03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Welcoming Ceremony At The Square
Arc 02 - Chapter 03
—
Keheningan di dalam pesawat
berhenti kala terdengar pengumuman yang disiarkan oleh sang pilot. Planet
Xeplor, tujuan mereka, telah berada di depan mata. Beberapa murid yang tadinya
terlelap membuka kelopak mata, rasa kantuk yang masih menggantung mereka gosok
menghilang. Pemandangan diluar jendela menampakkan betapa meriahnya penyambutan
yang digelar oleh para penduduk.
Arstella adalah salah satu yang baru saja bangun.
Setelah mencuci wajahnya dan kembali segar, ia mengikuti yang lain untuk keluar
dari pesawat. Berbagai sorak-sorai menyambut; tidak pernah Arste mengalami hal
baru ini. Rasanya menyenangkan, membawa senyum ke wajahnya—ke wajah mereka.
Cerahnya siang kala itu dengan suasana sejuk dingin yang dibawa angin seolah
mengatakan bahwa alam juga menyambut kedatangan mereka.
Semua penduduk begitu ramah; tutur kata dan mimik
wajah. Menyebut para murid sebagai pahlawan, gembira bisa melakukan interaksi.
Arste menyapu pandangannya ke sekitar untuk menikmati pemandangan alun-alun.
Bangunan bertingkat dengan balkon di setiap jendela lantai, mirip di Venice. Ia
berjalan pelan, ingin mengambil banyak detail dari seluk-beluk sepanjang
matanya memandang.
Sejenak Arste sempat melihat sang Laksamana dihampiri
seseorang yang ia tebak mungkin orang penting di planet ini, kemungkinan besar
adalah sang pemimpin. Tapi perhatiannya cepat dialihkan ketika mendengar salah
satu penduduk dari toko roti menawarkan produk buatannya kepada mereka. Ia
tertarik, begitu saja melangkah mengikuti murid lain yang juga ingin
melihat-lihat—dan mendapat beberapa.
“Saya berikan gratis untuk para pahlawan muda,” ucap
orang itu, yang tentu memancing keterkejutan akan kebaikan hatinya yang luar
biasa. Namun, mengambil gratis terasa tidak pas, alhasil para murid tetap
membayar roti yang mereka inginkan. Arste pun demikian. Dia membeli sekantong
kertas berisi macam-macam roti; sesuatu yang seperti Meat Bun, Brioche,
Pretzel, Bagel, dan Croissant.
Setelah mendapatkan camilan, Arste kembali
berjalan-jalan sambil menikmati roti hangat itu. Rasanya menakjubkan, tekstur
lembut menyatu sempurna dengan suhu yang hangat. Kakinya sesekali berhenti
untuk memandangi sekitar, dia hanya menyukai suasana planet ini, mungkin
sedikit mengingatkannya dengan planet asalnya—walau ada banyak sekali perbedaan
antara Saxa dan Xeplor. Sekarang jika ia pikir-pikir, atmosfer di sekitar
menjadi terasa cukup dingin. Beberapa murid yang memang mulai terlihat
kedinginan menandakan ia tak salah dengan itu.
Satu penduduk menawarkan pakaian hangat. Mereka segera
menyerbu toko itu, memilih-milih jaket maupun syal untuk dikenakan sebagai
penghangat tubuh. Arste tidak terlalu membutuhkan hal semacam itu karena dia
adalah gumpalan batu yang bernyawa, tapi jika suhu semakin menurun, dia pun
bisa merasa kedinginan. Ingatan saat terjebak di bongkahan es ketika datangnya
sekutu hari itu melintas di pikirannya. Membeli syal tidak akan ada salahnya.
Arste masuk ke dalam toko, mengarahkan pandangan pada
bagian syal, dan seketika tertarik dengan salah satu di antara beberapa. Syal
rajut berwarna biru pucat dengan garis-garis putih mengingatkan dia akan
sesuatu. Kepingan memori Stella menunjukkan kenangan samar di musim dingin,
Reki yang melepas syalnya untuk dikenakan pada orang di sebelahnya; pada
dirinya yang sudah rusak. Arste memejamkan matanya dan menghela nafas samar.
Tidak sekali dua kali hal semacam itu terjadi. Dan entah mengapa, dia selalu menemukan
itu mengganggu.
Ia keluar dari toko dengan syal merah melingkar di
lehernya, melangkah ringan menapaki jalanan, kembali menikmati pemandangan
sekitar sambil memakan Meat Bun gigit demi gigit. Hingga akhirnya Arste
memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk di salah satu bangku, beberapa
murid tampak berkeliaran di depannya sambil berbincang. Ia penasaran akan apa
yang selanjutnya terjadi nanti. Pikirannya bercabang ke berbagai hal sambil
tangannya menciptakan miniatur lampu jalan dengan kristalnya.