Isi Cerita
Arstella De Lacaille

Welcoming Ceremony At The Square

Arc 02 - Chapter 03

 

 

Keheningan di dalam pesawat berhenti kala terdengar pengumuman yang disiarkan oleh sang pilot. Planet Xeplor, tujuan mereka, telah berada di depan mata. Beberapa murid yang tadinya terlelap membuka kelopak mata, rasa kantuk yang masih menggantung mereka gosok menghilang. Pemandangan diluar jendela menampakkan betapa meriahnya penyambutan yang digelar oleh para penduduk.

 

              Arstella adalah salah satu yang baru saja bangun. Setelah mencuci wajahnya dan kembali segar, ia mengikuti yang lain untuk keluar dari pesawat. Berbagai sorak-sorai menyambut; tidak pernah Arste mengalami hal baru ini. Rasanya menyenangkan, membawa senyum ke wajahnya—ke wajah mereka. Cerahnya siang kala itu dengan suasana sejuk dingin yang dibawa angin seolah mengatakan bahwa alam juga menyambut kedatangan mereka.

 

              Semua penduduk begitu ramah; tutur kata dan mimik wajah. Menyebut para murid sebagai pahlawan, gembira bisa melakukan interaksi. Arste menyapu pandangannya ke sekitar untuk menikmati pemandangan alun-alun. Bangunan bertingkat dengan balkon di setiap jendela lantai, mirip di Venice. Ia berjalan pelan, ingin mengambil banyak detail dari seluk-beluk sepanjang matanya memandang.

 

              Sejenak Arste sempat melihat sang Laksamana dihampiri seseorang yang ia tebak mungkin orang penting di planet ini, kemungkinan besar adalah sang pemimpin. Tapi perhatiannya cepat dialihkan ketika mendengar salah satu penduduk dari toko roti menawarkan produk buatannya kepada mereka. Ia tertarik, begitu saja melangkah mengikuti murid lain yang juga ingin melihat-lihat—dan mendapat beberapa.

 

              “Saya berikan gratis untuk para pahlawan muda,” ucap orang itu, yang tentu memancing keterkejutan akan kebaikan hatinya yang luar biasa. Namun, mengambil gratis terasa tidak pas, alhasil para murid tetap membayar roti yang mereka inginkan. Arste pun demikian. Dia membeli sekantong kertas berisi macam-macam roti; sesuatu yang seperti Meat Bun, Brioche, Pretzel, Bagel, dan Croissant.

 

              Setelah mendapatkan camilan, Arste kembali berjalan-jalan sambil menikmati roti hangat itu. Rasanya menakjubkan, tekstur lembut menyatu sempurna dengan suhu yang hangat. Kakinya sesekali berhenti untuk memandangi sekitar, dia hanya menyukai suasana planet ini, mungkin sedikit mengingatkannya dengan planet asalnya—walau ada banyak sekali perbedaan antara Saxa dan Xeplor. Sekarang jika ia pikir-pikir, atmosfer di sekitar menjadi terasa cukup dingin. Beberapa murid yang memang mulai terlihat kedinginan menandakan ia tak salah dengan itu.

 

              Satu penduduk menawarkan pakaian hangat. Mereka segera menyerbu toko itu, memilih-milih jaket maupun syal untuk dikenakan sebagai penghangat tubuh. Arste tidak terlalu membutuhkan hal semacam itu karena dia adalah gumpalan batu yang bernyawa, tapi jika suhu semakin menurun, dia pun bisa merasa kedinginan. Ingatan saat terjebak di bongkahan es ketika datangnya sekutu hari itu melintas di pikirannya. Membeli syal tidak akan ada salahnya.

 

              Arste masuk ke dalam toko, mengarahkan pandangan pada bagian syal, dan seketika tertarik dengan salah satu di antara beberapa. Syal rajut berwarna biru pucat dengan garis-garis putih mengingatkan dia akan sesuatu. Kepingan memori Stella menunjukkan kenangan samar di musim dingin, Reki yang melepas syalnya untuk dikenakan pada orang di sebelahnya; pada dirinya yang sudah rusak. Arste memejamkan matanya dan menghela nafas samar. Tidak sekali dua kali hal semacam itu terjadi. Dan entah mengapa, dia selalu menemukan itu mengganggu.

 

              Ia keluar dari toko dengan syal merah melingkar di lehernya, melangkah ringan menapaki jalanan, kembali menikmati pemandangan sekitar sambil memakan Meat Bun gigit demi gigit. Hingga akhirnya Arste memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk di salah satu bangku, beberapa murid tampak berkeliaran di depannya sambil berbincang. Ia penasaran akan apa yang selanjutnya terjadi nanti. Pikirannya bercabang ke berbagai hal sambil tangannya menciptakan miniatur lampu jalan dengan kristalnya.