Isi Cerita
Shou Masayoshi

Arc 03 Chapter 02

 

Perhatian! Pesawat telah tiba pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit.”

Mendengar pesan itu dari pilot. Beberapa dari mereka yang tengah tertidur pun lantas bangun, mempersiapkan diri mereka. Ada yang pergi untuk mencuci wajah, mengemas sampah makanannya sendiri, atau mempersiapkan mentalnya untuk menyapa orang-orang.

Seorang pemuda terkesiap lalu mengulurkan tangannya ke teman kecilnya Karl membiarkannya naik ke bahunya. "Jadi dah nyampe nih?" Mengucek matanya.

Lelaki iris biru muda melirik lalu tersenyum, "Bentar lagi pesawat mendarat, ada waktu 5 menit lagi, sebaiknya kamu mengecek barang bawaanmu Shou," ucap lelaki menyarankannya. Shou mengangguk, "Baiklah. Kita lihat .... " Melihat isi tas mengecek satu-persatu barang.

Setelah yakin dia telah membawa yang dibutuhkan pandangannya teralih memandang ke luar jendela. Terlihat lapangan luas dan spanduk. Shou memandang pemandangan luar jendela tersebut hingga membalikkan wajahnya ke murid yang lain yang sedang sibuk dengan urusan mereka.

"Karl. Ayo keluar," ucapnya membawa tasnya dan teman peliharaannya mengecek keluar. Langkah demi langkah melirik pintu luar pesawat hingga sesaat seseorang menarik lengan bajunya. Suara seorang gadis dibelakang punggungnya, "Tunggu."

Shou kaget mendengar suara familiar di telinganya. Badannya tergerak kebelakang menghadap langsung sang gadis.

"Alice?" panggil Shou. Ia tersenyum senang melihat gadis hetechromia tersebut.

Alice bersuara, "Jangan tinggalkan Alice," jawab gadis tersebut. Menatap laki-laki bersurai putih didepannya. "Takut nyasar." Mengaruk tekuk terkekeh canggung.

Pemuda itu tertegun untuk beberapa detik sebelum berbicara. "Makanya dekat-dekat! Jangan hilang-hilang dong," ucap nada protes, mengangkat tangan kanan mengelus rambutnya. Sang gadis hanya cenggesan tanpa dosa. Mereka berdua turun dari pesawat setelah tidak terdengar deru mesin.

Mereka keluar dari pesawat satu-persatu disambut dengan meriah oleh penduduk planet itu. Sang Founder Rhino menyuruh berterimakasih atas sambutan sambil tersenyum kepada para murid.

Sang pemuda yang baru keluar dari pesawat memegang tangan Alice terkejut dengan sambutan dadakan tersebut lalu terkekeh gugup. "Terimakasih atas sambutannya .... " Tersenyum gugup.

"Ah astaga, itu mereka. Selamat siang para pahlawan." Membungkuk dengan excited.

"Selamat siang." Tersenyum lembut. Alice tergerak bersembunyi dibelakang Shou, "Gugup sekali rasanya," katanya berbisik. Shou melirik kebelakang punggungnya, "Begitukah? Lebih baik terbiasa dengan lingkungan sekitar," saran dirinya memandang Alice. "Ah benar." Mengangguk setuju.

Ia hanya terdiam mengamati sekitar ketika satu-persatu omongan keluar dari penduduk dari planet tersebut. "Aku penasaran apakah aku bisa mempelajari adat mereka disini .... " Pikirnya.

Pandangannya teralih dengan dua anak yang ikut serta dalam penyambutan ini. Pikiran Shou sedikit teralihkan. "Terbayang Choyo." Pikirnya menatap anak tersebut memandangnya sebagai teman yang dia anggap sebagai adik kecilnya.

"Woah," lontar Alice kagum mendengar salah satu penduduk menawarkan adanya toko roti dan kain di toko mereka. "Terimakasih atas tawarannya." Ia membungkuk. Sang pemuda melirik menanggapi perkataan Alice, "Nanti kita pergi berdua mengunjungi toko ya Alice," potong sang pemuda. "Siaap," jawabnya malu-malu.

.

.

"Jadi mau kemana?" Melirik Alice yang terlihat berpandang ke arah yang lain. Alice mendadak menarik tangan gadis berambut hijau lurus. "Bagaimana jika ke toko kue? Hm, Yeri ikut kan?" ajak Alice menatap ke arah Yeri, "Ehhh, ayok-ayok!".

"baiklah. Kebetulan Karl terlihat lapar, benar?" Menengok ke arah Karl yang terlihat memasang ekspresi 'suka hati kaulah'. Gadis hetechromia berjongkok, "Blenarkah Karl??" tanya sang gadis dan merentangkan tangan untuk mengendong teman rakunnya itu. "Mau digendong?" tanyanya sekali merentangkan tangan.

Mata rakun tersebut berbinar mengangguk senang lalu melompat ke gendongan sayang gadis hetechromia tersebut.

Gedung tinggi bertingkat dan klasik planet itu memenuhi sekitar jalan setempat bersamaan suasa dingin menyentuh tubuh mereka. Alice mengsahut duluan, "Apa perasaan lice atau emang dingin ya?" Menatap ke arah Yeri dan Shou sambil mengendong Karl yang mengangguk demikian.

Sang pemuda mengamati lebih jelas bangunan sekitar dan cuacanya bisa dikatakan dingin, Shou mengangguk bersependapat. "Disini lumayan dingin juga. Seperti dikatakan oleh Artha. Planet ini dikatakan dingin." Menolehkan badannya ke arah Yeri dan Alice. "Kita perlu tetap bersama. Bangunan disini tinggi dan kalian yang pendek pasti gak bakal kelihatan," perintah dengan nada sedikit meledek.

Yeri tertawa kecil, "Pendek .... " Ekspresi datar. "Iya juga sih, aku gak akan jauh-jauh dari kalian" jawab tersenyum. Alice menatap Shou, kesal dibilang pendek, "Iya-iya tuan muda Shou." Menepuk kepala Shou dan berjalan menuju toko roti bersama.

Sang pemuda tertawa bangga dan mengatakan, "Aku akan traktir deh," seru Shou memperlihatkan uangnya ke arah Yeri dan Alice yang banyak begitu memanjakan mata. Yeri kagum, "A banyak sekali!". "Wahhh, baik sekalii! Aku jadi mau makan tiga roti besar deh!".

"Wow, ditraktir," seru kaget dengan perkataan Shou tapi juga kagum. Mereka melangkah terus-menerus membicarakan banyak hal lalu sampailah mereka di toko roti.

"Mari-mari roti di sini masih hangat. Saya berikan gratis untuk para pahlawan muda," panggil sang penjual memberi harga gratis namun mendadak Shou meletakkan uang tersebut di atas kasir. "Tidak perlu. Saya akan tetap membayar." Mengarahkan uangnya

"Ambillah roti yang mana aja." Memandang kedua gadis dan rakunnya yang sepertinya sedang berbisik asik saat dirinya menyenderkan punggungnya di meja kasir tidak terlalu peduli.

Yeri berseru, "Yoshhh!" Mengambil roti yang isinya blueberry. "Rasa ungun rasa ungu, ah." Gak sadar bawa enam roti; kembaliin ketiganya. Gadis itu tertawa puas. "Segini saja sepertinya cukup". Shou hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Yeri terkekeh lalu sweetdrop namun tersenyum sembari makan roti-rotinya. "Makasih yaa!"

"Terima kasih, Shou. Alice belikan syal dulu ya," tanggal Alice langsung keluar mencari toko kain. Shou dan Yeri mengikuti dari belakang tapi menunggu di luar pintu toko sekadar mengintip.  Mereka berdua berbincang sebentar.

"Cuaca cerah tapi dingin ya?" Kata Shou tetapi Yeri mengatakan, "Hah?" "Ahh, iya. Baru kali ini, sebenarnya aku sedikit kedinginan, tapi jadi sedikit sejuk kalau begini." Lanjut makan roti. "Apalagi roti nya hangat." Suara kunyahan.

Alice akhirnya kembali dengan syal-syal yang telah ia genggam. "Ini syal putih untuk Shou dan hijau untuk Yeri," potong Alice memberikan satu-persatu mereka berdua.

"Terimakasih Alice." Menerima syal putih yang dibelikan, ia memandang dasar kain tersebut sebelum memakaikannya pada lehernya. "Berapa harga yang kau beli Alice?" tanya sang pemuda. "Berapa ya? Tidak ingat lagi," jawab Alice mencoba mengingat sebelum menunjuk keluar jendela toko. "Lihat ada anak-anak".

Shou menolehkan badannya memunggungi menatap sekilas anak-anak lalu dikagetkan dengan seseorang menepuk pundaknya. "Sepertinya kalian menikmati waktu kalian berdua ya," kata Aideen membawa kresek di tangannya. Rubah putih bernama Faa menghampiri Alice.

Shou membalikkan badannya menghadap langsung Aideen yang lebih tua darinya. "Lebih tepatnya bertiga," jawab mengkoreksi. "Kenapa?" tanyanya soal kedatangan lelaki itu. Aideen mendekat, sedikit menunduk menyesuaikan tinggi, "Tidakkah kau merasakan sedikit aneh dengan penduduk planet ini?" berbisik.

Shou menoleh ke sekelompok orang yang mengaitkan tangan mereka seperti berdoa, ia mengangguk, "Tentu. Mereka terlalu memuja. Rasanya aneh memandangnya," bisiknua bersependapat. "Kukira hanya aku yang merasa begitu, habisnya aku bukan tipikal seseorang yang terlalu percaya dengan tuhan".

"Begitupun aku. Sepertinya ada yang disembunyikan," nada curiga. "Benar, sepertinya kita harus berhati-hati. Tidak lucu jika kita dijadikan tumbal untuk Tuhan oleh merekakan." Tertawa.

"Apakah sekumpulan sekte sesat?" Menebak. "Ada kemungkinan, tapi itu baru opiniku saja. Kita jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan".

"Melihat para penduduk yang melebih-lebihkan Tuhan mereka ... rasanya aneh menurutku," opininya.

"Ku punya firasat buruk mengenai ini." Ada yang tidak beres.