nya."
Kaki ku melangkah menuju luar pesawat. Mata ku menyipit menerima sinar matahari setelah berjam-jam ada di pesawat. Beberapa dari mereka masih menyambut kami. Suasana ini membuat aku merasa seperti menjadi pahlawan yang baru saja mengalahkan raja terakhir.
"Hoam. Astaga udah sampai aja." Curcol ku sembari menguap pelan. Cavin menatapku. "Nyawamu belum terkumpul." Suara datarnya menginterupsi telingaku.
Sambutan masih berlanjut. Beberapa dari mereka mengucapkan kalimat yang agak tidak bisa ku mengerti. Bukan karena bahasanya. Kalimat mereka. Atau mungkin aku yang belum cukup ilmu untuk memahami isi kalimat mereka.
"Perjalanan nya panjang sekali!" Cavin mengangguk setuju. Tidur ku terasa lama sekali.
Ditengah keanehan yang aku curigai. Salah satu dari mereka menawarkan untuk mampir pada toko roti nya. Sudah sedari tadi perut ku bergemuruh lapar. Sontak aku menarik pelan lengan baju Cavin. "Eh, nanti ke toko roti yuk." Cavin menoleh pelan. "Terserah saja."
Mata ku menatap malas kearah laki-laki berambut merah itu. Mendengus pelan. "Kamu ini. Kayak gak ada tujuan aja." Cavin menaruh telapak tangan nya dengan sedikit kasar diatas kepalaku. Menghela napas. "Aku ngikut kamu aja."
"Kamu masih galau soal jepitan itu?"
"Enggak."
"Masa?"
"... Aku cuma lupa bawa."
Ditengah pembicaraan kami. Aku menyadari suhu planet ini terbilang rendah. Astaga, ini adalah suhu ideal bagi ku. Aku melihat kearah Cavin, kelihatan nya dia kedinginan. Tubuhnya sedikit menggigil.
Sejauh mata memandang. 10 meter kedepan, ku lihat toko roti yang ku cari-cari. "Itu! toko roti nya!" Seru ku menggandeng Cavin dan menarik nya menuju toko roti.
"Selamat datang." Sambut staf disana.
Didalam toko roti ada banyak sekali rak yang dipenuhi berbagai rasa. Mata ku berbinar semangat, ini adalah surga manis! Dengan cepat aku berlari dan berpindah tempat untuk mengambil roti yang menarik di pandangan ku. Dan segera membayarnya di kasir.
Sejenak ku sadari aku terlalu banyak membeli roti. Pundak ku ditepuk pelan. Rupanya Cavin. Dia menunjuk kearah seseorang yang menawarkan berbagai macam baju hangat. "Mau kesana?" Aku mengangguk.
Aku menatap Cavin bingung. "Kenapa tiba-tiba pengen kesana?" Cavin mengusap lehernya pelan. "Disini dingin. Kamu harus pakai sesuatu yang hangat, setidaknya syal. Lagipula kita bisa dapat barang itu secara cuma-cuma."
Setelah sampai Cavin sibuk memilih syal untuk nya dan aku. Aku memperhatikan punggung nya lamat. Sepuluh menit berlalu, Cavin kembali dengan dua syal di tangan nya, dia memberiku syal berwarna merah muda. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Ca-" Sebelum ku lontarkan pertanyaan bagaimana cara memakai syal aku terdiam. Cavin tampak sibuk memakai syal nya. Secara tidak sadar aku mengikuti gerakan nya walau tidak sempurna. Tangan ku mengikuti gerakan nya. Tidak sadar syal ku justru amburadul.
Yang ku perhatikan sedari tadi menatapku balik. "Pfft- kamu tenggelam" Cavin tertawa kecil. Wangi tubuh Cavin menyeruak saat dia membenarkan syal ku saat itu. "Nah, ini baru terlihat cocok untuk kamu." Kata Cavin sesudah membenarkan syal ku.
"Makasih! Aku kurang jago pakai syal. Omong-omong, kamu mau roti?" Aku mengangkat paper bag yang berisi banyak roti. Cavin mengalihkan pandangan nya kedepan. "Itu karena kamu tidak membutuhkan syal sama sekali. Ah makasih tawaran nya. Tapi aku gak but-" Suara gemuruh perut Cavin terdengar. Aku tertawa kecil. Laki-laki disamping ku ini memang tsundere akut.
".... Um.." Kuping Cavin memerah.
Segera ku rogoh paper bag ditangan ku. Mencari roti susu coklat. Dan memberikan nya kepada Cavin. "Dihabiskan ya." Kata ku. Ku lihat jari jemari lentiknya menerima dengan malu-malu. Bahkan jari nya tampak sedikit memerah. "Makasih."
"Sudahlah, ayo ketempat lain. Aku bosan." Cavin mengalihkan topik dan mengajak ku untuk berkeliling kota lebih lama lagi. Tangan kami saling bertautan.
- Fin