03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
ARC 02 HERETICAL SECTS
Chapter 03 Welcoming Ceremony At The
Square
Setelah menempuh perjalanan yang cukup
panjang serta memakan waktu lebih dari satu hari yang membuat badan
cukup pegal. Sang pilot akhirnya menyadari bahwa mereka telah sampai di lokasi
yang dituju. Co-pilot mereka langsung menatap jauh di depan. Terlihat sebuah
planet yang menjadi tujuan mereka sekarang ada di depan mata.
“Kapten, kita akan segera mendarat.” Ujar
Zean.
Geist hanya mengangguk pelan, lalu dirinya
mengambil mic untuk memberikan kabar kepada seluruh penumpang.
“Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan
dan akan mendarat dalam lima menit lagi.” Setelah itu, ia menaruh kembali mic
tersebut tanpa mengulangi perkataannya.
Zean memperhatikan sang kapten sesaat.
“Kita akan mendarat di tanah kosong, coba kamu pastikan.” Zean langsung melihat
layar yang menampilkan keseluruhan visual planet Xeplor.
Kening Zean mengerut kecil ketika ia
melihat sesuatu di layar. “Kapten, sepertinya mereka telah menyiapkan tempat
untuk kita mendarat.”
“Darimana kau tahu?”
“Entahlah, aku melihat spanduk besar yang
berkibar di sepanjang jalur pendaratan pesawat yang luas itu,” Zean menunjuk
pada sebuah visual yang menampilkan secara jelas tempat pendaratan. Di paling
ujung, terdapat spanduk besar yang bertuliskan pesan selamat datang kepada
anggota DianXy.
“Sungguh memalukan.” Geist
menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Zean hanya terkekeh saja.
Suasana hening di tempat penumpang lantas
menjari riuh ketika mendengar suara Geist melalui speaker. “Perhatian!
Pesawat telah tiba pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit lagi.”
Mendegar pesan dari sang pilot, beberapa
dari mereka langsung mempersiapkan diri. Maula tersenyum kecil dan berhenti
membaca beberapa dokumen dari tabletnya.
Ketika pesawat mendarat dan deru mesin
pesawat telah tidak terdengar. Beberapa dari setiap anggota mengintip melalui
jendela yang terang. Melihat ada banyaknya orang yang berdiri di dekat pesawat
mereka seolah menunggu kedatangan mereka.
“Pintu pesawat akan dibuka.”
Mereka menyiapkan barang-barang dan
bersiap turun. Ketika pintu pesawat telah terbuka, terdengar suara riuh dari
luar pesawat.
“Selamat datang para pahlawan!”
Sambutan yang begitu sangat meriah dan
hangat, membuat setiap anggota kebingungan.
“Apa yang kalian tunggu? Mari turun ke
sana dan berterima kasih dengan sambutannya.”
Sementara itu Maula terkekeh kecil dan
memperhatikan setiap penduduk yang menyambut mereka. Tidak lama sampai Geist
pun ikut turun dan berdiri di samping Maula.
“Oh? Kau juga ikut turun? Tidak seperti
biasanya.” Senyum Maula.
“Hanya melihat keadaan dan juga... aku
hanya merasa was – was.” Jawab Geist dengan tatapan datar dan terlihat bosan
melihat keramaian ini.
Maula menoleh kepada Geist sembari
tersenyum. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkeliling di alun – alun
planet ini?”
Geist menoleh kepada Maula dan mengerutkan
dahinya. “Apa maksudmu? Meskipun kita disambut hangat oleh mereka, tetap saja
aku merasa was – was.”
Maula menghembus nafas kecil sambil masih
tersenyum kepadanya. “Dan terlihat kaku. Ayolah, sudah lama bukan kita
menghabiskan waktu bersama? Meskipun sebentar, tidak ada salahnya bukan?
Sebelum terjadi sesuatu kedepannya.” Maula menarik lengan Geist supaya ia mau
berkeliling di alun – alun bersamanya.
Geist menghela nafas kasar tetapi kemudian
tersenyum kecil. “Baiklah, terserah kau saja.” Maula terkekeh kecil
mendengarnya. “Selagi aku bisa berada di dekatmu.” Gumam Geist yang tidak
terdengar oleh Maula.
Maula dan Geist berjalan perlahan di
sepanjang alun-alun planet itu. Penduduk tampak sibuk, ada yang menjajakan
barang dagangan, ada yang bermain musik dengan alat unik, dan ada juga yang
berkumpul untuk bercerita.
“Lihat itu, Geist.” Maula menunjuk ke arah
seorang pedagang yang menunjukkan trik sulapnya. Anak-anak kecil bahkan ada
juga anggota DianXy bersorak kagum. “Bukankah pemandangan seperti ini membuatmu
ingin tersenyum?” Maula menoleh kepada Geist, mencoba membaca ekspresi
wajahnya.
Geist hanya mengangkat bahu. “Aku lebih
memilih suasana yang sepi. Ini terlalu berisik.”
Maula tertawa kecil. “Kau memang selalu
seperti itu. Tapi kau tahu? Terkadang aku berpikir kau menyukai tempat seperti
ini. Hanya saja, kau terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”
Geist menghentikan langkahnya dan menatap
Maula dengan alis terangkat. “Dan apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
Maula mendekat kepadanya, tersenyum
lembut. “Kau di sini, berjalan bersamaku, padahal kau bisa tetap berada di
pesawat dan menghindari semua ini. Itu cukup menjadi bukti.”
Geist berpaling, mencoba menyembunyikan
pipinya yang sedikit merona. Bukan karena diam di pesawat tetapi wajahnya
hampir dekat dengan Maula, meskipun mereka sudah menjadi sepasang kekasih.
“Jangan terlalu percaya diri, Maula. Aku hanya memastikan kau tidak terluka.”
Maula tertawa kecil kembali. “Kalau
begitu, terima kasih sudah menjagaku. Tapi jujur saja, aku merasa lebih aman
dengan adanya kau di sini.”
Geist hanya mendengus pelan, tetapi Maula
bisa melihat senyuman kecil yang muncul di wajah Geist.