03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
“Perhatian! Pesawat telah tiba
pada tujuan dan akan mendarat dalam lima menit.”
Mendengar pesan itu dari pilot.
Beberapa dari mereka yang tengah tertidur pun lantas bangun, mempersiapkan diri
mereka. Ada yang pergi untuk mencuci wajah, mengemas sampah makanannya sendiri,
atau mempersiapkan mentalnya untuk menyapa orang-orang.
Seorang pemuda terkesiap lalu
mengulurkan tangannya ke teman kecilnya Karl membiarkannya naik ke bahunya.
"Jadi dah nyampe nih?" Mengucek matanya.
Lelaki iris biru muda melirik lalu
tersenyum, "Bentar lagi pesawat mendarat, ada waktu 5 menit lagi,
sebaiknya kamu mengecek barang bawaanmu Shou," ucap lelaki menyarankannya.
Shou mengangguk, "Baiklah. Kita lihat .... " Melihat isi tas mengecek
satu-persatu barang.
Setelah yakin dia telah membawa yang
dibutuhkan pandangannya teralih memandang ke luar jendela. Terlihat lapangan
luas dan spanduk. Shou memandang pemandangan luar jendela tersebut hingga
membalikkan wajahnya ke murid yang lain yang sedang sibuk dengan urusan mereka.
"Karl. Ayo keluar,"
ucapnya membawa tasnya dan teman peliharaannya mengecek keluar. Langkah demi
langkah melirik pintu luar pesawat hingga sesaat seseorang menarik lengan
bajunya. Suara seorang gadis dibelakang punggungnya, "Tunggu."
Shou kaget mendengar suara familiar
di telinganya. Badannya tergerak kebelakang menghadap langsung sang gadis.
"Alice?" panggil Shou. Ia
tersenyum senang melihat gadis hetechromia tersebut.
Alice bersuara, "Jangan
tinggalkan Alice," jawab gadis tersebut. Menatap laki-laki bersurai putih
didepannya. "Takut nyasar." Mengaruk tekuk terkekeh canggung.
Pemuda itu tertegun untuk beberapa
detik sebelum berbicara. "Makanya dekat-dekat! Jangan hilang-hilang
dong," ucap nada protes, mengangkat tangan kanan mengelus rambutnya. Sang
gadis hanya cenggesan tanpa dosa. Mereka berdua turun dari pesawat setelah
tidak terdengar deru mesin.
Mereka keluar dari pesawat
satu-persatu disambut dengan meriah oleh penduduk planet itu. Sang Founder
Rhino menyuruh berterimakasih atas sambutan sambil tersenyum kepada para murid.
Sang pemuda yang baru keluar dari
pesawat memegang tangan Alice terkejut dengan sambutan dadakan tersebut lalu
terkekeh gugup. "Terimakasih atas sambutannya .... " Tersenyum gugup.
"Ah astaga, itu mereka. Selamat
siang para pahlawan." Membungkuk dengan excited.
"Selamat siang." Tersenyum
lembut. Alice tergerak bersembunyi dibelakang Shou, "Gugup sekali
rasanya," katanya berbisik. Shou melirik kebelakang punggungnya,
"Begitukah? Lebih baik terbiasa dengan lingkungan sekitar," saran dirinya
memandang Alice. "Ah benar." Mengangguk setuju.
Ia hanya terdiam mengamati sekitar
ketika satu-persatu omongan keluar dari penduduk dari planet tersebut.
"Aku penasaran apakah aku bisa mempelajari adat mereka disini .... "
Pikirnya.
Pandangannya teralih dengan dua anak
yang ikut serta dalam penyambutan ini. Pikiran Shou sedikit teralihkan.
"Terbayang Choyo." Pikirnya menatap anak tersebut memandangnya
sebagai teman yang dia anggap sebagai adik kecilnya.
"Woah," lontar Alice kagum
mendengar salah satu penduduk menawarkan adanya toko roti dan kain di toko
mereka. "Terimakasih atas tawarannya." Ia membungkuk. Sang pemuda
melirik menanggapi perkataan Alice, "Nanti kita pergi berdua mengunjungi
toko ya Alice," potong sang pemuda. "Siaap," jawabnya malu-malu.
.
.
"Jadi mau kemana?" Melirik
Alice yang terlihat berpandang ke arah yang lain. Alice mendadak menarik tangan
gadis berambut hijau lurus. "Bagaimana jika ke toko kue? Hm, Yeri ikut
kan?" ajak Alice menatap ke arah Yeri, "Ehhh, ayok-ayok!".
"baiklah. Kebetulan Karl
terlihat lapar, benar?" Menengok ke arah Karl yang terlihat memasang
ekspresi 'suka hati kaulah'. Gadis hetechromia berjongkok,
"Blenarkah Karl??" tanya sang gadis dan merentangkan tangan untuk
mengendong teman rakunnya itu. "Mau digendong?" tanyanya sekali
merentangkan tangan.
Mata rakun tersebut berbinar
mengangguk senang lalu melompat ke gendongan sayang gadis hetechromia tersebut.
Gedung tinggi bertingkat dan klasik
planet itu memenuhi sekitar jalan setempat bersamaan suasa dingin menyentuh
tubuh mereka. Alice mengsahut duluan, "Apa perasaan lice atau emang dingin
ya?" Menatap ke arah Yeri dan Shou sambil mengendong Karl yang mengangguk
demikian.
Sang pemuda mengamati lebih jelas
bangunan sekitar dan cuacanya bisa dikatakan dingin, Shou mengangguk
bersependapat. "Disini lumayan dingin juga. Seperti dikatakan oleh Artha.
Planet ini dikatakan dingin." Menolehkan badannya ke arah Yeri dan Alice.
"Kita perlu tetap bersama. Bangunan disini tinggi dan kalian yang pendek
pasti gak bakal kelihatan," perintah dengan nada sedikit meledek.
Yeri tertawa kecil, "Pendek
.... " Ekspresi datar. "Iya juga sih, aku gak akan jauh-jauh dari
kalian" jawab tersenyum. Alice menatap Shou, kesal dibilang pendek,
"Iya-iya tuan muda Shou." Menepuk kepala Shou dan berjalan menuju
toko roti bersama.
Sang pemuda tertawa bangga dan
mengatakan, "Aku akan traktir deh," seru Shou memperlihatkan uangnya
ke arah Yeri dan Alice yang banyak begitu memanjakan mata. Yeri kagum, "A– banyak sekali!". "Wahhh,
baik sekalii! Aku jadi mau makan tiga roti besar deh!".
"Wow, ditraktir," seru
kaget dengan perkataan Shou tapi juga kagum. Mereka melangkah terus-menerus
membicarakan banyak hal lalu sampailah mereka di toko roti.
"Mari-mari roti di sini masih
hangat. Saya berikan gratis untuk para pahlawan muda," panggil sang
penjual memberi harga gratis namun mendadak Shou meletakkan uang tersebut di
atas kasir. "Tidak perlu. Saya akan tetap membayar." Mengarahkan
uangnya
"Ambillah roti yang mana
aja." Memandang kedua gadis dan rakunnya yang sepertinya sedang berbisik
asik saat dirinya menyenderkan punggungnya di meja kasir tidak terlalu peduli.
Yeri berseru, "Yoshhh!"
Mengambil roti yang isinya blueberry. "Rasa ungun rasa ungu, ah–." Gak sadar bawa enam roti;
kembaliin ketiganya. Gadis itu tertawa puas. "Segini saja sepertinya
cukup". Shou hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Yeri terkekeh lalu
sweetdrop namun tersenyum sembari makan roti-rotinya. "Makasih yaa!"
"Terima kasih, Shou. Alice
belikan syal dulu ya," tanggal Alice langsung keluar mencari toko kain.
Shou dan Yeri mengikuti dari belakang tapi menunggu di luar pintu toko sekadar
mengintip. Mereka berdua berbincang
sebentar.
"Cuaca cerah tapi dingin
ya?" Kata Shou tetapi Yeri mengatakan, "Hah?" "Ahh, iya.
Baru kali ini, sebenarnya aku sedikit kedinginan, tapi jadi sedikit sejuk kalau
begini." Lanjut makan roti. "Apalagi roti nya hangat." Suara
kunyahan.
Alice akhirnya kembali dengan
syal-syal yang telah ia genggam. "Ini syal putih untuk Shou dan hijau
untuk Yeri," potong Alice memberikan satu-persatu mereka berdua.
"Terimakasih Alice."
Menerima syal putih yang dibelikan, ia memandang dasar kain tersebut sebelum
memakaikannya pada lehernya. "Berapa harga yang kau beli Alice?"
tanya sang pemuda. "Berapa ya? Tidak ingat lagi," jawab Alice mencoba
mengingat sebelum menunjuk keluar jendela toko. "Lihat ada
anak-anak".
Shou menolehkan badannya memunggungi
menatap sekilas anak-anak lalu dikagetkan dengan seseorang menepuk pundaknya.
"Sepertinya kalian menikmati waktu kalian berdua ya," kata Aideen
membawa kresek di tangannya. Rubah putih bernama Faa menghampiri Alice.
Shou membalikkan badannya menghadap
langsung Aideen yang lebih tua darinya. "Lebih tepatnya bertiga,"
jawab mengkoreksi. "Kenapa?" tanyanya soal kedatangan lelaki itu.
Aideen mendekat, sedikit menunduk menyesuaikan tinggi, "Tidakkah kau
merasakan sedikit aneh dengan penduduk planet ini?" berbisik.
Shou menoleh ke sekelompok orang
yang mengaitkan tangan mereka seperti berdoa, ia mengangguk, "Tentu.
Mereka terlalu memuja. Rasanya aneh memandangnya," bisiknua bersependapat.
"Kukira hanya aku yang merasa begitu, habisnya aku bukan tipikal seseorang
yang terlalu percaya dengan tuhan".
"Begitupun aku. Sepertinya ada
yang disembunyikan," nada curiga. "Benar, sepertinya kita harus
berhati-hati. Tidak lucu jika kita dijadikan tumbal untuk Tuhan oleh
merekakan." Tertawa.
"Apakah sekumpulan sekte
sesat?" Menebak. "Ada kemungkinan, tapi itu baru opiniku saja. Kita
jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan".
"Melihat para penduduk yang
melebih-lebihkan Tuhan mereka ... rasanya aneh menurutku," opininya.
"Ku punya firasat buruk
mengenai ini." Ada yang tidak beres.