Isi Cerita
Maula Syndulla

ARC 02 HERETICAL SECTS

Chapter 03 Welcoming Ceremony At The Square

 

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang serta memakan waktu lebih dari satu hari yang membuat badan cukup pegal. Sang pilot akhirnya menyadari bahwa mereka telah sampai di lokasi yang dituju. Co-pilot mereka langsung menatap jauh di depan. Terlihat sebuah planet yang menjadi tujuan mereka sekarang ada di depan mata.

“Kapten, kita akan segera mendarat.” Ujar Zean.

Geist hanya mengangguk pelan, lalu dirinya mengambil mic untuk memberikan kabar kepada seluruh penumpang.

“Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit lagi.” Setelah itu, ia menaruh kembali mic tersebut tanpa mengulangi perkataannya.

Zean memperhatikan sang kapten sesaat. “Kita akan mendarat di tanah kosong, coba kamu pastikan.” Zean langsung melihat layar yang menampilkan keseluruhan visual planet Xeplor.

Kening Zean mengerut kecil ketika ia melihat sesuatu di layar. “Kapten, sepertinya mereka telah menyiapkan tempat untuk kita mendarat.”

“Darimana kau tahu?”

“Entahlah, aku melihat spanduk besar yang berkibar di sepanjang jalur pendaratan pesawat yang luas itu,” Zean menunjuk pada sebuah visual yang menampilkan secara jelas tempat pendaratan. Di paling ujung, terdapat spanduk besar yang bertuliskan pesan selamat datang kepada anggota DianXy.

“Sungguh memalukan.” Geist menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Zean hanya terkekeh saja.

Suasana hening di tempat penumpang lantas menjari riuh ketika mendengar suara Geist melalui speaker. “Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit lagi.”

Mendegar pesan dari sang pilot, beberapa dari mereka langsung mempersiapkan diri. Maula tersenyum kecil dan berhenti membaca beberapa dokumen dari tabletnya.

Ketika pesawat mendarat dan deru mesin pesawat telah tidak terdengar. Beberapa dari setiap anggota mengintip melalui jendela yang terang. Melihat ada banyaknya orang yang berdiri di dekat pesawat mereka seolah menunggu kedatangan mereka.

“Pintu pesawat akan dibuka.”

Mereka menyiapkan barang-barang dan bersiap turun. Ketika pintu pesawat telah terbuka, terdengar suara riuh dari luar pesawat.

“Selamat datang para pahlawan!”

Sambutan yang begitu sangat meriah dan hangat, membuat setiap anggota kebingungan.

“Apa yang kalian tunggu? Mari turun ke sana dan berterima kasih dengan sambutannya.”

Sementara itu Maula terkekeh kecil dan memperhatikan setiap penduduk yang menyambut mereka. Tidak lama sampai Geist pun ikut turun dan berdiri di samping Maula.

“Oh? Kau juga ikut turun? Tidak seperti biasanya.” Senyum Maula.

“Hanya melihat keadaan dan juga... aku hanya merasa was – was.” Jawab Geist dengan tatapan datar dan terlihat bosan melihat keramaian ini.

Maula menoleh kepada Geist sembari tersenyum. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkeliling di alun – alun planet ini?”

Geist menoleh kepada Maula dan mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu? Meskipun kita disambut hangat oleh mereka, tetap saja aku merasa was – was.”

Maula menghembus nafas kecil sambil masih tersenyum kepadanya. “Dan terlihat kaku. Ayolah, sudah lama bukan kita menghabiskan waktu bersama? Meskipun sebentar, tidak ada salahnya bukan? Sebelum terjadi sesuatu kedepannya.” Maula menarik lengan Geist supaya ia mau berkeliling di alun – alun bersamanya.

Geist menghela nafas kasar tetapi kemudian tersenyum kecil. “Baiklah, terserah kau saja.” Maula terkekeh kecil mendengarnya. “Selagi aku bisa berada di dekatmu.” Gumam Geist yang tidak terdengar oleh Maula.

Maula dan Geist berjalan perlahan di sepanjang alun-alun planet itu. Penduduk tampak sibuk, ada yang menjajakan barang dagangan, ada yang bermain musik dengan alat unik, dan ada juga yang berkumpul untuk bercerita.

“Lihat itu, Geist.” Maula menunjuk ke arah seorang pedagang yang menunjukkan trik sulapnya. Anak-anak kecil bahkan ada juga anggota DianXy bersorak kagum. “Bukankah pemandangan seperti ini membuatmu ingin tersenyum?” Maula menoleh kepada Geist, mencoba membaca ekspresi wajahnya.

Geist hanya mengangkat bahu. “Aku lebih memilih suasana yang sepi. Ini terlalu berisik.”

Maula tertawa kecil. “Kau memang selalu seperti itu. Tapi kau tahu? Terkadang aku berpikir kau menyukai tempat seperti ini. Hanya saja, kau terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”

Geist menghentikan langkahnya dan menatap Maula dengan alis terangkat. “Dan apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”

Maula mendekat kepadanya, tersenyum lembut. “Kau di sini, berjalan bersamaku, padahal kau bisa tetap berada di pesawat dan menghindari semua ini. Itu cukup menjadi bukti.”

Geist berpaling, mencoba menyembunyikan pipinya yang sedikit merona. Bukan karena diam di pesawat tetapi wajahnya hampir dekat dengan Maula, meskipun mereka sudah menjadi sepasang kekasih. “Jangan terlalu percaya diri, Maula. Aku hanya memastikan kau tidak terluka.”

Maula tertawa kecil kembali. “Kalau begitu, terima kasih sudah menjagaku. Tapi jujur saja, aku merasa lebih aman dengan adanya kau di sini.”

Geist hanya mendengus pelan, tetapi Maula bisa melihat senyuman kecil yang muncul di wajah Geist.